Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
159 : Kerusuhan


__ADS_3

"B-itu bom!"


"Kyaa!"


Elly dan Alves yang terkejut dengan kehadiran dari bom yang melekat pada mainan mobil remot kontrol, hanya diam saja ketika banyak diantara mereka yang langsung berlari lintang pukang untuk menyelamatkan diri.


"Arshen, jinakkan bom itu." Perintah Elly.


Mendengar namanya di panggil oleh Elly, Arshen pun sedikit mendongak ke atas dan berkata : "Kau terlihat cantik seperti bidadari. Kalau saja aku tahu kau bisa jadi seperti itu, aku tidak mungkin akan mengabaikanmu dan menganggapmu seperti seorang pelayan." Dengan senyuman simpulnya, Arshen pun mengotak atik bom itu layaknya sebuah mainan anak-anak.


"A-Arshen, bagaimana kau bisa mengotak-atik bom itu, kalau meledak bagaimana?!" Protes Darren.


"Arshen, jangan tarik kami jika kau mau meledakkan dirimu karena waktu itu kau dipermalukan oleh Elly." ucap Warren juga.


"Elly, kita pergi dari sini." Alves menarik tangan Elly.


"Kau menyuruhku pergi di saat mereka semua panik?" Tanya Elly dengan sorotan matanya yang cukup tajam itu.


"Mereka akan di tangani oleh anak buahku, kita pergi dari sini." Bujuk Alves, dan dia pun menarik tangan Elly untuk ia bawa pergi dari sana.


"Tapi ak-"


DHUARR......


Satu ledakan berhasil mewarnai keributan itu menjadi tempat kerusuhan yang lebih serius lagi dan membuat langit-langit yang ada lampunya itu, bergoyang sampai akhirnya ada yang jatuh.


PRANG...


PSSHH.....


Tidak lama setelah itu sebuah asap tebal mulai memenuhi ruangan tersebut.


"Alves! Apa yang sebenarnya terjadi?! Kau yakini ini yang namanya keamanan?" Oceh Elly, dia pun turun dari panggung.

__ADS_1


"Uhuk...uhuk...uhukkk...." banyak yang mulai terbatuk-batuk karena bom asap itu.


"Orson, matikan listrik khusus di ruangan ini. Nyalakan ventilasi darurat biarkan semua asapnya terhisap semua." perintah Alves lewat alat komunikasi sebelum akhirnya alat komunikasinya terputus. "Elly! Ayo kit-"


Padahal Alves hendak menarik Elly lagi dan membawanya pergi dari sana, tapi Alves seketika sadar, kalau orang yang di harapkannya itu sudah tidak ada di sampingnya!


'Di saat-saat seperti ini, kenapa dia malah kabur dariku? Sudahlah, aku harus pergi dari sini, asap ini mengganggu pemandanganku, dan kenapa acaraku harus berakhir buruk seperti ini! Apa mereka suka, mengacaukan segala jenis situasiku?!' teriak Alves di dalam hatinya.


Dia sangat tidak menyukai situasi dimana dia harus berurusan dengan tamu yang tidak di undang itu.


_____________


"Yuli, lihat itu! Dia bahkan baik-baik saja, berarti rencanamu itu gagal." Cecil yang menonton siaran langsung itu, langsung membanting handphone nya, karena rencananya benar-benar gagal total.


"Ya sudah, kalau gagal berarti bukan keberuntungan kita. Tapi aku masih punya kartu cadangannya kok." ucap Yuli sambil menempatkan sudut dari handphone nya di depan bibirnya dan memperlihatkan kalau Yuli saat ini sedang berbicara dengan seseorang. "Benar kan Tuan?" Tanya Yuli, dia sengaja menaikkan volume nya agar bisa di dengar oleh Cecil juga.


-"Ya, tenang saja. Walaupun rencana kecil kalian itu bisa di hindari oleh mereka, tapi tidak dengan rencanaku yang sedang berlangsung."- ucap seseorang yang cukup misterius itu.


"Memangnya kau siapa? Kenapa kau membantu kami?" Tanya Yuli, sekaligus pertanyaan yang mewakili Cecil.


TUT....


Setelah mematikan telepon itu secara sepihak, ada kiriman link video siaran langsung untuk mereka berdua.


Dan begitu Yuli menontonnya, pemandangan paling awal yang mereka lihat adalah adanya kekacauan di depan kantor alias lobi kantor perusahaan milik Alves.


"Heheh, tanpa turun tangan, ada yang bisa lebih membunuh. Malam ini pasti akan jadi malam yang panjang untuk mereka." Ucap Cecil. Dia yang memang tidak memiliki banyak kekuatan, tapi dia cukup beruntung karena ada saja orang yang memiliki tujuan yang sama dengan Cecil juga Yuli.


"Ya kan, sudah aku bilang, pasti akan ada jalan untuk kita." Ucap Yuli, dia pun menonton acara tersebut bersama dengan Cecil di dalam mobil.


_________


"Halo! Halo!" Pekik Rafael, dia tidak bisa mendapatkan sambungkan komunikasi dari pelayan pribadinya itu, membuat Rafael saat ini jadi terjebak.

__ADS_1


"Masuk! Ayo masuk! Jangan sampai biarkan orang itu kabur seperti beberapa hari yang lalu!"


Suara milik seseorang laki-laki yang cukup keras itu memerintah kawanannya untuk masuk.


Rafael sontak langsung bersembunyi lebih dulu di salah satu lemari barang, tapi karena sempit juga bau, ia harus menahannya lebih dulu.


"Siap Bos! Tapi ngomong-ngomong Bos, apa yang akan kita lakukan jika menemukannya? Menangkapnya atau membunuhnya?"


"Menangkapnya cukup bagus, tapi jika tidak bisa menangkapnya, bukannya membunuhnya akan jauh lebih bagus?" Jawab orang yang berperan sebagai pemimpin mereka semua.


Dua belas orang berkumpul, dan tidak lama kemudian berpencar dengan di bagi menjadi enam kelompok.


"Untuk para tamu undangan, kita akan menyekap mereka, dan menggunakannya sebagai pion sandera agar dia menyerah. Apa kalian semua paham?"


"Paham Bos!"


"Kalau begitu pergi berpencar dan jaga komunikasi!" Perintahnya.


Dan mereka semua pun berpencar.


Setelah di tinggal sendirian oleh anak buahnya yang sudah berpencar lebih dulu, pria ini pun hanya berdiri dan bersandar ke tembok sambil membakar ujung rokok yang baru saja dia keluarkan dari bungkusnya.


CTAK....


"Fyuhh~" pria tersebut langsung merokok, menambah sebuah pencemaran di dalam kantor yang sudah mulai kacau balau, karena bercampur antara debu dari puing bangunan, serta ada asap yang keluar dari celah pintu yang ada di sampingnya persis.


"T-tolong! Buka pintunya!" Teriak orang-orang yang ada di dalam.


"Tolong buka! Uhuk..uhuk...uhuk.."


Mendengar banyak suara yang meminta tolong, Rafael pun jadi bingung, karena dia sendirian. Gara-gara alat komunikasinya terputus.


Sampai ketika Rafael tengah berpikir apa yang akan dia lakukan, tiba-tiba saja ada suara tembakan.

__ADS_1


DORR...DORR...DORR....


__ADS_2