
NGIK….
BRRR…
Suara kuda itu menarik perhatian Alves, Orson juga Elly.
Tidak seperti kebanyakan tempat, jika tempat olahraga pada umumnya, tempan GYM yang sedang mereka kunjungi sebenarnya satu set dengan lapangan pacuan kuda, lapangan menembak, bahkan tempat untuk basket, serta Voli, berada di tempat yang sama dan di dalam gedung yang sama juga.
Jadi ketika mereka saat ini berada di dalam gedung lantai tiga untuk melakukan olahraga di dalam gedung, mereka juga diperlihatkan ada puluhan orang sedang melakukan latihan pacuan kuda.
“Halo, selamat datang Tuan dan Nona.” Sapa salah satu pelatih yang memang bekerja di sana untuk membantu orang-orang yang ingin melakukan olahraga.
“Ya, siapkan baju untuk mereka berdua.” perintah Alves, agar memberikan baju olahraga kepada Elly serta Orson.
“Lalu bagaimana dengan anda?” Tanyanya.
“Aku sedang libur.” ketus Alves.
“Orson, apa kau bisa naik kuda juga?” Tanya Elly kepada Orson, saat ini mereka berdua ada di balkon, dan melihat latihan pacuan kuda secara langsung.
“Tentu saja. Karena dari kecil aku memang sudah suka naik kuda, jadi aku termasuk sudah senior, kenapa? Dari matamu kau terlihat ingin mencobanya.” Tebak Orson sambil menoleh ke arah samping kirinya.
Telihat kalau Elly begitu terpegun melihat beberapa kuda berlari dengan kecepatan tinggi, seperti orang yang pertama kali baru melihat kuda.
‘Aku sempat melihatnya di YTB, ternyata kuda di lihat secara langsung seperti ini terlihat cukup menyenangkan. Ah lihat, kuda berwarna hitam itu, bukankah itu sangat keren?’ Melihat sebuah kuda yang terlihat baru dan masih liar, mengingat tidak ada satu orang pun yang menjaganya, karena sedang memakan rumput di bagian tengah lapangan, membuat Elly begitu tertarik untuk mencobanya.
“Kau terlihat tertarik.”
“Hmm, tapi aku tidak tahu cara menaiki kuda yang benar secara langsung.” Jawab Elly dengan anggukan.
“Mau aku ajari?”
Elly sontak menoleh ke arah Orson, terlihat wajah tampan yang biasanya memperliatkan wajah kaku, sekarang jadi punya ekspresi.
Jelas, Orson jadi terlihat seperti dua orang yang berbeda saat di kantor.
“Iya, aku mau. Aku sangat penasaran bagaimana rasanya naik kuda. Apalagi melihat mereka sedang balapan kuda, pasti punya sensasi tersendiri daripada balapan mobil.”
‘Wanita ini, dengan ekspresi wajah dan tatapan matanya itu, siapapun akan tahu, kalau dia jadi terlihat seperti orang yang sedang jatuh cinta.’ Benak hati Orson, diam-diam terus mencuri-curi pandang untuk melirik ke arah Elly, sampai Orson sadar kalau di belakangnya tiba-tiba saja ada aura dingin yang sedang menyapu punggungnya dengan kengeriannya.
Dan ketika melihat ke belakang.
__ADS_1
Orson justru melihat Alves sedang berbicara dengan wanita yang mengurus pusat GYM tersebut.
‘Apakah tadi hanya perasaanku saja yang takut? Makannya aku merasa kalau aku sedang di awasi?’ Tidak begitu peduli dengan apa yang sedang di bahas oleh kedua orang di belakangnya, Orson embali berbicara dengan Elly. “Mau sekarang atau nanti?”
“Uhm…, sepertinya kapan-kapan saja. Setiap hari minggu kau libur kan?”
‘Raelyn, kata Alves dia hilang ingatan, apa dia sudah diberitahu soal latar belakangnya? Tapi, mengingat kehidupan rumah dan kampus nya saja begitu berantakan, menurutku lebih baik tidak di beritahu. Karena aku pikir jika dia di ingatkan kembali masa lalunya, dia pasti akan kembali terbelenggu.’ Sebagai orang yang menemukan informasi mengenai latar belakang Elly atas permintaan Alves beberapa hari yang lalu, Orson merasa kalau kehidupan dari wanita di sampingnya itu cukuplah mengenaskan.
Walaupun memang ada keanehan, karena Elly nampak berbeda dari Elly sebelum ini, tapi bagi Orson, keadaan ini jauh lebih bagus, sehingga memberikan wanita di sampingnya kebebasan serta kebahagiaannya tersendiri.
“Apa kalian sudah selesai bicara?” Pungkas Alves dengan tatapan tidak suka kepada Orson.
Dan Orson langsung menenali tatapan itu mengartikan kalau ia tidak boleh dekat-dekat dengan Elly, sama seperti yang terjadi kemarin.
‘Bukankah tatapan matanya itu jadi seperti kalau aku sedang merebut Istrinya? Alves, dia benar-benar sudah berbeda. Dan oang yang membuatnya seperti itu adalah, wanita ini.’ Orson melirik sedikit Ellly.
“Iya, sudah.”
