Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
146 : PTRI : Pusat perhatian


__ADS_3

"Kau dengar itu? Bahkan kakekku sendiri sudah merestui hubungan kita, jadi apa kau mau?" tanya Alves, dia memeluk Elly dari belakang yang masih menikmati teh hijau itu, sekalipun suhu airnya sudah dingin sekalipun.


"Kenapa kau jadi berubah seperti ini? Aku kira dulu kau dulu punya sisi yang cukup misterius, tapi sekarang kau bahkan kebelet?"'


"Itu karenamu, kau dulu menolak pertunangan kita, dan malah memilih pria lain, jadi bukannya kau sekarang sadar, bagaimana rasanya orang yang sudah cinta buta? Karena kau sendiri dulu juga pernah cinta buta ke pria lain?


Kau setidaknya harus merasakannya dariku.


Dan soal dulu, aku yang punya wajah seperti dinding, itu karena tubuhku punya banyak pengalaman lebih pahit, aku sampai lupa caranya tersenyum, dan jelas aku merasa berbeda dengan saat aku bisa menggunakan tubuh ini, aku bahkan bisa marah dan menertawaimu." Jelas Alves. Dia menjelaskan alasan di dunia sebelumnya bersikap dingin dan seperti orang yang tidak punya ekspresi wajah, adalah karena dia memang tidak memiliki satu kebahagiaan pun di dalam hidupnya, karena tuntutan keluarganya yang cukup kuat dan sangat membatasi.


Tapi, berbeda dengan yang dulu, sekarang dia punya kehidupan yang cukup bebas, sebab baik itu masa kecil, remaja, bahkan dewasa, tubuh yang ia diami itu punya banyak orang-orang di sisinya yang antara menyenangkan sampai menjengkelkan, semua ekspresi dari orang-orang di sekitarnya lah yang membuat dirinya tumbuh dengan hati yang memiliki banyak perasaan juga.


Tidak ada tekanan dari keluarga, karena tidak ada diantara satupun di dalam keluarganya yang bermusuhan untuk mengambil posisi ahli waris Avaris, sebab semuanya sudah sukses bidang usaha mereka masing-masing, jadi tidak ada yang peduli dengan Alves sendiri, itulah poin inti dari dirinya saat ini, Azriel yang jiwanya bersatu dengan jiwa Alves yang asli, membuatnya jadi memiliki kehidupan baru yang lebih baik ketimbang kehidupan sebelumnya.


"Tapi setidaknya, jika bukan karenamu yang waktu itu bicara kepadaku di dermaga karena kau sudah lelah hidup, aku tidak mungkin punya keputusan untuk membunuhmu dan membunuh diriku sendiri." Imbuhnya lagi.


"Dengan kata lain, jadi- apa maksudmu kau dari awal memang sudah menyukaiku?" Toleh Elly ke samping kanannya, sehingga wajah mereka berdua pun saling berhadapan satu sama lain.


"Ya," Jawab Alves singkat sambil memejamkan matanya. Sekalipun tubuh Elly berkeringat, tapi itu tidak membuatnya merasa terganggu dengan aroma tubuh dari wanita ini, dan yang ada justru ia jadi merasa cukup menikmatinya. "Aku dari awal memang sudah menyukaimu, hanya saja saat itu aku memang tidak tahu cara mengungkapkan rasa sukaku padamu saja. Makannya, aku memaklumimu yang berpikir aku tidak menyukaimu."


Selesai mendengarkan jawaban dari Alves, Elly tiba-tiba saja tersenyum lemah. "Jadi aku memang benar-benar wanita bodoh ya? Aku bahkan tidak tahu kalau kau menyukaiku, karena aku memang beranggapan pernikahan politik itu adalah sesuatu yang memberatkan kita berdua yang baru kenal sekali."


"Elly, apa kau bisa berhenti membahas masa lalu? Sekarang lakukan tugasmu, ayo." Alves tiba-tiba saja menarik tangannya Elly agar berdiri dari tempat duduk.


"Melakukan tugas apa lagi? Apa kau sudah lapar?" tanya Elly dengan wajahnya yang begitu polos itu.


"Bukan, kau bisa masak nanti, tapi jika kau sudah menemaniku mandi." Dan begitu Elly sudah berdiri, Alves kembali menggendong tubuh Elly dan membawanya pergi ke kamarnya Alves dengan menggunakan lift.


Malam pengungkapan dari jati diri Alves yang sebenarnya itu, akhirnya berhasil membuat suasana hati Elly perlahan berubah.


Alves, setidaknya dia sadar kalau di balik keteguhan Elly yang selama ini terus menolak cintanya, karena di hatinya masih tersimpan orang yang masih di cintainya.


Bukan sekedar trauma karena pengkhianatan dari calon suami Elly dulu, melainkan karena menyesal Azriel yang merupakan calon tunangannya, di tolak mentah-mentah, sehingga jelas kalau Elly memiliki penyesalan dengan apa yang terjadi di masa lalunya.

__ADS_1


Tapi, setidaknya Alves sekarang berhasil mengubah sudut pandangnya Elly terhadapnya.


Itulah pencapaian terbesarnya untuk menaklukan wanita yang tadinya punya keteguhan hati dalam menolaknya, kini jadi mau menerimanya.


Dan begitu mereka berdua berhasil masuk kedalam kamar, mereka pun saling menghabiskan waktu bersama di dalam kamar mandi.


