
‘Oh, wanita itu cantik juga, apa dia yang sedang pria ini cari? Yah~ pastilah, pria ini saja punya wajah setampan ini, pasti punya pacar yang setara dengan derajatnya. Aku iri.’ Batin pria ini saat meliat Alves benar-benar serius melihat ke arah komputer, dan dari pada itu adalah Alves begitu cekatan dalam memasukkan semua kalimat kedalam kedalam komputer, sampai ia sendiri tidak paham apa yang sedang di lakukan oleh Alves itu.
‘Kemana Elly di bawa pergi?’ Pikir Alves. Karena saat ini ia tidak membawa laptop, maka dari itu ia pun mencoba meretas lewat komputer tersebut dan mencari tahu keberadaan dari Elly, dengan melihat semua cctv di kota tersebut.
Walaupun sedkit sulit, karena tidak banyak bangunan di sana, serta area yang begitu luas, membuat Alves juga harus mengira-kira kemana Elly di bawa pergi.
___________
Di Villa milik Felix.
Mereka berlima saat ini sedang berada di bawah ancaman oleh ke empat orang polisi.
Satu polisi mengawasi mereka berlima sedagkan ketiga polisi lainnya sedang menggeledah rumah tersebut.
Dan di awali dengan bagian ruang tamu, area keluarga, semuanya berpencar untuk mencari barang seperti yang di sebutkan kalau mereka menyembunyikan narkoba?
“Pak, disini.” Salah satu polisi sepertinya memang menemukan barang yang di carinya, sebuah barang belanjaan yang baru saja di beli oleh Felix?
Karena salah satu diantara mereka menemukan narkoba, maka mereka semua langsung berkumpul dengan cara membawa semua barang belanjaan ke depan mereka semua, untuk membuktikan kalau barang tersebut memang benar-benar ada.
“Felix! Kau kan yang tadi beli barang belanjaan?” Tuding Darren kepada Felix yang masih diam membisu sambil melihat botol kaleng itu ketika di buka, ternyata tersembunyi satu bungkusan kecil berisi narkoba.
Setelah melihat apa yang perlu di lihat, Felix akhirnya merespon Darren dengan mata yang cukup dingin. “Apa kau percaya dengan semua ini?”
Satu pertanyaan itu terlontar begitu saja kepada Darren, sekaligus mewakili untuk semuanya.
Arshen, Darren, Warren, sama-sama menggelengkan kepalanya.
“Walaupun kalian memang terlihat seperti anak berandalan, aku juga tidak percaya kalian melakukan hal kotor seperti ini.” Akhirnya Elly pun angkat bicara.
“Sayangnya maaf saja, walaupun kalian berlima berteman, atau apapun itu, karena bukti sudah kami temukan, maka kalian berlima harus ikut kami.” Ucap polisi ini.
“Pasti ini ada kesalahan, mana mungkin teman kami membeli barang haram itu!”
“Pacar saja bisa saling mengkhianati, apalagi teman.” Kata polisi ini lagi.
“Ucapanmu menghasut sekali ya?” Ledek Elly kepada polisi tersebut, yang mana hal itu berhasil menarik perhatian dari mereka bertiga.
“Kau, bahkan satu-satunya wanita di sini, jangan-jangan kau juga punya pekerjaan terlarang lainnya. Dan kelihatannya baru menyiksa pria ini,” tatapan matanya tertuju pada Arshen yang masih terikat di kursi.
“Aku hanya memberikan apa yang pernah dia berikan kepadaku. Jadi mana yang terlihat aku menyiksanya?” Balas Elly, ia bahkan sama sekali tidak menunjukkan rasa takutnya kepada mereka semua. “Sebagai orang yang mengidap masokis, dia sangat suka denga sesuatu yang seperti ini.”
‘Masokis?!’ Felix, Arshen, Darren, Warren bahkan ke empat polisi itu langsung terkejut dengansatu kalimat penting dan begitu menonjol itu.
Meskipun saat ini kedua tangannya sudah di borgol, tapi karena kaki dan tangannya masih bisa di gerakkan, Elly pun kembali melakuan sesuatu kepada Arshen.
Elly berjalan menghampiri Arshen, berhenti tepat di depan Arshen, Elly langsung mengalungkan kedua tangannya di belakang leher Arshen dan menariknya dengan kasar, hingga kepala Arshen langsung kena tarik ke depan.
