
'Suami? Suami?' Pikirannya pun hanya tertuju pada satu kata yang selalu terngiang di dalam kepalanya.
Kalimat menakjubkan yang benar-benar keluar dari bibir yang sudah pernah Alves cium itu.
'Padahal semua orang sudah berkumpul di ruangan, tapi kenapa Tuan sama sekali tidak memulainya?' Karena cemas dengan suasana yang semakin canggung itu, Orson ini segera berjalan menghampiri Bos nya yang sedang asik melamun itu. "T-tuan, rapatnya sudah tinggal dimulai." Bisik Orson pada Bos nya itu.
Tapi sekali lagi, Alves sama sekali tidak menghiraukan peringatan dari sekretaris pribadinya itu.
'Bagaimana ya? Aku pikir aku orang yang membuat hati semua wanita luluh, tapi nyatanya tidak dengan Elly. Bagaimana agar aku bisa membuat dia punya perasaan kepadaku?' Alves pun semakin berpikir keras, karena dia pernah menerima sebuah cabaran yang lumayan menarik, kalau Elly mau menerima tawarannya itu asal bisa membuat hatinya tergerak untuk menyukainya.
Tapi apa?
Alves pun dalam masa delima, karena dia baru kali ini harus menghadapi wanita yang punya keteguhan hati yang tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya.
'Walaupun dia memuaskanku dengan tubuhnya. Bukan berarti dia menanamkan perasaannya kepadaku.'' Alves berpikir demikian, sebab semua itu adalah layanan dari seorang pelayan, itulah yang Elly lakukan kepadanya.
"Bos, apa anda tidak aan memulai rapat ini?" Satu suara dari seorang wanita langsung menarik segala pikiran Alves saat itu juga.
Alves yang kebetulan duduk di kursi paling ujung, dari meja yang memiliki panjang sepuluh meter itu, langsung membenarkan posisi duduknya dan meletakkan kedua tangannya di depan laptop.
"Kalian cukup rajin, sampai mau mengingatkanku untuk memulai rapat." kata Alves dengan senyuman simpulnya.
'Erkk...kenapa Bos tiba-tiba tersenyum seperti itu?'
'Bos yang biasanya berekspresi serius, tiba-tiba tersenyum? Kira-kira siapa orang yang berhasil membuat Bos tersenyum seperti itu ya? Siapa orang yang sempat Bos pikirkan sampai melamun tadi?'
'Sepertinya Bos sedang ada dalam suasana hati yang bagus.'
Semua orang pun jadi merasa senang melihat suasana hati Alves yang terlihat sedang bagus itu, karena dengan begitu, di dalam rapat mereka tidak akan ada ketegangan yang mengharuskan mereka semua masuk dalam medan perang.
__ADS_1
"Baiklah, rapat kita di mulai dengan rencana milikku yang akan membangun resort di pantai Coldevan." Kata Alves, dia meminta flashdisk yang sempat Alves berikan kepada Orson untuk di cek.
"Pantai Coldevan? Bukankah itu pulau pembuangan sampah mobil? Anda membeli itu untuk-"
"Ya, karena tidak ada yang mau mengelola tempat itu karena sudah terlalu penuh dengan bangkai mobil, aku memutuskan membelinya dengan harga yang murah." Jawab Alves.
"Walaupun anda membelinya dengan harga murah, tapi itu kan, butuh dana yang mahal untuk membereskan semua bangkai itu."
Alves tersenyum tipis. "Tapi mau bagaimana lagi, kebetulan pantai itu letaknya cukup bagus untuk di jadikan resort mewah. Cukup jauh dari kota, tapi punya pemandangan yang lumayan. Kita bisa mendaur ulang bangkai itu jadi mobil baru, yang terpenting ad-"
Orson yang dimintai flashdisk oleh Alves, dibuat cemas. Dia buru-buru memberitahu tentang masalah yang sedang dialami mereka berdua.
"Bos, ada keadaan darurat." bisik Orson tepat di samping telinga Alves dengan tangan kanan sengaja di gunakan untuk menutup arah pembicaraan mereka berdua, karena ini menyangkut hal yang cukup penting.
