Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
39 : PTRI : Otak bekerja 1


__ADS_3

Suara pintu yang tertutup itu berhasil membuat dua sejoli majikan dan pelayan masuk kedalam kantor milik Alves.


"Apa tidak apa-apa? Mengusirnya seperti itu. Dia terlihat bukan dari keluarga yang biasa-biasa saja."


"Tidak apa-apa, kau jangan memikirkan hal yang tidak berguna seperti itu. Gunakan otakmu saja untuk menyalin semua itu." Alves tiba-tiba saja menunjuk pada setumpuk kertas yang cukup menggunung di samping meja kerja yang baru saja di letakkan pagi ini atas suruhan Alves kepada Orson.


Demi membuat Elly sembuh dari gumpalan darah yang sempat masih tersisa di dalam otaknya, memang di anjurkan untuk sering beraktifitas untuk menggunakan kepalanya ketimbang menggunakan tenaganya.


Dan yang di lakukan oleh Alves terhadap Elly adalah dengan membuat wanita ini mengetik dan menyalin semua kalimat yang ada di dalam nya.


Elly yang melihat saja, langsung terkejut karena itu cukup banyak, bahkan ada setumpuk lagi di atas lantai.


"Jadi ini alasanmu agar aku ikut denganmu?" Elly berjalan menghampiri meja kerja kosong itu.


"Aku menempatkanmu di sana, jadi kerjalah, itung-itung daripada kamu aku tinggal tapi kamu berbuat ulah berkeliaran ke kota untuk menemuiku sampai jalan kaki, lebih baik aku bawa kau ke kantor dan bekerja.


Ada gaji tambahan untukmu, tapi jika kau tid-"


"Aku mau." Pungkas Elly dengan wajah sangat antusias.


Alves yang melihatnya pun kembali di buai dengan ekspresi Ellly yang cukup imut itu.


"Elly," Tanpa sadar mulutnya jadi memanggil namanya dengan nada yang cukup lirih.


"Ya?" Elly berbalik.


Karena Elly memutar tubuhnya ke arahnya, spontan Alves jadi tidak bisa mengalihkan tatapan dari mata Elly yang begitu cantik, tenang, seperti batu bara yang siap membakar gairahnya.


Tatapan yang sayu itu pun menangkap tatapan mata milik Alves yang begitu mendominasi dalam hal menatap.


Tersadar kembali dengan lamunannya untuk memperhatikan Elly lebih dari sekedar melihat saja, Alves segera berkata : "Aku tidak menyuruhmu untuk menyelesaikannya, ingat itu ya. Dan kamu tetap disini, jangan keluar kemana-mana. Aku akan pergi rapat terlebih dahulu." Pesan Alves sebelum dia pergi keluar dari kantornya lagi, meninggalkan Elly sendirian di dalam.


"Tu-"


KLEK....


Elly kehilangan sosoknya lebih dulu, Alves yang terlihat begitu semangat itu sudah keluar untuk mengadakan rapat.

__ADS_1


Sudah di tinggal seperti itu, Elly kembali memindai semua dekorasi yanga da di dalam kantornya Alves, terkesan modern, tapi karena dinding berdominan berwarna gelap, maka itu menjadi awal pertama kalau pemiliknya adalah orang yang arogan?


'Aneh, tapi dia sama sekali tidak seperti itu. Bahkan setiap kali bersamanya, dia hanya tersenyum,' Sebuah kebodohan yang luar biasa, Elly belum peka kalau Alves memiliki sifat yang saling berkontradiksi antara saat bersama dengan Elly dan saat bersama dengan orang lain.


Tapi karena ia sudah di berikan misi pertama untuk bekerja di kantor, Elly pun akan menjalankannya.


Dia dengan semangat menggulung lengan bajunya, lalu duduk di depan komputer, membaca dokumen pertama yang sudah di urutkan, dan yang ketiga dalah memindahkan tulisan itu kedalam layar komputer yang terlihat seperti tv?


"Bagaimana cara menyalakannya?" Elly menyentuh layar komputer itu, karena Elly pikir itu adalah layar yang bisa di sentuh, tapi ternyata bukan! 'B-bagaimana ini? Di tempatku komputernya sudah dengan kaca, dan semua fitur dari menyalakan serta mematikan daya, bahkan hanya dengan menggunakan perintah suara. Ini bagaimana caranya aku memakainya?'


Elly yang awalnya hendak mengerjakannya dengan cepat, akhirnya tertunda karena dia sama sekali belum bisa menyalakan komputer.


"Eh, disana ada." melihat di meja kerja ada komputer, Elly mencoba menilik ke sana.


Dengan langkah yang terkesan tegas, Elly pergi ke sana, dan benar!


