Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
137 : PTRI : Alves Atau Azriel?


__ADS_3

Begitu Alves sudah menyelesaikan ucapannya, Alinda pun terdiam sejenak, sampai Alinda yang hanya punya satu tebakan kecil, membuat mulutnya akhirnya angkat bicara. " Jadi, apa maksudmu ada sesuatu yang mengendalikan tubuh dan pikiranmu? Dengan kata lain, kau seolah punya kepribadian lain yang mengendalikanmu di waktu-waktu tertentu?"


"Seperti yang kau katakan itu, kelihatannya memang benar." Jawab Alves.


Dia saat ini sedang di obati oleh Elly. Setidaknya, saat ini ia tengah berpikir waras lagi tanpa membuat godaan.


"Kalau begitu beritahu aku soal senjata yang Orson bilang, kau membuat senjata baru itu belum lama ini, dengan logo Silver Pyxis. Darimana kau mendapatkan inspirasi itu?"


Mendengar Elly terlihat cukup penasaran juga, begitu Elly sudah selesai membalut tubuh Alves dengan perban, Alves pun kembali menggunakan kaosnya lalu menjawab : "Bukannya aku baru saja mengatakannya, kalau aku punya sisi lain yang bersemayam di dalam tubuhku. Jadi sudah pasti dia." Jawab Alves.


Kini dia terlihat berbeda dari sebelum-sebelumnya. Tidak seperti tadi siang, Alves yang saat ini nampak seperti sosok aslinya yang selalu mempunyai ekspresi wajah serius.


"Aku hanya tanya, kenapa kau terlihat marah?"


"Siapa yang tidak marah? Bisa-bisanya, aku yang biasanya menjaga jarak dengan wanita, sekarang kau ada di depanku dan menjadi pelayanku."


"Apa kau menyesal?" Lirik Elly terhadap Alves yang sedang memasang raut wajah yang terlihat begitu menyesal.


Alves yang begitu tersinggung dengan ucapannya Elly ini, segera menjawab : "Tidak juga. Karena setidaknya walaupun sekarang kau bukan pemilik asli tubuhmu, aku bisa lega karena setidaknya aku bisa mempertanggung jawabkan apa yang terjadi di masa lalu antara aku dan kau, walaupun sayangnya aku memang terlambat menyadarinya." Jelas Alves, dia begitu frustasi dengan kehidupannya yang benar-benar di penuhi dengan banyak drama, makannya ia pun mengacak rambutnya yang masih separuh basah itu dengan sedikit kasar.


Sedangkan Elly, entah ia mau berpikir banyak pun, karena situasinya sudah seperti ini, ia akan tetap pada posisinya yang menurutnya memang cukup nyaman juga.


Ya, nyamannya adalah ia berada di samping pria terkaya di negaranya, jadi Elly tidak akan mengkhawatirkan soal uang. Selain itu, pria di sebelahnya ini adalah orang yang cukup lumayan, bagaimanapun karena dirinya itu memang wanita, tentu saja ia cukup tertarik dengan penampilannya. Lalu satu hal lagi, ada kepribadian lain yang bercampur dengan diri Alves yang asli, kepribadian asing yang seolah menuntut agar Elly tidak lepas dari genggamannya.


Karena saling menguntungkan juga, Elly juga tidak akan mempermasalahkan soal itu, selain sikapnya, ia tidak suka dengan sikap Alves yang menggombal, sangat tidak cocok dengan citra nya itu.


"Sudahlah, walaupun aku tidak begitu suka dengan kepribadianmu yang satunya lagi karena menggombaliku terus, dan tidak cocok denganmu, aku setidaknya aku tidak akan mempermasalahkanmu karena sudah mau bercerita denganku soal masalahmu itu."

__ADS_1


"Tidak cocok? Jadi aku tidak cocok saat aku meng-"


Dalam sekelebat waktu yang cukup singkat itu, Elly tiba-tiba saja mendelik tajam ke arah Alves. Ada perubahan sikap lagi pada Alves, itu artinya pria ini tengah ada di kesadaran yang satunya lagi.


"Berhenti, katakan siapa kau?" Tanya Elly dengan cepat.