“Akh…” rintih Arshen ketika tengkuknya tiba-tiba jadi sakit karena bergol yang terpasang di kedua tangan Elly langsung menyerang kulit tipisnya.
“Hentikan itu, kami tidak mau membuang waktu dengan apa yang aan kau lakukan Nona muda.” Kata sang polisi, mengentikan apa yang akan di lakukan oleh Elly dengan pose yang begitu Vulgar di depan mereka semua.
“Hmm…, padahal aku ingin memperlihatkan kalian betapa masokisnya pria ini jika aku melakukan sesuatu terhadap tubuhnya.” Rungut Elly.
‘Wanita ini, sejak kapan aku jadi masokis. Dan dia pandai sekali berakting, padahal tadi saja dia seperti singa betina, tapi sekarang jadi terlihat seperti kucing kecil. Sebentar, kenapa aku jadi punya pikiran kalau dia seperti kucing?’ Terkejut Arshen dengan semua pikirannya sesaat tadi.
“Ayo ikut kami.” Perintahnya, membuat mereka semua jadi saling pandang satu sama lain.
“Padahal pemilik toko bisa saja menjadi tersangkanya. Kenapa malah menargetkan kita?” Gumam Warren.
“Aku mana sudi ikut dengan polisi, padahal kita saja tidak salah, tapi berani-beraninya menyuruhku ikut mereka.” Gerutu Darren, hendak menelepon seseorang.
Melihat hal itu, salah satu diantara mereka langsung merebut handphone Darren.
“Kau, kenapa merebut hanpdhone ku?!” marah Darren.
“Tidak ada yang perlu dihubungi, kalian bisa menyewa pengacara setelah ada di kantor polisi untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut.” Jelasnya, membuat Darren semakin kesal.
Ia ingin meninju wajah polisi tersebut, tapi jika ia melakukannya, ada kemungkinan kalau postol yang sedari tadi ada di tangan dari satu polisi lagi, bisa saja menembakkan peluru kepadanya, atas dasar penyerangan.
“Sial, kenapa jadi seperti ini?! Padahal hanya ingin liburan, tapi malah berakhir di kantor polisi, apa kata orang kedua orang tuaku nanti?” Gumam Darren, jadi merasa was-was dengan apa yang akan terjadi setelah ini, setelah ia ada di kantor polisi.
__ADS_1
“Ayo ikut.” perintahnya lagi, membuat mereka berlima jadi semakin enggan untuk melakukanny.
Arshen, Darren, Warren dan Elly, mereka semua menatap Felix secara bersamaan.
“Kalian salah orang.” Kata Felix secara tiba-tiba.
“Apa? Kami mana mungkin salah orang, karena kami sudah memantau perjalanan bisnis narkoba ini, sudah pasti kalian jadi masuk dalam daftar tersangka ini.”
‘Pasti?’ Detik hati Elly, terus mengamati semua gerak-gerik dari ke empat pollisi tersebut. “Hei Arshen, apa yang terjadi jika kau masuk kantor polisi juga? Tepat di hari aku baru saja melakuan dendamku padamu, kau pasti merasa kesal kan, karena hari ini jadi hari paling sial.” Bisik Elly di depa wajah tampan Arshen. “Oh, lihat-lihat ini, keningmu jadi mengkerut lagi.”
Tiba-tiba di perlakukan seperti anak kecil, karena Elly masih mengalungkan bargol di belakang lehe Arshen, maka Elly benar-benar mengusap kening Arshen dengan jari jempolnya.
“Berhenti lakukan itu, mari ikut kita ke kantor polisi.” Salah satu orang polisi tiba-tiba saja datang dan memaksa Elly untuk menjauhi Arshen.
“...........” Elly yang melihat tangan kotor itu menyetuh tangannya, Elly dengan cepat segera mengangkat kedua tangannya dari belakang leher Arshen, dan langsung melayangkannya kedua tangannya itu ke belakang, meraih belakang leher polisi tersebut, dan langsung mengerahkan kekuatannya untuk mengangkat tubuh orang tersebut hingga melayang dan berakhir dengan di banting.
BRUKK…
“Akhh…!”
“.........!” Sontak semua orang langsung terkejut bukan main.
