Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
136 : Sisi balik Alves


__ADS_3

"Aku sudah datang. Jadi apa yang harus aku lakukan?" Begitu mereka semua selesai makan, Elly yang belum lama ini di undang oleh Alves, akhirnya datang ke kamar tamu yang di huni oleh pria itu.


Pria yang kini baru saja membuka pakaiannya, sehingga benar-benar memperlihatkan tubuhnya.


Alves yang baru saja berdiri di depan lemari, langsung menoleh ke arah kanan dan menyambut Elly dengan langkah kakinya yang kian berjalan menghampirinya.


"Temani aku tidur. Tapi sebelum itu, obati lukaku ini." Pinta Alves seraya membawa kotak obat yang ia temukan di kamar itu, lalu ia letakkan di atas tempat tidur sebelum akhirnya Alves duduk dan menepuk samping tidurnya agar Elly duduk di sampingnya juga.


'Aku pikir karena apa. Tapi untung saja lukanya tidak begitu parah. Apa karena dia punya kulit tebal ya? Kalau waktu itu kopinya menyiramku, sudah jelas kulitku langsung melepuh.


Tapi, apa dia tidak mau pergi ke rumah sakit saja, setidaknya penangananya jadi lebih lengkap, cepat sembuh, juga tidak akan meninggalkan bekas.' Sayang kan, kalau tubuh dengan kulit sebagus milik dari Alves, harus ternodai oleh bekas luka?


Makannya, Elly pun akan menyarankan agar pria ini lebih baik istirahat saja, ketimbang bekerja.


"Apa masih sakit?" Dengan tatapan matanya yang lembut, Elly sempat menyentuh permukaan kulit yang mana perbannya sudah di lepas, dan memperlihatkan kulit yang nampak memerah.


Karena kulitnya sedang sensitif, jika tergesek dengan pakaiannya, tentu saja akan jadi memerah seperti itu, dan Elly benar-benar memperhatikannya.


Begitu Elly menyentuh dadanya, rasa sakit dan menggelitik itu sendiri itu pun bercampur menjadi satu.


"Itu sedikit sakit. Tapi-" Begitu Alves sengaja menggantungkan kalimatnya, Alves mencengkram tangannya Elly dan menuntun tangan yang begitu kecil itu untuk ia taruh di depan mulutnya Alves. "Karena kau yang menyentuhnya, rasa sakitnya setidaknya sedikit menghilang."


CUP...


'Apa dia pikir dengan mencium telapak tanganku aku akan tergoda? Hanya saja-' Sensasi yang basah dan menggelitik itu pun tetap bisa Elly rasakan, dan ia harus menahan rasa itu dari pada melenguh geli. 'Sebenarnya kenapa orang ini keras kepala sekali menggodaku? Aku tidak akan jatuh hati kepadanya. Ya, aku tid-"


CUP...


Rasa menggelitik itu pun tiba-tiba saja berpindah, dari telapak tangan jadi pindah ke lengan, dan terus naik ke atas.


Melihat betapa niatnya Alves untuk membuat Elly tergoda dalam balutan kecupan singkat yang berakhir meninggalkan tanda, dengan wajah tenang, Elly tangah berusaha untuk melepaskan tangannya itu dari cengkraman tangannya Alves.


"Lepas." masih mencoba untuk bersabar.


"Tapi bagaimana ya? Aku sedang ingin terus mencium aroma ini. Aroma feminim dari tubuhmu." jawab Alves dengan tatapan sendu.


Sangat di sayangkan, jika Elly bukan pelayannya, ia jelas ingin menariknya untuk melakukan lebih.


Tapi karena sekarang saja ia tengah berada di rumah orang lain, maka Alves pun harus menunda keinginan kecilnya itu.


Elly tiba-tiba saja mendesah pelan, dia hari ini benar-benar sungguh lelah. Tapi, apa yang lebih lelah, sesungguhnya adalah ketika ia di gombali oleh orang ini.

__ADS_1


Alves terus berusaha keras agar Elly bisa jatuh ke tangannya, menuruti kemauannya, tetapi, Elly juga sedang berusaha keras untuk tidak dengan mudah jatuh pada pesona pria ini.


