Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
66 : PTRI : Godaan Elly.


__ADS_3

Orson tersenyum mendengar permintaan Elly yang begitu sederhana itu.


"Menganggapnya teman?"


"Iya. Apakah aku salah dengan kesan yang sudah aku miliki ini kepadamu?" Tanya Elly seraya menoleh ke belakang, hingga Elly menemukan wajah Orson yang sedang berekspresi antara orang yang sedang memperlihatkan wajah ramah, tapi juga punya arti lain seperti sedang mencibir dirinya sendiri.


"Anda adalah orang kedua setelah Bos yang menganggap saya sebagai teman. Dan termasuk wanita pertama yang mengatakan itu. Karena asal anda tahu, di perusahaan ini saya adalah orang kedua yang di anggap sebagai orang gila kerja, dan pria tertampan kedua setelah Bos, tapi anda benar-benar tidak memiliki kesan seperti orang yang langsung jatuh hati terhadap wajah saya.


Maka dari itu, ini juga cukup mengejutkan untuk saya, meminta saya untuk memanggil nama anda secara langsung, rasanya-"


Tidak kuasa menahan rasa malu dan mengatakan kalimat selanjutnya yang lumayan memalukan, Orson langsung menundukkan kepalanya dan memposisikan wajahnya di belakang kepada Elly, agar Elly sama sekali tidak melihat wajahnya yang sedang tersipu antara malu juga bahagia.


"Rasanya seperti apa?"


"Ya~ Rasanya seperti anda jadi ingin lebih dekat dengan saya dan juga seperti kekasih anda." Kata Orson dengan nada lirih yang terkesan berbisik.


Jari-jari lentiknya pun berhasil mengikat tali dari gaun yang di kenakan oleh Elly, tapi meskipun sudah selesai, Orson masih berada di tempatnya, seperti seseorang yang ingin mendapatkan sesuatu yang lain dari Elly.


Elly tersenyum, lalu memutar tubuhnya ke belakang dan menyambut kepala Orson yang masih saja menunduk ke arah bawah.


"Ternyata kau juga sama-sama kesepian seperti Bos mu ya? Apakah aku akan tertular dengan kepribadiannya yang suka gila kerja sampai tidak pernah merasakan apa yang namanya cinta?" Tanya Elly, tangan kanannya pun mengusap ujung kepala Orson sambil tersenyum lebar, karena Orson jadi terlihat seperti anj*ing yang sedang mengharapkan usapan manja dari majikannya sendiri.


"Tapi kau sudah bekerja keras Orson, karena kau mau menemani Alves di sisinya. Aku juga akan melakukan hal yang sama denganmu, makannya panggil saja namaku secara langsung tanpa memberikan tambahan Nona di bagian depan, karena di sini aku bukanlah Nona majikanmu." Imbuh Elly.


Merasakan kehangatan yang sama sekali belum pernah Orson rasakan selama ini, meskipun ia sudah sering di hampiri banyak wanita seperti majikannya itu, yaitu Alves, Orson secara spontan menyunggingkan senyuman lemah yang terkesan lembut.


Seperti bunga layu yang akhirnya mendapatkan cahayanya, Orson adalah salah satu orang yanng berhasil di luluhkan setelah Alves.


"Karena perbedaan usia, aku pikir kau cukup cocok untuk aku panggil kakak." Goda Elly lagi.


Orson membelalakkan matanya. Seperti baru saja memenangkan undian, Orson jadi bertambah senang saat Elly menyatakan kalau hubungannya akan lebih jelas seperti seorang kakak dan adik.


Bukannya itu terlalu bagus, sampai Orson hampir saja ingin memeluknya, tapi dia hentikan setelah ia merasakan ada sesuatu yang sedang menatapnya dengan cukup tajam tepat di belakangnya persis.


"Tapi aku bukan orang yang akan memanggil kakak, jika kau memang mau jadi kakakku. Jadi teman saja ya?" Jahil Elly, membuat Orson jadi merasa baru saja di permainkan.


