
"Kalau mau menangis, nangis saja." Lirik Alves, sedang menyetir mobil menuju ke rumah sakit.
"Memangnya apa yang bisa berubah jika aku menangis?" rungut Elly.
'Tidak ada yang berubah sih, tapi apakah dia mau menahan diri dari rasa sakitnya itu?' tanya Alves dalam hati.
__________
Sampai beberapa puluh menit kemudian, setelah berada di ruang persalinan.
"Hikss..hiks...ini sakit! Alves, ini sakit!" Ronta Elly sambil memegang tangan kekar milik Alves.
Alves yang kebingungan itu, hanya bisa mengusap keningnya Elly, untuk menyibak rambutnya Elly ke belakang.
"Tahan, nanti jug-"
"Tahan gimana?! Ini sakit, rasanya aku seperti mau mati!" Protes Elly, dia terus mencengkram sampai akhirnya kukunya itu mencakar tangannya Alves sampai memerah, dan keringat pun jadi ikut bercucur seperti sedang mandi keringat sebab sama-sama panik.
"Kau tidak akan mati, jadi jangan mengatakan yang tidak-tidak seperti itu." ucap Alves.
"Tapi ini betulan sakit Alves." kata Elly dengan wajah sudah sembab karena bercampur antara keringat, juga air mata yang terus mengalir. "Kenapa saat membuatnya enak, tapi saat mengeluarkannya sesakit ini? Kau itu mendong, tapi aku yang susah. Enak, buat anak, enak saat membuatnya saja, tapi saat seperti ini, aku juga yang nanggung."
"T-tuan Alves, saya harap anda tidak tersinggung, semua wanita memang merasakan hal semacam ini." ucap sang dokter kepada Alves dengan nada ragu.
"Ya, aku tidak tersinggung juga. Kebenaranya juga memang seperti itu. Tapi jika memang kau merasa tersiksa seperti ini, ini bisa jadi yang pertama dan terakhir kalinya untukmu. Jadi setidaknya bertahan sampai kau bisa melahirkannya dengan selamat."
"Hah..bicara itu memang mudah." ucap Elly dengan de*sa*an nafas yang cukup kasar. 'Tapi rasanya aku memang seperti mau BAB. Tapi hanya ukurannya saja yang besar. Tidak tahu, aku tidak mau tahu. Aku ingin segera melahirkannya agar bisa lega.' pikirnya.
"Nyonya, apakah anda sudah siap?" tanya dokter ini kepada Elly.
"Aku- sudah siap." Tapi rasanya sudah keburu lemes dulu, makannya Elly pun jadi kurang fokus selain air mata yang terus menerus keluar dan membasahi pipinya, dan Alves bagian untuk menyeka keringatnya Elly.
"Ayo, kau pasti bisa."
"Kurang menarik." ketus Elly, "Huh," menarik nafasnya secara dalam-dalam, Elly akhirnya mencoba untuk mengejan.
Dan suara yang cukup menyayat hati Alves pun datang juga saat melihat wajah pucat milik Elly itu sedang berusaha untuk melahirkan.
'Elly, aku harap kalian berdua bisa selamat.' memejamkan matanya dengan penuh harap.
Setiap menit akhirnya berlalu jadi sepuluh, dua puluh sampai setengah jam bahkan satu jam berlalu begitu saja.
Tidak henti-hentinya Elly terus mengerahkan tenaganya yang besar itu untuk mengeluarkan malaikat milik mereka berdua?
Dalam benak hatinya, jelas terbesit rasa penasaran yang tinggi setelah hampir sembilan bulan ini berusaha untuk membuat sosok dari baby kecil yang akan keluar dari tubuh Elly.
Alves tahu, bagaimana rasa sakitnya untuk melahirkan itu bagaikan berhadapan dengan ajalnya. Yah, Alves setidaknya merasakan sekilas rasa sakit setelah bunuh diri, jadi dia menganggapnya sebagai sesuatu yang jelas rasa sakit itu tidak bisa di bandingkan dengan apapun yang ada di dunia ini.
__ADS_1
'Kalau saja sakitnya bisa di pindah ketubuhku, aku juga rela. Karena kau sudah pernah mengalami rasa sakit sekali saat aku membunuhmu.
Hah..., aku jadi melakukan kesalahan lagi. Aku menyakitinya sebanyak dua kali.' pikir Alves, merasa bersalah dengan wanita yang ada di depannya itu.
"Hahh...hah.., aku ingin minum." pinta Elly, dia langsung mengusap wajahnya dengan kasar untuk menyeka keringatnya sendiri, lalu setelah Alves membawakan air minum dengan sedotan, Elly pun menyeruputnya dengan menyedotnya, dan setelah itu dia kembali berjuang sendirian.
Walaupun sudah menangis, tapi jelas kalau Elly memang ingin bisa cepat menyelesaikan bagian nya.
Bagian untuk mengeluarkan malaikat mereka dari sana.
"Hah..hah..., susah ya." gumam Elly. Dia memejamkan matanya sesaat lalu dia kembali membuka kelopak matanya untuk menatap langit-langit ruangan itu.
"Elly, kau masih bisa bertahan lagi kan?"
"Kau harus tahu, jika aku mati lagi karenamu gara-gara ini, aku akan menghantuimu seumur hidup." ancam Elly.
"Elly, jangan begitu kenapa?" pinta Alves dengan mata memelas.
"N-nyonya, mari ini sebentar lagi sudah hampir keluar, jadi mohon bertahanlah sebentar lagi." pinta dokter ini.
"Iya, iya! Jangan cerewet! Ini aku mengejan lagi." geram Elly, lalu dia pun benar-benar mengejan lagi dengan keras sampai akhirnya dia yang berhasil mengejan dengan keras. "Akhhh!"
