Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
53 : PTRI : Elly Di Pesta


__ADS_3

'Bagaimana bisa?! D-dia masih hidup?!' Pikir Cecil dengan wajah terkejutnya karena ia melihat seseorang yang sangat di kenalinya. 'Tidak mungkin, tidak mungkin kakakku yang bodoh itu masih hidup. Dia pasti bukan kakakku, hanya karena wajahnya sama mana mungkin dia kakakku kan?'


"Cecil, apa yang sedang kau lihat sampai tegang seperti itu?" Suara milik Aiden itu langsung menarik segala pikiran Cecil saat itu juga.


Aiden yang merasa curiga dengan ekspresi wajah Cecil yang buruk itu, segera mencari arah kemana Cecil memandang.


Dan ketika Aiden hendak duduk, dia tiba-tiba melihat seorang wanita yang dia kenal.


"Lihat itu, bukannya wanita yang ada di samping Tuan muda Alves itu cantik ya?" Satu bumbu pujian kembali terdengar.


"Tapi aku sempat dapat kabar, dia ternyata pelayannya Tuan muda Alves." Wanita ini memperlihatkan pesan singkat kepada temannya itu.


"Oh, aku pikir wanita itu kekasihnya Tuan muda. Tapi kenapa pelayan, di bawa masuk ke pesta?"


"Mungkin saja Tuan muda tidak mendapatkan pendamping, makannya pakai pelayannya."


Lalu perlahan senyuman sinis datang dari mereka berdua.


"Jangan-jangan dia pelayan, tapi di balik itu dia ada hubungan lain yang tidak di ketahui, ya kan? Dia kan cantik, mungkin saja punya hubungan rahasia."


"Kau benar juga, mungkin saja di balik layar, dia merayu Tuan muda untuk ikut ke sini juga."


"Bagaimana bisa kalian berdua menyimpulkannya dengan bodoh seperti itu?" Pungkas Aiden.


"Aiden! Apa yang kau lakukan?" Tanya Cecil khawatir melihat Aiden tiba-tiba saja berdiri dan membela wanita yang saat ini sedang berdiri berdampingan dengan Alves.


Makannya Cecil langsung menarik tangan Aiden agar segera duduk.


"A-apa? Bodoh, kau barusan menghina kami?"


"Ya~ Bagaimana tidak bodoh, jika wanita itu memang pelayan yang sudah merayu majikannya sendiri, mana mungkin wanita itu akan mengumumkan dirinya sendiri adalah pelayan." Imbuh Aiden, langsung merubah persepsi mereka berdua soal Elly. "Sebenarnya bagaimana cara kalian menggunakan otak sih?" Tambahnya lagi.


"Ka-" Sayangnya kalimatnya terhenti ketika tangannya sudah lebih dulu di cegat oleh sahabatnya. "Apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganku, aku ingin sekali memukul wajahnya yang sok kegantengan itu!" Protes wanita ini kepada sahabatnya itu.


"Shhtt...jangan memukulnya, apa kau tidak tahu dia adalah Tuan muda Aiden?"


"Apa?" Wanita ini langsung menoleh ke arah sahabatnya itu dengan ekspresi terkejut. 'Tuan muda Aiden? Wakil presdir grup Pratama?'


"Ayo pergi keluar dulu, tenangkan dulu emosimu." Tawarnya.


Takut dengan karma yang mungkin saja akan terjadi, jika dirinya benar-benar memukul wajah Aiden, kedua wanita ini pun langsung pergi meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


"Elly."


"Apa?" Tanya Cecil.


"Wanita yang ada di samping Alves itu adalah Elly."


"Jadi dia adalah Elly? Bukan Raelyn?" Pertanyaannya itu di akhiri dengan bisikan kecil di telinganya Aiden.


Mendengar Cecil bertanya dengan wajah yang terlihat khawatir itu, Aiden menjawab : "Entahlah. Aku masih sedang menyelidikinya."


