Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
163 : Arlo >< Arlan


__ADS_3

Dengan melihat kejadian itu, Alves yang sudah bersiap untuk menyerang Arlo jika akan ada kekerasan diantara mereka, tiba-tiba jadi langsung meletakkan kembali senjata yang dia bawa di balik jas yang dia pakai itu.


"Ada apa dengannya? Masa dengan darah takut?" Tanya Alves heran sendiri dengan tingkah dari Arlo yang awalnya terlihat cukup ambisius untuk mendapatkan Elly, akan tetapi ujung-ujungnya Arlo sama sekali tidak membuat perlawanan dengan mereka.


"Yang namanya setiap orang saja punya nama berbeda, sifat, sikap, pasti punya phobia yang berbeda. Kenapa kau tanya yang sudah jelas seperti itu?" jawab sekaligus bertanya. Begitu puas melihat rasa penasaran di balik wajah tampan dari Alves itu, Elly kembali melirik ke arah satu orang pria si beruang putih yang berasal dari kutub itu sudah terbaring di lantai dengan wajah takutnya itu. "Padahal dia punya sifat yang lumayan jantan, tapi sayang sekali dia punya phobia melihat darah. Dia termasuk orang yang aneh, suka membantai orang yang tidak dia sukai nya tapi ternyata tidak suka darah. Bagaimana pria seperti ini bisa hidup?"


Elly yang masih penasaran dengan sosok dari pria tampan itu, langsung jongkok di sampingnya dan menepis poni yang sempat menghalangi wajah dari pria ini.


Alves yang cemburu itu, langsung menghampiri Elly dan menarik paksa untuk tidak mendekatinya.


"Jangan dekati dia. Bisa saja dia langsung bangun dan mencengkram tanganmu."


"Kau benar-benar khawatir, ya?" Senyum Elly, dia menepis cengkraman tangannya Alves. "Dia tidak akan bangun untuk sementara waktu." Katanya.


Lalu Elly pun memungut kantong plastik yang berisi jari manusia yang sudah bersimbah dengan darah itu.


"Elly, apa kau benar-benar memotong jari manusia?"


"Apa kau percaya dengan semua yang aku katakan kepadanya tadi?" tanya Elly balik.


Tapi, untuk membuktikan kalau apa yang dia gunakan sebagai ancaman itu bukanlah barang asli, Elly pun memakan jari manusia itu, yang tidak lain adalah sebuah roti yang di desain khusus seperti jari manusia.


"Lihat, ini bahkan bisa di makan. Kau mau coba? Kbeetulan aku lapar lagi, entah kenapa akhir-akhir ini ku sering lapar." Tawar Elly sambil menyodorkan makanan aneh dan horor itu kepada Alves.


Alves langsung menggeleng kuat, dan bahkan karena kebayang dengan Elly yang benar-benar memotong jari manusia, membuat Alves tiba-tiba saja mual.


"Huekk...! Jauhkah itu!" perintah Alves sambil menutup mulutnya. "Huekk..."


Elly yang sedang merasa enak makan jari alias roti dengan saus stroberi bercampur dengan Cherry yang membuatnya terlihat seperti darah segar, dia pun jadinya langsung menggigit jari itu di giginya dan mendekati Alves yang terlihat sedang mual.


"Kau kenapa? Jangan-jangan kau masuk angin ya? Makannya, jangan keseringan mandi malam, keluar malam-malam, dan tidur telanjang." Elly buru-buru melepaskan rok yang dia pakai itu dan menaruhnya ke atas punggung Alves.


"Huekk..."

__ADS_1


"Elly, aku suruh jangan dekati aku dengan mulutmu yangs edang mengunyah jari berdarah itu!" Protes Alves, dengan wajah frustasi dan tersiksanya itu, Alves pun kembali merasa mual. "Huekk.."


"Jangan-jangan kau hamil lagi."


"Ha?" Alves langsung memberikan ekspresi wajah horornya kepada Elly.


Elly yang terkesiap dengan ekspresi wajah Alves yang cukup menakutkan itu, sontak langsung mundur.


"AKu ini pria, masa hamil. Kau yang harusnya hamil, bukan aku."


"Lah, tapi kau sendiri mual-mual, jadi tidak salah kan, kalau kau bisa saja hamil. Organ dalam manusia itu kadang ada juga yang tidak terduga. Memang, sekarang kau pria, kali saja dua bulan lagi kau berubah jadi wanita, karena kelainan genetik." tutur Elly begitu panjang lebar, seakan Alves adalah orang paling berkelainan.


"Ellly! Aku ini pria tulen! Apa kau ingin aku menidurimu sekarang sampai kau hamil dan membuktikan kalau aku ini asli laki-laki?!" Marah Alves, karena harga dirinya terhina dengan ucapannya Elly barusan itu.


"Hei, apa kau bisa untuk tidak bicara dengan keras? Sekarang ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan itu, lihat itu, itu dan itu, apalagi dia-" Elly menunjuk pada tas yang tadi sempat ia buang, darah buatan karena hasil dari campuran buah dan gula, satu orang yang sedang terbaring di lantai karena punya phobia darah, serta satu orang lagi yang kini berdiri di ambang pintu masuk ruftoop.


