Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
67 : PTRI : Lagi-lagi karena Raelyn


__ADS_3

'Hahaha...., ternyata ada untungnya juga bisa memiliki tubuh ini, karena aku bisa punya hubungan dengan pria kaya itu. Yah~ Setidaknya aku tidak akan pernah kerepotan untuk mendapatkan uangnya.


Walaupun dari luar dia terlihat seperti pria sejati, sampai menolak banyak wanita, sebenarnya dia masih cukup polos dalam hal hubungan seperti ini. Dia adalah pria kesepian yang hanya mencintai pekerjaannya saja.' Elly menatap langit yang cukup terik itu.


Sama hal nya dengan matahari yang bersinar terang tanpa sungkan memberikan kehangatan yang bisa berubah menjadi panas kepada semua orang, maka apa yang ada di dalam diri Alves itu justru sama halnya seperti bulan yang hanya muncul jika malam tiba, dan tidak ada yang menghalanginya.


Dengan kata lain, selama Elly berada di sisi Alves, Alves akan memperlihatkan jati dirinya yang begitu polos dengan perasaannya.


Setelah ia berhasil mendapatkan uang tunai, Elly pergi keluar untuk mencari sesuatu yang menarik.


Salah satunya adalah dengan mencari makanan.


"Sayang, apa kau nanti malam ada acara?"


"Tidak, kenapa?"


"Jika tidak ada, aku ingin nanti malam kau menemaniku nonton yuk? Mau kan?"


Dua sepasang kekasih itu saling bermesraan, dengan si wanita memeluk lengan dari sang kekasih, mereka berdua berjalan mendahului Elly yang sedang berjalan sendirian.


"Kebetulan sekali aku sedang bosan, kau mau aku jemput jam berapa?" Tanya pria ini kepada pacarnya.


"Jam tujuh."


'Enak sekali mereka, jalan bersama.' Elly yang hanya mendapatkan aroma parfum yang saling berkontradiksi dari tubuh mereka berdua hanya bisa menatap kemesraan mereka berdua.


Tidak lama kemudian, Elly juga melihat ada satu mobil yang terparkir di daerah larangan untuk parkir, dan ternyata alasan dari mobil itu parkir di jalan sepi yang ada di pertigaan sebelah kanannya itu, di dalamnya ada dua orang yang sedang berciuman.


'Mereka memang sangat niat sekali ya?' Elly terus berjalan masuk kedalam trotoar setelah berhasil menyebrang jalan melewati taman.


Untuk sekedar mencari makanan, tentu saja Elly memilih untuk sekalian jalan-jalan menyusuri kota yang masih satu distrik dengan gedung kantor milik Alves.


Sampai saat Elly sedang berhenti berjalan untuk menikmati terik matahari yang cukup menyengat itu, tiba-tiba saja ia di hampiri oleh anak kecil.


"Kakak cantik, apa kakak mau membeli payung?" Seorang anak perempuan berpakaian cukup lusuh, bahkan aroma keringat pun sempat tercium Elly, sedang menawarkan payung lipat kepadanya. "Jika kakak beli dua, kaka akan dapat gratis satu. Cuaca terik seperti ini, kurang cocok jika kakak berjalan-jalan tanpa payung, at-"

__ADS_1


"Shht, aku akan beli, kalau satu harganya berapa?" Pungkas Elly, tidak mau mendengar basa-basi dari anak kecil tersebut.


"Satunya harganya tiga puluh lima ribu, jika kakak beli dua jad-"


"Nih, aku beli dua," Elly langsung memberikan uang seratus ribu kepada anak tersebut.


"Ini kem-"


"Tidak usah, untukmu saja." Ketus Elly. Dia adalah tipe orang yang kalau bertemu dengan orang baru, akan bersikap acuh tak acuh, maka dari itu Elly tidak bersikap ramah kepada anak tersebut. Setelah mendapatkan tiga payung sekaligus, Elly kembali melanjutkan perjalanannya.


Sedangkan anak ini kembali menjajakan payung yang ia bawa kepada orang-orang.


'Kenapa aku tiba-tiba membelinya ya?' Pikir Elly sambil membawa kantong plastik berisi tiga payung lipat.


Sejujurnya, Elly tidak begitu berniat untuk membeli payung, tapi reaksi dari hati yang merasa kasihan serta bersimpati pada anak kecil lusuh itu terus berusaha untuk menjual payung pada orang lain, tapi tidak laku-laku, membuat Elly tanpa basa-basi jadi membelinya.


'Tubuh ini memang terlalu merasa bersimpati kepada orang lain yang merasa butuh bantuan. Padahal aku bisa beli satu saja, tapi karena otakku berpikir beli dua gratis satu lebih untung, aku jadi dapat tiga seperti ini.


Padahal, aku tidak butuh tiga.' Lagi-lagi Elly merasakan alam bawah sadarnya untuk melakukan kebiasaan dari tubuh yang ia diami itu. Padahal jika itu dirinya, ia hanya akan beli apa yang dia butuhkan.


