
"Kau sudah selesai kan?" Tiba-tiba saja kakeknya Alves bertanya.
"I-iya." Elly lagi-lagi kembali di buat gugup karena sikap dari pria tua itu cukuplah menekan suasana di sekitarnya jadi terasa cukup canggung.
"Kalau begit duduk dan minum teh buatanmu sendiri." Perintahnya.
Di balik cangkir yang sedang Alves gunakan untuk meminum teh hijau buatan dari Elly, dia sempat melirik ke arah Elly yang terlihat susah untuk menekan dirinya untuk tidak terlalu gugup.
Dan Elly pun dengan hati yang cemas itu, dia segera pergi ke kursi yang letaknya di seberang Alves, lalu ia pun mengambil cangkir teh miliknya dan meminumnya sedikit.
'Enak, aku memang suka teh, rasa hangatnya setidaknya bisa menurunkan rasa tegang milikku.' Pikir Elly.
Dan setelah teh yang mereka bertiga minum habis, sebuah pembicaraan pun di mulai.
"Siapa namamu, tepatnya nama lengkapmu yang sebenarnya." perintah kakeknya Alves, agar Elly menjawab dengan benar tanpa ada unsur kebohongan sedikitpun.
"Dia Raelyn, satu kampus dengan Felix itu. Tidak ada marga di belakangnya, karena dia hanya anak adopsi yang tidak di inginkan di keluarga itu-"
__ADS_1
"Padahal aku yang tanya pada dia, kenapa kau yang menjawab? Dan keluarga mana yang kau maksud itu?" Tanya kakeknya Alves lagi dan lagi.
"Dia di adopsi dari keluarga Abend."
"Erwin itu? Jadi dia punya dua orang anak perempuan, dan kau akhirnya memilih dia untuk jadi pendampingmu?" Tiba-tiba saja dia terhanyut dengan topik yang di bawakan oleh cucunya itu sehingga Raelyn pun tidak mendapatkan pertanyaan apapun lagi.
'Abend? Erwin? Kenapa dia tidak memberitahuku kalau keluarga dari tubuh ini adalah mereka? Apa karena aku sudah ada di sini dan bekerja untuknya, makannya dia pikir aku untuk tidak usah memperdulikan latar belakangku?' pikir Elly.
"Jadi di berita itu- adalah dia?!" Satu pertanyaan dari suara yang sedikit lebih keras itu berhasil memecah konsentrasi Elly yang sempat melamun tadi. Dan kakek nya Alves pun jadinya menatap ke arah Elly.
'Kenapa kakek ini terobsesi dengan wanita yang ada di samping Alves siapa dan siapa? Padahal masa depan di tentukan oleh cucunya sendiri, tapi dia adalah orang yang cukup terobsesi untuk menikahkan cucunya dengan wanita terbaik yang bisa menarik perhatian Alves.' Pikirnya lagi.
"Maaf sebelumnya, sebenarnya secara pribadi saya sudah lelah hidup untuk jadi anak kuliahan, saya lebih suka mencari uang langsung, dan Tuan Alves adalah partner yang tepat untuk saya, agar saya bisa punya gaji yang sepadan dengan pekerjaan saya sebagai pelayan."
"Ha~" Dan respon yang tidak terduga pun terjadi. "Jadi alasanmu dekat dengan Alves karena hartanya?" tatap kakek ini kepada Elly.
'Kau salah bicara, kenapa malah membahas uang? Apa jadinya nanti kalau dia malah di usir? Kakek kan tidak suka dengan wanita matre.' Alves pun jadi mulai gelisah sendiri dengan penuturan Elly yang bisa di bilang salah. Karena ucapannya barusan itu bisa saja memicu rasa tidak suka pada diri sang kakek.
__ADS_1
'Kenapa raut wajah mereka berdua jadi seperti itu? Apa aku sah bicara?' Elly pun sempat melirik ke arah Alves, dan sempat mengerutkan keningnya untuk menjadi kode yang ia kirimkan kepada Alves, sebenarnya apa yang terjadi pada mereka berdua, dan ia ingin meminta sedikit penjelasan. "Tapi saya kan hanya bekerja un-"
"Bekerja sebagai pelayan, tapi sampai bisa merayu cucuku seperti tadi, kelihatannya kau bukan wanita baik-baik. Kau pasti punya niat terselubung ya?" Menatap Elly dengan penuh selidik.
Dan Elly pun segera menjawabnya. "Niat terselubung? Saya tidak memiliki niat terselubung, lagi pula saya tidak mengaharapkan apapun selain gaji saya dari Tuan muda, dan jika soal tadi, itu karena Tuan muda sendiri yang meminta saya untuk menciu*mnya."
'Elly, padahal dia sendiri yang lebih dulu menci*umku. Tapi disini, aku juga yang lebih dulu menariknya agar aku bisa menggendong tubuhnya, kenapa aku punya hidup dengan drama absurd seperti ini? Tidak seperti aku saja.' Alves pun menggeleng-gelengkan kepalanya, karena ia sudah cukup frustasi dengan kedatangan dari kakeknya, dan ia lebih di tambah di buat pusing karena ucapan Elly yang begitu jujur.
"Lalu, pasti kalian berdua sudah pernah tidur bersama."
"Saya hanya menidurkan Tuan muda, tidak ada apapun dian-" dan alasan yang ingin ia ucapkan, langsung di sela oleh Alves.
"Tidak, aku sudah pernah sekali menidurinya." sela Alves saat itu juga, membuat suasana di sekitar mereka berhasil menjadi senyap. "Waktu itu saat aku berumur dua puluh tahun, aku menidurinya saat aku dipengaruhi obat dari seseorang saat aku ikut pesta perayaan wisuda, dan dialah perempuan yang waktu itu menyelamatkanku juga.
Jika tidak ada dia, tidak mungkin aku masih hidup, karena obat yang tidak sengaja aku minum waktu itu jenisnya halusinogen." ungkap Alves, pada akhirnya rahasia yang sudah terpendam lama dan bahkan sempat di lupakan oleh Alves, akhirnya di ungkit juga.
Dan kakeknya Alves, seketika jadi memperhatikan Elly dan Alves secara bergantian.
__ADS_1
"Jadi karena itulah, kau mau menjadikan wanita matre ini menjadi pelayanmu? Sekaligus agar dia ada di sisimu karena kejadian delapan tahun yang lalu itu?" Tanyanya lagi.