
"Punyamu, kenapa sesempit ini ha? Ini sangat membuatku gila." Rutuk Alves, tidak kuasa untuk menahannya, adik Alves yang berhasil masuk ke dalam penjara mantap itu, langsung di menggerakkan pinggulnya, maju mundur melakukan olahraga yang dari ringan akan menjadi berat.
"Angh~ Anh! Tidak, jangan dilanjutkan. Hah ...hah...hah..." Keluh Elly, dia sungguh akan menjadi gila, karena penjara miliknya akhirnya di isi juga oleh milik seseorang yang bahkan tidak Elly kenal.
'Ini betulan, aku betulan ikut merasakan sakit. Alves, kau memperawani gadis sekolah!' Pikir Elly. Dia sama-sama merasakan apa yang dirasakan oleh tubuh yang sedang berolahraga berdua dengan Alves mudah. 'Kalau saja tubuh ini bisa lebih rileks, pasti tidak akan sesakit ini. Ahw, gila, dia tidak punya hati apa? Kenapa dia melakukannya dengan sekeras itu? Aku tahu ini sangat sesak, tapi tidak seperti ini juga Alves!'
"'Bagus, sangat bagus, jika kau seperti ini, aku bisa membunuhmu kan ya?" Tanya Alves dengan seringaiannya.
“T-tidak, jangan membunuhku. janghmph..!” Elly yang asli langsung di bungkam dengan mulut milik laki-laki itu, membuat Elly sama sekali tidak bisa meronta untuk mengeluarkan keluhan dari raga yang terasa sangat menikmati semua segala sentuhannya.
'Apa yang dia katakan, sialan.' Dengan deru nafas yang kian memburu, Elly sangat ingin mencoba untuk menghajar Alves, karena bisa-bisanya mengambil keperawanan milik gadis belia ini.
"AKhh..!"
'D-dia-kenapa aku merasa seperti punyanya semakin besar?' Elly benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi, tapi dia sungguh merasakan sensasi yang cukup luar biasa saat adik nya Alves terus saja keluar masuk kedalam daerah inti milik Elly.
Itu memang masih cukup rapat, sempit, sehingga terasa sesak.
Tapi segala sentuhan yang pria itu lakukan, selalu berhasil mengeluarkan keluhan enak yang keluar dari mulutnya secara otomatis.
"Angh ...angh~....angh~...."
"Kan, kau semangat sekali mengeluarkan suaramu." Sindir Alves saat dia terus berolahraga mencoba mencari kepuasannya sendiri.
"Ini bukan kemahh~"
__ADS_1
'Alves, kenapa kau semahir ini?' Elly pun tanpa sengaja jadi melenguh akan sensasi nikmat yang ia rasakan.
Kian waktu berlalu, Alves semakin mempercepat gerakannya, mempersempit gudang penjara itu, sehingga semakin membuat Alves untuk gencar melakukannya lebih dan lebih, sampai darah, air bening layaknya sungai, akhirnya terus membanjiri kawah yang dibuat oleh mereka berdua.
Suara dari benturan daging itu kian terasa, dan semakin membuat suasana semakin panas, hal itu pun semakin membuat mereka berdua akhirnya menemukan puncak dari panggung drama yang hanya bisa dilakukan oleh mereka berdua.
“Arghh…!’ Erang dua orang yang sedang melakukan percumbuan.
Sampai pemuda itu langsung mengangkat tubuh Elly agar berada di pangkuannya dan memeluknya dengan cukup erat, sampai Elly sendiri merasakan nafas yang cukup sesak.
Masih merasakan puncaknya, laki-laki itu pun masih saja bisa menghajar lagi, lagi dan lagi, hingga Ellly sendiri yang tak kuasa untuk menahan api godaan akan nikmat itu, memeluk kencang tubuh Alves di susul dengan rembesan air yang terus saja membasahi pangkal paha mereka berdua.
“Arrgh …., kau terus orgasme, yang benar saja.” Tekan Alves sambil menahan erangannya sendiri dan merasakan adanya kehangatan yang terus saja menyelimuti adiknya. “Meskipun begitu, kau akhirnya sudah jadi pla*cur, wanita.”
“Tidak!”
Elly yang masih dalam posisi memeluk tubuh Alves, langsung menundukkan kepalanya, menempatkan dahinya di atas bahu kiri Alves sambil menangis dan berteriak : “Tidak, tidak! Ini gara-gara kau!”
