
"Kau mau pergi kemana?" Tanya Arlen kepada adiknya itu.
"Aku punya undangan yang harus aku hadiri. Kau diam saja di rumah, tidak usah kemana-mana dan jangan buat keributan seperti yang terakhir kali." Kata Arlo, menatap Arlann, sang kakak dengan tatapan dinginnya itu.
Karena Arlan, sang kakak memiliki dua kepribadian yang tidak bisa di kontrol itu, maka dari itulah Arlan yang seharusnya menjadi kepala keluarga, harus di lempar ke adiknya, yaitu Arlo.
Maka dari itulah, Arlo adalah pewaris yang memegang semua kekuasaan dari keluarga Armstrong.
KLEK...
Arlan pun benar-benar terkurung di dalam rumahnya setelah kejadian tempo hari. Dan sekarang, dia hanya bisa memandang adiknya yang sudah punya kuasa itu menaiki helikopter dan pergi dari kediaman rumah utama Armstrong.
"Raelyn, padahal dia adalah milikku, kenapa dia jadi milik orang lain?" Gumam Arlan, seketika sorotan matanya yang tadinya begitu polos, sekarang berubah menjadi begitu tajam, seakan dia baru saja mendapatkan musuh baru yang harus dia lawan.
________
Di rumah Gibran.
"Gibran, kau mau sampai kapan merias wajahku? Awas saja kalau aku sampai terlihat seperti topeng monyet." Kata Asena, sebab dia sudah begitu kesal karena Gibran malah jadi orang yang memperlambat waktu keberangkatan mereka berdua.
"Apa kau meragukan kemampuanku?" Tanya Gibran, sedang memakai eyeshadow kepada istrinya.
"Iya, kau kan tidak pernah meriasku, jadi wajar dong, kalau aku khawatir dan ragu padamu."
"Ya sudah terserahmu saja, jika kau meragukanku. Tapi jangan menangis jika tahu hasilnya." Jawab Gibran. "Sudah, coba kau lihat hasilnya." Kata Gibran, lalu dia pun menjauhkan tangan nya itu dari wajah Asena dan membiarkan Asena melihat wajahnya sendiri di depan cermin rias.
"...!"
Dan seperti dugaan dari Gibran yang sedang memasang senyuman bangga nya, Gibran pun bertanya : "Bagimana? Kau puas kan?"
"I-ini, bagaimana bisa? Apa jangan-jangan sebelum kau menikahiku, kau pernah bekerja sebagai penata rias artis ya?" Tanya Asena, dia pun benar-benar terkejut dengan hasilnya.
"Tidak, jika aku melakukan itu, apa kau mau mencoba untuk mempermasalahkan kalau aku sudah pegang banyak wajah wanita selainmu?"
Asena terkejut, karena rupanya Gibran bahkan sudah punya gambaran dari sudut pandang Asena, jika Gibran benar-benar pernah menjadi make up artis maka Asena jelas akan menuduhnya.
"Aku tidak bisa berkata apapun. Tapi ini cukup menakjubkan, sampai tidak tahu suamiku punya bakat merias wajah istrinya sendiri, apakah aku harus memerkan hasil karya ini kepada teman-temanku nanti?" tanyanya.
_________
"Tuan muda, anda mau pergi ke mana pagi-pagi seperti ini?" Tanya pelayan pribadinya Rafael, ketika dia melihat Tuan majikannya itu tiba-tiba saja memakai jas hitam yang cukup rapi.
Tidak seperti biasanya, pagi-pagi berangkat kerja dengan pakaian kerja nya, dia justru berpakaian formal seperti mau pergi ke satu pertemuan penting.
Padahal selama ini saja, kalau ada acara penting, sekalipun rapat dewan, Tuan majikannya itu selalu nya akan menggunakan rapat online, sebagai sarana untuk rapat rutinnya, sebab identitasnya akan terus di rahasiakan dari wajah umum.
Namun kali ini?
__ADS_1
Dengan senyuman lemah yang menghiasi bibir tebal nan seksi itu, Rafael lantas menyisir rambutnya, memakai jam tangan, sepatu kulit hitam berkualitas, serta tidak lupa dengan senjata yang selalu dia bawa dan di simpan di bawah ketiaknya, menyembunyikannya di dalam jas nya, seperti hari-hari kemarin.
"Aku ingin melihat dia menikah secara langsung dengan mata kepalaku sendiri."
