
"Ngaku saja." ledek Alves, dia tiba-tiba beranjak dari kursinya, dan menghampiri Elly yang hampir duduk itu dengan mencegatnya duduk di sana, karena begitu Alves berhasil meraih tangan Elly, Alves langsung memeluk tubuh wanita itu dari belakang dan menempatkan wajahnya itu di atas bahu kanannya. "Tidak usah sok kuat, jika cemburu katakan saja cemburu."
CUP...
Dalam sepersekian detik itu, Elly mendapatkan kecupan tepat di samping lehernya.
"Ini masih pagi, jangan membuat ulah."
"Mau pagi, siang apa malem, kan aku bos nya, jadi suka hati aku mau apa." jawab Alves.
Begitu sudah menjawabnya, Alves tiba-tiba saja menggendong Elly dan memikulnya di bahu kanannya Alves.
"Alves, ini masih jam kerja."
"Apa masalahnya? Orson bisa menggantikanku bekerja. Aku sudah mengirim materinya, dia itu satu frekuensi denganku, jadi tidak usah di pikirkan. Pikirkan nasibmu saja, aku ingin menanam dulu." jawab Alves dengan serta merta.
"Tapi kalau ada tamu lagi yang datang ke kantormu?"
"Kenapa kau begitu peduli dengan tamu? Pedulikan saja tamu yang akan masuk kedalam perutmu itu."
BLUSHH...
"Alves-" Dengan menahan sipu malu nya yang muncul secara mendadak, Elly berkata "Kata-katamu terllau vulgar. Bagaimana kalau ada yang dengar?"
"Kalau mereka dengar, juga tidak akan berani mengganggu kita. Jangan pikirkan mereka, pikirkan saja ini, suah siap, kan? Harusnya sudah, tinggal becocok tanam dulu." Seringai Alves sambil menepuk pan*at nya Elly.
"Kau memang sinting."
__ADS_1
"Sinting karena istri sendiri, tidak melanggar aturan juga." balas Alves.
"Tapi masa begitu sih, aku ka-" begitu sudah sampai di kamar tidur, Alves langsung membungkam mulutnya Elly dan mendorong keras pintu kamarnya.
BRUK....
"Begitu apa?" Tatap Alves kepada Elly yang kini sudah ada di bawahnya, begitu Alves berhasil mendorong tubuh Elly ke atas tempat tidurnya itu.
"Tidak-" jawab Elly sembari membalas tatapan nya Alves yang kian waktu berlalu, tatapan itu nampak semakin dekat, sampai wajah mereka berdua akhirnya saling menempel satu sama lain dan memberikan satu kasih sayang berupa ciuman.
Sejujurnya, Elly merasakan tubuhnya gemetar begitu salah satu tangannya Alves meraih pinggangnya.
Rasa geli itu pasti, tapi lebih dari pada itu, ketakutan pada tubuh yang di gunakan oleh Elly jelas adalah ketakutan semacam trauma dari apa yang terakhir kali di alami tubuh ini ketika masih remaja.
Itulah kilatan dari memori begitu tangannya gemetar, tepat saat Alves memberikan bibirnya kepadanya. Semua ingatan itu muncul pada satu momen yang terasa sama persis dengan masa lalunya.
"Apa kau takut?" Tanya Alves dengan pelan, dia menanyakannya karena sempat merasakan tangannya yang gemetar itu, ketika kedua tangan Elly merangkul di belakang lehernya Alves.
"Hm..." Alves tersenyum sambil mengusap pipi Elly dengan lembut. "Aku ini campuran dengan dia, jadi tidak usah khawatir jika aku akan ganas."
"Yang namanya naf*su mana mungkin bisa di tahan saat lagi enak-enaknya." jawab Elly dengan cukup blak-blakan.
"Tapi kau suka dengan yang kasar, kan?" senyuman licik itu menjadi awal keributan dari batin mereka berdua.
"Ya, kasar lebih bagus. Jadi tidak usah menghiraukanku, pikirkan saja tugasmu jika kau memang sudah menginginkannya." tantang Elly selepas dia menarik leger Alves agar Alves mendaratkan tubuhnya itu ke atas tubuhnya, dan membisikkan ucapannya tadi ke samping telinganya Alves persis.
"Itulah yang aku suka darimu, to the point. Jadi karena kau juga sudah mengizinkannya, jangan harap untuk memohon." Sindir Alves, menarik kembali tubuhnya agar dia bisa melepaskan satu per satu kancing kemeja miliknya itu, sesampainya sudah di lepas dia langsung membuangnya dengan kasar, dan tanpa basa-basi lagi Alves pun meraup keuntungan itu untuk menjadi sarapan paginya dengan Elly.
__ADS_1
SRAKK....
"Apa kau tidak bisa pelan-pelan membuka bajuku?"
"Yah, lagian aku sudah tidak tahan lagi sih." kata Alves seraya menjilat bibirnya sendiri, dan tak selang waktu lama berlalu, Alves segera menyingkirkan semua penghalang yang menghalangi mereka berdua.
____________
TING....
Suara lift tanda lift sudah sampai pada tujuannya, sekarang pintu itu pun terbuka untuk mempersilahkan Orson keluar dari sana, lalu dengan laptop pinjaman dari Alves, dia berniat untuk mengembalikannya saat itu juga.
Tapi, begitu Alves sudah masuk kedalam kantor milik dari temannya itu, saat itu juga dia mendengar suara yang cukup memancing akal sehatnya Orson yang masih jomblo itu.
"A-nghh..angh, -kau terllau cepat."
"Bukannya ini bagus? Aku akan memakanmu sampai habis."
"P-pagi seperti ini, ah...sudah olahraga seperti ini saja."
"Tapi enak, kan?"
"Ah...ahh..hh..i-iya."
"Hahah, itu artinya aku hebat dalam hal ranjang. Jadi nikmati saja pekerjaanku ini, aku akan sangat senang mengganti apa yang sudah kau keluarkan lebih dulu dengan punyaku."
"Eheh..kau- hah...mulutmu sangat ah!"
__ADS_1
Erangan kasar bercampur dengan nafas kasar, desa*an yang cukup familiar untuk menjadi awal emosi mereka saling terkuras, membuat Orson jadi begitu terusik, dan memilih untuk pergi dari sana.
"Kalau sudah bersama seperti itu, mereka pasti jelas tidak akan ingat empat lagi." gumam Orson.