"Terserah an-"


"Shhtt..." Elly langsung menghentikan bibir itu dengan jari telunjuk Elly untuk menghentikan Orson sebelum Orson berbicara penuh. "Aku kurang suka jika kau berbicara formal begitu kepadaku."


"Tapi it-"

__ADS_1


Elly semakin menekankan jari telunjuknya di depan bibir Orson agar Orson tidak melanjutkan ucapannya lagi, karena bukan itu yang Elly dengar, melainkan kalimat yang sesuai dengan permintaannya.


Orson menghela nafas panjang namun pelan, dan menjawab "Iya."


Pasrah dengan apapun yang di inginkan oleh Elly, karena Orson sudah terlanjur masuk kedalam perangkap godaan yang di lakukan oleh wanita ini terhadapnya.


Elly menjauhkan jari telunjuknya dari depan bibir Orson dan berkata : "Jadi coba, kau panggil namaku langsung." Tantang Elly dengan mata penuh dengan kepercayaan diri yang cukup tinggi.


"N- ah.. Maksudku Elly." Orson masih sedikit gugup, apalagi situasi yang cukup canggung, akibat Elly yang berdiri cukup dekat dengannya, hingga Orson jadi tanpa sengaja melihat belahan dadanya, dan serasa seperti sedang di tuntut oleh kekasihnya.


"Apa? Aku kurang dengar." Ledek Elly, agar Orson memanggil namanya lagi.


"Elly,"


PLAK...


"Hahaha, bagus ...., bagus." Elly dengan wajah senangnya itu jadi secara refleks menampar bahu Orson, yang memang merupakan adat kebiasaan Elly jika sedang merasa senang ataupun merasa gemas, tangannya pasti akan mengerjakan hal itu secara spontan. "Akhirnya kita jadi teman, ya kan? Kalau begitu, bagaimana tentang permintaanku tadi? Aku ingin pinjam uang darimu dulu. Jika aku sudah gajian, aku akan mengembalikannya kepadamu, dan mentraktirmu makan. Boleh kan?"


'Jadi itu alasannya ingin pinjam uangku, karena belum gajian?' Karena merasa dapat di andalkan oleh Elly, Orson pun mengeluarkan uang yang ia keluarkan dari dalam dompet. "Tidak per-"


Hanya saja, saat Orson sudah menyodorkan uangnya ke arah Elly, dan Elly sendiri sudah hampir mengambilnya, tiba-tiba saja, uang itu langsung di ambil oleh seseorang.


Elly dan Orson pun sama-sama menoleh ke satu orang yang tiba-tiba saja mengganggu mereka berdua.


"Ya~ Biar aku jadi lebih dekat dengan Orson, memangnya tidak boleh?"


"........!" Orson langsung terkejut mendengar alasan itu secara terang-terangan di depannya langsung.


"Dan bukannya kau ada urusan? Kenapa kembali?"


Namun, pertanyaan yang terdengar oleh Orson justru seperti memiliki makna yang lain, seakan dirinya baru saja mengganggu kencan Elly bersama dengan Orson.


"Aku hanya mengambil jam tanganku yang satunya lagi." Jawab Alves, lalu mengambil jam tangan yang sempat tertinggal di atas wastafel. "Lalu Orson, apakah pekerjaanmu terlalu sedikit sampai masih punya waktu untuk berbincang dengan Elly?" Tanya Alves, setelah berhasil mendapatkan barang yang ia mau, Alves segera keluar dari kamar manid.


Tatapan mata milik Alves pun langsung menyakiti hati Orson, bahwa jika tidak pergi sekarang dari kamarnya, maka Bos nya itu akan memberikan tambahan pekerjaan yang tidak tanggung-tanggung.


'Sudah pasti Bos cemburu,' Umpat Orson.


"Jangan menekannya, aku sendiri yang ingin mengajaknya berbicara." Elly tiba-tiba saja jadi maju dan melindungi Orson dari rencana sengit yang sedang di pikirkan oleh Alves saat ini.


'Elly, kau bahkan sampai melindunginya?' Tatap Alves kepada Elly yang kini berani melindungi orang lain dari hukuman yang sebenarnya akan Alves berikan kepada Orson.

