Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
27 : PTRI : Kehancuran.


__ADS_3

Di pinggir kota, pelabuhan A.


Setelah berhasil membawa helikopter sendirian dan hanya di temani dengan Orsen, Alves segera turun dari Helikopter. 


“T-tuan, untung saja anda datang.” Satu orang berpakaian jas hitam lengkap dengan kacamata hitam itu berlari dan pergi menghampiri majikannya yang datang dengan mengendarai Helikopternya sendiri.


“Sebenarnya bagaimana sih kinerja kalian semua? Bagaimana semua senjatannya di rampas?”


“M-maaf Tuan, ini karena kelalaian kami, rupanya ada yang menyabotase semua cctv, sehingga yang berjaga di ruangan, tidak menyadari adanya pembobolan ini.” Jelas pria ini sambil berjalan mengekori Alves dari belakang.


“Itu memang bisa saja terjadi, tapi yang aku tidak mengerti, kan ada sepuluh orang yang berpatroli  setiap jam nya, dan itu kenapa bisa?” Dengan rahang semakin menegang, dia terus berjalan dengan langkah cepat. Melepaskan jas yang dia pakai dan melemparnya ke anak buahnya itu. 


Menggulung lengan kemeja hitam yang dia pakai, Alves langsung meminta PC yang di bawa oleh sekretaris pribadinya itu. 


“Yang seperti ini, kami sebenarnya kami kalah jumlah Tuan. Mereka sungguh menggunakan senjata senapan otomatis dengan mobilnya. Kami jadi kewalahan, dan ada beberapa orang yang mati, lalu diantaranya perlu perawatan” Jawabnya, dengan perasaan takut juga pasrah, atas apa yang terjadi. “T-tapi kami sudah berhasil merebut semua senjata yang di rampas. Jadi Tuan ja-”


“Semua bukan berarti semuanya.” Sela Alves detik itu juga dengan wajah serius. “Berapa jumlah senjata yang di simpan?”


“Lima ratus enam puluh sembilan.”


“Yang tersisa setelah di ambil?”


“Hanya tinggal dua ratus tujuh puluh.”


“Berarti mereka melakukannya karena terburu-buru. Setelah kalian merampas balik, total yang kalian sita lagi itu berapa?” Alves terus bertanya untuk mengkonfirmasi jumlah senjata yang masih ada itu tidak sepenuhnya kembali semua. 


Itulah permasalahannya. 


“Belum Tuan. Karena Truk yang di gunakan untuk mengangkut senjata milik Tuan, baru saja datang.”


BRRMM…


Benar saja, Truk yang awalnya digunakan untuk mencuri semua senjata miliknya, kini kembali, walaupun bumper dari truk itu sudah penyok.


Alves kembali menatap PC yang diberikan oleh sekretarisnya tadi. berjalan masuk ke dalam gudang, Dan ke sepuluh jarinya langsung berkutat dengan keyboard itu. “Aku akan mengampuni kalian untuk kali ini saja. Dan sandinya juga sudah aku rubah. Selain itu aku sudah menanamkan virus untuk sistem keamanan dari server disini. Jadi jika ada yang keanehan yang terjadi pada cctv, aku akan langsung tahu. Lalu soal senjata, segera beritahu aku yang hilang. 


Itu sudah pasti tidak akan lengkap, jadi aku butuh kejelasan darimu. Apa kau paham?” 


“Saya paham Tuan.”

__ADS_1


Karena sudah sering berhadapan dengan komputer serta keyboard, Alves pun memiliki kemampuan untuk mengetik dalam kecepatan tinggi, hingga kedua anak buahnya yang ada di belakangnya pun bingung sebenarnya apa saja yang baru saja Alves ketik itu. 


‘Jari Tuan sangat cepat.’


TRING….


Sampai saat itu juga, Alves tiba-tiba mendapatkan notifikasi peringatan dari PC yang sedang dia gunakan itu. 


“Tch, ternyata ini hanya pengalihan.” Tekan Alves. 


Masih berada di depan pintu gudang, Alves semakin mengerahkan banyak pikiran untuk mengaktifkan sistem keamanan yang ada di dalam perusahaan. 


Diantarannya adalah dengan menutup semua pintu secara otomatis di gedung perusahaannya. 


“Orson, lanjutkan ini! Aku harus kembali ke perusahaan!” Alves menarik tangan Orson dengan kasar agar menggantikan posisinya. 


“M-memangnya ada apa Bos?” Tanya Orson. 


“Semua ini hanyalah pengalihan, karena pencurian yang sebenarnya itu ada di dalam kantorku.” Alves merebut jas miliknya dan menyampirnya di bahu nya begitu saja, sebelum dia memutuskan untuk pergi dari sana dengan cara berlari. 


