Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
74 : PTRI : Alves ingin menjerat hati Elly


__ADS_3

Mata yang semula terpejam, perlahan terbuka. 


Menampilkan siluet iris mata berwarna ruby, pria yang tengah tertidur sambil bertelanjang dada ini akhirnya membuka matanya, dan langsung mencoba mengkondisikan lingkungan sekitarnya yang terasa damai?


‘Kenapa aku jadi keterusan tidur?’ Pikir Alves, menatap langit-langit kamarnya yang memperlihatkan cahaya lampu yang cukup remang. ‘Huh? Apa Elly yang melakukannya?’ 


Alves melirik ke bawah, dan menemukan tubuhnya tidak memakai pakaian, selain celana yang masih melekat di tubuh bagian bawahnya.


‘Walaupun dia belum lama tinggal disini, dia kelihatannya sudah mulai mengetahui kebiasaanku yang suka tidur tanpa menggunakan pakaian.’ Pikirnya, sampai Alves tanpa sengaja melihat ada sesuatu yang menarik perhatiannya. 


Tepat di atas nakas, dia menemukan kue ulang tahun di tutup dengan tutup mika. Dan di dalam sana, terlihat kalau sumbu dari lilin yang sudah mencap di permukaan kue, sudah terbakar. 


‘Aku samar-sama mendengar Elly mencoba membangunkanku. Tapi karena aku lelah, dan ngantuk, bukankah ini artinya, aku sudah mengabaikan niatnya yang ingin memberikanku kejutan?’ Hanya dengan memikirkan hal itu, Alves tersenyum ringan. 


Apalagi saat meilhat ada lilin dengan dua angkat yaitu 2 dan 9, hal itu seakin membuat Alves semakin ingin tertawa, karena ia merasa tidak pernah berharap kalau ada yang akan ingat hari ulang tahunnya. 


‘Padahal Ibuku saja, sama sekali tidak memperdulikan soal ulang tahun, apalagi untuk sebuah kue, wanita itu sama sekali tidak tertarik dengan urusan yang berhubungan denganku. 


Tapi kenapa Elly, yang bahkan belum lama kenal denganku, malah memberiku perhatian seperti ini?


Aku sama sekali tidak memintanya, tapi dia dengan intens memberikan apa yang aku butuhkan.’ Merasa sayang kalau kue itu hanya di buat untuk pajangan saja, Alves pun memakai handuk kimononya, lalu dia membawa kue ulang tahunnya keluar dari kamarnya. 


Ia akan pergi mencari wanita yang sudah memberikannya sebauh kejutan, bahkan sebelum Alves sendiri ingat, bahwa hari ini adalah hari spesial miliknya yang justru menjadi lebih spesial, gara-gara ada wanita di sisinya yang lebih perhatian dari siapapun, yaitu siapa lagi, kalau bukan Elly alias Raelyn versi Ellynda. 


Nama tubuh aslinya adalah Raelyn, tapi karena jiwa yang di dalam tubuh itu sendiri menginginkan nama pemberian dari Alves, maka secara resmi namanya menjadi Ellynda, atau di panggil Elly. 


KLEK…


Pintu yang terbuka, langsung membawa Alves pada aroma aneh yang segera tercium di indera penciumannya. 


“Aroma apa ini? Ini seperti munyak, tapi juga ada aroma bensin. Tunggu, aku merasakan ada aroma mesiu.” Dan langkah demi langkah Alves ambil, hingga tepat di depan pagar pembatas dari lantai dua yang menyatu dengan pagar dari anak tangga yang menurun ke bawah, Alves melihat Elly sedang membuka semua pintu, serta kaca jendela, memberikan kesegaran dari angin yang berasal dari luar, langsung masuk kedalam. “Elly, apa yang sedang kau lakukan di sana?” 


Alves bertanya kepada Elly dari lantai dua, dengan kotak kue masih berada di tangannya. 


Elly yang sadar dengan suara khas milik Alves, ada di belakang sana persis, Elly pun memutar tubuhnya ke belakang. 


“Bukannya, kau mencium sendiri aromanya cukup memuakkan?” Tanya balik Elly, sambil melepas sarng tangan karet yang ia gunakan untuk melindungi tangannya, karena ia aru saja beres-beres. 


“Iya sih. Apa ada kejadian yang aku lewatkan saat aku tidur?” Tatap Alves. Alves awalnya memberikan tatapan kepada Elly yang sedang berdiri di depan pintu masuk persis, dan tengah beridiri mengarah ke arahnya. 


