
"Dimana Alves! Aku harus menemuinya sekarang!" Teriak salah seorang wanita seksi dengan gaun ketat berwarna biru muda ini kepada seorang pria bernama Orson.
Kulit putih, hidung mancung, mata lebar dan tajam, dan bibir yang di poles lipstick, serta memiliki rambut coklat panjang bergelombang, dengan nada dari teriakan yang cukup tinggi membuat wanita bohai ini terlihat sedang menantang Orson yang sedari tadi menghalangi jalannya.
"Tapi Bos masih belum datang. Jika memang ada yang perlu di sampaikan, sebaiknya anda tunggu saja dulu." Jelas Orson, sebagai sekretaris sekaligus asisten pribadi, ia pun harus menjaga suasana kondusif dari kantor milik Bos nya, sekalipun si pemilik itu sendiri sama sekali belum menampakkan batang hidungnya.
Sudah menjadi hal umum, pasti ada saja wanita asing yang tiba-tiba datang ingin bertemu dengan saudagar kaya si Bos Alves.
Walaupun Orson sendiri tidak tahu apa urusan dari wanita di hadapannya ini, Orson setidaknya harus tetap mencegat wanita ini di luar, karena Alves bukanlah orang yang suka jika ada ada orang lain di dalam kantornya ketika Alves sendiri tidak ada di tempat.
"Kau pasti berbohong kan? Aku sama sekali tidak mempercayaimu, selama ini kan Alves sering datang kerja tepat waktu, mana mungkin dia di jam seperti ini belum datang. Minggir! Biarkan aku masuk! Kau mau aku mengadumu ke Alves karena kau menghalangi orang sepertiku masuk kedalam kantornya?!" Bentak wanita ini, sama sekali belum menyerah untuk berusaha melewati Orson, karena ia benar-benar ingin sekali masuk kedalam.
"Untuk apa saya berbohong? Lagi pula Bos saya itu tidak begitu menyukai jika ada orang lain di dalam kantornya, jika Bos sendiri tidak ada di kantor, jadi sebaiknya anda tunggu di ruang tunggu." Bujuk Orson.
Matanya yang berkilat ini, mata yang mewakili perasaan amarahnya, membuat tangannya akhirnya terus berusaha untuk mendorong kuat tubuh Orson.
"Oi, kau ini pagar atau apa, berat sekali. Minggir!" Terus mendorong kuat, tapi akibatnya kedua kakinya yang sedang memakai sepatu hak tinggi itu berpijak pada lantai marmer yang cukup licin, maka dia pun dibuat terus berjalan di tempat.
Karena mendorongnya saja juga gagal, wanita ini pun menyerah untuk cara pertamanya itu.
Trik liciknya pun datang, dia dengan tatapan dinginnya, langsung menarik dasi dari pria jangkung ini, sehingga Orson pun seketika lehernya langsung tercekik.
__ADS_1
"Apa kau yakin tidak mau membiarkan kakak cantik ini masuk?" Goda wanita ini sambil mengusap manja wajah Orson yang sebelas dua belas dengan Alves, sehingga di matanya pun sebenarnya Orson juga lumayan.
Tapi yang namanya menuntut kesempurnaan, semua itu hanya ada pada diri Alves saja.
"Aku ini kekasihnya, dan kau mau aku menunggu di ruang tamu yang sempit itu? Kau mau di hajar oleh Bos mu sendiri?" Goda wanita ini, masih mengusap wajah Orson yang cukup tampan itu dengan lembut, tapi hingga di saat tangan kanannya terus menyusuri rambut kepalanya Orson ini, wanita ini pun langsung menjambaknya.
GRRTT...
"Sempit atau tidak, bukankah yang penting anda masih saya beri kesempatan untuk menunggu ketimbang saya usir dengan cara kasar?" Balas Orson. Tatapan mata yang awalnya terlihat seperti jenaka itu berubah drastis seperti laki-laki yang baru saja menemukan mangsa untuk di siksanya.