“T-Tuan, anda mau pergi kemana?” salah satu anak buah Alves yang baru saja keluar dari truk hasil pencurian tadi. 


‘Kenapa harus di saat-saat seperti ini?’ Pikir Alves, seraya membuka pintu lalu masuk kedalam helikopter. Karena sudah sangat hafal dengan semua tombol operasi yang ada di depannya itu, Alves pun berhasil menerbangkan helikopternya lagi. 


Dengan menggunakan jalur udara, kurang dari delapan menit saja, dengan kecepatan penuh dia pun berhasil sampai di gedung perusahaannya. 


Setelah sampai di ruftoop gedung perusahaan, Alves buru-buru turun dari helikopter, dan berusaha untuk pergi ke lantai bawah, tepatnya adalah ke lantai dimana kantor miliknya berada. 


BRAK.


Karena semua pintu, listrik, serta lift dimatikan dan terkunci, mau tidak mau dia harus menggunakan tangga darurat untuk turun. 


“Hah….hah….hah….” Rasa panik terus menyelimutinya. Sekalipun wajahnya terlihat seperti orang yang baik-baik saja, maka tidak dengan hati dan jantungnya yang terus saja mendapatkan stimulan yang cukup mengejutkan. 'Karena orang yang melakukan ini cukup cerdik sampai bisa membobol sandi keamanan yang aku buat, berarti orang ini memang juga bisa menghidupkan sistem perusahaan ini. Kalau mereka bisa membawa rahasia milikku, ini akan jadi gawat.'


Pintu darurat berwarna kelabu itu akhirnya terlihat. Dengan nafas yang sudah tersengal-sengal, Alves segera membuka pintu itu dengan cukup kasar.


BRAK....


Setelah berhasil keluar, Alves pun cepat-cepat pergi menuju kediamannya, dua pintu besar yang seharusnya sudah berhasil di kunci, setelah beberapa waktu lalu, Alves menguncinya lewat jarak jauh.

__ADS_1


Oleh karena itu, untuk membuka pintu yang sudah terkunci itu, sebenarnya cukuplah mudah, karena Alves hanya tinggal membukanya saja, sebab gagang pintu itu punya pengenalan sidik jari siapa saja yang pernah memegangnya. Dan kebetulan sebenarnya di depan pintu itu juga ada lubang kecil yang di tempati sebuah kamera pengawas.


Tapi karena tertutup dengan motif dan warna cat yang di gunakan untuk menghias pintu kantornya, maka tidak akan ada yang menyadarinya.


KLEK.


Tepat di saat Alves sudah berhasil membuka pintu itu, tiba-tiba saja ada kejadian yang mengejutkan.


BRAK....


Pintu itu kembali tertutup dengan kasar, dan disertai suara keras.


'Apa yang sebenarnya terjadi di dalam? Apakah ada yang mencoba untuk mendobrak pintu ini?' Tidak mau berpikir panjang, Alves kembali membuka pintunya.


PRANKK.....


Suara vas bunga yang pecah menjadi suara pertama setelah Alves berhasil masuk. 'A-apa ini? Kantorku jadi hancur seperti ini.'


"Phuih..." Arya membuang ludahnya ke sembarang tempat setelah dia merasakan adanya darah yang keluar dari mulutnya. "Kau wanita yang ganas." Kata Arya, antara pujian juga sindiran.


"Jika tidak ganas, aku tidak akan bisa melawanmu sampai babak belur seperti itu, ya kan?" Sahut Elly dengan senyuman tipisnya.


Sama hal nya dengan Arya yang nafasnya sudah cukup memburu, Elly pun mendapatkan pengaruh yang sama selama dia membuat Arya bertarung dengannya.


"Hah ..., kau benar." Arya mengusap bibirnya dengan punggung tangannya.


Setelah di rasa bersih, Arya pun mengambil pistol kecil yang selalu dia bawa dan kebetulan memang mudah untuk di simpan, karena cukup kecil,


Lalu dia menodongkan pistol itu ke depan, hingga tanpa aba-aba, Arya langsung menarik pemicunya.


DOR..!


Alves yang melihat itu membulatkan matanya lebar-lebar. "Elly!"


Teriakan itu sama sekali tidak mengganggu konsentrasi Elly yang sudah menatap wajah Arya dengan sangat serius. Hingga tepat dimana Arya baru saja menembakkan pistolnya ke arahnya, Elly langsung melempar barang senjata miliknya itu dengan sangat cepat, lalu Alves sendiri, dia berlari dan segera menerjang Elly dengan tubuhnya sebelum peluru itu menembak tubuh Elly.


BRUKK....


JLEB....

__ADS_1


"Akhh...!"


__ADS_2