Setelah puas dengan menatap Elly yang terlihat berantakan, karena berkeringat juga, Alves mengecek satu per satu kondisi dari lantai satu. 


Bersih seperti sedia kala, bahkan vas bunga, kaca lemari yang menyimpan puluhan keramik porselen, juga masih utuh?


Ya, dengan kecepatan Elly dalam mengurus rumahnya Alves, Elly berhasil membereskan lantai satu yang sempat berantakan seperti kapal pecah. 

__ADS_1


“Ya, ada tikus yang menyelinap masuk, jadi aku pakai segala cara agar tikus hitam besar itu aku tangkap.” Jawab Elly, atas pertanyaannya Alves barusan. 


‘Berarti tadi malam ada yang menyusup masuk ya? Tapi pas aku bangun tidur, rumahku benar-benar …., bersih, seolah tidak ada apapun yang terjadi disini.’ Batin Alves. Dia jadi tersenyum getir karena berbeda dengan dulu, sebab sebelum Elly tinggal di rumahnya, pasti untuk urusan beres-beres, akan berangsung sedikit lebih lama, sampai ada kalanya saat ia bangun tidur, rumahnya masih ramai. 


Tapi semenjak Elly tinggal di rumahnya, ada perbedaan yang cukup jelas, salah satunya adalah layanan yang Elly berikan kepadanya, hal itu cukup membuat Alves sendiri sebagai pria, merasa puas. 


Ya, sebagai pria yang terus hidup sendirian, dan merasa kesepian, setelah ada Elly di sisinya, perubahan di dalam dirinya pun bisa Alves sadari dengan penuh. 


“Aku sudah membuat sarapan pagi untukmu, turun dan makan.” Kata Elly, memberitahu, sebelum Elly akhirnya pergi dari sana. 


“Tunggu, kau mau pergi ke-”


Elly yang hendak pergi itu, tiba-tiba saja berhenti berjalan, dan sedikit berteriak. “Stop, jangan gunakan tangga,”


Alves yang hendak turun pun memberhentikan langkah kakinya. “Apa, kau …,” Alves menatap Elly secara gantian dengan anak tangga yang menguhubungkan lantai dari lantai dua ke lantai satu itu dengan seksama. “Menumpahkan minyak di tangga?”


Elly tidak bisa menjawab, karena keterdiamannya pun sudah cukup jelas untuk menjadi jawabannya. 


Alves tertawa ringan, menghembuskan nafasnya dengan sedkit kasar, Alhasil Alves pun berkata. “Jika kau tidak mengingatkanku, kau harus bertanggung jawab, jika aku terpeleset dan jatuh ke bawah.”


“Ya, makannya, hati–hati. Karena lantai di tangga itu belum sepenuhnya aku bersihkan. Maksudku, walaupun sudah di bersihkan, aku masih merasakan kalau tangganya licin, jadi jangan gunakan tangga dulu.” Jelas Elly, enggan untuk menatap Alves yang terlihat seperti sedang mencibirnya. 


‘Apa dia merasa bersalah, karena tidak mengerjakan pekerjaannya dengan benar? Hahaha, lihat wajah tidak puas hatinya. Elly, dia selalu menuntut kesempurnaan di setiap pekerjaannya, jadi saat ada yang kurang sesuai dengan ekspetasi dari hasil kerjanya sendiri, dia pasti memperlihatkan wajah masamnya.


Dia punya sisi yang cukup unik.’ Karena tidak bisa menggunakan tangga untuk turun ke lantai satu, Alves tiba-tiba saja mengambil ancang-ancang ke belakang. 


“Huh, baru juga bangun tidur, tapi kau sudah membuatku harus melompat dari lantai dua.” Ucap Alves. 


Elly menatap Alves dengan tatapan datarnya, karena Alves justru lebih memilih menggunakan cara yang sedikit ekstrim.


“Lalu apa gunanya, kau membuat lift di dalam rumah, jika tidak di pakai? Apa itu hanya untuk pajangan saja?” salah satu tangan Elly menunjuk pintu lift yang tertutup di ujung dalam dinding. 


“Padahal kau sendiri, bukannya akan memilih sesuatu yang lebih cepat, dan mempunyai efesiensi waktu?”


“Iya, tapi kan tubuhmu sedang terluka, apa kau sedang pamer kepadaku, kalau kau bisa parkour seperti itu?” Tatap Elly, masih tidak mengerti kenapa majika yang ia layani punya pemikiran aneh, dan justru terlihat seperti selalu memaerkan sesuatu kepadanya. 


“Ini bukan pamer, melainkan aku sedang mencoba menarik perhatianmu.”