"Berhentilah menggombal, aku benci. Nih, ciumi saja terus sampai bibirmu menor." Tukas Elly, sudah lelah dengan segala cobaan yang ia hadapi hari ini, dengan memberikan tangan kirinya itu ke arah Alves, karena ia sudah bersedia untuk menuntaskan keinginan Alves yang ingin mencium aromanya.


"Pelayan itu seharusnya terus terus tersenyum."


"Bahkan jika aku tersenyum paksa, apa kau akan tetap melihatku dengan bangga?"


"Ya, mana tahu aku bisa tambah kepincut dengan pesonamu lagi."


"Ucapanmu aneh, pergi ke dokter sana."


"Heh, kenapa aku harus pergi ke dokter? Sedangkan dokterku sendiri ada di sini."


Elly lantas semakin menyipitkan matanya : "Dokter apaan? Aku ini hanya pelayanmu."


"Tapi bukannya kau pelayan serba bisa? Bahkan sekarang saja kau sudah jadi dokter pribadiku, sekaligus dokter cinta."


Tiba-tiba Elly langsung menutup mulutnya. Dia sangat muak dengan gombalan Alves yang sangat tidak berarti itu. "Hentikan itu." Pinta Elly, ia sungguh tidak tahan lagi dengan ucapan Alves yang sangat tidak cocok dengan karakternya itu.


Begitu melihat Elly nampak tersiksa dengan semua rayuannya, Alves akhirnya melepaskan cengkraman tangannya Elly seraya tersenyum simpul.


"Jika kau mau aku berhenti menggombal, kau seharusnya tahu apa yang aku mau." ucap Alves.


JLEB....


Hatinya seketika tertusuk dengan tepat sasaran. Sakit tapi tidak berdarah, Alves pun menyadari perubahan dirinya yang tiba-tiba saja merayu pelayannya sendiri.


"Apa kau percaya kalau aku mengatakan jika itu diluar kesadaranku?" ucap Alves, membuat topik baru untuk mereka berdua.


Elly yang baru saja membuka tutup dari salep yang akan ia gunakan untuk mengoles luka di dadanya Alves, seketika terhenti sejenak.


Dia melirik ke arah Alves yang nampak sedang tersenyum mencibir.


"Jujur saja rayuanmu itu basi. Tapi apa barusan kau mengatakan kalau kau merayuku tanpa kau sadari?" Akhirnya Elly pun bertanya.


Dan seperti kemauan yang di inginkan oleh Elly, ekspresi wajah Alves pun berubah menjadi serius. Dia mengaitkan kesepuluh jarinya itu dan menopang dagunya dengan kedua tangan yang bertumpu di atas lututnya dan menjelaskan : "Iya. Seperti saat kau tadi di dapur, sebenarnya aku menghampirimu karena aku ingin bicara agar kau membantuku mengobatiku."


___________


Flashback On.

__ADS_1


"Hah, aku akhirnya bisa mandi. Tapi sangat menyiksa juga dengan luka yang masih aku rasakan ini." Gerutu Alves. Dia menyentuh dadanya sendiri, rasa sakit itu masih tertanam pada kulitnya yang kena luka bakar gara-gara siraman kopi.


Sambil berjalan menuruni anak tangga, Alves tidak sengaja mendengar perbincangan dari tiga orang yang ada di dalam dapur.


"Gibran, mentang-mentang ada wanita selainku di sini dirumah ini, jadi kau sudah berani menggodanya ya? Jawab." kata Asena dengan nada tegas kepada suaminya sendiri, yaitu Gibran.


"Maaf menyela, tapi dia hanya membantuku mengambilkan piring untukku saja." Sela Elly diantara mereka berdua.


'Apa yang mereka bertiga ributkan sih? Malam-malam seperti ini malah berisik sekali, padahal jika aku ada di rumahku, aku pasti merasakan ketenangan. Tapi seharian ini saja aku sama sekali tidak bisa tenang.' racau Alves di dalam pikirannya.