Dan suara tangisan bayi akhirnya mengisi ketegangan di tempat tersebut.
"Oee..."
"Selamat Tuan, anak anda laki-laki." kata dokter ini kepada Alves, dan memperlihatkan bayi kecil yang masih di penuhi dengan darah.
Alves hanya tersenyum kecil dan langsung memberitahu ke Elly kalau bayinya laki-laki?
"Laki-laki? Bukannya kata dokter perempuan ya?" Tanya Alves balik kepada dokter tersebut.
"Tapi ini laki-laki Tuan." jawab dokter ini.
"Elly, anak kita laki-laki. Itu kan keinginanmu." kata Alves kepada Elly yang masih ngos-ngosan.
"Entahlah, aku tid- akh..!" Rintih Elly lagi, dia sangat kerepotan dengan rasa sakit yang mendiami di area bawanya itu. Cukup menyiksa dan tidak ada habisnya, padahal sudah satu setengah jam berlalu dan masih belum kunjung habis juga perasaannya itu ingin BAB.
"A-ada apa? Ell?"
"Rasanya masih sakit! Ini gila! Apa masih belum selesai juga? Aku benar-benar lelah." rengek Elly, dan akhirnya karena instingnya untuk mengejan kembai datang, dia pun melakukannya lagi.
"T-tuan, sepertinya Nyonya hamil bayi kembar." kata wanita ini, lalu dengan cepat kembali membantu proses persalinannya Elly. "T-tapi Tuan, ini ada masalah."
"Masalah apa?! Kalau mau bicara, langsung saja jangan setengah-setengah!"
"Air ketuban milik Nyonya sudah kering, tapi Nyonya harus melahirkan satu anak lagi." beritahu wanita ini kepada Alves dan Elly.
__ADS_1
"Ah! Persetan mau kering atau tidak, lakukan saja tugasmu, aku sendiri yang akan urus..akhh!" teriak Elly dengan lantang, dan akhirnya dia pun kembali mengejan dengan kuat, sampai di beberapa puluh menit berikutnya, suara tangisan bayi kembali terdengar.
"Oweee....!"
"Selamat Tuan dan Nyonya, bayi ini ternyata perempuan." beritahunya dengan wajah senang, dan lagi-lagi Alves di perlihatkan tubuh bayi mungil yang masih berlumuran darah itu untuk beberapa saat sebelum akhirnya di bawa pergi untuk segera di bersihkan.
"E-Elly, anak kita ada dua."
"Ya..ya, dua, banyak." jawab Elly dengan lemah. Dia yang kelelahan itu sebenarnya ingin melihat bayinya lagi karena penasaran dengan sosok kecil yang baru saja keluar dari perutnya. Namun, pandangannya tiba-tiba saja semakin kabur. "Kau pasti senang sekali. Karena sudah cukup lengkap sampai punya laki dan perempuan, semoga kau bisa merasa cukup. Aku- aku tidak ingin menambah lagi. Ini cukup..ya, melelahkan." Ucap Elly dengan sedikit panjang.
Dan dia pun beberapa kali mengerjapkan matanya untuk mengkondisikan penglihatannya itu.
Alves pun terus menyunggingkan senyuman miliknya kepada Elly yang sudah bekerja dengan cukup keras. "Iya, aku janji, dua sudah cukup. Tapi kau tetap yang terhebat, bisa melahirkan mereka berdua."
"Jelas dong, aku akan selalu jadi..yang terhebat. Dimanapun aku..berada." kata Elly lagi dengan dahi terus diberikan ciuman dan punggung tangan pun tidak luput dari ciuman bibirnya, sebagai rasa terima kasih serta penghargaan kepadanya.
Tapi-
Apakah semua itu berarti ketika perlahan pandangannya jadi menggelap?
"Alves, tiba-tiba aku ingin mendengar nama asliku, kau mau memanggil namaku?"
"Everlyn." akhirnya pria ini memanggil nama Elly di kehidupan lalunya. Dan betapa senangnya saat melihat Elly tersenyum seperti itu.
Hanya saja Alves yang melihat Elly tiba-tiba saja tersenyum di saat-saat terlihat lemah seperti itu, dia jadi merasa ada yang aneh dengannya.
"Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba membuatku memanggil namamu?" Tanya Alves dengan hati-hati.
"Itu, karena aku tiba-tiba....merindukan namaku. Alves-"
"Hmm, ada apa?" Tanya Alves, semakin heran sekaligus penasaran dengan apa yang ingin di ucapkan oleh Elly ini.
"Cium aku."
"Hanya itu?"
"Ya." jawab Elly singkat. Dia tidak menginginkan lebih dari pada itu, karena itu lebih dari cukup untuk melepas rindu miliknya yang entah, dia tidak tahu akan bertahan berapa lama lagi, sebab semakin kesini, pandangannya jadi semakin buram.
Sampai tidak selang berapa lama kemudian, sebuah ciuman langsung Alves berikan di saat Elly pangkal paha Elly sedang di bersihkan dan hendak di jahit.
Mungkin karena itu, Alves berpikir bahwa Elly membutuhkan sesuatu yang namanya pengalihan pikiran agar saat di jahit, tidak akan terasa sakit.
Hingga di beberapa puluh detik berikutnya ciuman yang awalnya di sahuti dengan baik oleh Elly, perlahan menghilang.
PLUK....
"N-nyonya?" Salah satu suster yang kebetulan sedang mempersiapkan alat jahit serta kantong darah baru itu, langsung terkejut saat tangan milik Elly yang tadinya hendak meraih belakang kepalanya Alves, tiba-tiba sudah jatuh lebih dulu sebelum menyentuhnya.
__ADS_1
"Elly!" Teriak Alves.