Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
78 : PTRI : Elly melayani


__ADS_3

“A-ayahmu?”


Alves memberikan anggukan. ‘Jika Ayah disini, berarti kakek juga ada di sini. Tapi dimana? Kalau dilihat dari situasinya, ada kemungkinan kalau kakek-, jangan-jangan dia sedang mengintaiku secara langsung?’


Alves jadi mulai waspada. Dia tidak senang jika ada orang yang menguntitnya. 


‘Ayah memang tidak begitu peduli dengan apa yang aku lakukan, apalagi Ibu. Tapi dari dua orang itu, yang aku benci adalah tekad Kakek. Kakek adalah orang yang begitu teliti, karena kedua orang tuaku tidak begitu memperdulikanku, imbasnya Kakek lah yang mengaturku. 


Kemarin saja Kakek lagi-lagi membahas perjodohan. Mengingat Kakek adalah orang dengan kuasa lebih tinggi, Kakek sudah pasti akan menyeleksi siapa yang akan menjadi pasanganku, dan aku tidak begitu menginginkannya kecuali Elly. 


Hanya saja, Elly sendiri sekarang statusnya adalah pelayan, dan selain itu bukan dari latar belakang yang bagus juga.’ Pikir Alves, dan menatap mata Elly yang terlihat bingung itu. 


Kakeknya memberikannya waktu paling lama satu bulan lagi kepada Alves, itu adalah keputusan final dari kakeknya agar Alves memilih pasangannya sendiri. Jika dalam jangka waktu itu Alves masih belum punya pasangan, maka pasangan yang akan diperuntukkan untuk Alves sendiri akan dipilih sendiri oleh kakeknya. 


‘Sial, aku tidak mau itu terjadi. Aku sudah memiliki pilihanku, hanya tinggal masalah waktu saja sampai Elly jadi mencintaiku.’


“Orson, kita jangan disini. Pindah ke tempat lain.” Pinta Alves kepada Orson yang hendak pergi ke ruang ganti untuk ganti pakaian. 


“Ada apa? Kenapa tiba-tiba pindah?” Tanya Orson. 


“Aku sedang tidak ingin bertemu dengan seseorang. Kita pergi ke tempat lain yang lebih bagus dari ini.” Ujar Alves, menarik tangan Elly. 


‘Yah~ Padahal aku ingin berolahraga, kenapa dia malah main suruh pindah sesuka hatinya? Apa Alves bermusuhan dengan Ayahnya? Dilihat dari situasinya, kelihatannya memang begitu.’ Dan langkah kaki Elly pun pergi mengikuti kemana langkah kaki Alves pergi. 


___________


“Sebentar, kenapa jadinya main kerumahku?” Orson jadi mengeluh, karena tujuan dari tempat lain yang di maksud oleh Alves sendiri adalah rumah pribadi Orson yang belum lama ini selesai, dan secara kebetulan letaknya di pantai. 


“Liburan itu cocoknya ke sini, mempung rumahmu juga ada di dekat pantai, jadi apa masalahnya jika kita datang kerumahmu?”


“Rumahku itu belum aku isi penuh, jadi apa yang menyenangkan? Kulkas masih belum ada, tempat tidur juga belum, hanya ada sofa meja dan karpet.”

__ADS_1


“Hah~ Kau pikir aku ini siapa?” Tanya Alves. 


“Kau adalah Bos Alves.” Elly dan Orson menjawab secara bersamaan. 


Alves mengangguk setuju, “Pintar-pintar, aku itu Bos kalian, jadi selama kalian memohon kepadaku, dalam waktu kurang dari satu jam, rumah yang kosong ini bisa aku isi penuh. Bagaimana? Daripada pergi jauh-jauh ke tempat lain, mencari referensi ingin menghabiskan waktu, mending kita disini.” Kata Alves, memberitahu. 


Elly menyikut Orson, dan Orson sesaat melirik ke arah Elly yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Alves kepada mereka berdua. 


“Bagaimana? Jika kau bingung soal perabotan yang pas, aku pikir ada pakar untuk menata interior rumahmu hanya dengan memberikan foto semua ruangan di rumahmu dan diberikan kepada arsitek.”


“Dengar itu, Elly bahkan punya solusi bagus untuk masalahmu itu.” Alves pun bahkan mengiyakan atas pemikiran Elly untuk masalah yang mungkin sedang dipikirkan oleh Orson. 


“Ya sudah, lebih baik begitu. Aku juga sebenarnya tidak sabar agar rumah ini bisa dipakai.” Jawab Orson dengan serta merta. 