“Padahal, walaupun kau tidak melakukan apapun, kau sudah menarik perhatianku.” Gumam Elly dengan nada yang cukup lirih, lalu pergi meninggalkan Alves sendirian. 


“Kau mau pergi kemana?”


“Kenapa kau banyak tanya? Aku mau mandi, dari kemarin aku belum mandi, dan kulitku rasanya lengket.” Cetus Elly tanpa memperhatikan lawan bicaranya yang sudah tersenyum lebar. 


“Aku ikut.” 

__ADS_1


“Apa?” Elly langsung menjeling ke arah samping kanan sedikit belakang, terlihat Alves malah sudah berjalan mengekorinya dengan kotak kue sudah di letakkan di atas meja. 


“Aku ikut mandi denganmu.”


Elly mengernyitkan matanya. Yang ia lihat bukan wajah Alves yang sedang menatapnya dengan tatapan mata penuh harap kepadanya, melainkan kearah dada Alves yang masih terbalut dengan perban. 


“Luka seperti itu, kau ingin mandi?” Tunjuk Elly dengan tatapan sengit, tepat pada perban yang membalut tubuh Alves, layaknya mumi berjalan. 


“Kalau aku tidak mandi, tubuhku pastinya akan bau, dan kau tidak mungkin akan dekat-dekat denganku.”


“Siapa juga yang mau peduli dengan tubuhmu bau atau tidak. Asal wajah ok, bukankah tetap ok-ok saja jika aku dekati?”


Alves yang awalnya terdiam, tiba-tiba saja langsung tertawa lepas. “Ahahaha,” 


Elly sendiri langsung bingung, apa alasan dari Alves tiba-tiba tertawa lebar seperti itu. 


“Hahaha, aduh..duh, perutku,”


“Kenapa kau tertawa?” Elly bingung dengan reaksi Alves yang berlebihan itu. 


“Haduh, Elly…” Alves masih tidak bisa menahan tawanya, apalagi ditambah saat dia melihat ekspresi bingung Elly, hal itu justru jadi memperparah tawa Alves. “Muahahaa, Elly..Elly.”


“Apa sih?” Merasa tidak berguna melihat orang sedang asik tertawa sendiri, Elly berjalan pergi menuju kamarnya. 


“........!” Alves yang tidak mau kehilangan Elly dari depan matanya, langsung menghentikan tawanya dan berlari mengekori Elly. 


“Alves, kenapa kau mengikutiku? Kau itu tidak usah mandi, pakai minyak wangi mahalmu saja sudah ok.”


“Pfft…, rasanya-”


Lagi-lagi dibuat penasaran dengan ucapan Alves yang sengaja menggantung itu, Elly hanya diam memperhatikan lagi. “Rasanya?”


“Rasanya, kalau aku tidak mandi, aku merasa kurang afdol. Bukannya aku sudah mengatakan juga, kalau aku akan membuatmu jadi jatuh cinta padaku.”


“Maksudmu karena pesonamu?” 


“Itu termasuk juga, dengan mengandalkan pesonaku, aku pasti bisa meluluhkan hatimu juga. Tapi aku tahu, kalau itu hanya akan bersifat sementara, makannya jika kita mel-”


“Stop.” Elly merentangkan tangan kanannya ke depan, membuat Alves langsung membungkam mulutnya sendiri. “Aku pikir kau pria keren, tapi ternyata kau cukup kekanakan ya?” Ucap Elly, mencibir majikannya sendiri yangs duah ternodai korban cinta. “Selama kita bersama, maka perasaanku terhadapmu bisa tumbuh, maksudnya seperti itu, ya kan? Maksudnya seperti itu kan?”


“Hm..” Dehem Alves, dengan senyuman lembut menghiasi wajah tampannya. 


“Tapi, caramu cukup mesum, tidak patut di jadikan sebagai cara untuk mengikat hatiku.” Jelas Elly dengan wajah seriusnya.


“Mau kau mengatakan semesum apa diriku, karena pada dasarnya otak manusia punya pemikiran untuk menyukai sesuatu pada lawan jenis atau sesuatu yang berhubungan dengan rasa suka, menurutku sah-sah saja jika aku menggunakan metode sederhana seperti ini.” Jawab Alves penuh dengan wajah menggoda. 

__ADS_1


Alves berjalan mendekati Elly dengan langkah perlahan, lalu membuka jubah mandinya di depan Elly, hingga akhirnya Alves memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang di balut perban.


Sehingga Elly pun diperlihatkan luka di balik perban yang membungkus tubuh Alves.


__ADS_2