Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
45 : PTRI : Karena perintah


__ADS_3

Setelah rapat yang berlangsung hampir lima jam penuh, akhirnya Alves mengakhiri rapatnya dengan sempurna.


Yah, jika bukan karena Elly yang mengambilkannya Flashdisk, Alves pasti akan menunda dulu rapatnya, atau akan di undur untuk hari besok.


"Akhh...! Akhirnya selesai juga." Salah satu pegawai kantor yang masih duduk di kursinya, mulai meregangkan otot-otot tubuhnya, lalu melirik ke arah pimpinan mereka yang baru saja keluar dari ruangan. "Untung saja rapatnya bisa selesai hari ini."


"Iya. Aku sih malas sekali kalau harus di sambung besok. Tapi karena seseorang berhasil meredam amarah Tuan, akhirnya selesai juga. Dan besok saat libur!" Wajah yang awalnya jutek, berubah jadi senang, mengingat besok adalah hari libur.


"Memangnya kau mau kemana? Sampai sesenang itu." Pria ini menatap datar wanita di sebelahnya yang baru saja menyahuti ucapannya tadi dengan akhir sebuah semangat yang cukup membara.


"Tiduran di rumah."


"Tiduran di rumah, malah senang. Kau pasti sendirian kan? Bagaimana jika tidur di rumahku," Tawarnya dengan nada menggoda, manik matanya sama sekali tidak goyah untuk menatap ke arah lain, karena wanita yang ada di sampingnya itu adalah pacarnya.


Seharusnya memang seperti itu. Tetapi karena di aturan kantor, tidak boleh ada yang berpacaran, makannya mereka berdua hanya menjalin kisah dengan cara diam-diam.


"Kalian berdua, apa kalian baru saja memberikan kode kalau kalian sedang menjalin hubungan?"


Suara milik Orson yang kembali muncul, padahal beberapa saat tadi, pria ini keluar bersama dengan Bos nya, membuat kedua orang yang sedang saling menggoda ini kelabakan.


__________________


Di tempat Alves berada.


Setelah menyelesaikan rapatnya, dia pun kembali ke kantornya.


"Elly, ayo kita pulang." Tapi saat Alves masuk ke dalam kantornya, Alves sama sekali tidak melihat keberadaan dari wanita itu. Bahkan sampai mencoba masuk ke dalam kamar pun, ia sama sekali tidak melihatnya. 'Wanita itu, kenapa tidak ada di sini?' Pikir Alves.


Dia sama sekali tidak mengerti, harusnya Elly ada di dalam kantornya dan setidaknya melanjutkan pekerjaan yang masih separuh itu.


Tapi karena Elly sama sekali tidak ada di dalam kantornya, lantas dia ada di mana?


DRRTT....DRRTT......

__ADS_1


Sampai Alves mendapatkan telepon dari salah satu anak buahnya yang di tugaskan untuk berjaga di ruftoop, Alves langsung mengangkatnya.


"Kenapa kau meneleponku? Ada apa?" Tanya Alves, dengan tangan kiri mengambil selembar kertas untuk sekedar di baca.


-"T-tuan, sebaiknya anda segera datang ke atap. Sekarang sedang hujan sangat deras, tapi Nona yang anda bawa itu, sama sekali tidak mau di bujuk untuk berteduh."-


Mendengar perkataan dari anak buahnya itu, Alves buru-buru pergi ke ruftoop.


BRAK...


Sampai pintu yang sama sekali tidak salah pun jadi pelampiasan Alves yang baru sadar alasan kenapa Elly berada di atap terus.


'Apa dia memang sungguh jadi bodoh? Kenapa dia malah hujan-hujanan?' Pikir Alves. Ia bergegas masuk ke dalam lift dan pergi naik ke lantai paling atas.


Sesampainya di atas, tepat setelah pintu Lift terbuka Alves langsung berlari begitu saja, hingga saat dia sampai di depan pintu ruftoop, Alves pun membukanya.


"Elly!" Panggil Alves dengan teriakan yang langsung terdengar oleh wanita yang masih berdiri di samping helikopternya.


ZRASSHH.....


