
"Apa yang terjadi padamu?" Tanya Alves setelah keluar dari kamar untuk berganti pakaian. Tapi nyatanya setelah ia keluar dari kamar, ia melihat wajah Gibran yang tersipu itu.
"Tidak apa-apa. Sebentar lagi mereka berdua akan selesai, aku keluar ambil mobil dulu." Ucap Gibran, bahkan tanpa melihat lawan bicaranya itu, karena Gibran langsung berjalan nyelonong melewati Alves begitu saja.
".....?" Alves hanya diam tanpa memperoleh jawaban yang memuaskan, kecuali jawaban itu sendiri ada di atas sana. 'Sebentar lagi? Apakah mereka bisa lebih cepat sedikit?'
Alves mulai merapikan jas, dasi, ikat sepatu, saputangan yang di letakan di dalam saku jas sebelah kiri bagian dada, sekaligus apakah tubuhnya sudah wangi setelah mandi dan pakai parfum?
'Ok, rambut ya..aku selalu terlihat ok.' Setelah memuji dirinya sendiri, ia tanpa sengaja mendengar suara langkah dari dua pasang sepatu.
KLOTAK....
KLOTAK....
'Apa dia sudah selesai?' Karena Alves menduga kalau Elly sudah selesai, Alves pun berbalik.
Tapi betapa sialnya? Atau beruntungnya?
"Bagaimana hasil kinerjaku ini? Bagus kan? Karena wajahnya memang sudah cukup cantik, aku hanya memolesnya dengan sedikit bedak, lipblam, sedikit menebalkan alisnya, yah...masih ada ba-"
"Tidak usah menjelaskannya aku juga tahu, kalau hasilnya memang cukup memuaskan. Bagaimana denganmu sendiri, Ellynda? Apa kau mulai terkesima dengan penampilanmu sekarang?" Puji Alves, ia bahkan sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari gaun malam yang cukup memperlihatkan lekuk tubuhnya yang kecil tapi juga tetap terlihat sempurna.
"Aku-" Elly menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat tubuhnya sendiri sudah di pakaikan gaun malam berwarna hitam panjang, tapi itu juga membuat bagian depannya jadi sedikit memperlihatkan gunungan kembar itu. Walaupun sedikit, tetap saja, "Apa aku harus mengumbar tubuhku seperti ini? Mau membungkuk juga artinya aku harus memperlihatkan punyaku?"
"Asena, apa kau punya yang lain? Aku jadi tidak ingin melihat kalau dia memperlihatkan tubuh pentingnya itu di depan banyak pria."
'"........!" Asena sedikit terkejut, ini kali pertamanya Alves langsung mengatakan perhatian, rasa cemburu itu, rasa khawatir itu sendiri secara langsung. 'Dia sungguh perhatian?! Aku tidak percaya ini, tapi sebenarnya cara seperti apa yang di gunakan oleh Elly sampai si beruang Grizzly ini jadi terlihat obsesif seperti ini?'
__ADS_1
"Tunggu apa lagi, perjalanannya akan membutuhkan waktu, tapi jika kalian mau ikut denganku menggunakan helikopter tidak masalah juga sih, asalkan ganti pakaian yang menggoda itu dengan yang tertutup. Aku sama sekali tidak ingin dia memperlihatkan tubuhnya selain aku."
"He?" Asena langsung mengerjapkan matanya beberapa kali. "K-kau, kau barusan berkata seperti itu, apa kau tahu itu artinya apa?"
Alves yang hanya terdiam membisu seperti itu dengan ekspresi wajah dan tatapan matanya terus tertuju kepada Elly, membuat Asena menerima jawaban yang sudah cukup pasti, kalau kedua orang ini memang ada hubungan lebih dari sekedar majikan dan pelayan.
'Alves ini, apa dia benar-benar mulai membuat langkah perang untuk membuatku jatuh hati kepadanya?' Elly yang hanya diam membisu, kembali di tuntun untuk masuk kedalam kamar lagi untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian lain yang lebih tertutup.
'Aku sangat tidak menyangka, Alves akan bicara dengan terang-terangan seperti itu. Itu cukup bagus sih, tapi kira-kira latar belakang wanita ini apa? Lalu aku melihat ada banyak bekas luka di bagian lengannya, makannya aku memakaikannya sarung tangan hitam brukat. Tapi karena Alves sudah berkata untuk menggantinya dengan yang lebih tertutup, berarti tidak masalah, kalau dia pakai gaun yang itu.'
Karena mereka berdua di buru dengan waktu, maka Asena cepat-cepat pergi ke walk in closet, memilih gaun yang sekiranya memang menutupi tubuh Elly yang memang cukup menonjol.