‘Apa?! Apa-apaan dengan kekuatannya tadi itu?!’ Pekik Arshen, melihat polisi yang tadi menyentuh Elly, sudah terbujur kesakitan di samping kiri Arshen.
“Dia melakukan pemberontakan, tangkap dia.” Perintahnya, kepada kedua anak buahnya yang tersisa, untuk menangkap Elly lebih dulu.
Mereka berdua pun mengacungkan senjatanya ke arah Elly, melihat hal itu Elly langsung menendang kursi Arshen hinga Arshen terjungkal ke belakang.
“Akhmmh!” Ronta Arshen dengan tindakan yang tidak terduga Elly yang tiba-tiba saja menendangnya, dan membuatnya terjatuh ke belakang bersama dengan kursinya sekalian.
“Raelyn, apa ya-”
DORRR…..
PRAKK…
“Hii…!” Darren dan Warren langsung bergidik ngeri melihat peluru tadi melesat tepat ke area kursi, dimana peluru tersebut sukses menembus kursi busa yang di duduki oleh Arshen, sehingga saat ini, tepat diantara kedua paha Arshen, ada lubang kecil yang di buat dari peluru tadi.
“Raelyn,” Panggil Felix, tapi bahkan si Elly saja seperti sengaja tidak mendengar panggilannya, karena ia terfokus untuk memberikan pelajaran kepada ketiga polisi yang tersisa itu.
“Kalian mau menangkapku? Polisi gadungan seperti kalian? Lihat saja, siapa yang akan di tangkap itulah yang kalah.” sindir Elly. Selesai menghendari peluru pertama yang hampir mengenai kakinya, Elly langsung membungkukkan tubuhnya ke depan, selagi itu, Elly mensejajarkan pergelangan tangan yang masih terborgol itu.
Setelah sejajar, dengan cepat Elly mengarahkan kedua pergelangan tangannya itu secara berlawanan, dimana tangan kanannya diarahkan ke depan, maka tangan kirinya di arahkan ke atas dan di tarik ke belakang, hingga dalam waktu kurang dari lima detik itu, borgol yang ada di pergelangan tangannya langsung terlepas.
KLAK.
Elly membuang borgol itu ke depan, tepat ke arah wajah dari polisi tersebut.
DORR…
CTANG….
Keddua barang itu pun jadi saling bertemu dan meciptakan kebisingan yang cukup memekakkan telinga mereka.
‘Masa hanya tangkap satu wanita saja tidak bisa. Kalau dia sampai bisa mengalahkan kami semua, bisa gawat. Rencanaku bisa hancur.’ Pikir pria ini, pemimpin dari mereka bertiga.
‘Kalian menargetkan oang seperti kita dalam rencana untuk meminta tebusan dengan cara menipu kami? Yang benar saja, aku tidak akan tertipu dengan tipuan kecil remeh seperti ini.
Karena kalian melawan orang yang salah, jangan salahkan aku jika aku membalas kepada kalian juga, apalagi mengganggu kesenanganku untuk menyiksa Arshen ini.’ Pikir Elly.
Merasa kalau semua ini juga salah Elly, sebab ia belanja tanpa begitu memperhatikan kejanggalan pada beberapa barang makanan dan minuman yang Elly beli, Elly pun jadinya harus membereskan mereka berempat.
Sebenarnya antara Felix dan ketiga temannya tidak ada yang salah dalam kasus kali ini, maka dari itu jiwa Elly yang merupakan seorang mantan dari tentara angkatan darat di kehidupan sebelumnya, membuat ia tidak bisa melihat kalau ke empat anak di belakangnya itu ditipu mentah-mentah oleh keempat polisi gadungan itu.
Dengan menganlkan senjata yang ada di tangannya, mereka berdua menodongkan pistol ke arah Elly.
“.........” Dan dengan wajah seriusnya, Elly pun bergerak maju tanpa ada kendala.
DORR…
Peluru yang melesat ke arah Elly, Elly tangkis dengan pisau lipat yang Elly ambil dari Orson. Ya, Elly sedikit menghentakkan pisau tersebut hingga pisau itu langsung keluar, setelah itu Elly tangkis dengan mudah.
__ADS_1
CTANG….
Melihat reaksi terkejut dari polisi tersebut, di detik itu juga Elly langsung melempar pisau tersebut ke depan dan …
JLEB..
