
Di mall.
"Apa ada yang bisa saya bantu, Nona kecil?"
"Aku ingin sepatu yang imut." Jawab anak perempuan ini dengan satu boneka kelinci yang di bawa dengan cara mencengkram salah satu telinga kelinci, tiba-tiba saja datang ke toko sepatu dan meminta si pegawai toko untuk memberikannya sepatu.
"Baik Nona, jadi anda mau warna yang apa?"
"Hitam, ada bunga-bunganya."
"Nona tunggu di sini dulu ya." Dengan senyuman ramah, wanita ini pun pergi untuk mencari sepatu yang sesuai dengan keinginan sang anak perempuan tersebut.
Tidak lama setelah itu, datangnya sepatu yang di minta oleh anak perempuan itu.
"Mana yang an-"
"Kakak, aku ingin sepatu ukuran empat puluh, hanya memiliki hak setinggi 5 cm. Tapi bukan bunga yang di buat dari sablon, gambar dari lukisan, atau bordir, tapi dari kristal payet." jawab anak perempuan ini sambil menepuk bahunya.
Seketika pegawai toko tersebut langsung terdiam, meskipun senyuman ramah terus menghiasi bibirnya.
"Dan tidak usah senyum ramah jika tidak ingin tersenyum." tegurnya.
"Jadi apakah anda bermaksud untuk menghadiahkan sepatu kepada seseorang?" tanyanya.
"Iya." mengangguk.
Tanpa basa-basi dia pergi duduk dan menunggu, dan kembali di perlihatkan tiga pasang sepatu sesuai dengan keinginan sang adik kecil itu.
"Ini, apakah ada yang anda sukai dari ketiga ini?"
"Yang ini." menunjuk pada satu sepatu hak yang sedikit tinggi dan punya aksen payet kristal berwarna putih, sehingga memperlihatkan kesan yang cukup mewah, meskipun itu bukan kristal asli. "Sekalian bungkus."
5 menit kemudian.
Setelah mendapatkan hadiah yang ia mau, dia berjalan di temani oleh salah satu penjaganya, dan membawa kotak itu pergi menuju area olahraga yang ada di mall.
"Tambah kecepatannya." Ucap wanita ini, dia adalah Elly. Untuk menghindari kepalanya di hantam oleh bola kasti yang melayang ke arahnya dengan kecepatan yang tinggi, dia memakai sebuah helm, dan kedua tangannya memegang dengan cukup erat tongkat pemukul kasti itu.
CTAK...
CTAK....
__ADS_1
CTAK.....
Dalam beberapa detik itu, Elly berhasil memukul seluruh bola dengan tepat.
"D-dia hebat sekali, tidak ada satu pun yang gagal."
"Aku pikir dia bahkan lebih hebat dari pemain kasti pro yang sering aku lihat, jika melihat kecepatan memukulnya."
"Kau benar, dia memang cukup berbakat. Tapi dia bukan salah satu dari tim atlet kan? Tapi kelihatannya juga bukan artis."
"Siapapun dia, aku merasa beruntung melihat ada wanita hebat sepertinya." puji salah satu dari mereka lagi.
Dan tidak lama setelah itu, datang seorang pria yang sudah memakai seragam olahraganya dengan tongkat pemukul juga.
"Kau baru bacok orang?" tanya Elly, karena orang yang barusan datang itu adalah Alves yang baru saja dari GYM, sehingga keringat yang masih membasahi wajahnya itu, disertai dengan tongkat baseball yang ada di pundaknya, membuat pria ini nampak seperti ketua geng di gang sebelah.
"Ya, anggap saja begitu, setelah ini aku akan membcokmu dengan cara yang lbih mantaps." Sahut Alves.
Elly yang mengetahui apa maksud yang di ucapkan nya itu, hanya meliriknya dan kembali mengayunkan tongkat pemukulnya.
CTAK....
"Kalau tahu tenagamu lagi sebanyak ini, aku seharusnya tidak membawamu kesini," Ucap Alves.
