
WHOSS...WHOSH....WHOSH...
Angin besar terus bertiup, apalagi id tambah dengan keberadaan dari helikopter yang sudah mendarat di atas dek kapal paling atas sendiri, hal tersebut berhasil menjadi tontonan para tamu dari kapal pesiar tersebut.
"Wah, dilihat dari logonya, kelihatannya itu helikopter dari keluarga Avaris." Salah satu tamu langsung menebak keberadaan dari helikopter itu dengan benar.
“Itu memang benar, tapi memangnya disini ada anggota keluarga Avaris?! Kenapa aku tidak tahu?!” Panik wanita ini.
Orang-orang yang mendengarnya pun sama-sama terkejut bahwa helikopter yang memiliki logo Avaris di lambung helikopter berwarna hitam itu sudah mengartikan bahwa ada anggota keluarga Avaris yang ada di kapal pesiar yang mereka naiki.
“Kalau begitu dimana dan siapa?”
“Aku juga tidak tah.”
“Ya, sama, aku bahkan tidak tahu kalau di kapal ini ada anggota dari keluarga tersebut. Kalau sudah tahu, aku sudah pastinya akan pergi mencarinya dari tadi.” Ucap mereka, saling berbicara dengan raut wajah penasaran, itulah yang Alves inginkan.
TAP…TAP…TAP…..
Suara dari langkah kaki sepatu yang terdengar begitu dominan berhasil menarik perhatian mereka.
Awalnya hanya satu dua orang yang menyadari kehadirannya, namun lambat laun satu persatu dari mereka jadi ikut menyadari kehadirannya, seseorang yang baru saja mereka bicarakan, anggota keluarga Avaris, marga dari keluarga paling terkenal di kota A.
Karena memang ada suatu insiden yang terjadi, maka dari itu tidak banyak orang yang tahu bahwa orang yang baru saja di bicarakan adalah dia, Alves.
“I-itu bukannya Tuan muda Alves?” Satu orang yang mengatakan itu, sukses memicu orang lain mengatakan hal yang sama juga.
“Itu benar, dia Tuan muda Alves. Sejak kapan pria itu ada di kapal ini?”
“Tapi lihat itu, Tuan muda menggendong seorang wanita.”
“Iya yah, tapi sayang sekali, wajahnya ditutupi. Aku jadi penasaran siapa wanita yang berhasil menempati posisi kosong yang sudah di tinggalkan Nona Asena.”
“Apa berarti itu artinya kita sama sekali tidak memiliki kesempatan?”
“Kelihatannya memang sepert itu. Dengar-dengar Tuan Alves tidak begitu suka dengan wanita, di pesta saja waktu itu beliau saja benar-benar menganggap wanita yang hendak menyapanya Tuan muda, seperti seorang musuh.
Tapi rasanya wanita itu memang menempati posisi di hati Tuan.”
“Hmmm, kita hanya bisa melihat perkembangannya saja. Kali saja Tuan bosan dan bisa memilih wanita lagi.”
“Mereka membicarakan kita.” Bisik Elly di samping leher Alves.
Saat ini ia di gendong di belakang punggungnya Alves, dan demi membuat orang-orang penasaran siapa yang di gendong, Dari kepala sampai punggung Elly pun di letakkan jas hitam milik Orson, sehingga tidak ada seorang pun yang tahu siapa wanita yang di gendongnya.
__ADS_1
“Tapi, kita akan pulang ke rumah Orson atau pulang ke rumahmu?”
“Aku bosan jika pulang ke rumah.” Sahut Alves.
“Tuan, silahkan masuk.” Salah satu pilot turun dan membukakan pintu heli untuk Alves, Elly juga Orson.
Mereka pun masuk secara bergantian, hingga akhirnya mereka semua mulai mengudara, meninggalkan kapal pesiar yang menjadi saksi akan peristiwa yang hampir saja merenggut nyawa seseorang, dan itu Elly.
‘Mereka berdua sudah banyak membantuku, sebaiknya aku melakukan apa ya? Apa yang bisa aku berikan kepadanya? Aku bingung.
Aku jarang sekali memberikan orang hadiah, bahkan jika aku memang ingin memberikan seseorang hadiah, aku justru bertanya dulu, agar hadiahku sesuai dengan selera.
Tapi ada orang yang mengatakan kalau hal itu sama saja dengan aku menawarinya, bukan kejutan.
Tapi aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk merek berdua sebagai balas budi kecilku.’ Elly begitu terbuai dalam lamunannya, dan dari situ juga wajahnya pun jadi terlihat murung.
Siapa yang tidak murung, mengingat ada orang yang memberikannya banyak kebaikan, tapi ia sama sekali tidak tahu bagaimana caranya untuk membalas budi.
Pekerjaan tetaplah pekerjaan, dan itu di luar skema dari balas budi yang ia miliki kepada mereka berdua.
‘Tapi mau aku berpikir lama pun, jika aku tidak bertanya, aku akan kebingungan sendiri.’ batinnya. “Al-”
“Kau sudah mengurus soal tua bangka itu kan?” Tanya Alves kepada Orson.
“Hari ini, benar-benar jadi hari yang cukup sial.. Gara-gara mereka, kita juga yang kena imbas. Dia itu sudah tua, memang sudah harus diganti. Mesin saja selalu di ganti dengan yang baru, masa dia mau di tempat itu terus.” Kutuk Alves. Ia sama sekali masih belum bisa membebaskan diri dari rasa kesalnya kepada kapten kapal tadi.