Hingga tanpa sadar, bulu kuduk wanita ini tiba-tiba jadi meremang saat tangan kanan Orson sudah ada di belakang pinggang wanita ini.
Bukan untuk melingkarkan pinggang untuk mengancamnya dengan cara pria, tapi Orson justru sedikit menggunakan cara kekerasan. Dan salah satunya adalah dengan menusuk kulit di balik pakaian yang di kenakan oleh wanita ini dengan sebuah jarum tipis.
"Akhh~" Wanita ini jadi merintih sakit, karena punggungnya sungguhan di tusuk jarum oleh Orson.
Sehingga wanita ini pun melepaskan jambakan rambutnya dari Orson.
"Kalau anda bersikap baik, saya juga akan bersikap baik." Tatap Orson dengan tatapan yang cukup merendahkan.
'Kenapa aku tiba-tiba jadi takut?' Perasaan takut itu membawa mulutnya jadi bungkam. Ingin bicara lagi, tapi apa yang akan keluar dari mulutnya sudah pasti akan jadi gagap. Makannya, wanita ini pun lebih memilih untuk diam dari pada menanggapi ucapan Orson yang memang masuk akal.
__ADS_1
Siapapun akan memperlakukan orang lain dengan baik, jika di awal saja sama-sama memberikan kebaikan, dan sebaliknya.
"Karena anda tidak ada gunanya masuk ke dalam kantor milik Bos, karena Bos sedang tidak ada di tempat, juga Bos sendiri tidak menyukai siapapun masuk kedalam kantornya, lebih baik anda turuti saja perkataan saya, masuk kedalam ruang tunggu, atau-" Orson yang nampak dingin itu, berjalan satu langkah ke depan, memojokkan wanita yang tidak tahu sopan itu agar lebih dekat lagi dan mengintimidasinya. "Saya seret anda seperti seorang pencuri. Entah apapun status yang anda miliki, saya sama sekali tidak takut."
'S-seram.' Wanita ini menelan salivanya sendiri, dan refleks kakinya pun jadi mundur ke belakang, karena ia benar-benar merasa di intimidasi dengan kuat oleh Orson, padahal pria yang ada di depannya itu hanyalah asisten biasa, tapi karena bisa punya kewenangan untuk mengusir siapapun tanpa memandang status, maka ia menyadari kalau Alves juga mendukung Orson dari belakang.
Entah apapun konsekuensi karena melawan orang lain dengan status yang lebih tinggi, Alves tidak memperdulikannya.
Itulah kesan dari anak buah Alves ini, menjadi wakil dari sosok Alves itu sendiri.
"Padahal aku sengaja terlambat, tapi sudah ramai saja." Kata Alves, menarik segala perdebatan diantara Orson dan wanita asing tersebut.
"Bos, anda sudah da-akhh..!" Orson yang baru saja hendak menyapa majikannya itu, ucapannya jadi terpotong gara-hara saat Orson berbalik, Orson justru di hadapi Elly yang sudah ada di belakangnya persis, sehingga Orson sendiri langsung terkejut setengah mati.
"Kenapa kau terkejut seperti itu?" Tanya Elly dengan wajah penasarannya, dan cara Elly menaruh rasa penasarannya pun hingga Elly sendiri terus berjalan mendekati Orson dan memeriksa reaksi wajah milik pria ini dengan begitu dekat, sampai Orson sendiri langsung menelan saliva nya sendiri.
'Aku pikir Bos, datang sendiri. Tidak menyangkanya, bos malah membawa pelayannya, dan aku sampai terkejut seperti ini itu gara-gara aku memang sungguh tidak merasakan hawa kehadirannya tadi.' Pikir Orson.
"Elly, jangan seperti itu. Dia jadi salah tingkah karenamu." Alves langsung menarik pergelangan tangan Elly agar tidak mendekati Orson yang sudah tersipu itu.
"Tapi aku suka," jawabnya sambil memakan Ice Cream nya lagi.
__ADS_1
Ketiga orang itu sama-sama mengerjapkan matanya, melihat sekaligus mendengar penuturan Elly yang begitu jujur.