
Tiba-tiba saja di datangi oleh sekelompok polisi, membuat mereka berempat langsung membelalakkan matanya, tanpa kecuali Elly yang seketika langsung mengernyitkan matanya.
Pintu yang tiba-tiba saja di dobrak masuk, dan sekelompok polisi mengacungkan senjata ke arah mereka, dan diteriaki untuk angkat tangan?
Dari segi sisi manapun, posisi mereka seperti baru saja di pergok oleh polisi seakan mereka semua baru saja melakukan tindakan ilegal.
‘Kenapa ada polisi?’ Detik hati Felix, yang bahkan sama sekali tidak tahu kalau polisi berhasil menyelinap masuk.
“Aku bilang angkat tangan kalian, lalu berkumpul disini.” Perintah salah satu dari polisi tersebut.
“Ha? Kenapa kami harus mengikuti perintahmu?” Tanya Ell saat itu juga.
“Kenapa kalian bisa masuk sembarangan ker rumah ini?” Tanya Warren.
Salah satu diantara mereka berempat maju, dan menjelaskan. “Kami menemukan adanya penyelundupan narkoba di rumah ini, maka dari itu kalian untuk sekarang ini kami jadikan tersangka, jadi angkat tangan kalian. Cepat!”
“A-apa? Narkoba? Sembarangan saja, apa kau tidak tahu siap-” Bahkan Darren yang hendak menyela, langsung di sela balik.
“Tidak peduli dengan status kalian semua, selama ada tindakan ilegal dan menyalah aturi hukum, kami akan tetap menindak lanjuti kasus ini.” Ucapnya dengan wajah teggas.
Bahkan selain pistol yang di todongkan ke arah mereka, polisi ini sudah memegang borgol di tangannya.
“Kalau begitu perlihatkan surat perintah kalian.” Sela Felix, akhirnya menuruni anak tangga dan berjalan menghampiri polisi tersebut.
“Surat perintahnya ini.” Polisi tersebut pun mengeluarkan sepucuk kertas yang di lipat di dalam saku seragamnya, dan Elly yang lebih dulu bergerak maju, langsung menyambar kertas tersebut dan membacanya dengan cepat.
“...........” Elly hanya terdiam setelah membacanya, sehingga ia pun memberikan kertas tersebut kepada Felix yang terlihat penasaran juga.
“Ini-” Felix mengernyitkan matanya saat melihat surat kuasa, yang berisi perintah untuk menggeledah rumahnya.
KRESS….
Felix langsung meremas kertas tersebut, karena ia merasa itu adalah sesuatu yang cukup mustahil, untuk di tuduh menyelundupkan narkoba di dalam rumahnya.
Melihat kertas bukti perintah dari hakim sudah di remas, polisi ini memperhatikan satu per satu anak muda yang berkumpul di ruang tamu.
“Pasti kalian sudah mau melakukan pesta. Tapi sayang sekali, acara kalian harus di hentikan.” Memperlihatkan borgol kepada mereka berempat.
“Memangnya di rumah ini ada narkoba ya?” Bisik Darren kepada Warren.
“Tapi dari raut wajah Felix, sepertinya Felix juga tidak tahu soal itu.”
“Lalu kita harus apa?” Bisik Darren lagi.
“Cepat, angkat tangan.” Perintah polisi tersebut.
Sedangkan Arshen hanya diam saja, karena mulutnya juga sudah di sumpal dengan saputangan yang Elly bawa. Sehingga hanya menatap wajah dari mereka semua dengan tatapan mata yang cukup tenang.
__ADS_1
“Dan kalian bertiga, geledah rumah ini.” Perintahnya lagi, kepada keiga anak buahnya itu.
“Pasti ada kesalahan, aku mana mungkin menyimpan narkoba. Begini-begini otakku itu masih waras,” Gumam Felix tidak puas hati.
“Cepat berkumpul!” Perintah itu pun membuat Darren dan Warren dengan berat hati ikut beridir dan berkumpul di ruang tengaha bersama dengan Elly, Arshen dan juga Felix.
______________
Sedangkan Alves, ia terus mengendarai mobil untuk menyusul Elly yang pergi ke supermarket terdekat, dan akhirnya setelah sampai, Alves tidak sengaja melihat mobil milik Orosn terparkir di depan tempat parkiran supermarket.
Alves langsung parkir di sebelah mobil tersebut, keluar dan mencari tahu apakah Elly ada di dalam atau tidak.
Tapi sayangnya, ekspektasinya pupus sudah, selain harus pergi masuk kedalam supermarket yang tidak seberapa besar, tapi memiliki tiga lantai.
‘Sebenarnya aku malas masuk, tapi daripada aku tidak menemukan Elly, aku harus masuk juga.’ Pikir Alves, dengan langkah berat hati masuk kedalam gedung tersebut.
Pintu kaca terbuka secara otomatis, dan Alves pu masuk ke dalam, yang mana kehadirannya langsung berdampak kepada para pengunjung yang sudah mengilhkan pusat perhatian mereka semua kepada Alves.
“Wah, siapa itu?”
“Eh, apa dia model, kenapa tampan sekali?”
“Pria itu, apa dia sedang mencari seseorang ya?”
“Ahh! SIapa pria itu? Kenapa bisa nyasar masuk ke sini? Penampilannya, ah, lihat tubuhnya yang atletis itu di balut dengan mantel coat panjang, wajah dan tubuhnya tidak terkalahkan.”
‘Mereka berisik.’ Detik hati Alves.
“A-apa ada yang bisa saya bantu, Tuan?” Tanya wanita ini dengan gugup, karena Alves tiba-tiba muncul dan menciptakan bayangan tubuh yang langsung melahap sosoknya.
