Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
112 : PTRI : Kunjungan yang tidak terduga.


__ADS_3

"K-kakek?! Apa yang kakek lakukan di sini?" Terkejut Alves saat mendapati kakeknya tiba-tiba sudah ada di depan kamarnya persis.


"Apa yang kau khawatirkan? Aku hanya mampir mengunjungimu saja, memangnya tidak boleh?" Jawabnya.


Alves yang lumayan terkejut dengan kedatangan dari kakeknya, langsung menjeling tajam ke arah Orson yang sedang berdiri di belakang sofa.


Dan hanya dengan sekali tatapan mata yang cukup tegas itu, Orson pun tahu apa artinya.


"Apa kau yang memberitahu kakekku soal aku ada di sini?" Tanya Alves kepada Orson.


Orson merespon pertanyaan dari Alves dengan gelengan kepala serta kedua tangan yang di angkat dan di membentuk tanda X "Aku sendiri juga tidak tahu! Dia itu kakekmu, sudah pasti dia tahu segalanya tentangmu, kau dan kakekmu kan punya kuasa sendiri-sendiri."


'Benar juga. Dia itu kakekku, sudah pasti dia menyuruh seseorang untuk mengintaiku. Tapi apa yang mau kakek lakukan disini?' pikir Alves.


Sedangkan kakeknya Alves, sedikit menilik ke arah kanan ataupun kiri, mencari celah untuk melihat apa yang ada di dalam kamarnya.


"Kakek-"


"Apa yang kau sembunyikan di dalam?" Kakeknya Alves pun semakin penasaran dengan apa yang ada di dalam kamar cucunya itu.


"Sembunyikan apa? Jangan mengada-ngada, aku tidak menyembunyikan apapun." Jawab Alves dengan santai.


Ya, setidaknya dia bersikap santai di luar, tapi tidak dengan apa yang ada di dalam.

__ADS_1


'Jangan-jangan kakek curiga, makannya mencoba memergoki aku. Arhh! Kenapa harus sekarang? Aku kan jadi belum sempat membuat Elly pergi dan bersembunyi.' Racau Alves, sungguh ingin sekali bersembunyi di lubang tikus, karena di balik ucapannya yang pernah mengatakan tidak tertarik dengan wanita, dan hanya menjalin hubungan palsu dengan wanita lain, dirinya saat ini justru sudah mengingkari ucapannya sendiri, sebab ia baru saja meniduri seorang wanita yang menjadi pelayannya sendiri.


"Begitukah? Aku jadi penasaran, karena kamarmu kelihatannya berantakan sekali." Kata kakeknya Alves, sempat menemukan sedikit celah untuk melihat kondisi yang ada di dalam kamarnya Alves, sang cucu.


"Kenapa penasaran dengan kamar cucumu sendiri, jangan membuatku kehilangan muka, jika ada yang mau kakek bicarakan, ikut aku ke ruang tamu." Tutur Alves, segera menutup pintu kamarnya dengan rapat-rapat, agar tidak ketahuan kalau di dalam kamarnya ada sesuatu yang lebih berantakan.


Namun di saat yang sama, tepat ketika pintu tersebut tinggal beberapa centimeter lagi akan tertutup rapat, satu tongkat langsung menghalangi pintu kamar nya Alves untuk tertutup.


"...........!" Alves jadi panik, karena kakeknya punya trik sendiri untuk menemukan keinginannya itu. "Kakek, apa yang kakek lakukan?!" Alves mencoba menarik tongkat milik dari kakeknya.


Tapi kakeknya sendiri itu, justru masih saja punya tenaga lebih untuk bertahan pada posisinya.


"Aku ini sedang penasaran, bagaimana kehidupanmu setelah bangun tidur?"


"Aku ini bukan anak kecil yang harus di perhatikan sedetail itu." Kernyit Alves, benar-benar merasa risih dengan cara kakeknya memberikan perhatian kepadanya.


Namun, karena kakeknya Alves masih memiliki tenaga untuk melawan cucunya itu, Alves yang kewalahan itu langsung di dorong keras oleh kakeknya sendiri.


BRAKK...!


"Akh...., kenapa sudah kakek-kakek, tapi masih saja sekuat ini?" Gerutu Alves.


"Hmph..., jangan berpikir kalau aku sudah mulai bau tanah, aku punya tenaga lembek." ucapnya, menyombongkan diri. "Minggir, jika kau tidak menyembunyikan apapun seharusnya kau tidak menghalangiku masuk." Matanya pun menyelinap untuk melihat ke semua sisi dari kamar mewah itu. Terlihat jelas, betapa berantakannya permukaan dari tempat tidur tersebut, sampai pakaian pun berserakan di lantai.

__ADS_1


'Elly? Semoga dia tidak bertemu dengan kakekku.' Diam-diam Alves berharap kepada wanita itu untuk bersembunyi dengan baik.


"Alves, apa kau baru saja berolahraga? Dari segi pakaianmu yang berserakan, itu seperti kau baru saja melakukan sesuatu diam-diam di belakangku ya? Katakan, apa kau baru saja tidur bersama dengan seorang wanita?" Kakeknya Alves mencoba menarik selimut putih nan tebal itu dan membuangnya ke lantai dengan kasar. Barulah ia melihat kalau permukaan tempat tidur itu sudah basah, apalagi adanya noda darah di atas sprei, membuat rasa curiganya pun semakin besar.


DEG...


"Tidak." Alves malah menjawabnya dengan menyangkalnya. 'Kenapa mulutku malah menjawab tidak?! Kalau seperti ini kan kakek jadi semakin curiga.' benak hati Alves.


Mendengar hal itu, laki-laki tua ini jadi semakin marah. "Kau mau menyangkalnya, di saat kasurmu saja sudah menjadi saksinya? Katakan dengan jujur, apa kau baru saja tidur dengan seorang wanita?"


Tapi karena dirinya sudah tidak sabar untuk melihat wanita yang sudah ia tebak siapa dia, dari kamar mandi, lemari, sampai ruang khusus untuk menyimpan pakaian pun langsung di buka dengan cara yang kasar.


Alves sempat panik, karena takut ketahuan, kalau dirinya meniduri seorang wanita yang menurut Alves, sudah jelas bukan selera dari kakeknya.


Selera yang Alves maksud adalah di bagian statusnya saja.


Karena selama ini, setiap wanita kencan buta yang Kakeknya pilihkan, rata-rata berasal dari kalangan antara di bawahnya sedikit, maupun statusnya cukup setara dengannya.


Tapi rasa khawatirnya terhadap Elly yang kemungkinan akan ketahuan, membuatnya jadi bingung, sebab semua pintu di semua sudut di dalam kamarnya sudah sepenuhnya di buka dan di cek, tapi Alves pun tidak menemukan tanda-tanda dari Elly.


Suasananya pun jadi semakin mencekam, sebab kakeknya begitu terlihat marah kepadanya.


__________

__ADS_1


Sedangkan di luar rumah. Elly baru saja keluar lewat kaca jendela kecil yang digunakan sebagai ventilasi udara dari kamar mandi.


'I-itu hampir saja. Kalau ketahuan, aku pasti jadi tambah repot. Ini semua gara-gara Alves, kenapa dia malah membantuku dengan meniduriku dengan sungguh-sungguh? Aku harus meminta Orson untuk membeli obat kontrasepsi sekarang. Jika, tidak ada kemungkinan lain yang tidak aku harapkan.' Pikir Elly, ia sama sekali tidak ingin memiliki apapun selain uang, jadi ia pun harus mencegah kemungkinan yang terjadi itu.


__ADS_2