"Tapi wajahnya itu benar-benar sama dengan kakakku. Bagaimana jika dia Raelyn betulan?" Tanyanya Cecil lagi kepada Aiden, karena ia memang sangat khawatir kalau wanita yang ada di depan sana adalah Arelyn, kakak tiri Cecil.


"Jika kau penasaran dia Raelyn atau bukan, kenapa tidak hadapi langsung?" Kata Aiden, menantang Cecil untuk maju dan setidaknya memperkenalkan diri juga, maju dan menghadapi Elly. 'Tapi Raelyn itu adalah wanita yang bodoh, mana mungkin kalau wanita yang bahkan bisa ikut balapan mobil adalah Raelyn. Tapi takdir kadang tidak terduga, bisa saja dia memang Raelyn kan?'


_____________


'Kenapa dia jadi gemetaran?' pikir Alves melihat tangan yang masih di genggam oleh Elly, terlihat gemetar.


"Sepertinya pelayanmu memerlukan Istirahat." Kata Lysandra kepada Alves, melihat Elly terlihat sudah pucat pasi.


"Kalau begitu aku akan membawanya pergi dulu." Ucap Alves sambil membawa pergi Elly dari sana.


"Kalau ada sesuatu, katakan saja kepada pelayanku." Imbuhnya lagi.


'Perhatian sekali dia.' Detik hati Lysandra melihat kepergian Alves yang sedang membawa Elly dengan hati-hati?


Hanya dengan melihat Alves yang terlihat begitu perhatian kepada pelayan yang di bawanya, mereka semua tetap saja menunjukkan rasa iri mereka, karena tidak ada satu pun diantara mereka para wanita yang berhasil menarik perhatiannya Alves.


____________


"Elly, apa yang terjadi? Kenapa kau ....ah, kenapa tadi kau malah mengatakan kalau kau itu pelayanku di depan semua orang?" Tanya Alves sedikit geram kepada Elly.


Saat ini mereka berdua ada di salah satu kamar hotel, karena tempat yang tepat untuk istirahat sekaligus bicara berdua adalah dengan pergi ke kamar.


Entah apa yang akan ada di dalam pikiran orang yang mengetahui kalau dirinya dan Elly masuk kedalam kamar hotel, yang paling penting untuk Alves sendiri adalah soal wanita yang kini sedang duduk di tepi tempat tidur dengan kepala sudah menunduk.


"Padahal aku berharap kalau kau berpura-pura jadi kekasihku, agar kau jadi tamengku. Bukannya itu kesepakatan diantara kita berdua untuk saling membantu dan mendapatkan keuntungan?" Protes Alves. Dia masih membahas soal Elly yang tiba-tiba nyelonong bicara kalau dirinya adalah seorang pelayan.


Tentu saja hal itu membuat rencana Alves jadi hancur.


"M-maaf. Aku tidak sengaja mengacaukannya."

__ADS_1


"Tidak sengaja? Tapi wajahmu terlihat begitu antusias sekali mengatakan kau pelayan. Ya...aku tahu kau memang pelayanku, tapi itu jika di rumah, kalau di luar beda lagi. Hahh~" Alves yang sudah mengeluarkan unek-unek nya, langsung duduk di tepi tempat tidur tepat di samping Elly yang masih duduk dengan kepala menunduk. "Seharusnya aku mengatakan itu lebih dulu, setidaknya agar wajahku tidak tercoreng. Tapi karena sudah tercoreng, mau bagaimana lagi? Tidak ad-"


"A-aku tidak tahu. B-bukan aku yang melakukannya."


"Apa yang sedang kau katakan?" Alves jadi bingung dengan ucapannya Elly. 'Tangannya kembali gemetar.' Dan Alves melihat kedua tangannya Elly gemetar, seakan takut? 'Apa dia takut denganku? T-tidak, seharusnya tadi aku tidak mengatakan itu kepadanya. Dia kan jadi takut kepadaku.'


"Bukan aku yang mengatakan aku adalah pelayan, itu tiba-tiba sendiri. Aku tiba-tiba mengatakan itu tanpa aku sadari." Ucap Elly sambil memeluk dirinya sendiri saking gemetarnya.