Pelayan pribadinya Rafael pun menangkap satu kartu identitas yang di kalungkan ke lehernya, yang artinya, posisi Tuan majikannya untuk melihat adiknya menikah itu, dengan membuat dirinya menjadi seorang penjaga juga.
"Apa anda tidak ada masalah apapun? Anda melihat pernikahan adik anda bukan sebagai seorang kakak, melainkan jadi orang lain seperti ini?"
"Tidak masalah, bukankah ini lebih baik agar tidak ada yang tahu kalau adikku itu adalah di? Walaupun Arlo tahu identitasku juga adikku, tapi aku akan tetap menyembunyikan jati diriku seperti ini, karena itu di rasa lebih aman." Jawab Rafael, lalu menyemprotkan minyak angi yang tidak seberapa mahal itu ke leher, dan pergelangan tangannya.
Padahal didalam laci itu, ada banyak deretan parfum dengan harga selangit, tapi yang di pilih oleh Rafael adalah parfum yang ia beli kurang dari harga satu jutaan saja.
Sungguh, kehidupan nyaman dan sukses yang seharusnya di jalani oleh Rafael sebagai pria yang bekecukupan, justru memilih untuk menyamar menjadi orang yang terlihat biasa-biasa saja.
Itulah, strategi dari Rafael dalam menjalani hidupnya agar dia tidak terlihat begitu mencolok di luar sana.
"Apa kau sudah menyiapkan hadiah khusus yang aku pesan kepadamu dua hari yang lalu?" Tanya Rafael, kembali merapikan jas yang ia pakai itu di depan sebuah cermin.
"Sudah, ini hadiahnya." pria ini pun memberikan paper bag kecil itu kepada majikannya, dan tidak lama setelah itu, Rafael menilik nya sesaat dan pergi dari sana begitu saja.
________
"G-gila! Dia mau menikah? Yang benar saja? Masa secepat ini?" Tanya Warren. Dia yang sudah ada di rumah apartemen nya Felix, langsung bertanya dengan nada keras karena saking terkejutnya dengan empat undangan yang tertera di atas meja tamu, dan undangan itu memiliki nama Felix, Warren, Darren, bahkan Arshen.
Felix yang baru saja di berikan empat undangan dari salah satu staf karyawan di gedung apartemen itu juga sudah terdiam sejenak dengan kejutan itu sendiri, karena baginya itu terlalu mendadak.
Sampai Warren kembali bertanya : "Apa kau mau berangkat?"
Warren melirik ke arah Felix yang nampaknya pikiran dan hatinya juga terguncang dengan fakta itu sendiri, bahwa Elly yang dulunya mereka permalukan, mereka gunakan sebagai pelayan mereka, jutsru sekarang akan menikah dengan sosok dari orang yang Felix anggap sebagai sepupu itu.
"Aku tidak tahu, kalau kau mau berangkat, berangkat saja." Jawab Felix kepada Warren.
Karena dia cukup frustasi dengan posisinya sekarang, sebab bagaimanapun, melihat orang yang dulu pernah Felix anggap sebagai seorang budak, lalu tiba-tiba punya posisi yang akan menjadi nyonya keluarga Avaris dengan Alves sebagai pasangannya, bagi Felix itu adalah sebuah pukulan terbesar untuknya, setelah kejadian satu minggu lalu, pertemuan pertama mereka di depan kampus itu, sebenarnya cukuplah lumayan dan menyita perhatian serta hatinya.
Tapi karena sudah seperti ini, Felix pun jadinya menyerah, memilih untuk tidak ikut campur dalam urusan Elly lagi.
"Kau beritahu saja yang lain, aku lebih baik tidur saja hari ini." cetus Felix, lalu beranjak dari sofa dan pergi menuju kamar sebelum akhirnya pintunya tertutup dengan sedikit keras.
BRAK...
"Felix, jangan-jangan dia ada perasaan dengan Elly itu." Gumam Warren, sambil mengulas ingatan miliknya yang menyatakan kalau waktu waktu itu sebenarnya Warren melihat Felix dan Elly bertemu di depan kampus dan berbicara sebentar di bawah hujan.
__________
Di tempat yang lain, tepatnya di dalam kamarnya Ellynda.
Sambil duduk santai di kursi santainya, saat ini Ellynda terus saja mengoceh tidak karuan.
__ADS_1
"Alves, kau kan punya kegiatan sendiri, apakah kau harus melakukan ini secara pribadi kepadaku?"
"Ya kan, biar tidak ada satu orang pun yang menyentuh wajahmu selain aku."