__ADS_1


'Kenapa suasananya jadi seperti ini? Lebih baik aku pergi dari sini sebelum suasananya berubah menjadi medan tempur.' Karena tidak ingin mengganggu Bos nya yang sedang di selimuti rasa cemburu kepada dirinya dan Elly, diam-diam Orson pun pergi dari mereka berdua.


"Mana uangnya." Pinta Elly, sambil mengulurkan tangannya kedepan Alves, yang masih saja begitu memperhatikannya dengan wajah serius.


Alves tanpa sungkan, mengeluarkan dompet nya dan malah memberikan kartu hitam nya kepada Ellly.


"Belilah sesukamu, jadi jangan pernah minta uang kepada orang lain, karena akulah yang lebih banyak uang ketimbang mereka." Setelah memberikan kartu hitam kepada Elly, Alves yang berniat untuk pergi itu langsung di cegat.


"Tunggu, aku tidak butuh kartu yang bahkan tidak bisa aku makan ini. Berikan saja uang tunai." Protes Elly, karena yang Elly inginkan adalah uang tunai, maka dari itu Elly dengan sembarangan langsung mengembalikan black card itu tepat di saku belakang Alves yang hendak pergi dari hadapannya.


Alves sontak langsung tersentak dengan tangan Elly yang tiba-tiba saja menyentuh pan*tat nya.


"Elly, kenapa tanganmu itu cukup sembrono ya?" Dengan senyuman tawar yang cukup di paksakan, Alves jadi kembali memutar tubuhnya ke belakang dan kembali menghadap ke arah Elly.


"Apa? Kan aku hanya mengembalikan kartu itu kepadamu."


"Tapi jangan langsung menyelipkannya di kantong celana juga."


"Apakah kau langsung bereaksi karena aku menyentuh pamph..!" Senyuman jahil dengan ucapan penuh godaan itu langsung menghilang setelah Alves membekapnya.


"Sebenarnya kau ini wanita macam apa sih?" Frustasi Alves, merasakan Elly begitu aktif dalam hal memprovokasi mentalnya.


"Tentu, aku hanya ingin jadi wanita yang bebas." Seringai Elly dengan tangan kanan mencengkram tangan kanan Alves yang sempat membekap mulutnya.


Bahkan karena tatapan mata Elly yang sungguh berani untuk membalas tatapan penasaran Alves, Alves sendiri jadi terdiam.


"Aku ingin melakukan apa yang ingin aku lakukan, jika hanya seperti itu saja kau langsung tersinggung, berarti mentalmu untuk menjaga kewarasanmu sebagai pria tulen, masih dangkal."


'Ini, ini yang aku bingung, kenapa Elly selalu menggodaku di setiap saat seperti ini. Padahal di kamar mandi saja dia sudah berhasil merebut kewarasanku dengan menciumnya, dan sekarang dia malah sengaja menaruh kartu di dalam sakuku langsung, secara tidak langsung, artinya dia menyentuh pan*atku.' Bingung harus berkata apa lagi, Alves melepaskan cengkraman tangannya dari tangan Elly.


Dan dengan wajah tersipu, Alves langsung mengeluarkan uang tunai dari dompetnya, melipatnya, dan meletakkannya di belahan dada Elly.


"Tuh, jadi mulai sekarang kalau minta uang itu, kepadaku, jangan kepada orang lain, karena yang menggajimu itu aku." Beritahu Alves.


"Ternyata kau mesum juga." Menghiraukan apa yang di katakan oleh Alves, Elly terus melirik ke bawah, ada sepuluh lembar lebih uang kertas dengan nominal besar di anara bau dan dadanya.


"Itu kan karena kau sendiri yang mulai."


"Kalau seperti ini, berarti sudah jelas, kau mulai terobsesi dengan tubuh ini."


"Bukannya sudah jelas? Aku pernah mengatakan kalau aroma tubuhmu membuatku nyaman?" Jeling Alves, lalu akhirnya pergi dari sana dengan telinga sudah memerah seperti kepiting rebus.

__ADS_1


KLEK.


__ADS_2