
Malam itu, begitu mereka berdua menjalani hari mereka berdua bersama-sama setelah masa lalu mereka berdua berasal dari zaman yang sama, Alves akhirnya bisa sampai di rumahnya.
Begitu gerbang tinggi dan besar itu terbuka secara otomatis, dua orang anak buah Alves yang berjaga di sana segera membungkukkan tubuhnya sebagai tanda hormat.
Melihat kedua anak buah Alves menunduk hormat ke arah mereka berdua, Elly merasa sangat familiar dengan posisinya saat ini yang begitu mirip dengan masa lalunya.
"Ah." Rintih Elly, tiba-tiba saja melihat kilatan masa lalunya itu justru bercampur dengan ingatan dari tubuh yang ia gunakan itu.
"Bungkuk! Kau di sini bukan untuk menjadi anak asuh seperti yang kau ekspektasikan, tapi sebagai pembantu, apa kau mengerti?!"
Suara milik seorang wanita yang di duga adalah ibu angkatnya Raelyn terus mengisi kebisingan di kepalanya.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Alves sedikit khawatir melihat Elly yang nampak kesakitan, sebab di satu sisi sebenarnya di dalam kepalanya masih ada pembuluh darah yang pecah, walaupun sedikit itu tetap saja sebenarnya mempengaruhi motorik dari tubuh itu.
"Aku baik-baik saja, hanya ada suara berisik dari nenek peyot yang terus saja marah-marah."
"Apa itu ingatan dari Raelyn?" Tanyanya.
"Iya." Jawab Elly dengan singkat.
"Sewaktu-waktu pasti kalian akan ketemu lagi, apa yang mau kau lakukan jika kalian bertemu? Apalagi Cecil, dia itu termasuk saudara tirimu juga."
__ADS_1
"Ahh, entahlah, aku sedang tidak mau memikirkan soal itu. Lebih baik cepat pulang, aku ingin tidur." keluh Elly, ia sudah berkeringat banyak gara-gara AC mobilnya justru tiba-tiba saja rusak.
Huh, Elly pun berpikir kalau mobil itu harus di ganti dengan yang baru.
"Kau harus temani aku tidur."
"Pria yang manja." Cibir Elly.
"Kalau tidak manja, bukan Alves namanya. Lagi pula aku kan yang membayar semua gaji apa yang sudah kau kerjakan kepadaku selama ini, jadi terima saja."
"Iya deh. Atau kau bahkan ingin layanan plus plus lagi?"
Sebuah ucapan yang asal di ucapkan tapi cukup berhasil untuk memancing minat Alves dalam hal olahraga, membuat Alves tersenyum tawar. "Ya, kalau kau mau. Tapi bukannya kau bahkan masih belum benar-benar bersih, ya?" Dan lirikan matanya pun tertuju pada dua belah kaki yang ada di balik rok yang Elly pakai.
Sampai tidak lama setelah itu mereka berdua pun sampai di depan rumah.
"Kau mau makan apa? Akan aku masakkan."
"Kalau saja aku bisa memakanmu, aku sudah pasti inginnya yang itu saja." Ledek Alves, keluar dari mobilnya, lalu karena ia gemas dengan sosok dari Elly yang sok jual mahal tapi mulutnya malah sok jual murah, membuat dirinya tidak kuasa untuk menahan tidak menggendong tubuh itu.
Tubuh yang ramping dan terlihat rapuh, tapi tersimpan banyak energi berlimpah untuk membuat orang bertekuk lutut.
__ADS_1
Sangat mengecoh mata orang lain, itulah kesan yang Alves miliki saat melihat Elly dengan senang masih saja menepuk-nepuk senjata yang ada di balik roknya itu.
"E-eh, Alves, turunkan aku." kedua kakinya berayun minta turun.
"Bisa diam tidak?" Tekan Alves dengan sorotan mata yang dingin, yang mana hal itu berhasil membuat Elly terkesiap dengan ekspresi wajah Alves yang begitu dingin, tapi tetap saja tidak menghilangkan pesona dari wajah rupawan itu.
PLOK.....
Dengan sengaja, tangan kanan Elly pun mendarat di pipinya Alves.
"Ok, aku akan diam, asal kau bisa kasih aku uang jajan tambahan sekarang juga."
"Memang mata duitan ya." balas Alves dengan senyuman nakalnya, lalu tidak lama setelah itu, Alves pun menundukkan kepalanya dan Elly sedikit menarik tubuhnya ke atas dan ia pun memberikan sebuah kecupan selamat malam kepada pria ini.
CUP...
KLEK.....
Dan di saat yang sama juga, pintu yang otomatis terbuka sendiri, tiba-tiba saja di dalam sana berdiri seorang kakek tua yang terlihat sudah menunggu.
"Alves, jadi kau akhirnya punya wanita yang ingin kau tiduri untuk membuat cucu untukku?"
__ADS_1
'Kakek?!' Alves dan Elly pun sontak langsung terkejut dengan suara itu, dan membuat mereka berdua langsung melongo dengan ucapan yang barusan mereka berdua dengar itu.