"Hah? Apa kau bisa mengatakannya lebih jelas lagi?" Pinta Alves dengan wajah penuh dengan rasa penasaran.


Alwanya Elly terdiam, karena ia tahu kalimat apa yang paling jelas untuk di ucapkan kepada Alves. Tapi apakah benar, dirinya akan membuka mulutnya mengenai identitasnya sendiri?


"A-aku-" Lidahnya tiba-tiba merasa kelu. Kalimat yang sudah di siapkan di dalam kepalanya pun tanpa di duga malah tersangkut di dalam tenggorokannya.


Dan di malam itu, pada akhirnya Elly mengatakannya secara perlahan.


Baik itu alasan dari hilang ingatan miliknya, tubuhnya yang kadang gemetar sendiri tanpa tahu apa penyebabnya, dan juga alasan dari dia bisa melakukan ini dan itu kepada Alves.


Dia menceritakannya dengan cukup detail sampai Alves di buat terkejut dengan cerita yang di ucapkan oleh Elly kepadanya.


Dan karena mereka berdua datang, memang untuk menghadiri acara resepsi pernikahan Lysandra dengan Nero, setelah Elly mengutarakan semua masalah yang di milikinya, Alves dan Elly kembali ke ballroom.


Kebetulan di saat mereka berdua kembali kesana, rupanya mereka sudah ada di penghujung acara.


"Wah! Kebetulan sekali Tuan muda Alves dan Nona Elly akhirnya kembali dan berkumpul bersama dengan kita." Ucap sang MC, sehingga mereka semua kembali menaruh perhatian mereka kepada dua orang yang baru saja masuk itu.


"Kemana saja kau ini, kami semua sudah menunggumu." Ucap Asena, langsung berjalan cepat menghampiri Elly juga Alves yang baru saja melewati pintu masuk.


"Memangnya kenapa? Kenapa harus menunggu kami?" Tanya Elly tidak pahan dengan apa yang di katakan oleh Asena ini.


"Karena seperti biasa. Elly, kau harus mendapatkan bunga yang akan di lempar oleh pengantin kita." Bisik Asena, mulai menghasut Elly agar menangkap ikat bunga yang akan di lempar oleh sang pengantin. "Karena jika kau berhasil menangkapnya, aku akan memberimu hadiah menarik."


'Apa yang sedang Asena katakan? Apa dia lagi menghasut wanita itu?' Pikir Gibran, saat melihat Istrinya yaitu Asena merangkul bahu Elly dan mencoba berbisik lirih.


'Apa yang seperti ini saja dia tidak tahu?' Benak hati Alves. Karena dia sudah mendapatkan cerita lengkap siapa sebenarnya Elly itu, Alves jadi bingung harus bagaimana mengurusnya.


Kembali ke tempat dimana Asena sedang memberikan bumbu hasutan kepada Elly yang tidak tahu apa-apa soal perkembangan zaman dari acara yang ada di tahun ini.


"Hadiah apa?" Tanyanya dengan wajah polosnya. Sekarang tubuhnya sudah tidak gemetar lagi dan bahkan sudah lebih baikan, makannya dia berani kembali masuk kedalam tempat di mana banyak orang berkumpul dengan semua aroma yang cukup menyesakkan.


"Bukan kejutan jika aku memberitahunya sekarang. Intinya, kau harus mendapatkan bunga itu sebelum di rebut oleh mereka semua. Banyak yang menyukainya, menunggunya agar bisa mendapatkan bunga itu loh. Jadi tahu kan? Betapa berharganya bunga itu untuk mereka?

__ADS_1


Dan hati-hati, mereka bisa berbuat ganas. Tapi aku sangat berharap kau bisa dapat. Jadi cus, raih kemenanganmu." Jelas Asena panjang lebar.


"Baiklah, aku akan mendapatkannya." Jawab Elly dengan ekspresi wajah serius.


__ADS_2