"Soal apa?" Tanya balik Alves dengan wajah tetap mengarah ke depan, tapi tidak sudut matanya yang menangkap wajah sekretaris pribadinya itu sedang memasang wajah cemas.
"Ini soal gudang senjata rahasia anda. Ada yang berhasil membobolnya." Jawab Orson.
Gebrakan meja itu langsung mengagetkan semua orang yang ada di sana. Sampai tidak ada satu orang pun yang tidak mengangkat kedua bahu mereka, karena saking kagetnya.
'Ada apa ini? Kenapa bos tiba-tiba marah seperti itu! Apa yang barusan di katakan oleh Orson tadi, sampai membuat Bos seperti itu!'
'Ini gawat, jangan-jangan kami akan di suruh lembur lagi.'
'Ahh! Kalau Bos marah seperti ini, ini akan jadi medan perang kami!'
Satu persatu dari mereka semua langsung mencemaskan diri mereka. Karena setiap kali ada yang membuat Alves marah, imbasnya adalah semua karyawan di perusahaan di haruskan lembur, itulah konsekuensi bekerja bersama dengan Alves.
'Siapa yang melakukannya? Sialan, aku harus membawa semua senjata itu lagi! Karena itu bukan senjata yang aku beli, melainkan hasil dari senjata yang aku rancang sendiri.
__ADS_1
Bisa-bisanya ada yang berani membobol gudang senjata milikku, kalau ketahuan siapa orang yang berhasil mengkhianatiku, aku pasti akan menyiksanya, membuat mereka lebih memilih mati ketimbang hidup di siksa olehku.' Sarkas Alves di benak hatinya.
Tidak puas hati dengan kondisi harta berharga miliknya baru saja di curi, Alves segera beranjak dari tempat singgasana nya.
"Orson, ikut aku pergi. Dan rapat di hentikan sampai aku menyelesaikan urusanku.
Tapi sebagai gantinya-" Dengan wajah paling bengis, Alves yang memberikan tatapan tajam ke arah mereka semua, langsung berbicara lagi. "Kalian harus lembur untuk menyelesaikan laporan yang akan di gunakan minggu depan, apa kalian paham?!"
"P-paham~" Jawaban mereka semua langsung lesu.
Sebelum Alves benar-benar keluar dari ruang rapat, Alves menghentikan langkahnya dan mengangkat tangan kirinya ke arah mereka, menunjuk ke semua orang lalu memberikan tambahan : "Kumpulkan besok pagi di ruang kerjaku, jika kinerja kalian bagus sesuai dengan keinginanku, aku berikan kalian libur empat hari."
KLEK.
"Libur~ Tiga hari? Di bulan ini?" Satu orang berwajah lesu.
Tapi tidak dengan satu orang lainnya yang langsung memberikan teriakan semangat untuk teman-temannya. "Tunggu apa lagi! Liburan datang setelah setengah tahun tidak bisa libur! Kalian harus semangat kerja!" Sambil mengangkat tangannya ke atas.
"Hei, kau kan anak baru, empat hari itu sedikit tau." Cibir salah satu diantara mereka.
"Eh?
______________________
Di Lobi.
"Ehmm...ini tempat Alves kerja kan?" Dengan pakaian paling sederhana, kaos putih di lapisi dengan jaket, lalu rok rimpel panjang berwarna abu, dipadukan dengan sepatu selop berwarna putih, menjadikan penampilan Elly yang terlihat kampungan itu berhasil menarik perhatian banyak orang yang kebetulan sedang berlalu lalang di sana sebab sebentar lagi jam makan siang akan segera di mulai.
Dan dari dua resepsionis yang kebetulan berjaga di tempatnya melihat Elly masuk begitu saja, salah satu diantaranya pergi dari tempat duduknya untuk menghampiri Elly.
__ADS_1
"Siapa kau?" Tatapan matanya yang cukup tajam, tertuju pada penampilan Elly dari atas sampai bawah. "Kalau tujuanmu untuk mencari pekerjaan disini, maka pergi saja. Karena tidak ada lowongan pekerjaan, bahkan sekalipun kau memohon untuk jadi OB."