Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
135 : PTRI : Ajakan


__ADS_3

"Tidak."


"Lalu buktinya tadi itu?" Asena semakin berjalan mendekati Gibran yang menolak mengatakan iya.


Elly yang hanya berada di posisi sebagai pengamat, melirik ke arah kanan dan kiri.


"Gibran, mentang-mentang ada wanita selainku di sini dirumah ini, jadi kau sudah berani menggodanya ya? Jawab." kata Asena dengan nada tegas, sampai akhirnya Asena berhasil memojokkan Gibran di depan kulkas.


"Maaf menyela, tapi dia hanya membantuku mengambilkan piring untukku saja." Sela Elly diantara mereka berdua.


Asena menoleh ke arah Elly dan berkata : "Lalu apa yang kau katakan tadi sampai kau bilang dia mesum?" tanya Asena meminta penjelasan.


"Cukup, jangan menindas Elly." Suara milik Alves mewarnai perdebatan diantara mereka semua.

__ADS_1


Pria berusia 28 tahun itu berjalan menuruni anak tangga dengan penampilannya yang baru. Untuk pertama kalinya, Elly melihat pria itu memakai kaos oblong berwarna putih dan di temani dengan celana panjang olahraga.


Dengan tubuh yang biasanya di balut dengan semua pakaian yang serba berkelas, untuk kali ini dia nampak terlihat seperti pria biasa yang biasanya terlihat seperti anak muda yang tinggal di sebuah kos-kosan.


Aneh, namun kenyataan ada di depan mata.


Sesaat, Elly terus saja memperlihatkan ketertarikannya terhadap pria itu.


'Ada apa denganku? Bahkan penampilannya juga nampak mirip saat aku bertemu dengan Azriel. Atau karena aku memang dia terikat denganku di kehidupan laluku, membuatku merasa dia benar-benar seperti Azriel? Tapi mana mungkin ini sebuah kebetulan yang terjadi secara terus-menerus, ya kan?' Pikir Elly. Piring yang sudah ia dapatkan dari Gibran, terus saja ia peluk saking ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pria yang terlihat berdarah dingin itu.


Tapi, ketika Alves menoleh dan membuat mereka berdua saling bertatap mata, maka senyuman penuh pesona itu langsung Alves berikan kepadanya.


"Kenapa dia senyum-senyum seperti itu?" gumam Elly, melupakan ada dua orang lainnya yang sebenarnya justru menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Kan itu karena kau sendiri." Ketus Asena, ia akan melupakan apa yang sudah di lakukan oleh Gibran kepada Elly sesaat tadi, sebab suara perut mereka berdua sempat berbunyi.


"Kau menatapnya seperti orang yang sedang jatuh cinta pada pandangan pertama. Siapa yang tidak bisa menahan senyuman pada wanita cantik sepertimu yang menatap laki-laki itu?" Sela Gibran, sudut matanya sempat melirik ke arah Alves yang dengan percaya dirinya yang tinggi itu berjalan menghampiri mereka ambil tersenyum puas.


"Hei~" Asena langsung menyikut perut Gibran yang lagi-lagi mengatakan Elly cantik.


Walaupun kenyataannya memang benar, tapi tetap saja, ucapan nya Gibran itu merasa membuat diri Asena terasa tersinggung juga.


"Aku tahu aku ini tampan, makannya pelayanku sendiri sampai terpesona denganku juga." Ucap Alves secara tiba-tiba.


"Huh?" Elly yang terkesiap dengan ucapannya Alves itu, segera berbalik dan buru-buru menuangkan makanan yang sudah matang itu dari wajan ke piring saji. 'Kenapa ada pria yang punya kepercayaan diri setinggi itu?' Batin Elly.


"Kenapa? Apa yang aku katakan ini benar kan? Elly?" Mengabaikan sepasang suami istri yang sudah ia lewati, Alves tiba-tiba saja menghampiri Elly yang sibuk itu. Berdiri di belakangnya persis, lalu membisikkan sesuatu yang cukup menggelikan telinganya Elly, sampai Elly sendiri telinganya sudah memerah. "Temani aku malam ini."

__ADS_1


"...." Elly sontak terdiam dan hanya menganggukkan kepalanya saja sebagai jawabannya. 'Tiba-tiba? Padahal di rumah orang lain?'


__ADS_2