
Elly memegang pembatas dari kapal, dan Orson yang langsung melajukan kapal dengan kecepatan penuh untuk menghindari dari kapal pesiar yang tiba-tiba lewat sana.
Tapi sayangnya antara kecepatan motor penggerak dari mesin kapal milik mereka bertiga dengan kapal pesiar yang tidak sebanding, pada akhirnya membuat gelombang air yang tercipta dari kapal pesiar itu menghantam kapal yang di naiki oleh Alves, Elly dan Orson dan membuat kapal mereka langsung terbalik.
BYURR....
Elly membelalakkan mata saat melihat tubuhnya masuk kedalam air laut.
Tangan yang terulur untuk meraih tangan Alves, sama sekali tidak terjadi dan membuat tubuh Elly masuk dan terus terbawa oleh arus air.
'K-kenapa?' Detik hati Elly saat melihat permukaan air kian menjauh. Cahaya matahari yang terang perlahan terasa semakin gelap.
Dingin, sudah pasti, tapi dari pada itu semua, Elly tiba-tiba saja teringat dengan memori yang sempat hilang.
Baik itu memori saat dirinya terbunuh, maupun memori dari tubuh yang ia pakai itu.
'Kenapa di saat-saat seperti ini aku mengingat kenangan dari kematianku sebelumnya?' Dan semakin waktu berlalu tubuhnya semakin menjauh.
Walaupun ia tahu cara berenang, tapi seolah tubuhnya masuk dalam trauma yang pernah di dapatkannya, tubuhnya pun jadi tidak mampu merespon kehendak dari Elly.
Maka dari itu tubuhnya jadi semakin tenggelam ke bawah, dan tekanan air yang semakin besar membuat ia tak kuasa untuk terus membuka matanya, sampai oksigen terakhir yang ia miliki keluar juga.
BLUPP....
'Elly!' Pekik Alves di dalam pikirannya. Dia mencoba untuk berenang, untuk meraih tangan yang terlihat terulur ke arahnya dan meminta untuk di selamatkan.
Tapi meskipun ia sudah berusaha, akan tetapi Alves tetap kalah cepat dengan kecepatan tenggelammnya Elly ke bawah sana.
Alves terus berusaha berenang, ia tidak mau melihat wanita itu kehilangan hidupnya lagi.
'Elly! Bertahanlah!' Alves terus berenang, berusaha dan mencari sosok dari wanita itu. Tapi karena Alves mulai kehabisan oksigen, ia jadi bimbang haruskah ia kembali ke permukaan?
Tapi jika ia kembali ke permukaan, yang ada justru adalah ia akan kehilangan Elly, dan itu akan semakin membuatnya frustasi.
Namun jika ia tidak segera mengambil oksigen, dia juga akan turut ikut tenggelam.
Benar-benar sebuah keputusan yang sulit di ambil.
Sebenarnya begitu, sampai Alves yang tidak mau ikut tenggelam, pada akhirnya terpaksa naik ke permukaan air.
"Phuahh...hah....hah...."
"Alves, bagaimana Elly?" Tanya Orson, sama-sama sudah ada di permukaan air dan juga sama-sama tercebur.
"Aku kehabisan oksigen, jadi aku memutuskan naik dulu."
Orson pun jadi membuat wajah terkejutnya, karena Elly yang belum lama ini mengatakan tidak suka dengan air laut, malah harus menerima kejadian pahit ini dengan cara tenggelam.
"Aku harus cari peralatan menyelam, cepat naik bantu aku." perintah Alves.
Karena kapalnya sudah kembali ke posisi semula Alves pun kembali naik ke kapal dan di susul Orson untuk membantu memasangkan peralatan menyelam untuk Alves.
Walaupun harus menerima kendala bagian kabin kapal yang cukup berantakan, untungnya mereka tidak terlalu sulit untuk menemukan alat menyelam.
Ia memakai semua perlatanny, termasuk dengan pakaian renang, tabung oksigen, kacamata daan juga sepatu khusus yang seperti kaki katak.