“Aku akan menghubungi perusahaan properti, dan arsitektur. Yang hanya kau lakukan adalah menyiapkan ma-”


“Biar aku saja yang menyiapkannya.” Sela Elly. Sebagai pelayan, ia juga harus mengetahui posisinya untuk melayani majikannya. 


_________


“Doni, sebentar, kau mau pergi kemana?” Tanya Diana kepada Doni. 


“Liburan, lah.”


“Ha? Kau, liburan? Padahal ini bukan hari sabtu atau minggu, bagaimana kau bisa dapat hari libur?” Tanya Diana terheran. 


Ia tahu kalau Doni bekerja di perusahaan milik dari Alves, namun sebagai orang yang sudah tahu akan pekerjaan dari mantan tunangannya itu, Diana tentu saja merasa tidak habis pikir, bagaimana Doni bisa mendapatkan cuti, padahal jika bekerja di bawah perusahaan milik Alves, semua orang itu bekerja layaknya robot, sering lembur, karena sering melampaui jam kerja yang sudah di tetapkan oleh pemerintah. 


Doni saat ini sedang menyusun beberapa pakaian ke dalam tas ranselnya. Sebagai orang kaya, ia tahu kalau ia bisa saja pergi tanpa membawa pakaian, karena selama ada uang, maka ia bisa membeli apapun. 


Akan tetapi Doni bukanlah tipe orang yang akan boros seperti itu. Makannya, ia lebih memilih membawa pakaiannya dari rumah untuk di bawa pergi. 

__ADS_1


“Terus itu apa?” Diana merasa sangat penasaran dengan paper bag kecil yang baru saja di masukkan kedalam tas ransel Doni


“Kenapa kau penasaran sekali sih. Bukannya kita sudah berpisah? Kau seharusnya pergi cari gebetanmu yang baru, jangan terus menempel padaku terus.” Cetus Doni, tidak akan membiarkan Diana tahu isi dari paper bag yang sudah Doni simpan terlebih dahulu sebelu direbut oleh Diana. “Atau, jangan-jangan kau masih suka padaku ya?”


“Jangan mimpi.” Ketus Diana sambil bersilang tangan di depan dada. 


“Terus kenapa kau ada di dalam apertemenku? Kalau bukan kangen padaku.” Goda Doni, dan sempat tersenyum tipis ketika ia melihat Diana yang meskipun sedang memalingkan wajahnya ke arah lain, tapi hal itu sama sekali tidak bisa menyembunyikan rona merah di telinganya Diana yang sebenarnya sudah mulai tergoda. 


“Aku datang kesini karena perintah dari nenekku, aku cuman mau mengembalikan cincin tunangan ini serta beberapa barang yang pernah kau berikan kepadaku.” Jelas Diana. 


Dan Dion pun akhirnya melihat ada beberapa tas belanja yang sudah berjejer rapi diatas meja makan. 


“Hah~” Dion hanya tersenyum, tapi senyuman itu menunjukkan senyuman mencibir. “Jika kau mengembalikannya kepadaku, memangnya apa gunanya padaku? Kenapa kau tidak menjualnya saja, kan lumayan juga jadi uang, atau kalau tidak mau ribet, buang saja ke laut.” Ucap Doni. 


“........” Mendengar perkataannya Dion, Diana jadi terdiam sejenak, sampai ia akhirnya memilih untuk menjawab : “Aku melakukannya kan karena suruhannya nenek.”


“Terserah kau lah.” Ucap Doni dengan nada malas. Ia tidak begitu ingin berdebat lagi dengan Diana, karena jika ia berdebat, pada akhirnya hanya berujung dengan pertengkaran yang tidak berguna dan cukup membuang waktu berharganya. “Terus kenapa kau masih disini? Apa kau masih ada urusannya denganku?”


“Sudahlah, aku pergi!” Kata Diana sedikit berteriak dengan nada kesal. 


“Ya, pergi sana, aku juga memang mengharapkanmu untuk segera pergi.” Sahut Doni dengan nada selamba.


Dan setelah perdebatan singkat itu, Diana akhirnya pergi dengan langkah tergesa-gesa keluar dari apertement nya. 


BRAK…


Sampai pintu yang tidak bersalah pun kena Imbas dari Diana yang terlihat kesal itu. 


‘Dia sendiri yang menerobos masuk ke rumahku, kenapa dia juga yang marah?’ Benak hati Doni. Lalu ia kembali mengemas beberapa barang pribadinya, setelah dirasa cukup, Doni akhirnya mencoba melihat ke arah handphone nya yang sedang di charge. “Orson, kira-kira kau sedang apa, sampai berada di pantai?”


Karena Doni sempat meletakkan alat pelacak di mobilnya Orson, lantas membuat Doni jadi serba tahu dimana posisi dari Orson berada. 

__ADS_1


__ADS_2