"Kamar, kita olahraga bersama."
BLUSHH....
"Sia dia? Tampan sekali."
"Ucapannya tadi, kau dengar kan? Jangan-jangan mereka sepasang kekasih."
Mendengar hal itu, Alves menoleh ke para pengunjung yang sedang beristirahat itu dan menjawab. "Dia bukan kekasih, tapi Ist-" belum sempat selesai bicara, Alves tiba-tiba saja melihat ada anak kecil yang menyerobot melewati dirinya, lalu mendorong pintu besi itu agar bisa masuk ke dalam ruang arena permainan memukul kasti itu.
Begitu sudah masuk, tiba-tiba rok yang di pakai oleh Elly langsung di tarik-tarik.
"Sebentar." Karena bola kastinya masih sisa, dia langsung memukulnya sampai bola yang ada di dalam mesin tembak itu habis.
CTAK...
CTAK...
__ADS_1
CTAK....
Dan suara tepuk tangan langsung mewarnai kemeriahan di tempat itu.
"Ini untukmu."
Elly menoleh ke belakang, dan langsung di sodorkan kotak hadiah dari seorang gadis kecil.
"I-imutnya?! Jangan-jangan dia anaknya?"
'Anak?' Alves yang langsung tersinggung itu, segera menoleh ke belakang.
"Kenapa kau memberikan ini padaku?"
"Karena ini hadiah terima kasihku padamu." ucap anak kecil ini sambil berharap mendapatkan imbalan lain dari Elly.
"Me-"
"Elly, siapa anak ini?" Tanya Alves setelah menghampiri Elly yang sedang berbincang dengan seorang anak kecil.
"Tidak tahu, atau-" karena sudah mengingatnya, Elly tiba-tiba saja memberikan usapan di atas kepala anak itu. "Terima kasih ya? Tapi bukannya ini terlalu berlebihan?"
"Tidak kok, tapi apakah aku boleh di gendong olehmu?"
"Tidak-" Alves yang cemburu itu langsung menghalanginya.
"Alves, dia ini orang yang waktu itu ibu nya kecopetan, dan ini hadiah darinya sebagai tanda terima kasih, jadi kenapa kau menghalangi dia yang hanya minta di gendong olehku?" Elly mulai berdebat dengan Alves.
"Tapi apa kau bahkan mau menerima sepatu dari anak ini? Memangnya aku tidak bisa membelikanmu sepatu?"
"Tapi kan di-" belum sempat bicara sampai tuntas, Alves justru tiba-tiba saja memikul tubuh Elly di bahunya.
"Jika kau bermaksud ingin menggendong anak, tidak usah sampai menggendong anak orang lain, kita buat sekarang sampai jadi." Dengan begitu sombongnya, Alves langsung membawa pergi tubuh Elly dan meninggalkan anak kecil yang mau memberikannya hadiah itu.
"T-tunggu! Alves, hadiahnya, hadiahnya harus di terima kan, biar sopan."
"Kau sudah menerima hadiahnya dengan baik, jadi sekarang di tinggal saja. Aku akan membelinya sampai ke dengan pabriknya. Jadi tidak usah membuat alasan lagi, jika sudah ingin cepat punya anak, tidak masalah jadi lelah seharian setelah olahraga seperti ini."
BRAK.....
"Yah, dia pria yang licik. Padahal aku sudah susah payah membelinya dari tabunganku, tapi masa hadiahku di tolak seperti ini." rungut anak perempuan ini. "Huwaahh! Padahal aku sudah baik hati ingin memberikannya hadiah, tapi aku masa di tinggal seperti ini! Huwaa!"
__ADS_1
"N-nona, nona muda, hadiahnya tidak di tolak kok, kan ada Tuan Orson, dia yang akan mengembalikan hadiah Nona ke Nona Elly lagi." kata perempuan ini, dia lah yang menjaga Nona majikannya itu.