__ADS_1
"Kau berjaga di sini, aku akan membawanya kembali dan harus selamat." Ucap Alves dengan penuh penekanan, lalu ia memakai alat bantu pernafasan dan langsung mencebur kelaut.
BYURR.....
Alves semakin berenang ke bawah, meski dia harus di hadapi keberadaan dari Elly yang sudah tidak kelihatan.
Alves menyalakan lampu senter saat ia sudah mulai memasuki kedalaman yang cukup gelap. Paling tidak perlu waktu sampai lima menit untuk membuatnya bisa berenang lebih dalam lagi dan lebih dalam.
'Elly, dimana kau?' Alves celingukan mencari keberadaan dari wanita yang belum lama ini bersamanya.
Padahal awal pertemuannya juga berada di pantai, tapi apakah akhir dari pertemuan mereka berdua juga ada di pantai, dengan keadaan lagi-lagi tenggelam ke laut?
Kecelakaan pertama memang cukup beruntung, karena arus air membawa tubuhnya ke pinggir pantai, tapi tidak dengan kali ini, sekalinya tenggelam lebih lama lagi, maka itulah akhir dari kehidupannya.
Akhir dari kehidupan kedua Elly.
'Dimana?! Kenapa aku masih belum bisa menemukannya?!' Pekik Alves dari dalam pikirannya. Ia perlahan jadi kesal sendiri, sebab ia masih belum bisa menemukan Elly sama sekali. 'Elly!'
Dengan begitu susah payah Alves mencari keberadaan Elly, tapi sudah selama itu ia belum menemukannya, sehingga ia terus berenang ke laut yang lebih dalam.
Untung saja hari ini hari yang cerah, sehingga tidak ada kendala untuk Alves untuk menyelam lebih dalam, kecuali satu hal yaitu tekanan air laut yang kian menjadi kuat, karena ia terus bergerak ke dalam.
Dan ketika ia berada di tengah keputusasaannya, dengan menggunakan senter yang ia bawa itu, akhirnya ia menemukan Elly sudah terkulai tidak berdaya di atas terumbu karang.
Alves tentu saja langsung menyelam ke bawah sana untuk menolong Elly.
".........!" Hingga ada hal lain yang tidak ia duga, tepat di antara celah dari tebing bawah laut, tiba-tiba ada seekor hiu.
Hiu itu berenang keluar dari celah tersebut dan mendekati mereka berdua.
“Haarggh…” Hiu itu sempat membuka mulutnya, tapi akhirnya hiu itu lewat di atas kepala mereka saja.
Alves merasa lega. ‘Hahh….itu hampir saja.’ Benak hati Alves.
Karena ia sudah menemukan Elly, Alves pun langsung memeluk tubuh Elly dan membawanya ke permukaan.
Dengan bergantian menggunakan regulator selang oksigen, Alves terus berenang ke atas, membawa tubuh Elly dan berharap sekali bahwa Elly masih bisa di selamatkan.
Dan perlu waktu kurang dari empat menit untuk membawanya ke permukaan air, sampai akhirnya Alves berhasil keluar.
“Phuah..hah..hah….”
“Bagaimana?” Tanya Orson sudah duduk di pinggir dek kapal untuk menyambut kedatangan Alves.
“Aku berhasil membawanya.”
“Bagus. Tapi kita ada masalah lain, lambung kapal ini sudah retak sebentar lagi tenggelam, jadi harus pergi naik ke kapal pesiar.” Beritahu Orson.
Mereka berdua pun mendongak ke atas, dan melihat kapal pesiar itu berhenti tepat di samping mereka.
___________
Setelah berhasil naik ke kapal pesiar, beberapa orang kru kapal tiba-tiba mendatanginya.
“Tuan, maafkan ka-”
__ADS_1
“Diam! Aku sedang tidak ada mood untuk mendengar ocehan kalian!” Bentak Alves sambil meletakkan tubuh Elly di lantai.
Orson yang baru kali pertama ini melihat Alves marah, jadi langsung merasa iba. Terpaksa, Orson maju dan membuat semua orang mundur, karena kerumunan itu membuat Alves merasa tidak nyaman.