Padahal di tengah hujan seperti ini, kondisinya sangatlah berbahaya, jika sewaktu-waktu ada petir yang menyambar.


Alves berlari, mendekati Elly yang akhirnya menata ke arahnya.


"Apa kau bodoh?! Kenapa kau malah ada di sini terus dan hujan-hujanan? Kalau ada petir bagaimana?"


"Kan kau sendiri yang memberiku perintah, selama bukan kau yang memberiku perintah, jangan menerima perintah orang lain." Tatap Elly dengan wajah pucat karena tubuhnya memang sudah kedinginan.


DEG....


Apa yang di katakan nya memang benar, kalau dirinya lah yang memberikan peraturan kalau Elly tidak boleh menerima perintah dari orang lain selain diri Alves sendiri.


Hanya saja, sampai menolak bujukan orang lain untuk berteduh, itu sama saja dengan orang bodoh, karena tidak bisa membedakan mana perintah dan bujukan.

__ADS_1


"Elly, tapi bukan seperti ini juga. Kau harus tahu, mana yang merupakan kalimat perintah juga bukan. Apa kau mau tubuhmu sakit? Lihat wa-"


Ketika tangannya hendak meraih wajah Elly, Elly tiba-tiba saja langsung menangkap tangan itu.


"Aku tidak tahu arti kata membujuk, karena selama ini, yang aku tahu hanya kata perintah. Dan sekarang aku hanya akan menerima perintah darimu saja." Jelas Elly. Dia tidak begitu mempermasalahkan apa yang akan Alves lakukan, karena dirinya adalah pelayannya yang akan melayaninya.


Meskipun sama sekali tidak mendapatkan pujian, karena Elly tahu bahwa ia sudah menandatangani kontrak kerja sama sebagai dua orang yang saling membutuhkan untuk suatu kondisi, maka Elly sama sekali tidak peduli dengan hal itu, asal semua kebutuhan diantara mereka saling terpenuhi.


"Ayo, berikan perintah, apa yang harus aku lakukan lagi?" Tanyanya, tanpa mengerti perasaan Alves yang jadinya merasa bersalah karena siang tadi ia membentaknya, dan justru memberikan perintah untuk menuruti semua perintahnya.


Padahal maksudnya bukan membuat wanita ini jadi seperti ini.


"Masuk."


"Masuk kemana?" Tanya balik Elly dengan wajah polos, dan tangan kanan Alves kini sedang di pegang untuk mengelus pipinya, seperti anak kucing yang ingin di beri kasih sayang.


Alves menggertakkan giginya, karena tingkah Elly jadi lebih aneh, dan Alves jadi kurang suka dengan tingkah Elly yang seperti ini.


"Helikopter." Geram Alves.


"Ok."' Dengan senang hati, Elly melepaskan tangan Alves, dan berjalan masuk ke dalam helikopter yang kebetulan memang ada di belakangnya persis.


'Elly, sebenarnya apa yang ada di otakmu itu? Aku sangat ingin sekali mebedahnya.' Dengan perasaan bersalah dan cukup bercampur aduk, Alves pergi menyusul Elly yang hendak masuk ke dalam helikopter, tapi bagian depan. Melihat itu, Alves menyelanya. "Siapa yang menyuruhmu masuk ke kursi depan? Belakang." Perintahnya.


Elly pun dengan serta merta langsung menutup kembali pintu yang sudah sempat terbuka itu, dan masuk ke dalam helikopter lewat pintu bagian belakang.


Setelah Elly masuk, maka Alves pun menyusul masuk dan segera menutup pintunya.


KLEK.


Bahkan sampai pintunya sendiri langsung di kunci.


Dua wajah itu saling menatap satu sama lain dengan posisi diam seribu bahasa.

__ADS_1


'Apa yang mau dia lakukan? Apakah dia akan memintaku untuk melepaskan bajunya lagi?' Sesekali tatapan matanya tertuju pada tubuh atletis milik Alves yang di balut dengan setelan jas yang bahkan suah semain menyatu dengan postur tubuh Alves, gara-gara pakaiannya yang basah itu.


'Apa lagi yang sedang di pikirkan oleh wanita ini?'


__ADS_2