Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
145 : PTRI : Restu?


__ADS_3

Alves menghela nafas dengan panjang dan menjawab : "Anggap saja begitu. Lagi pula, Kakek kan tahu berita soal dia yang sempat hilang karena bunuh diri, semuanya itu bohong."


"Apa?" seketika ia semakin tertarik dengan topik yang tengah di bahas oleh Alves. "Bohong bagaimana, dia pasti-" Lirikan matanya terus tertuju pada Elly yang sedang menyeduh teh lagi untuk mengisi cangkir teh mereka bertiga yang sudah kosong.


"Ya, hasil penyelidikan, Elly, maksudku Everlyn ini, dia mendapatkan motif pembunuhan berencana." Alves juga bicara dengan wajah semakin serius.


'Pembunuhan berencana ya? Aku tidak tahu sih, tapi biarkan dia membujuk kakeknya itu agar aku terlihat sebagai korban.' Dalam diam Elly hanya tersenyum lega karena Alves rupanya diam-diam sudah menyelidiki latar dari insiden Elly yang sempat terdampar di pantai adalah karena dia mendapatkan motif pembunuhan rencana.


"DIa tercebur di laut karena rem blong, dan karena insiden itu juga, di terdampar dengan tubuh terluka, tapi jik-"


"Tunggu, berhenti dulu Alves. Apa kau mau mengungkit masalah itu tepat di depannya juga?" sela kakeknya Alves agar cucunya itu berhenti berbicara dulu, sebab di sini juga ada orang yang berhubungan langsung dengan topik pembicaraan mereka.


Alves sontak melirik ke arah Elly dan berta : "Dia tidak punya ingatan sebelumnya akibat kecelakaan itu. Jadi aku pikir akan lebih baik aku menceritakan di depannya langsung agar ia tahu situasinya yang sebenarnya."


'Jadi dia tidak memiliki ingatan sebelumnya? Tapi- bisa jadi Alves membohongiku, ah sudah-sudah, kalau terus di bahas tujuanku jadi melenceng. Meskipun wanita ini terlihat seperti wanita luar pada umumnya yang suka menggoda pria, tapi jika dia berhasil membuat hati Alves terbuka sampai ingin melindunginya dariku, bukankah artinya Alves memang ingin agar wanita ini ada di sisi cucuku?


Tapi karena kecelakaan itu, dan Alves yang menolongnya, wanita ini berpikir untuk membalas budi dengan menjadikannya pelayan.


Hanya saja, entah kenapa, mungkin gara-gara pertemuan mereka berdua yang seperti itu, Alves jadi ingat siapa yang dia tiduri di masa lalunya, dan itu adalah wanita ini.


Apakah ini takdir, atau sebuah kebetulan belaka?' Otaknya pun berpikir cukup keras. Dia tengah menimbang-nimbang waktu yang sebenarnya di miliknya sudah tidak banyak lagi, karena penyakit orang tua pasti akan membuatnya tidak akan bertahan lebih lama.


Maka dari itu, karena alasan tersebut, dia ingin melihat cucunya setidaknya menikah dengan seorang wanita yang di cintai.


"Elly, tuangkan lagi." Pinta Alves.

__ADS_1


"Baik."


Dan karena ia melihat hubungan dua orang di depannya itu cukupkah dekat, dia berpikir tidak ada salahnya untuk mendukung hubungan mereka berdua.


"Walaupun pekerjaanmu pelayan, selama kalian berdua merasa nyaman dan merasa saling melengkapi, aku pikir kakek tua ini tidak mempermasalahkan hubungan kalian berdua." Ucap laki-laki tua ini sambil mengelus dagunya yang berjenggot putih dengan kepala yang terus memanggut-manggut.


"UHUKKK...UHUKK..."


"UHUKK..!"


Mendengar ucapan dari sang Tuan besar, mereka berdua langsung terkejut setengah mati sampai mereka berdua sama-sama tersedak sendiri.


"A-apa kakek bilang tadi?" Alves masih ragu dengan indera pendengarannya.


'Apa yang di katakan oleh kakek ini? Dia benar-benar tidak mempermasalahkan hubungan kami berdua meskipun saat ini aku hanya punya status sebagai pelayan saja?' pikir Elly juga.


Elly yang terkejut karena ujung tongkat itu hampir saja menabrak keningnya, hanya mematung di tempat.


"Apa yang membuat anda berpikir untuk merestui kami punya hubungan, padahal saya pelayan rendahan dan dia adalah tuan mudaku?"


