Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
164 : Berdua


__ADS_3

"Alves, wajahmu terlihat pucat, kau tidak apa-apa? Atau karena kau sempat menghirup asap itu, makannya kau jadi seperti ini?" Tanya Elly, melihat wajah dari pra di sampingnya ini begitu pucat.


"Huekkk..."


"Kau benar-benar seperti orang hamil."


"Diamlah, jangan bicara hamil terus, aku ini pria." Ketus Alves.


Elly yang sedang menyetir itu tampak ragu dengan keadaan Alves. Tapi pria ini terus menyarankan pulang saja, karena tidak mau berurusan dengan awak media jika Alves di bawa ke rumah sakit.


___________


"Selamat datang Tuan, apakah anda tidak apa-apa?" Tanya pria ini, pelayan pribadi Rafael.


"Aku tidak apa-apa, tapi yang lebih penting adalah kondisi dari para korban, mereka tidak ada yang terluka serius, kan?" Tanya Rafael, dia mengeluarkan semua senjatanya dari dalam jas nya itu dan dia letakkan di atas nampan yang sudah di siapkan oleh pelayannya tersebut.


"Mereka tidak apa-apa Tuan. Bahkan termasuk dengan anak buah Tuan Arlo, mereka semua tidak ada yang mati, kecuali sama-sama mengalami cedera di kaki dan tangannya karena luka tembak yang di lakukan oleh Nona, Tuan." Jelasnya.


"Padahal dia terlihat seperti orang yang membantai mereka, ternyata Raelyn, dia masih memikirkan untuk membuat mereka hidup. Siapkan air mandi, setelah itu kau kirimkan sempel ini untuk tes DNA." Rafael lalu mengeluarkan beberapa helai rambut panjang milik Elly, setelah itu Rafael mencabut rambutnya sendiri dan memberikannya kepada pelayannya itu.


"Baik."


"Kira-kira butuh berapa lama?"


"Paling cepat satu minggu Tuan."


"Ya, lakukan saja. Aku hanya ingin memastikannya saja, sehingga aku tidak langsung ambil kesimpulan dia adalah adikku atau bukan, karena bagaimanapun wajah seseorang di dunia dua persen pasti ada yang kembar walaupun mereka adalah orang asing."


"Baik Tuan, saya akan mengusahakannya agar hasilnya bisa keluar dengan cepat." Jawabnya, lalu dia meletakkan rambut itu ke atas selembar tisu, memasukkannya ke dalam saputangan dan menyimpannya ke dalam saku jas pelayan miliknya.


_______________


"Elly yang lebih keras lagi. Apa kau sama sekali tidak punya tenaga?"

__ADS_1


"Tenagaku sudah di kuras untuk membereskan mereka, jadi apa yang kau harapkan itu sama sekali tidak ada." jawab Elly, dia terus mengerjakan pekerjaannya itu untuk membantu Alves yang sedang mengalami kesulitan. "Tapi lagian kulitmu tebal seperti kulit badak."


"Hahah, jika tidak tebal, nanti saat kita bercinta, kau mencakarku, yang ada kulitku langsung robek." ledek Alves di tengah-tengah dia sedang menahan rasa eneg, dan sakit di punggungnya.


"Sepertinya kau sudah kebelet."


"Hmm, aku kan beberapa kali tidak jadi di puaskan olehmu, jadi sudah terlanjur kebelet. Makannya mulutku terus mengatakan hal seperti itu tanpa henti."


Elly lantas terdiam, dia melihat deretan garis merah yang dia buat dengan tangannya itu.


"Kau seperti orang zaman dulu, masa kerokan, seperti tidak ada obat saja." Ucap Elly masih mengerok punggung Alves, dan memperlihatkan deretan garus tulang yang dia buat dengan sedemikian rapinya.


"Rasanya enak saja. Apalagi jika kau yang melakukannya, besok pasti sudah sembuuh."


"Mulutmu terlalu banyak bicara." ketus Elly.


"Apa kau berharap agar aku diam seperti orang bisu?" Tanyanya.


"Tidak juga sih, tapi aku hanya masih merasa aneh, kau yang pendiam jadi secerewet ini. Apa ini karmamu, karena kau hemat bicara, saat dulu jadi aku harus kena imbasnya juga?"


"Nanti akan aku keluarkan keahlianku, dan kau pasti akan merasa puas."


"Sebenarnya walaupun kau duduk diam sambil memangku kepalaku saja, aku sudah merasa puas, tapi kau yang memijatku, aku akan merasa lebih puas lagi. Lakukanlah layaknya seorang istri idaman. Ini yang sebenarnya aku tunggu-tunggu dari dulu.


Tapi gara-gara kau sibuk kerja dengan pekerjaanmu, makannya aku sama sekali tidak bisa mendekatimu."


Elly terdiam, dari dulu dirinya memang sibuk kerja, maka dari itu tidak ada satu pun yang akan menyukai dirinya yang terlihat seperti mencintai pekerjaan ketimbang mengatur masalah masa depannya.