Komputer milik majikannya justru sudah menyala!


"Ini kan lebih lebar, sudah menyala, aku hanya tinggal eksekusi semua dokumennya kan?" Ucap Elly pada dirinya sendiri dengan wajah senang, karena ia akan mengeluarkan keahliannya dalam hal kecepatan.


Di ruang rapat.


'Ini sudah lebih dari empat jam rapat, apa Tuan tidak mau Istirahat dulu?'


'Ya ampun, lelahnya. Aku sangat ingin sekali menculik Tuan agar bisa beristirahat normal.'


'Ya ampun, aku ingin sekali pergi liburan. Pakai di undur segala, Tuan memang kejam kepada karyawannya. Walaupun gajinya besar, tapi resikonya juga sama-sama besar.'


"Hah~" Enam belas orang yang sedang duduk di posisi samping sebelah kanan dan kiri, tanpa perjanjian apapun, mereka semua sama-sama menghela nafas kasar.


Mereka semua merasakan mental yang cukup berat untuk menghadapi pekerjaan yang harus mereka tanggung, karena orang yang harus mereka semua hadapi adalah Alves, si penggila kerja.


Alves sudah di juluki sebagai pria yang lebih mencintai pekerjaannya ketimbang mencari wanita yang sudah lama mengantri di luar sana.


Dan kegilaannya itu harus di tularkan pada semua karyawan di dalam kantornya.


"Apa segini saja kalian sudah lelah." Cbir Alves sembari melihat dokumen proyek pembangunan resort yang hendak kemarin dia bahas kepada mereka semua.

__ADS_1


Orson yang peka terhadap situasi yang ada di dalam sana, langsung berjalan menghampiri Alves dan berbisik. "Bos, sebaiknya sekarang waktunya Istirahat dulu, ini sudah melewati jam istirahat, dan mereka semua butuh makan agar mengembalikan tenaga. Bukankah orang yang lapar akan lebih menyusahkan? Dan Bos juga meninggalkan Nona pelayan Elly di kantor Bos kan?"


".........!" Alves spontan menghentikan acara membacanya. Dia meletakkan dokumennya di atas meja dengan kasar.


PHAK.


Semua orang yang ada di ruang rapat pun langsung terganggu dengan aksinya Alves itu.


'Jangan-jangan Tuan mau marah,' Semua orang menelan semua salivanya sendiri, karena suasana di dalam sana sudah tegang, dan sekarang bertambah tegang akibat tatapan mata dari Alves cukuplah mengintimidasi.


Semua pikiran negatif terus menghantui perasaan mereka semua. Tidak ada yang terkecuali karena mereka sendiri sudah lelah, dan mental selalu terguncang setiap kali ada rapat mingguan seperti itu.


"A-"


Semuanya menggertakkan gigi melihat kalimat yang hendak di ucapkan oleh pria berstatus tinggi itu akan keluar dari mulut. Mulut penuh maut, karena setiap kalimat yang keluar, justru terasa seperti kalimat penghakiman.


Alves mendelik, memperhatikan satu persatu raut muka dari anak buahnya yang terlihat seperti akan mendapatkan tuntutan berat atas kasus yang tidak bisa di maafkan.


Sedikit senang, karena mereka semua berekspresi takut, Alves pun akhirnya berkata : "Aku akan Istirahat dulu, rapat di mulai lagi jam setengah dua."


BRAK.


Dalam sekejap mata, Alves sudah ada di ambang pintu dan sudah menutup pintu ruang rapat dengan kasar, sehingga semua orang yang ada di sana langsung bernafas lega, sekaligus bingung.


"Orson, apa yang kau katakan kepada Tuan?"


"Hm?" Orson sedikit memiringkan kepalanya ke samping kanan, lalu menjawab : "Saya hanya mengatakannya untuk makan siang saja,"


"Hanya mengatakan makan siang, langsung pergi seperti itu?"


"Tapi ini kesempatan kita buat Istirahat, sebelum masuk kedalam neraka lagi."


"Ayo, kota lebih baik keluar juga, sebelum waktunya habis, dan aku kelaparan."


Tidak ada yang begitu memperdulikan alasan kenapa Alves tiba-tiba saja pergi, Orson pun membereskan lebih dulu semua berkas dan laptop nya, agar tidak ada seorang pun yang berani menggunakannya secara diam-diam, jika di tinggal begitu saja, dan sekalipun pintu juga di kunci.


'Bos memang berubah, berkat Nona pelayan itu.' Hanya dengan memikirkannya saja, Orson jadi ikut senang, karena setidaknya sekarang ada satu orang yang perlahan mampu untuk merubah kebiasaan Bos nya itu.

__ADS_1


__ADS_2