"Dari pada cucuku terus melajang sampai aku meninggal, bukankah lebih baik mengikuti keinginan hati dari anak itu agar bisa berhubungan denganmu?" Matanya yang berkilat itu sempat menyiratkan bahwa dia benar-benar serius dengan apa yang keluar dari mulutnya. "Aku sudah terlalu tua untuk mendidik cucuku yang sudah sebesar ini, lagi pula semua kencan buta yang sudah aku dan ibunya atur saja terus saja di tolak, akan lebih baik kau terus berada di sisi cucuku. Apa sampai sini kau masih membutuhkan penjelasan?"


"Tapi aku sendiri hanya tidak menyangka, kakek mau menerima dia yang bahkan tidak punya latar belakang bagus sepeti itu. Memangnya tidak masalah, jika aku membiarkan dia jadi cucu menantumu?"


Dengan tatapan malas, kakek ini langsung menjawab : "Kau pikir kakek ini punya segudang syarat untuk cucu menantuku?

__ADS_1


Aku hanya berpikir kalau apa gunanya pernikahan politik, karena ujung-ujungnya keluarga tidak punya keharmonisan sama sekali.


Aku hanya tidak ingin kau jadi korban seperti Ayah dan Ibu mu. Mereka lebih suka dengan dunianya masing-masing, sekalipun mereka sudah menikah dan punya anak, ujung-ujungnya kau bahkan sama sekali tidak mendapatkan kasih sayang dari mereka berdua.


Karena menganggap kewajiban untuk memiliki penerus sudah di jalani, maka mereka sudah tidak punya tanggung jawab apapun lagi.


Aku tidak ingin seperti yang sudah -sudah. Jadi tidak usah mempermasalahkan soal latar belakang dan status, asal kalian berdua memang saling mencintai, itu sudah lebih dari cukup, setidaknya hubungan kalian tidak terllau terpaku pada kewajiban karena dasar hubungan politik."


Begitu mendengarnya, mereka berdua pun seperti mendengar suara laut berombak yang punya kebebasan tiada batas.


Awalnya mereka beranggapan tebing adalah dinding kokoh yang tidak bisa di hancurkan jika tidak menggunakan kekuatan penuh, tapi saat mereka berdua mendengar pernyataan dari kakek tua itu bahwa dia merestui mereka berdua, khusus untuk Alves, dia merasa seperti baru saja terlepas dari belenggu yang selama ini mengikatnya dalam sebuah bayangan yang tidak kasat mata.


Itulah mengapa, Alves merasa senang saat mendengar sang kakek bahkan mengizinkan dirinya mendapatkan kebebasan untuk memilih pendamping hidup tanpa di atur-atur lagi.


Setelah pembicaraan mereka bertiga yang awalnya tegang, suasana nya pun jadi mencair, apalagi saat kakeknya Alves bertanya apa yang bisa Elly kerjakan.


Dengan ceplas ceplos tanpa filter sedikitpun, dia menjawabnya dengan suka hati. "Saya bisa melakukan semuanya, bahkan sepertinya keinginan dari Tuan muda yang menginginkan saya mengandung anaknya, saya juga bisa. Tapi ada satu hal yang tidak saya bisa lakukan, yaitu menghibur seseorang."


'Dia, mulutnya memang tidak bisa di filter. Tapi karena Alves bahkan terlihat seperti kucing yang sudah ingin minta jatah makanan, aku rasa jika mereka berdua menikah, suasana rumahnya jadi semakin hangat.'


"Padahal beberapa hari lalu, bukannya kau menolaknya?"


Elly lantas menoleh ke arah kirinya. Soal kejadian tempo hari itu, Elly memang menolak mentah-mentah keinginan dari Alves itu, karena waktu itu ia memang belum begitu tahu kalau ada sisi lain dari diri Alves ini, dimana rupanya Alves juga punya sisi dari orang yang dia kenal, yaitu Azriel.


"Karena saya memang masih menginginkan kebebasan saya sendiri." Jawab Elly, membuat Alves teringat bahwa Elly ini memang memiliki masa lalu pahit karena pengkhianatan dari calon suaminya dulu.

__ADS_1


"Apapun keputusan kalian berdua, aku hanya berharap jika memang sudah memutuskan ingin hidup bersama, dan kau bisa melepas statusmu yang tidak punya latar belakang serta pekerjaanmu jadi pelayan, segeralah menikah. Itu yang aku harapkan, tidak kurang dan tidak lebih. Karena ini sudah larut, aku akan pergi." Begitulah, setelah selesai bicara, kakeknya Alves langsung di jemput oleh supir pribadinya yang baru saja datang, dan menempatkan kembali Alves dan Elly berdua di dalam rumah besar itu untuk memikirkan baik-baik keputusan mereka berdua.


__ADS_2