"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan perusahaanmu? Lobi rusak parah, semua orang jadi punya trauma, dan aku juga-" Elly menghentikan kalimatnya, dia tidak begitu percaya kalau dalam semalam dia benar-benar menghadapi masalah sebesar itu hanya karena ada satu orang lagi yang menginginkannya? "Sebenarnya siapa Arlo itu?"


"Kau tahu namanya?"


"Samar-samar sih, jadi aku tidak yakin yang aku tanyakan ini namanya benar atau tidak. Tapi tubuh ini rasanya waktu kecil memang juga pernah bertemu dengan anak berambut putih silver seperti itu." Tuturnya.

__ADS_1


"Dia sebenarnya dari keluarga Armstrong. Sebuah keluarga yang memiliki kedudukan untuk netral. Meskipun dia punya banyak bisnis, tapi dia tidak menganggap kalau harus bersaing dengan bisnis dari perusahaan lain.


Yang terpenting itu, dia adalah keluarga dari keturunan bangsawan. Dan tidak mungkin dia akan membuat kekacauan tanpa sebab, dan menurutku jika hanya berharap bisa mendapatkanmu, tidak mungkin mereka sampai harus mengerahkan anak buahnya untuk membuat kekacauan di kota.


Seperti yang kau lihat tadi, saat kau menolak tawaran dia, dia jadi terlihat seperti orang gila. Aku tidak yakin, tapi ada sesuatu yang aneh saja.


Tapi tenang saja, karena walaupun mereka tidak meminta maaf kepadaku karena kekacauan hari ini, pihak mereka yang merasa bertanggung jawab atas insiden kali ini, sudah mulai membereskan seluruh kerusakan di lobi gedung perusahaanku, bahkan membiayai semua orang yang terluka.


Bagiku itu sudah lebih dari cukup, karena aku jadi tidak harus mengeluarkan uang." jelasnya.


Dia baru saja mendapatkan kabar dari Orson, dan seperti itulah, dia akan mendapatkan kompensasi yang terjadi di malam ini.


"Lalu soal kosmetik yang akan di gunakan untuk meriasmu, serta makanan yang di sajikan padamu, semua positif mengandung racun, yang bisa membuat kulitmu jari rusak, dan kau bisa kena racun yang membuat perutmu langsung sakit.


Orson bahkan sudah menangkapnya juga. Bagaimana? Bahkan tanpa kau perlu turun tangan, aku sudah membereskan mereka lebih dulu dengan otak jeniusku ini. Apa kau mau memberikanku hadiah?" Toleh Alves, dia ingin melihat ekspresi wajah milik Elly itu, dan sekaligus dia berharap banyak kalau usahanya dalam mencegah kejadian yang tidak di inginkan itu berhasil di cegah, bisa mendapatkan sebuah imbalan dari Elly ini.


'Dia selalu saja bisa berada di posisi satu langkah dari mereka. Pantas saja, dulu waktu dia jadi ahli strategi, dia langsung bisa mencegahnya lebih dulu dan segera mengatasinya lebih baik.


Aku tidak bisa seperti dia, karena aku hanya punya otot saja ketimbang otak.' Elly pun menyadari kemampuan dari Alves ini cukuplah membantu, seperti hal nya kehidupan yang memang tidak ada yang sempurna, tapi jika saling menyempurnakan, pasti bisa membuatnya terlihat sempurna.


Karena itu, Elly yang tiba-tiba saja menyunggingkan senyuman tipisnya, dia langsung menempelkan tubuhnya dengan memeluk punggung Alves yang sedang bertelanjang dada.


Begitu memeluknya dari belakang, Elly lantas memberikan sebuah kecupan basah di pipi kanannya Alves.


CUP.....


"Aku belum bisa memberikanmu apapun, jadi terima saja itu." bisik Elly.


Sedangkan Alves yang baru saja mendapatkan kecupan basah dari Elly, sontak langsung menoleh ke samping kanannya. Begitu melihat wajah Elly masih berada di sampingnya persis, Alves pun segera memberikan sebuah balasan setimpal, namun dengan kecupan di bibir persis.


CUP....


"Aku tidak mempermasalahkan apa yang kau berikan, asal itu darimu, Elly." Jawab Alves, dan mata yang tengah menatap wajah Elly dengan lembut, membuat hati Elly yang tadinya tenang, perlahan jadi gelisah sendiri.

__ADS_1


Ada sesuatu yang sedang mendobrak pintu hatinya untuk di buka lebar-lebar, apalagi di tambah dengan debaran jantung yang tidak bisa dia kontrol, Elly pun jadi sangat yakin kalau pria di depannya itu sedang mendengar detak jantungnya yang berdebar cukup cepat.


Karena suasana diantara mereka berdua terlihat begitu sesuai dengan isi pikiran dan hati mereka berdua, semakin waktu berlarut mencapai angka yang kian bertambah, semakin dekat pula jarak diantara mereka berdua untuk membuat sebuah momen yang bisa mereka berdua nikmati secara bersama.


__ADS_2