Alves lantas memutar tubuhnya ke belakang, Rafael, pria yang Alves temui di atas ruftoop beberapa hari yang lalu, justru sudah ada di depan sana.


'Ternyata dia benar-benar terobsesi padanya. Tapi apa dia baik-baik saja? Tangannya berdarah dan-' Rafael yang baru saja menyadari ada darah di mulutnya Elly, membuat Rafael jadi khawatir. "Apa anda baik-baik saja?"


"Kenapa kau datang kesini? Tugasmu kan ada di bawah? Memangnya sudah beres?" Sela Alves, tanpa memberikan Elly kesempatan untuk menjawab pertanyaannya Rafael.


"Anak buah anda sudah membereskannya, dan masih banyak orang yang yang membantu untuk mengevakuasi semua korban yang terluka kedalam ambulans. Jadi saya termasuk masih senggang untuk pergi kesini." Jawab Rafael, memberikan rasa tidak suka kepada Alves, sebab merasa ada satu orang lagi yang Alves rasa adalah saingannya. "Tapi- sepertinya anda punya seseorang yang harus di urus lebih dulu, karena dialah orang yang membuat onar, ya kan?" Lirik Rafael, tadinya menatap ke arah Alves, lalu gantian menatap ke arah Arlo yang masih terbaring di depan sana.


"Kau selalu saja punya alasan, pergi urus dia, Elly ayo pergi." perintah Alves, dia pun menyeka bibirnya karena sesaat tadi dirinya sempat mual dan hanya memuntahkan air bening saja, sebab dia memang tidak makan terlalu banyak, sehingga yang keluar adalah air nya saja, karena Alves sangat kuat untuk minum air.


Elly pun berlari kecil untuk menghampiri Alves, lalu barulah dia berjalan biasa di belakangnya dan pergi bersama.


"Dah~" Sapa Elly dengan tepukan di atas bahunya Rafael sebelum dia benar-benar pergi.


KLEK....


"Raelyn." Lirih Rafael, karena begitu bisa menyapanya dengan lebih dekat, dia jadi merasakan kehangatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

__ADS_1


Selepas mereka berdua pergi, Rafael akhirnya pergi menghampiri Arlo yang masih terbaring di lantai.


"Arlo, jadi kau yang sudah membuat kekacauan di sini?" Namun, ketika dia memperhatikannya dengan lebih lekat lagi, Rafael pun sadar kalau orang yang terbaring di depannya itu bukanlah Arlo. "Arlen?"


DRRTT.....


DRRTTT.....


Rafael langsung mengangkat telepon itu.


-"Rafael, apa Arlen ada bersamamu?"- tanya pria ini.


"Ya, gara-gara kakakmu ini, aku harus mengalami repot. Dia banyak membuat masalah, tapi untungnya sudah tumbang gara-gara phobia nya. Jemput sendiri." Jelas Rafael, lalu dia segera memutuskan panggilannya dengan Arlo yang asli.


Karena itu, Rafael hanya diam menunggu sampai ada sebuah helikopter yang datang, dimana helikopter tersebut berwarna putih.


Rafael terus memperhatikannya, hingga helikopter tersebut akhirnya mendarat.


KLEK...


Dengan baling-baling yang kian melambat, pintu helikopter pun terbuka dan memunculkan satu orang pria berjas hitam dengan kalung rantai berwarna emas yang menghiasi lehernya. Dengan rambut berwarna putih perak yang mirip dengan pria yang sedang terbaring itu, pria yang baru saja datang itu pun turun dan menghampiri Rafael yang masih ada di sisi sang kakak.


Dia adalah Arlo yang asli, sedangkan yang terbaring di lantai itu adalah Arlan, sang kakak.


"Apa yang sudah dia lakukan malam ini, akulah yang akan mengganti semua kerusakan dan biaya rumah sakit para korban." Tatap Arlo kepada Rafael, lalu dua orang pilot itu turun dan membantu memindahkan sang majikan mereka berdua ke dalam helikopter selagi Arlo sedang berbicara dengan Rafael.


"Apa kau tidak mau meminta maaf pada mereka berdua?"


"Karena bukan aku yang membuat salah, jadi aku tidak punya hak meminta maaf. Atau kau berharap maaf dariku karena kau akhirnya menemukan adikmu itu? Toh dia tidak terluka, dan berkat dia tidak ada korban juga kan? Dia tumbuh berbeda dari terakhir kali aku ingat. Tapi semoga dia sehat terus, sampai jumpa lain hari." Ucap Arlo. Tanpa berkata apapun lagi, dia langsung berbalik dan pergi dari sana naik helikopter lagi, meninggalkan Rafael sendirian.


WHOSHH....


WOSHHH.....

__ADS_1


WOSHH......


"Arlo, kenapa nasibnya sama sepertiku ya? Bisa-bisanya dia dari keluarga itu, malah pernah masuk ke panti asuhan denganku. Takdir selalu saja berkata aneh." Gumam Rafael.


__ADS_2