“Akkhh….” Ujung mata pisau langsun menancap tepat ke samping leher polisi tersebut.
“Selanjutnya.” Elly kemudian melirik ke samping kiri dengan tubuh sedikit terhuyung ke belakang, saat itulah Elly kembali bergerak maju.
‘Wanita ini, aku harus meembaknya,’ Kelabakan dengan siapa yang ia lawan, pria ini langsung menembakkan beberapa peluru sekaligus.
DORR..DORR…DORR..
Dari tiga peluru yang berhasil Elly hindari, Elly sedikit mendapatkan dua helai rambutnya putus dan jatuh ke lantai akibat terserempet peluru tersebut.
Melihat hal itu, Elly jadi semakin kesal, karena rambut yang ia jaga dan sudah di tata dengan cantik, malah harus putus. Walaupun hanya dua ‘Rambut tetap saja rambut. Belum waktunya berpisah dari kepalaku, tapi kau malah memisahkannya.’ pikir Elly. “Sepertinya aku harus membuat kepalamu botak.” Kutuk Elly.
DOORR…
DORR..
‘Hah?! Gawat, aku harus lari!’ Karena menyadari kalau pelurunya habis, pria ini hendak kabur.
“Kau tidak bisa bela diri selain menembak ya. Karena pelurunya habis, kau jadinya mau lari?!” Dengan gerakan yang begitu cepat, sebelum polisi tersebut berbali, Elly langsung memberikan tendangan tepat di tangan kanan yang masih memegang pistol tersebut.
BHUAKK…..
‘Woww…, kau lihat Darren? Raelyn tiba-tiba jadi hebat seperti itu.” Puji Warren melihat aksi yang diperlihatkan oleh Elly kepada mereka berempat.
“Hmm! Hmm!” Arshen yang terus mengeram, mencoba memberikan kode kepada Warren ataupun Darren agar membantunya melepaskan ikatan talinya.
Tapi sayangnya Darren dan Warren keburu terpesona dengan aksi yang diperlihatkan oleh Elly.
Maka dari itu, Arshen pun benar-benar terabaikan.
BUKKH..
"Akhw.."
"Satu lagi." Berhasil melumpuhkan satu lawannya lagi, sekarang hanya tinggal satu saja, yang kini sudah berdiri di samping Felix.
"Berhenti, kau mendekat, artinya kau sama saja dengan membahayakan anak ini." Ancam polisi kepada Elly, sekaligus Felix yang saat ini sedang di sandera.
Felix benar-benar sudah di jadikan tameng untuk mempertahankan diri dari serangan yang bisa di lakukan oleh Elly kepadanya.
Sehingga hal tersebut membuat mereka jadi terdiam, tidak ada yang berani bergerak, karena ini menyangkut keamanan dari Felix juga.
'Felix! Kenapa dia malah diam saja? Apa kau ingin Raelyn yang menyelamatkannya?' Batin Warren.
Ia tahu betul kalau Felix juga bisa bela diri, tapi apa yang dilakukan oleh laki-laki itu sekarang?
Felix justru seperti orang yang memang bersedia untuk menjadi tameng, sehingga Elly pun jadinya terdiam dan tidak punya niatan untuk menyerangnya juga.
"Jalan," perintah pria tersebut kepada Felix.
Dan Felix sendiri dengan begitu menurut, langsung berjalan, tapi dalam posisi jalan mundur ke belakang.
Dengan membawa beberapa ganja yang sudah di kantongi, jelas kalau mereka berempat memang bukanlah polisi betulan.
Mereka berdua terus berjalan mundur, tidak bisa memberikan akses untuk Elly untuk menyerang, mereka berdua akhirnya keluar melewati pintu depan rumah.
"Hei, apa Felix akan di bawa begitu saja?" Tanya Darren dengan tatapan melamun, karena Felix benar-benar mau menjadi tawanannya.
"Kalian urus saja mereka bertiga, aku akan urus anak itu." Perintah Elly tanpa menatap lawan bicaranya yang ada di belakang.
KLEK.
Tepat di saat pintu rumah tertutup, saat itulah Elly langsung berlari keluar untuk menyusul Felix, sampai akhirnya suara ledakan dari pistol yang baru saja di gunakan langsung mengisi ketegangan diantara mereka semua.
DORRR...
__ADS_1