Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
71 : PTRI : Hadiah ulang tahun


__ADS_3

"Apa? Kau ingin merayakan ulang tahun?" Tanya wanita muda ini kepada seorang anak laki-laki berusia 6 tahunan itu.


"Iya Bu, aku ingin seperti teman-temanku, mereka selalu merayakan ulang tahunnya setiap tahun." Jawab anak ini dengan wajah polosnya, bahkan ekspresinya menyiratkan suatu harapan kepada wanita yang tidak lain adalah Ibunya.


"Alves, dengar," untuk menyamai ketinggian dari anaknya itu, wanita ini segera berjongkok, dan menjawab. “Hanya perayaan ulang tahun. Kau pikir itu apa? Dengar ya, Ibu akan memberitahukan kepadamu, kalau merayakan ulang tahun itu sama saja dengan merayakan umurmu yang berkurang, kau yakin dengan hal itu? Dan apa gunanya merayakan ulang tahun? Mereka memang, pasti akan datang ke acara ulang tahunmu, jika memang dirayakan, tapi apakah mereka kan merasa bersenang-senang dengan orang yang bahkan kau sendiri sangat jarang bermain dengan mereka. 


Alves, daripada membuang uang dengan sesuatu hal yang tidak berguna seperti itu, lebih baik kau gunakan untuk hal lain yang lebih berguna untuk masa depannmu itu. Apa kau paham dengan apa yang Ibu katakan?”


Alves kecil menatap sang Ibu dengan tatapan antara bingung dan ragu. Ia ingin sekali bisa merayakan ulang tahunnya, hanya saja ketika mengingatnya kembali soal pertemanannya dengan teman-teman sekolahnya, Alves juga sadar kalau ia sama sekali tidak begitu dekat dengan mereka, makannya kesenangan yang di rasakan oleh teman sekelasnya akan jauh berbeda dengan orang lain. 


“Aku paham Bu.” Dan Alves yang masih polos hanya tahu untuk mengikuti apa yang di katakan oleh Ibunya, sekaligus menyadari bahwa merayakan ulang tahun memang benar, kalau itu sama saja dengan merayakan umurnya yang berkurang, jadi apa yang patut di banggakan ketika umur berkurang satu tahun, dan di rayakan?


“Bagus, kau memang anak pintar. Jadi kalau mau melakukan sesuatu jangan hanya di dasari dari peasaan, melainkan logika, mengerti?” Sambil mengusap kepala anaknya dengan senyuman lembutnya. 


“Mengerti.”


“Ini, angpao dari kakek,” Wanita ini pun memberikan amplop berwarna merah kepada anaknya, yang merupakan titipan dari kakeknya Alves. “Ini sudah jadi milikmu, kau mau melakukan apa, lakukan sesukamu dengan uang ini, asal itu bermanfaat untuk dirimu sendiri.”


Dengan polosnya, Alves menerima amplop berisi cek kosong, yang artinya ia hanya perlu menuliskan nominal yang Alves inginkan. “Baik Bu.”


Dan setelah itu, setiap tahunnya, ketika teman-temannya merayakan ulang tahun dengan wajah gembira, Alves adalah satu-satunya orang yang hanya hadir dengan memberikan hadiah dan langsung pergi begitu saja, sebab Alves sudah memilih pilihannya, bahwa kebahagiaan yang di miliki oleh mereka adalah sesuatu yang kurang cocok dengan diri Alves yang lebih suka dengan belajar, belajar, dan belajar. 


_____________


“Alves?” 


‘Siapa yang memanggilku?’ Pikir Alves, dia mengernyitkan matanya saat ada tangan yang begitu hangat, tiba-tiba menyentuh bahunya. 


“Alves, bangun.” 


Suara yang di panggil dengan suara lembut itu terus menyebut-nyebut namanya, membuat Alves perlahan kian terusik. 


“Alves, apa kau tidak mau ini?”


“Ehmm…berisik,” Alves yang masih lelah itu, langsung merubah posisi tidurnya dengan memunggungi seseorang yang sebenarnya sudah berdiri di samping tempat tidurnya. 


“Aku tidak akan berisik jika kau bangun sekarang.” 


Lagi-lagi suara itu muncul, mengganggu kenyamanan Alves saat dalam posisi tidur dengan kehangatan yang cukup membuat ia terus ingin lebih terlelap dalam buaian mimpinya.


“Alves,” Panggil Elly lagi. 


“Berisik, aku masih mengantuk, jangan ganggu aku dulu, jika mau mengatakan sesuatu, katakan nanti pagi saja.” Pungkas Alves. Karena dia benar-benar masih mengantuk berat, Alves langsung memunggungi Elly dan segera menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, sampai tidak menyisakan sedikitpun bagian dari tubuhnya untuk Elly sentuh. 


‘Sayang sekali. Sebagai tanda terimakasihku karena kau sudah memberikanku banyak bantuan aku sebenarnya sudah menyiapkan kejutan. Padahal aku sudah susah payah membuatkanmu kue ulang tahun, dan aku berharap kau bisa tiup lilinnya sekarang. 