“Sabar-sabar, yang penting kita semua masih selamat, ya kan?” Tibba-tiba Orson bertanya ke arah Elly langsung, Elly jadi bingung sendiri dan hanya menjawab seadanya.
“I-iya. Yang penting kita selamat, itu sudah lebih dari cukup unukku.” Ucap Elly.
Begitu Alves mendengar jawaban Elly yang begitu meragukan, Alves langsung bersilang tangan di depan dada dan bertanya : “Elly, kenapa kau tidak bisa berenang?”
“Bos, keapa malah tanya itu?” Orson langsung menyela.
“Aku tanya kan karena aku penasaran, masa tidak boleh.” Protes Alves terhadap temannya itu. “Padahal saat di kolam renang saja kau bisa berenang, tapi sampai tenggelam di laut itu, rasanya-”
Elly diam, terus menunggu apa yang ingin di katakan oleh Alves lagi.
Tapi Alves sendiri yang melihat Elly diam begitu, membuat hatinya jadi merasa enggan untuk melanjutkan pertayaannya tadi.
“Kenenapa tidak di lanjutkan?” Tanya Elly, paahal ia sudah menunggu pertanyaan apa lagi yang ingin di tanyakan oleh Alves, tapi giliran sudah menunggu, pria itu malah lebih memilih diam kepadanya. ‘Dia pria yang aneh. Aku sama sekali tidak bisa menebak apa yang dia pikirkan.
Apalagi karena dia tiba-tiba diam seperti itu, kenapa rasanya …’
__ADS_1
“Everlyn, kamu kenapa?”
Mendengar satu panggilan berisi pertanyaan yang tiba-tiba terngiang di dalam kepalanya, membuat Elly hanya mengatupkan mulutnya saja dan memilih ikutan diam, tidak menjawab pertanyaannya Alves.
‘Mirip, ini jelas mirip. Tapi lantas jika Azriel membunuhku, aku jadi ingin tahu sekarang dia hidup seperti apa. Hahh~ Karena dia memberikanku apa yang aku inginkan, karena aku lelah hidup di dunia itu, aku jadi tidak punya alasan untuk membencinya.
Tapi kira-kira bagaimana kehidupannya sekarang ya? Apa Azriel baik-baik saja? Katanya dia akan membuatku mengeri bagaimana rasanya jatuh cinta, mengisi waktu yang belum aku rasakan dengannya bersama kata cinta.
Huh~ Cinta itu sebenarnya membuat orang jadi bodoh. Tapi kenapa aku yang sudah dikhianati akan adanya cinta, masih saja penasaran dengan perasaan itu?
Apakah semua ini karena aku begitu penasaran dengan kata-kata Azriel yang tiba-tiba menyatakan perasaannya?’
Elly begitu mengerti perasaan bagaimana rasanya di khianati. Melihat calon suaminya sendiri malah tidur dengan wanita lain, itu adalah sebuah anugerah dari tuhan untuk menguji kesabarannya.
Walaupun usaha dari kesabaran yang sudah Elly jalani berakhir dengan kematian, sayangnya rasa sakit itu masih ada.
Bahkan Elly merasa kalau rasa sakit hati lebih menusuk ketimbang Azriel yang menembaknya langsung secara terang-terangan.
“Elly, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?” Satu pertanyaan segera di jawab oleh Elly yang sedang memasang wajah datar.
Sejujurnya ia bahkan masih tidak begitu mempercayai kalau setelah mati di tembak dan tenggelam, ia masih hidup dan duduk di dalam transportasi mewah milik dari pria yang bahkan baru kenal setengah bulan saja.
“Ada. Aku sedang terganggu soal apa yang bisa aku berikan kepada kalian berdua sebagai tanda terima kasihku.”
Begitu mereka berdua yang bersangkutan mendengar jawabannya, Alves dan Orson sama-sama mengerjapkan matanya beberapa kali.
Mereka terkejut akhirnya ada satu kebimbangan yang di miliki oleh Elly yang selalu menampilkan kepercayaan diri yang tinggi.
“Jika kau merasa terbebani jika aku mengatakan tidak usah, apa kau mau selain menjadi pelayan di rumahku, kau bekerja di kantorku?”
“Benar, anda tahu juga kan? Kalau Bos ini adalah tipe orang yang tidak begitu suk-”
PLAK..
“Ahh…, kenapa kepalaku di pukul?” Orson jadi mengusap kepalanya sendiri gara-gara di pukul oleh Alves.
“Jangan mengatakan sesuatu tentangku dengan melebih-lebihkan. Secara keseluruhan Elly sudah tahu apa permasalahanku, kau hanya perlu mengatakan sisanya.” Desak Alves terhadap Orson yang selalu saja melebih-lebihkan cerita.
“Lah, kan Bos sendiri tidak pernah memberitahuku.” Pungkas Orson, masih mengusap belakang kepalanya yang masih sakit.
“Itu bukan urusanku, tapi urusanmu sendiiri.” Cetus Alves, langsung memalingkan wajahnya ke arah jendela untuk melihat pemandangan kota yang mulai terlihat jelas.
“Jadi apa pekerjaan yang kalian berdua maksud?” Tatap Elly.
__ADS_1