“Jika mau olahraga, maka pakai ini.” Alves secara pribadi memberikan Elly baju olahraganya, sedangkan pakaian olahragnya ada di atas kursi istirahat.
“Padahal aku bisa mengambilnya sendiri.” gumam Elly, menerima kaos olahraga itu dari tangan Alves.
“Aku yang ingin menyerahkannya kepadamu, memangnya itu salah?”
“Kau dan aku juga sama-sama manusia. Jadi apa yang aneh?” Cetus Alves.
“Ya, manusia, tapi bukankah Pria tiba-tiba bisa saja jadi binatang ya?” Lirih Elly, membawa hati Alves jadi serasa tersinggung, karena ia masih dapat mendengar umpatan yang di katakan oleh Elly kepadanya.
‘Pfftt…., Elly terlalu terang-teragan mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.’ Kata Orson di dalam hati, kemudian ia pun pergi dari sana.
Tiba-tiba Alves jadi serasa frustasi dengan perangai Elly yang begitu blak-blakan dalam berbicara, seperti orang yang memang tidak memiliki urat malu sama sekali.
“Apa mulutmu tidak bisa di filter dulu?” Tanya Alves, menyindir. Tatapan matanya terus tertuju pada wanita yang benar-benar memliki keberanian dalam membalas tatapannya.
“Bukannya lebih baik jika aku mengatakan berdasarkan apa yang aku pikirkan agar bisa di sampaikan dengan jelas kalau aku punya kesan apa terhadap lawan bicaraku?”
“Apa kau sedang menceramahiku?”
“Tidak, aku sedang memberitahumu. Bukannya kata orang tua kita, kalau jujur lebih baik daripada kebohongan kan? Jadi apa yang aku katakan tadi tidak dalam kategori bermasalah, benar kan?”
Alves menghela nafas kasar, menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya dan tiba-tiba saja langsung mengambil langkah ke depan dan memojokkan Elly di pagar pembatas.
__ADS_1
BRAK…
Kedua tangan Alves mencengkram pagar besi, membuat Elly berada di tengah-tengah antara kedua tangannya Alves itu.
“Kau mau apa?” Tanya Elly, seketika hembusan nafas milik Alves menerpa wajah Elly secara langsung.
Cukup panas, juga cukup membuat lawan bicaranya sudah tidak mampu melarikan diri karena masuk dalam penjara yang di buat oleh tubuh itu sendiri.
“Elly~” Bisikan kecil menelisik masuk kedalam indera pendengarannya secara langsung. “Ada baiknya jika kau menata kalimatmu itu. Aku tidak masalah jika kau mengatakan itu untukku, tapi sebaiknya jangan untuk orang lain.”
“Padahal ini kan mulutku sendiri. Kenapa kau mengatur apa yang harus aku katakan?”
“Ellly, apa kau lupa, kalau semenjak kau menandatangani kontrak itu, maka artinya kau adalah milikku. Bahkan kata-kata vulgar yang keluar dari mulutmu itu juga hanya untukku, apa kau mengerti?” Bisiknya lagi.
Elly melirik Alves, wajah yang begitu dekat, dan bisikan kecil yang cukup mengganggu telinga, karena mampu merangsang seluruh hormon di dalam tubuh.
Elly tahu, kalau tindakannya Alves kali ini sama artinya dengan mengungkapkan kelasnya sebagai majikannya, bahwa Elly hanyalah orang yang harus menuruti ucapannya Alves, mengendalikannya dalam posisi status yang dimiliki oleh Alves kepadanya.
“Aku mengerti. Sangat mengerti kalau ternyata kau sedang butuh ini ya?”
CUP…
Ciuman singkat itu pun mendarat di pipi, sehingga hal serius tadi langsung hancur dengan perangai Elly yang tiba-tiba saja langsung nyosor.
“Kau-”
“Hei, kalian berdua, apa tidak ada tempat lain untuk nyosor? Kalian cukup mengganggu mata.” Sampai suara seorang pria yang sedang duduk di kursi penonton, berhasil mengganggu kebersamaan Elly dan Alves yang sedang bericara serius.
“Ah~ Itu artinya karena kau jomblo, makannya jadi sakit mata, ya-mph..!” Alves buru-buru membungkam mulut Elly dan langsung menarik Elly pergi dari balkon.
‘Padahal aku sudah memperingatkannya, kenapa mulutnya sama sekali tidak bisa di jaga?’ Keluh kesah Alves, menghadapi wanita yang over protektif ini.
“Phuah…hah, kenapa kau membungkam mulutku?”
“Bukannya tadi aku sudah memperingatkanmu untuk menjaga cara bicaramu?” Peringat Alves.
“Padahal aku bicara, juga untuk membela diri, kenapa masih saja disalahkan?”
Alves jadi tepuk jidat, Elly memang benar, ucapannya tadi memang sedang membela untuk mereka berdua, tapi di sini tetap saja ada yang salah, karena orang yang barusan bicara kepada mereka berdua adalah orang yang Alves kenal.
“Itu karena tadi itu adalah Ayahku.”
__ADS_1
“.........!” Elly akhirnya jadi bungkam, mendengar kalau pria tadi adalah Ayahnya Alves.