Karena sudah ketahuan kalau kesadaran Alves sedang di kendalikan oleh kepribadiannya yang satunya lagi, Alves pun tersenyum simpul sambil menatap Elly yang begitu waspada kepadanya.


"Kenapa tanya? Kau kan sudah tahu namaku."


"Siapa? Jangan membuatku berpikir banyak, karena aku sedang lelah berpikir." Pinta Elly dengan wajah seriusnya.


"Seharusnya kau sudah tahu aku ini siapa. Everlyn." jawab Alves dengan serius.


DEG...


"K-kau, apakah kau Azriel?" Tanya Elly dengan ragu.


Begitu mendengar Elly menjawabnya dengan sebuah tebakan, Alves pun tersenyum simpul.


"Kau-" Elly yang tadinya begitu berharap, tiba-tiba jadi kembali serius, karena merasa sedang di permainkan.


"Kenapa kau terlihat marah seperti itu? Memangnya aku melakukan kesalahan?" Tanya Alves dengan senyuman lembutnya, bahkan sikapnya jadi kembali berubah seperti sedang menantikan apalagi kejutan yang sedang di persiapkan oleh Elly kepadanya.


"Makannya, jawab, jangan buat aku penasaran. Kau ini Alves atau Azriel?" kesal Elly terhadap pria di sampingnya itu.


"Aku hanya baru sadar, kalau meskipun aku mengatakan aku adalah Alves, tapi di satu sisi aku juga sepertinya punya nama lain yang cukup familiar, dan itu saat kau mengatakan Azriel."

__ADS_1


'Dia ini, tiba-tiba jadi lebih menjengkelkan, seperti dia saja.' Pikir Elly.


Satu orang yang terkadang bisa menjadi menjengkelkan di balik sikap pendiam nya yang terlihat dingin itu memang adalah Azriel, tapi yang satu ini, sikapnya jadi bertabrakan, kadang dingin, tapi kadang melucu dan membuat Elly merasa kesal juga.


'Jadi sebenarnya dia ini Azriel atau Alves? Ah sebentar, kenapa aku jadi sangat berurusan dengan pikiranku ini? Dari pada aku terus berpikir dia Azriel atau Alves, lebih baik aku tidur.


Lagian aku harus sadar, jangan terus terikat dengan masa lalu terus. Jadi mau dia siapa atau siapa, asal dia bukan orang yang akan merugikanku, aku tidak akan mempermasalahkannya.' Begitu Elly berpikir seperti itu, mengabaikan pancingan Alves yang ingin membuat Elly berpikir keras dengan sikapnya itu, Elly pun pergi dari sana.


Niatnya begitu, tapi tangannya lebih dulu di cegat oleh Alves.


"Apa lagi?" tanya Elly.


"Bukannya tadi kau penasaran aku ini Alves atau Azriel? Kenapa kau tiba-tiba pergi? Pembicaraan kita itu belum selesai." ucap Alves.


"Aku sudah tidak peduli dengan itu. Baik jika itu kau adalah Azriel atau Alves, aku tidak akan memperdulikannya. Jadi tidak perlu menjawab pertanyaanku tadi. Selamat malam, istirahatlah, aku akan istirahat di kamar lain." Selesai mengatakan itu, Elly langsung menepis tangannya Alves.


BRAK....


"Kelihatan sekali kalau dia sedang marah. Tapi ya, itu sudah jadi sifatnya juga sih, Everlyn." Ucap Alves dengan lirih.


Dia tiba-tiba tersenyum simpul, jika mengingat nama Azriel rupanya berhasil keluar dari mulut wanita itu lagi.


"Aku ini memang Alves, tapi juga Azriel." Gumam pria ini, lalu beranjak dari tempat tidur dan berjalan menghampiri jendela yang mana tirai nya masih belum dia tutup itu. "Tapi, satu yang pasti, aku adalah orang yang tiba-tiba saja jadi Alves." imbuhnya lagi.


JDERR....


Suara dari dentuman petir itu langsung mewarnai langit malam yang cukup dingin itu.

__ADS_1


__ADS_2