_______________


"Felix, hei, Felix, apa yang sebenarnya kau lamunkan?" Tanya Darren, dan di susul dengan Warren juga Arshen yang baru saja duduk nimbrung setelah berhasil menemukan Feli.


Mereka adalah empat sejolin yang tidak pernah terpisahkan, makannya tidak ada yang berani mengganggu ke empat laki-laki ini di kampus, karena mereka cukup terkenal.


Tentu saja, yang bisa mengganggunya adalah orang-orang yang merasa setara dengan mereka.


"Apa kau memikirkan si Raelyn lagi yang waktu itu?"


"Dia bukan Raelyn, tapi Elly." tekan Warren terhadap Darren yang salah menyebut nama.


"Mau Raelyn atau Elly, tetap saja dua nama itu orang yang sama, waluapun beda sifat." Sela Arshen dengan malas.


"'Hahaha, kualat kan, makannya jangan seenaknya dengan dia diam-diam di belakang kami bertiga, dia itu miliknya Felix." ucap Darren membenarkan, bahwa apa yang terjadi pada Arshen sampai mendapatkan hukuman yang keras oleh Elly adalah sebagai bentuk hukuman karena Arhsen rupanya pernah bertindak senonoh dengan Elly di belakang mereka bertiga.


"Diamlah, lagian waktu itu aku hanya tersulut emosi saja. Jadi jangan bahas dia lagi." pinta Arshen.


Namun, begitu mereka baru saja membahas Elly, orang yang di bicarakan nya pun muncul.


Tentu saja, tidak seperti dulu dimana tubuh yang di huni Elly berpenampilan super biasa, kini dia memakai pakaian branded yang di belikan oleh Alves kepadanya.


Dan dia baru saja keluar dari mobil sedan tapi sebenarnya punya merk mewah yang mana logo dari mobil yang di bawa oleh Elly sudah di copot, sehingga dia pun terkesan membawa mobil biasa saja.


"Wah siapa itu? Felix, sadar dari lamunanmu, lihat, budakmu sudah datang." Darren malah dengan sengaja menambahkan kata budak di dalam kalimatnya sebab beberapa bulan yang lalu, Elly itu alias Raelyn, memang di jadikan budak oleh mereka berempat.


Tapi, melihat karena pernah mengalami situasi sulit bersama, mereka tidak akan bisa menganggap wanita itu jadi budak mereka lagi, apalagi jika mengingat di belakang Elly ada satu orang yang punya kekuasaan melebihi kekuasaan milik keluarga mereka bertiga.

__ADS_1


"Dia siapa? Apa ada wanita cantik di kampus kita?"


"Eh iya, tapi kenapa wajahnya cukup familiar?"


"Kalau di pikir-pikir wajahnya terlihat mirip dengan si perempuan dekil si Raelyn itu. Tapi bukankah dia menghilang setelah bunuh diri ke laut, dan bahkan mayatnya saja tidak bisa di temukan."


"Atau jangan-jangan, dia bisa saja kembarannya."


Semua orang yang melihatnya langsung berkasak kusuk membicarakan Elly yang kini sedang berjalan masuk kedalam kampus.


Tentu, kedatangannya pun berhasil menarik perhatian sebagian besar laki-laki di sana, karena mereka bisa menemukan wajah yang cukup familiar, tapi juga punya kecantikan yang beda jauh dengan Raelyn yang mereka kenal.


TAP.....TAP....TAP......


Dengan sepatu bertali berwarna putih, dan rok rimpel berwarna hitam selutut, serta blazer berwarna cream berpadukan dengan pakaian kaos berkerah, juga rambut panjang yang tergerai, membuat dia semakin menarik perhatian Felix juga.


"Kampus tapi panas, dan apa-apaan dengan style yang di pilih oleh dia itu, ini sangat tidak cocok, aku kan jadi seperti tidak punya selera fashion yang bagus." gumam Elly, dia sedang berdiri di depan pintu kaca sambil bercermin.


Dia sempat merapikan pakaiannya, tapi rupanya di balik pintu kaca itu,sudah ada deretan laki-laki yang sedang menatapnya.


"Hei, kenapa kalian semua menatapku? Memangnya aku ini tontonan?" Cetus Elly sambil memiringkan tubuhnya k samping kanan, memergoki mereka semua.


"Kau tidak tahu kalau disini ada siswi baru."


"Benar tuh, apa kau baru saja masuk hari ini?"


"Namamu siapa? Apa aku boleh berkenalan?"


"Jangan-jangan kau adalah model majalah ya? Kau lebih cantik dari pada Raelyn udik itu."


"Ah kau benar, karena budak itu sudah tidak ada sini lagi, kampus kita jadi kedatangan bidadari."


'Apa sampai sebegitunya mereka memandang rendah Raelyn? Padahal orangnya ada di depan kalian, tapi kalian bahkan menganggap kalau aku ini orang lain.

__ADS_1


Sebenarnya kalian menggunakan mata kalian tidak sih? Aku jadi ingin sekali menjahit mulut kalian yang berisik, dan mencongkel mata kalian yang jelalatan melihatku dengan tatapan mes*um seperti itu. Sayangkan aku sekarang tidak membawa benang dan jarum, jadi kira-kira aku harus bagaimana ya untuk membuat mereka semua sadar diri dan menutup mulut busuk kalian itu?' Elly pun jadi berpikir bagaimana untuk mengurus para pria di depannya itu, sebab di satu sisi setelah ia menarik perhatian kaum adam, maka kaum hawa pun langsung melototi nya dengan tatapan tidak suka.


__ADS_2