
Wanita dengan tatapan mata sayu itu melirik ke arah mereka bertiga secara bergantian, dan berakhir dengan terus menatap wajah Alves yang kini tangannya sedang menahan tangan milik pria itu agar tidak pergi dari sisinya.
"A....." Sayangnya apa yang ingin wanita ini katakan kepada pria itu, tidak ada suara yang keluar.
"Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu." Kata Jane.
Doni dan Alves pun juga sepakat kalau dari ekspresi dan gerak bibir itu memang adalah orang yang ingin mengatakan sesuatu. Tapi karena terhalang dengan tenggorokannya yang kering, maka tidak ada satu suara pun yang keluar.
Hanya saja, karena Alves di berikan kode dengan ketukan ringan di telapak tangannya, maka Alves tahu kalau itu adalah isyarat kalau wanita ini akan menulis sesuatu di telapak tangannya.
"Hmm...?" Alves sedikit mengernyitkan matanya dengan pertanyaan yang baru saja di tanyakan dengan tulisan di atas telapak tangannya.
"Ada apa? Apa yang dia ingin katakan?" Tanya Doni, sudah tidak begitu memperdulikan lagi posisi dirinya di mana gajinya akan di potong selama setengah tahu, Doni merasa ada yang lebih penting dari uang, dan itu adalah pasien wanita yang misterius ini.
"Dia ..., bertanya apakah ini rumah sakit?"
"Ha?" Doni terkejut, dan bersamaan dengan reaksi yang sama seperti jane.
"Dia pikir ini rumah? Tentu saja rumah sakit." Kata Doni, mencuri jawaban Alves lebih dulu.
"Aku juga tidak tahu. Kau aku temukan di pinggir pantai, dan akulah yang membawamu ke rumah sakit." Jawab Alves detik itu juga, sebab di saat yang sama wanita itu memberikan pertanyaan baru kepadanya. "Jane, ambilkan dia minum." Toleh Alves, menyuruh Jane untuk mengambilkan air untuk pasien ini.
"Ini." Jane memberikan air botol mineral, meletakkan sedotan dan membantu melepaskan selang oksigen yang menutupi mulut dan hidung pasien tersebut.
'Dia ingin bertanya banyak kepadaku, tapi karena ada orang lain, dia jadi menunggu mereka keluar lebih dulu, dan memintaku untuk tidak pergi.' Diberitahu lagi dengan menggunakan tulisan tangan di telapak tangannya, Alves pun hanya menunggu sampai pemeriksaan yang di lakukan oleh Jane dan Doni selesai.
*
__ADS_1
*
*
Setelah apa yang di harapkan oleh mereka berdua sudah tidak ada, karena Jane dan Doni sudah pergi, Alves pun menarik kursi untuk duduk di sebelah wanita itu.
"Sekarang mereka berdua sudah pergi. Apa yang ingin kau katakan sekarang?" Tanya Alves tanpa basa-basi.
Wanita itu mengerjapkan matanya, lalu mantap ke arah langit-langit dari kamar inap miliknya.
"N-nama." Suara yang begitu kecil juga lirih, menyambut indera pendengaran Alves.
Suaranya begitu kecil namun juga terdengar cukup lembut.
"Apa karena kau sendiri tidak ingat namamu sendiri, jadi ingin aku membuatkan nama untukmu?" Terka Alves.
Anggukan kepala yang cukup ringan itu pun menjadi jawabannya.
"Pelayan."
Mendengar hal itu, Alves termangu, dia sama sekali tidak menyangka kalau wanita ini ingin jadi pelayannya?
"Itu bukan pekerjaan yang mudah." Tegas Alves.
"Pelayan." Satu ucapan lagi keluar dari mulutnya. Mengartikan kalau keinginannya adalah untuk menjadi pelayannya Alves?
'Padahal dia bisa mengambil keuntungan dariku. Apakah dia tidak sadar, wajahnya itu cantik, dan aku sendiri sudah merasakannya, kalau aroma tubuhnya itu memang tidak mengganggu, padahal tidak memakai parfum atau apapun, bahkan untuk ukuran orang yang baru saja koma selama satu setengah bulan lebih, dia tentu saja tidak mandi.
__ADS_1
Tapi aku benar-benar tidak terusik dengan aroma tubuhnya itu. Tapi mungkin saja dia ingat dengan statusnya sendiri yang bahkan tidak ingan dirinya sendiri, makannya ingin jadi pelayanku untuk menebus semua biaya pengobatannya.'
Setelah berpikir panjang lebar, tangan kanan yang bahkan sedang di perban itu pun tiba-tiba di ulurkan ke arah Alves.
"Jadi pelayan." Ucapan yang begitu singkat tapi banyak makna, Alves harus berjabat tangan jika menerima tawarannya?
"Kenapa tidak menawari dirimu jadi kekasihku saja?" Tanya Alves.
"Merepotkan."
'Apa dia baru saja bilang merepotkan?' Padahal selama ini, banyak yang ingin jadi kekasihnya, tapi Alves menolaknya karena memang tidak sesuai dengan seleranya.
Sedangkan kali ini, Alves dengan sengaja mencoba menawari posisi yang lumayan itu, karena Alves kebetulan memang nyaman dengan keberadaan dari wanita ini. Tapi apa yang Alves dapat, dia justru mendapatkan penolakan detik itu juga.
"Padahal banyak yang ingin jadi kekasihku, dan aku menawarimu itu karena kebetulan aku cukup nyaman dengan aroma tubuhmu. Tapi kau berani menolaknya?"
"Pelayan, juga bisa."' Uluran tangan kanannya pun masih berlangsung.
Lagi-lagi pelayan, itulah yang Alves selalu dengar, kalau wanita ini benar-benar ingin jadi seorang pelayan, ketimbang jadi kekasih yang padahal banyak keuntungan, di balik posisi tinggi yang seperti itu, dan wanita ini memang jelas menolaknya.
"Hahh~" Alves bersandar ke belakang, menunda kesepakatan itu terlebih dahulu, sehingga wanita itu pun meletakkan tangan kanannya yang lelah itu ke atas perutnya.
"Ada apa?" Suara serak khas dari tenggorokan yang sedang kering jadi penyebab suara yang keluar juga kecil.
"Aku sedang memikirkan sesuatu." Tapi raut wajahnya juga tidak terlihat baik, sebab raut wajah Alves justru jadi terlihat seperti orang yang ingin membuat perhitungan dengan wanita tersebut, sebab menolak tawarannya tadi. 'Nama yang mudah aku ucapkan, juga enak di dengar. Karena dia menyuruhku untuk memberikannya nama, maka aku akan dengan senang hati memberikannya nama.'
Alves pun diam dalam waktu yang lama, demi membuat nama yang enak di dengar juga nyaman di ucapkan sesuai dengan kenyamanan hatinya saat dekat dengan wanita di depannya itu.
__ADS_1
"Hmm ..., bagaimana jika Ellynda?" Alves menganggukkan kepalanya, dia merasa itu adalah nama yang cukup cocok dengan wanita ini, karena kesan dari wajah cantik yang memperlihatkan kelembutan, membuat Alves mengiyakan nama itu sebagai nama untuk wanita tersebut.
"Elly," panggil wanita ini dengan lirih. Matanya kemudian kembali terpejam, dan menjawab : "Iya. Elly."