Walaupun depan bagian atas dan bawah bagian belakang tidak sebesar yang Asena miliki, tetapi penampilan dari proporsi tubuhnya yang pas itu, tetap saja mendukung untuk menarik naluri pria memandangnya dengan cukup sensual.
'Apa-apaan wanita ini? Dari tampangnya memang terlihat seperti anak-anak, tapi cara berjalan, ekspresi wajahnya saat melihat-lihat sekitarnya, serta cara dia menatap Alves tadi, dia terlihat seperti orang yang sudah cukup dewasa.
Alves, kau benar-benar menemukan wanita ini dari mana? Tanpa aku sadari aku jadi jadi semakin penasaran.' Pikir Asena.
Di hotel xxx kota A.
Hotel Bolnsna di jalan xxx adalah hotel bintang tujuh, tempat dimana di selenggarakannya sebuah resepsi pernikahan dari sepasang pengantin dari kalangan aktris terkenal, yaitu Nero dan Lysandra.
Mereka berdua adalah artis dan aktor yang diam-diam sudah menjalin hubungan selama kurang lebih lima tahun, dan akhirnya hubungan itu semakin serius dengan membawa mereka berdua naik ke atas pelaminan.
Siapa yang tidak menyangka kalau kedua orang yang terkenal itu bisa bersatu tanpa adanya kabar miring bahkan kabar bahwa mereka berdua menjalin hubungan pacaran saja, pihak media sama sekali tidak mengetahuinya.
Karena mereka berdua adalah orang yang cukup terkenal, maka wajar bahwa tamu undangan yang hadir pun cukup banyak, dan di undang dari berbagai kalangan, entah itu dari pebisnis, sesama artis, pejabat negara, dan teman-teman dari masing-masing pihak mempelai, tidak ada yang terkecuali.
__ADS_1
"Hei Aiden, siapa yang kali ini kau bawa untuk menemanimu kesini?" Ke empat pria ini menyapa temannya yang baru saja datang dengan membawa seorang wanita.
"Perkenalkan, aku Cecil." Wanita berambut hitam dengan panjang sepunggung ini memberikan salam sapa dengan memberikan jabat tangan kepada mereka satu per satu.
"Cecil? Rasanya aku pernah mendengarnya?" Gumam laki-laki berjas abu-abu ini, sambil membalas salaman dari Cecil.
"Dia adalah adik dari kekasihku." Akhirnya Aiden menjawab rasa penasaran diantara mereka semua.
"Tunggu-tunggu. Dia adik dari kekasihmu? Bukannya kekasihmu itu si du- ..eh, maksudku si Raelyn itu ya?"
"Maaf jika aku ternyata tidak cocok di tempat ini. Tapi jika kalian mencari kakakku itu, kebetulan keluarga kami sedang terkena musibah. Sudah hampir dua bulan ini, kakakku menghilang."
Seketika mereka berempat memberikan reaksi terkejut mereka semua dengan berita yang di bawa Cecil itu.
"T-tidak, jangan bersedih seperti itu Cecil. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu tidak nyaman, aku hanya penasaran biasanya yang suka menempel dengan Aiden kan kakakmu." Kata laki-laki ini.
Dengan tatapan sedih, Cecil hendak berbicara : "Aiden, apakah sebaiknya aku p-"
Aiden langsung melirik kearah Cecil. "Baru sampai kesini, jangan dengarkan mereka, kita berdua sudah menyapanya, jadi aku dan Cecil pergi dulu."
"Hei Aiden, Aiden!" Sayangnya panggilannya itu sama sekali tidak berlaku kepada Aiden yang tidak menoleh sedikitpun.
"Jadi dia itu Cecil, adiknya Raelyn yang bodoh itu?" Salah satu diantara mereka berempat, terus menatap kepergian Aiden bersama Cecil itu.
"Alran, kata-katamu cukup kasar juga. Tapi memang iya sih, Raelyn itu bodoh. Tapi aku tidak tahu ternyata kabar Raelyn tiba-tiba berhenti kulliah karena dia hilang."
"Kau benar, aku bahkan hanya mengira kalau dia sudah tidak kuat di bully lagi, makannya berhenti masuk kuliah. Ternyata dia menghilang."
__ADS_1
"Jangan-jangan berita soal orang menghilang yang waktu itu sempat heboh itu adalah Raelyn sendiri"
Mereka berempat pun terdiam sejenak memikirkan wanita yang biasanya di bully di tempat kuliah itu ternyata diam, tidak masuk kuliah lagi, karena wanita itu masuk dalam daftar kasus orang hilang.