“Paggil pemilik tempat ini.”
“Kau dengar itu, dia mencoba mencari pemilik dair tempat ini.”
“Nah, pasti sudah jelas, kalau dia memang pria kaya raya, pasti ada urusan bisnis atau apa pun itu.”
Bisikan demi bisikan kembali datang, memenuhi indera pendengaran Alves.
“B-baik, saya akan menghubunginya.” Karena antara takut juga terpesona dengan ketampanan milik Alves, wanita ynag bekerja di bagian kasir ini pun terus menjawabnya dengan gugup.
Tak perlu waktu lama baginya untuk mendapatkan sambungan telepon pada sang pemilik.
“Bos, ada yang sedang mencari anda.” kata wanita ini kepada orang yang berada di ujung telepon.
-”Siapa?”-
“Maaf, nama anda siapa?” Tanyanya, agar ia bisa menjawab pertanyaan dari Bos nya itu.
__ADS_1
Alves yang tidak sabar untuk bertemu dengan sang pemilik, langsung merebut telepon genggam milik dari kasir tersebut.
“Siapa aku kau akan tahu jika sudah ketemu.” Ucap Alves dengan nada ketus.
-”A~Ah~ I-iya, saya tahu, silahkan datang ke lantai tiga.”- Karena hanya dari suaranya saja ia langsung tahu siapa itu, ia akhinya menawari Alves untuk menemuinya di lantai tiga.
“Nih.” Alves tanpa mematikan panggilan tersebut, Alves langsung mengembalikan handphone tersebut kepada sang pamilik, lalu dengan langkah terburu-buru Alves segera naik ke atas dengan menggunakan lift yang ada di sana.
Setelah sampai, ternyata lantai tiga di guakan sebagai restoran, dan Alves langsung menemukan satu orang yang tiba-tiba saja berdiri, untuk mengkonfirmasi kalau ia duduk di sana.
“Apa yang membuat anda datang kesini?” Tanya pria paruh baya ini kepada Alves yang bahkan enggan untuk duduk, karena sekalnya duduk pasti akan memicu perbincangan yang cukup panjang.
“Aku sedang mencari seseorang, jadi aku minta perlihatkan rekaman cctv nya.”
“A-apa anda hanya datang kesini untuk itu saja? Kenapa anda tid-”
“Aku sedang di buru waktu, dan aku sudah makan, jadi jangan banyak bicara dengan hal yang bagiku tidak berguna selain menemukan orang yang aku cari, paham?” Sela Alves dengan nada dan ekspresi wajah begitu tegas, sehingga kesan Alves yang begitu sombong pun mendominasi juga.
“B-baik. Mari ikut saya,”
Alves pun pergi mengikutinya, dan setelah itu dia benar-benar dibawa ke satu ruangan yang terlihat seperti kamar, tapi di sana ada tiga layar monito besar yang memperlihatkan semua rekaman cctv yang ada di lantai bawah, bahkan termasuk lantai tiga.
“Bos?” Satu orang penjag yang ada di sana langsung berdiri setelah mengetahu majikannya tiba-tiba saja masuk tanpa sebuah ketukan pintu. “Kenapa anda datang kemari? Tidak seperti biasanya saja.”
Sampai tiba-tiba setelah Bos nya masuk, Alves baru menyusul masuk.
“Bos, siapa yang ada di belakang anda?”
“Kau tidak perlu tahu,” Ketus nya. “Tuan, silahkan gunakan ruangan ini sesuka anda, saya akan pergi keluar.”
“Hm…” Alves merotasikan arah pandangannya ke segala arah, dan melihat hanya ada satu orang yang bertugas berjaga di dalam ruang khusus Cctv ini.
“Kau minggir.”
“Ya?”
“Jangan membuatku mengatakan ketiga kalinya, minggir dari tempat dudukmu itu.” Perintah Alves dengan sombong.
“T-tapi anda itu orang asing, sa-”
“Padahal Bos mu sendiri yang membawaku kemari, kenapa tidak paham juga. Minggir, aku sedang buru-buru.” Alves pun dengan kasar langsung menepis tubuh dari anak muda itu, langsung duduk dan kedua tangannya dengan begitu lihat dalam gerakan yang cukup cepat segera mencari segala hal yang berkaitan dengan rekaman cctv yang sedang Alves cari.
‘C-cepatnya, dari penampilannya, dia terlihat bukan pria biasa. Tapi kira-kira siapa yang sedang dia cari ya?’ Pria ini pun sama-sama penasaran dengan apa yang sedang di cari oleh Alves itu.
‘Dmana? Kemana wanita itu pergi sih?’ Alves yang merupakan orang yang tidak sabaran sama sekali, jadi menggertakkan giginya karena pelayan kesayangannya masih belum di teukan.
Karena itu, ia pun terus melihat rekaman ulang dari semua cctv secara bersamaan, membuat orang yang ada di belakangnya Alves langsung tercengan, karena dalam satu waktu Alves melihat rekaman ulang dengan kecepatan lima kali lebih cepat, enam unit rekaman dari cctv yang di letakkan di tempa yang berbeda.
__ADS_1
Dan setelah tiga menit berlalu, Alves akhirnya menghentikan salah satu rekaman cctv setelah memperlihatkan satu orang wanita yang sedang ia cari, yaitu Elly.
‘Siapa kedua pria itu?’ Tatapan Alves pun jadi semakin datar ketika melihat Elly di bawa oleh dua orang pria yang Alves sendiri tidak kenal siapa mereka. ‘Kenapa dia mau-mau saja di bawa oleh mereka? Atau jangan-jangan mereka berdua menghipnotis Elly, maka dari itu dia mudah di ajak oleh mereka?’