"Ini bukan kejutan namanya."
"Kau yang akan jadi Istriku saja sudah jadi kejutan untukku, jadi apa yang harus aku kejutkan lagi?" Balas Alves detik itu juga.
"Tuan, kalau anda menyuruh saya datang kesini dengan alasan untuk merias calon pengantin anda, lalu kenapa anda yang merias sendri seperti ini? Saya juga wanita, sebaiknya anda berikan tugas ini kepada saya saja." sela wanita ini.
"Tidak usah, kau disini hanya untuk meramaikan rumahku, dan pelengkap saja, jadi kau duduk diam saja di kursimu." Ketusnya, bahkan tanpa melihat lawan bicaranya itu, mata Alves terus saja memandang wajah Ellynda yang Alves lukis secara pribadi.
"Tapi tu-"
"Tidak akan aku bayar jika kau tidak menuruti perintahku." balas Alves, sudut matanya menangkap ekspresi wajah takut yang di miliki oleh wanita itu.
"B-baik." Dengan menyesal, perdebatannya jadi tidak ada titik untuk menang, karena aura yang di keluarkan oleh Tuan muda nya itu sudah cukup untuk mengintimidasinya. 'Benar-benar sangat posesif sekali. Aku jadi tidak bisa menang melawan ucapannya itu.' benak hatinya.
Elly yang tidak menggubris dengan apa yang barusan di pertengkarkan oleh dua orang itu, hanya berkata : "Alves, bisa tidak, tidak usah tebal-tebal, rasanya aku jadi ingin mencakar wajahku."
"Aku tahu ukuran yang harus aku taruh pada wajahmu ini, tenang saja kenapa, seperti waktu itu." Alves mengingatkan Elly untuk bersikap tenang, karena hasilnya tidak akan pernah mengecewakannya.
Sampai, di tengah urusan mereka berdua yang belum kunjung kelas, pintu yang tadinya tertutup, langsung terbuka.
"Alves, kenapa kau malah ada disini? Di luar kan sud-" belum sempat berbicara penuh, Ibunya Alves langsung melongo. "Sejak kapan kau bisa merias wanita?"
"Sejak aku punya keinginan bisa menyentuh wajahnya." jawab singkat Alves.
'Siapa?' Elly membuka salah satu matanya dan melihat ada ibu mertuanya.
Tapi, saat melihat dan berkata dalam hati wanita itu adalah Ibunya, Elly tiba-tiba merasa hampa.
Dia bukan memikirkan soal pertanyaan yang kemungkinan besar akan di tanyakan oleh banyak orang kenapa calon pengantin wanitanya tidak memiliki kedua orang tua atau latar belakang yang setara dengan mempelai pria, melainkan ia cukup penasaran dengan kedua orang tuanya sendiri, salah satu Ibu nya, itu adalah sosok yang seperti apa.
'Huh, lucu juga sih, karena bahkan di detik ini, aku sama sekali tidak punya orang tua seperti di masa laluku.' batinnya.
"Kau akhir-akhir ini benar-benar jadi orang yang kian berbeda saja. Lalu jika kau yang merias wajahnya, kenapa kau pakai mengundang jasa penata rias segala?" tanya ibunya Alves ini.
"Tidak usah di hiraukan, aku hanya mengundangnya sebagai formalitas belaka." jawabnya.
"Tapi apa kau tidak memikirkan tamu undangan yang sudah datang?"
"Kan ada Orson."
"Yang menikah itu kau, kenapa kau malah menyuruh dia untuk menyambut tamu, jadi setidaknya sapa mereka, bukan malah ada di sini." semakin emosi karena anaknya itu benar-benar pintar menjawab.
"Ibu, jika masih saja di sini untuk mengganggu urusanku-" kembali menoleh ke arah Ibu nya, Alves berkata lagi, "Sebaiknya Ibu pulang saja." menekankan kalimat terakhir nya itu untuk memberikan peringatan keras kepada wanita yang ia anggap sebagai Ibu itu, meskipun sosok dari wanita yang ada di ambang pintu itu bukanlah wanita yang bertanggung jawab kepada anaknya, sebab selama ini hanya hidup sambil mengabaikan keberadaannya saja. Tapi giliran sudah mau menikah, wanita itu malah mulai menampakkan dirinya dan berbicara untuk menyuruh ini dan itu kepadanya.
__ADS_1
Alves, alias Azriel, dia benar-benar sama sekali tidak suka dengannya.