Karena ada pertunjukkan yang tidak Alves inginkan, Alves pun menuruni anak tangga dan sesaat ia menatap wajah dari mereka bertiga yang sedang berdebat di dapur.


'Elly lagi? Dia terus saja berbuat onar, entah di rumah, di kantor, bahkan di resort, bahkan disini, Walaupun dia memang bisa di andalkan, tapi dia memang benar-benar wanita yang mengundang masalah.' Pikir Alves. 'Tapi karena dia kebetulan ada di sana, sebaiknya aku minta bantuan saja padanya. Dari pada Orson yang sedang sibuk dengan aplikasi kencan, mending aku suruh Elly saja.' pikirnya lagi.


Karena tiba-tiba saja menemukan ide untuk membantunya mengobati luka di tubuhnya, Alves pun berjalan ke arah Elly.


Padahal Alves hanya tinggal bicara dengan nada sedikit lebih keras, tapi Alves justru memilih untuk berjalan menghampirinya.


"Lalu apa yang kau katakan tadi sampai kau bilang dia mesum?" tanya Asena meminta penjelasan kepada Elly.


Asena nampak tidak puas dengan apa yang baru saja terjadi diantara Gibran dengan Elly, sontak mulut Alves pun jadinya bicara juga.


"Cukup, jangan menindas Elly." Suara milik Alves berhasil mewarnai perdebatan diantara mereka semua. 'Hah? Kenapa mulutku malah bergerak sendiri agar dia tidak di tindas? Padahal wanita itu saja tidak terlihat sedang di tindas, tapi kenapa aku sampai bicara seperti itu kepadanya?'


Di sinilah, Alves pun mengalami kejanggalan lagi setiap ia mendekati wanita yang sudah menjadi pelayannya itu.


Tapi begitu Alves menatap wajah Elly yang sedang melamun ke arahnya, kedua sudut bibirnya tiba-tiba saja terangkat membentuk sebuah senyuman. 'Apalagi ini? Tubuhku bergerak sendiri dan malah tersenyum ke arahnya?'


"Kenapa dia senyum-senyum seperti itu?" gumam Elly, melupakan ada dua orang lainnya yang sebenarnya justru menatap ke arahnya.


"Kan itu karena kau sendiri." ketus Asena, menyela gumaman nya Elly tadi.


"Ya, itu karena kau menatapnya seperti orang yang sedang jatuh cinta pada pandangan pertama. Siapa yang tidak bisa menahan senyuman pada wanita cantik sepertimu yang menatap laki-laki itu?" Sela Gibran juga, sudut matanya pun sempat melirik ke arah Alves yang dengan percaya dirinya yang tinggi itu berjalan menghampiri mereka ambil tersenyum puas.


'Kalian semua, kenapa kompak sekali?' Tapi, begitu Alves berpikir seperti itu, mulutnya kembali bicara. "Aku tahu aku ini tampan, makannya pelayanku sendiri sampai terpesona denganku juga." Ucap Alves secara tiba-tiba.


"Huh?" ekspresi Elly jelas terlihat seperti orang yang sangat terkejut.


"Kenapa? Apa yang aku katakan ini benar kan? Elly?" Mengabaikan sepasang suami istri yang sudah ia lewati, Alves tiba-tiba saja menghampiri Elly yang sibuk itu dan berpikir, 'pendek, tapi juga imut, tapi tunggu- sebenarnya apa yang sedang terjadi kepadaku? Kenapa aku sangat ingin mengatakan kalimat lain?'


Setelah berhasil berdiri di belakangnya persis, Alves akhirnya membisikkan sesuatu yang cukup menggelikan telinganya Elly, sampai Elly sendiri telinganya sudah memerah.

__ADS_1


"Temani aku malam ini." Bisik Alves. Dan Alves pun kembali tersadar lagi dengan mulutnya yang mengatakan hal lain di luar pikirannya itu. 'Hmm? Lagi? Pasti dia jadi salah sangka lagi. Padahal aku tadinya aku ingin mengatakan untuk membantuku mengobati lukaku, tapi karena sudah begini, ya sudahlah.'


Flashback Off


__ADS_2