Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
143 : PTRI : Perhatian pertama


__ADS_3

"Katakan, siapa namamu dan apa statusmu sampai kau bisa merayu cucuku?" Satu pertanyaan dengan segudang jawaban, langsung menghujani diri Elly, begitu Elly dan Alves masuk kedalam rumah.


Wajah Elly pun seketika jadi pucat melihat tekanan hebat yang di miliki oleh kakeknya Alves, begitu terasa sampai seolah tekanan dingin itu menusuk ke dalam tulangnya juga.


"S-saya, s-" Berkerut-kerut dahi Elly karena mulutnya tiba-tiba saja terbata-bata. 'Kenapa aku begitu gugup? Aku kan hanya tinggal menjawabnya dengan jujur kalau aku adalah pelayannya. Tapi kenapa seperti ini? Sampai aku terbesit kalau aku ingin menjawab kalau aku statusnya adalah kekasihnya.


Masa aku mau bilang seperti itu? Dia bukan orang yang bisa menganggap kalau jawabanku akan di terima begitu saja olehnya.'


"Elly?" Lirik Alves melihat mulut yang tadinya di gunakan untuk membuat satu ci*man dengannya, sekarang terlihat ragu untuk sekedar bicara dan menjawab pertanyaan dari kakek tua itu.


TAK..

__ADS_1


Ujung dari tongkat yang di pegang oleh kakeknya Alves itu di hentakkan kepermukaan lantai marmer sebagai wakil dari rasa tidak sabarnya.


"Kakek tua ini sedang bertanya, apa kau tidak tahu bagaimana caranya bicara?" tanyanya lagi, sorotan matanya pun semakin dingin, membuat suasana di dalam rumah tersebut langsung menjadi dingin.


"Kakek, jangan menatapnya seperti itu. Apa kakek tidak tahu, aura kakek seperti mau membunuhnya, makannya dia jadi takut dan tidak bisa menjawab pertanyaan kakek tadi." Ucap Alves, menengahi pangkal dari pertengkaran yang bisa mereka buat kapan saja, bahkan di detik itu pun, juga bisa menjadi sebuah pertengkaran jika kakeknya Alves tidak rela di katai seperti itu oleh cucunya sendiri yang baru saja memberikannya peringatan.


Awalnya laki-laki tua ini terus menatap wajah Elly yang langsung menunduk ke bawah, dan hampir sepenuhnya ingin menyembunyikan wajah itu dari jangkauan pandangannya.


"Kalau begitu bicara sambil duduk di sofa." ucapnya.


Lalu lima menit kemudian.

__ADS_1


"Tuan besar, ini teh hijau nya." ucap Elly seraya menyajikan teh set peralatan teh untuk menyeduh teh hijau, dan setelah selesai menyeduhnya, Elly pun menyajikan tiga cangkir teh itu, untuk dirinya, kakeknya Alves dan Alves sendiri.


Kakeknya Alves langsung melirik cara bagaimana Elly menyajikan teh kepada tamu, seperti dirinya itu. 'Walaupun aku tidak begitu suka dengan cara berpakaiannya itu, tapi dia pintar menyajikan teh ini dengan cara yang sangat benar.


Lihat ini, pucuk dauh teh nya saja berdiri semua. Apakah ini akan menjadi keberuntunganku?' Pikir kakeknya Alves ini.


Dia memperhatikan semua yang di lakukan oleh Elly dalam melayani tamu yang menginginkan teh hijau seperti itu, dari cara membuat sampai akhir dari proses menyeduh teh yang benar, Elly berhasil menarik perhatiannya detik itu juga, sebab konon, pucuk dari daun teh yang mengambang dalam posisi berdiri, akan membawa sebuah keberuntungan.


Dan sekarang, giliran dia menyicipinya.


Alves yang belum pernah meminum teh hijau buatannya Elly, ikut menyicipinya.

__ADS_1


Dengan cara mereka berdua minum yang cukup anggun, Elly sedikit terkesima. 'Apa karena dia mendiami tubuhnya, makannya dia jadi tahu cara meminum teh dengan benar. Dan bahkan persis sama seperti kakeknya itu.'


__ADS_2