____________
Flashback Off.
“Ya! Gara-gara kau! Bajingan!” Teriak Elly dengan cukup lantang.
“A-apa? Kau menunjukku sebagai bajingan? Memangnya aku melakukan apa sampai di tuduh jadi bajingan?”
__ADS_1
Suara Alves yang mengalir masuk kedalam indera pendengarannya membuat Elly langsung membuka matanya lebar-lebar.
Dia melihat plafon kamar yang berbeda dengan apa yang tadi ia lihat, lantas kenapa tangannya sekarang terangkat sambil menunjuk satu wajah yang sedang berekspresi heran?
‘Jadi tadi memang benar-benar mimpi.’ pikirnya, sambil memindai keberadaan dari Alves yang kini sedang duduk di samping tempat tidurnya. Tapi karena ia sadar kalau Alves adalah pelaku dari keperawanannya yang di renggut, Elly pun langsung berkata dengan nada yang cukup tegas. “Kau, memperawani tubuh ini.”
Alves yang sedang bersilang tangan di depan dada, mengerjapkan matanya beberapa kali dan menjawab : “Memperawani? Memangnya aku pernah berhubungan badan denganmu?”
Melihat Alves yang seolah tidak tahu apa-apa, Elly bertanya menambahkan, “Jangan berpura-pura, kita berdua beberapa hari yang lalu memang tidak pernah melakukan hubungan badan, tapi apa kau mau melupakan soal masa mudamu yang naka itu?”
“Masa muda? Aku dulu memang cukup nakal, karena aku akan melakukan apapun yang aku inginkan, sekalipun dengan pemaksaan. Tapi-” Ekspresi Alves jadi lebih serius, tapi di iringi dengan salah satu alis terangkat yang mengartikan kalau Alves memang tidak tahu apapun. “Aku sama sekali tidak mungkin memaksa wanita hanya karena aku naf*su. Kenapa? Apa kau barusan bermimpi aku menyetubuhimu?” Seringainanya pun muncul juga.
Tapi tidak seperti yang di harapkan oleh Alves untuk melihat wanita yang ada di depannya itu tersipu malu karena tergoda, yang ada ALves di berikan tatapan sengit.
“Ya.” Jawabnya, kembali berbaring dengan posisi miring ke kiri. “Aku bermimpi kalau saat muda dulu, kau melakukan itu dengan paksa kepadaku. Aku tidak tahu persis karena aku lupa ingatan, tapi yang aku alami di dalam mimpi itu, baik itu kau dan aku, sama-sama di beri obat, dan kau dengan ganasnya memakanku di kamar hotel, dan kau sendiri entah habis dari mana, memakai jas.
Itu-, sangat menyiksa.” Elly yang tidak mau melihat reaksi apa yang sedang Alves gunakan, hanya menatap ke arah lantai sambil memeluk tubuhnya sendiri.
“Apa? Jadi aku pernah melakukan itu kepadamu?” Alves yang di berikan informasi yang sedikit aneh itu, sedikit membungkukan tubuhnya ke depan, menumpukan kedua tangannya di atas paha lalu memijat keningnya yang tiba-tiba saja terasa sakit itu. ‘Kenapa? Rasanya aku memang pernah mengalami sesuatu, tapi apa? Sepertinya memang ada yang hilang dari dalam ingatanku.’ Pikirnya.
Karena cerita yang di mimpikan Elly, mereka berdua pun di buat terdiam dan berada di pikirannya masing-masing.
Elly yang sebenarnya tidak peduli apa yang sudah terjadi di masa lalunya, tapi juga ingin mengkonfirmasi apakah apa yang di mimpikannya tadi itu benar atau tidak.
Sedangkan Alves, dia sedang berusaha untuk mengingat masa lalunya.
__ADS_1
Tapi mau seberapa keras apa yang ia lakukan, semuanya berakhir dengan jalan buntu. ‘Mungkin saja dia hanya terlalu menyukaiku sampai bermimpi seperti itu denganku.’ Pikirnya, dia hanya asal menyimpulkan, karena biasanya memang itulah yang terjadi jika seseorang memikirkan sesuatu terlalu dalam, maka akan terbawa ke dalam mimpi.
‘Tapi, sampai merasakan rasa sakit yang terasa nyata itu, pasti mimpiku itu tidak salah. Pasti itu adalah kenangan masa lalu dari tubuh ini.’