Tentunya, sebagai teman dekatnya, Orson pun tahu apa yang harus ia lakukan kepada mereka yang terlihat mengganggu Alves.
“Elly!” Alves yang tidak fokus lagi dengan apa yang ada di sekitarnya, terus mencoba membangunkan Elly.
Tapi wajah pucat dengan keadaan Elly sama sekali tidak merespon panggilannya, membawa Alves jadi semakin geram sendiri.
Dia dengan cekatan langsung cek nafas Elly dengan menempelkan kuping ke hidung dan mulut Elly. ‘Tidak ada.’
Karena tidak adanya hembusan nafas dan tidak ada gerakan dadanya naik turun nafas, Alves mengecek nadinya selama sepuluh detik.
Setelah itu barulah Alves memberikan nafas buatan. Alves sedikit menjepit hidung Elly, dan saat itulah Alves katupkan dan mendekatkan mulutnya ke Elly, sampai disitulah Alves akhirnya memberikannya nafas buatan.
Padahal beberapa waktu lalu ia sudah berciuman dalam kesan saling memberikan kebutuhan mereka masing-masing, tapi sekarang, itu adalah ciuman berupa nafas buatan.
Alves dan Orson yang menyaksikan itu langsung pun jadi merasa sedih.
Kemana senyuman yang selalu terlihat tulus itu? Semuanya sudah tidak ada setelah Elly keluar dari dalam laut.
‘Gara-gara aku, jadinya seperti ini,’ Tanpa disadari, Orson jadi menyalahkan dirinya sendiri. Jika saja ia tidak mengajaknya pergi melewati lautan dengan kapal, Orson berpikir hal seperti ini sama sekali tidak akan terjadi.
Tapi karena semuanya sudah terlanjur, jadi apa boleh buat, yang ia harapkan hanya satu, yaitu Elly bisa selamat.
"Elly," panggil Alves. Tidak kunjung ada perubahan, dia pun melakukan CPR dengan menekan dada Elly beberapa kali lalu kembali melakukan nafas buatan.
"Ada apa ini? Kenapa kapalnya berhenti?"
"Tadi kapal ini sempat menyerempet kapal kecil, sepertinya ada orang yang baru saja tenggelam."
Para penumpang kapal yang merasa penasaran pun pergi untuk melihat apa yang sedang terjadi kepada dua orang yang ada di depan sana.
"Apa dia suaminya?" Tanya wanita ini. Karena kebetulan ia tadi sempat berenang dan berjemur sesaat, wanita ini pun masih memakai pakaian renang yang seksi.
"Sepertinya."
"Elly, bagun. Kau masih belum melakukan tugasmu dengan baik, jangan tinggalkan aku." Gumam Alves, merutuki nasib Elly yang lagi terkena musibah tanpa di duga itu.
"Kasihan sekali, semoga Istrinya bisa selamat." Ucap salah satu dari mereka.
Karena mereka hanya bisa melihat punggung Alves saja, jadi mereka semua pun hanya salah mengira kalau pria itu bukan orang yang mereka kenal.
'Bahkan orang-orang mengira kau adalah suaminya. Betapa banyak orang yang salah sangka dengan kalian.
Elly, kau jangan mati, jangan hancurkan hati anak itu. Apa kau tidak tahu kalau orang yang kau anggap sebagai majikan, walaupun hubungan kalian berdua di dasari atas dasar kontrak, tapi Alves tidak memiliki pilihan lain selain sudah merasakan perasaannya sendiri mengenai rasanya jatuh cinta.
Kau sudah membuatnya sedikit demi sedikit berubah.' Pikir Orson.
"Tuan, sa-"
"Shh~" Desis Orson saat ia mendengar penanggung jawab yang mengendalikan kapal pesiar hendak berbicara.
Karena Orson memberikan mereka tatapan yang begitu dingin, tidak ada diantara mereka semua yang berani untuk berbicara lagi selain menunggu keadaan dari Elly.
__ADS_1