Sedangkan di satu sisi lain.


Di sebuah tempat karoke. Ada empat orang pria sedang berkumpul, antara merokok, makan pizza, juga ada yang sedang bernyanyi membawakan lagu melow yang cukup menguras emosi si penyanyi itu sendiri, padahal di telinga teman-temannya, suaranya seperti kambing yang mau di sembelih.


"Huwo...huwoo~" Setelah kalimat itu, nadanya pun meliuk-liuk seperti gelombang air laut.


"'Arshen, berhenti memainkan lagu dengan nada konyolmu itu."


"Apaan sih, kan ini bagus." Protes karena di beri kritikan.


"Bagus apanya, nadamu kurang pas, jika aku tidak menggunakan penutup telinga, gendang telingaku pasti sudah pecah." Pungkas pria ini, sambil meminum segelas bir.


"Tch, kalau begitu kau yang nyanyi sana." Laki-laki ini langsung menyodorkan mic kepada teman kampus nya itu.


"Aku dari awal ikut kalian itu tidak untuk nyanyi," Kembali menengok bir nya, sebelum ia makan hamburger.

__ADS_1


"Lah, terus kau ikut kami untuk apa? Syarat ikutnya kan harus nyanyi, dan sekarang giliranmu." Tuntut anak ini kepada laki-laki yang sedang makan hamburger itu.


"Ha~ Kalian pikir yang sewa ruangan ini siapa? Dan makanan juga minuman yang sudah kalian masukkan kedalam perut kalian juga karena siapa? Itu semua karena aku yang bayar, jadi jangan menuntutku untuk nyanyi," Ungkap pria ini, lalu ia pun kembali makan hamburger itu sampai alarm waktu mereka sewa tempat sudah habis.


"Waktunya sudah habis, aku pergi ke kampus, kalian mau apa terserah kalian." Satu orang laki-laki berkacamata ini segera mengambil tas sekolahnya, dan pergi begitu saja meninggalkan beberapa temannya yang sedang berusaha untuk menghabiskan makanan yang ada sebelum mereka pergi.


"Hei, tunggu aku." Satu temannya ini segera menggigit satu potong pizza di mulutnya, mengambil tas dan ikut menyusul sahabatnya yang sudah keluar lebih dulu.


"Tunggu, tunggu, jangan tinggalkan aku."


Hingga akhirnya mereka bertiga keluar dari tempat karaoke dan pergi ke kampus mereka yang jaraknya memang tidak begitu jauh, makannya hanya dengan berjalan kaki saja pasti sudah bisa sampai ke lokasi.


"Wah~ Di depan sana gelap sekali, kita harus cepat-cepat pergi dari sini sebelum hujan."


"Kau benar."


Sampailah mereka berempat keluar dari tempat karaoke, lalu berjalan cepat menyusuri trotoar.


Dia adalah Felix, Darren, Warren, dan Arshen.


"Ngomong-ngomong, kalian, apa kalian sudah dengar berita kalau alasan Raelyn dua bulan ini tidak masuk karena dia menghilang?" Kata Arshen, memulai topik baru untuk mereka semua.


"Ya, aku pikir memang iya, bahkan sampai masuk ke berita kan, kalau mobil yang dikendarainya tercebur ke laut dan sampai sekarang masih belum di temukan." Darren pun menyahutnya.


"Mungkin saja itu jalan terbaiknya, dari pada di bully terus, bukannya lebih cepat agar dia menghilang dari kampus kita." Termasuk Warren juga, ia merasa lega karena wajah yang ia pikir sangat membosankan dari wajah Raelyn bisa menghilang dari sekitar mereka.


"Ya, perempuan itu seperti noda di kampus kita. Tapi aku cukup senang, karena akhirnya wanita itu jadi tidak mengganggu pemandangan wanita cantik lainnya."


"Kau benar Arshen. Setiap kali aku tidak sengaja berpapasan, wajah suramnya itu sangat dan sangat menyebalkan." Kata Darren lagi.


Sedangkan Felix, satu orang yang cukup pendiam tapi juga punya sifat suka seenaknya ini hanya terdiam sambil mendengarkan ocehan dari ketiga sahabatnya.


"Felix, kenapa kau diam saja? Kau terlihat kurang senang, dengan topik pembahasan kita ya?"


"Yah~ Kalian selalu saja mengungkit wanita itu, apa kalian sama sekali tidak bosan? Sampai aku pikir, daripada kalian terus-menerus mengutuk seperti itu, sebenarnya kalian bertiga tanpa sadar punya rasa tertarik yang bahkan tidak kalian ketahui." pa[ar Felix

__ADS_1


"Apa?!" Mereka bertiga langsung bereaksi terkejut atas ucapan Felix secara serentak, saking mengejutkannya.


__ADS_2