Tapi karena kau masih ingin tidur, sebaiknya aku letakkan kuenya di sini. Semoga dia melihatnya.’ Dengan harapan kecil, kue ulang tahun yang sudah Elly buat ia letakkan di atas nakas, sampaing persis tempat tidur Alves, lalu karena ia tidak mau mengganggunya lagi, ia pun pergi keluar dari kamar tersebut. 


“Hoammh…ngantuknya. Aku absen dari mandi lah.” Gumam Elly setelah menguap lebar karena begadang setengah malam. 


____________


Pukul 2 dini hari, di luar rumah. 


“Kenapa hari ini dingin sekali ya?” 


“Iya, aku juga di buat sampai menggigil.”


Mereka berdua adalah anak buah Alves yang berjaga di luar rumah, dan sekarang mereka berada di pos mereka. 


Sambil merasakan dinginnya suhu karena hujan yang tidak pernah berhenti sejak siang tadi, mereka mencoba mencari jaket yang bisa mereka kenakan untuk melindungi suhu tubuh mereka dari hawa dingin tersebut. 


“Ini sudah jam dua pagi, aku patroli dulu ya.” Pria dengan setlean jas serta di tutupi jaket ini sedang memakai jas hujan, karena dia akan keluar untuk berpatroli. 

__ADS_1


“Nah, bawa helm juga.” dengan senyuman mengejeknya, teman dari lai-laki tersebut memberikan helm kepada temannya tersebut. 


“Memangnya aku akan naikm motor?” Tanyanya balik dengan ekspresi wajah yang jelas terlihat enggan.


“Tidak sih. Tapi kan ini hujan deras, daripada wajahmu di terpa air hujan langsung, mending pakai helm kan? Itung-itung jika ada yang memukulmu dari belakang, kepalamu yang berharga itu masih bisa di selamatkan.” Jelasnya. “Ini pakai, lagian Bos tidak melarang kita juga untuk melakukan hal yang kita mau, asal pekerjaan kita ok saja, ya kan?” Bujuknya lagi. 


‘Benar sih, jika aku pakai helm, wajahku tidak akan kedinginan. Sebenarnya tidak rugi juga sih, ya sudahlah,’ karena tidak mendapatkan kerugian apapun, ia akhirnya menerima tawaran untuk memakai helm, agar wajahnya tidak terkena air hujan langsung, sebab ia akan pergi berkeliling mengelilingi rumah. 


“Nah gitu,” Melihat rekan kerjanya sudah pergi dengan menggunaan helm, pria ini tertawa cekikikan karena rekannya tersebut mau melakukan apa yang disarankan kepadanya. 


*


*


*


Laki-laki ini pun berjalan sendirian, dengan menggunakan senter led yang ia bawa itu, dia menelisik ke seluruh penjuru di area halamna depan, samping kanan dan kiri rumah, serta area halaman belakang. 


“Hehehe, untung saja aku menggunakan helm, wajahku jadi terlindungi dari air hujan deh.” Dengan senyuman sumringah, dia tetap berjalan dengan begitu santainya, menelusuri area sekitar rumah. ‘Tapi ngomong-ngomong, sebenarnya apa hubungan dari Tuan dan perempuan asing itu ya? Sebelum perempuan itu datang kesini, Tuan muda cenderung pulang larut malam, tapi sekarang justru Tuan muda malah jadi terlihat lebih santai. Ternyata memang benar, kalau Tuan muda memang cukup kesepian, sampai Tuan mau menerima segala permintaan dari perempuan tersebut.’


Hanya dengan memikirkannya saja dia ikutan senang, karena di rumah besar yang menjadi tempat ia bekerja, setidaknya sudah ada kehangatan. 


Di saat satu orang tersebut berjalan sendirian, mengitari area sekitar rumah milik majikannya, sebenarnya ada sudah ada tiga orang yang sudah masuk kedalam rumah. 


“I-itu hampir saja.” 


“Huft~ Ternyata orang itu punya selera anak buah yang aneh, lihat, masa pakai helm?” 


“Bukankah hal itu jadi bagus? Wajahmu jadi tidak basah karena air hujan.” ucap pria ini kepada kedua rekannya. 


Mereka sudah berhasil masuk kedalam rumah, tepat setelah sesi pergantian penjaga. 


“Iya sih. Tapi, apa kalian tidak ada yang merasa janggal? Penjagaannya terlalu sedikit, bahkan setelah aku berhasil meretas sistem keamanannya, aku sama sekail tidak memiliki kendala apapun.” Ucap pria berpakaian serba hitam ini, dimana di tangannya ia memegang handphone lipat yang bisa di ubah menjadi sebuah tab. 


Kedua orang di sampingnya menatap satu sama lain. Apa yang dikatakan oleh satu temannya itu ada benarnya. Karena mereka sudah tidak ada waktu lagi, waktu yang tepat bagi mereka untuk membunuh Alves. 


“Hm…, dia sedang terluka, jadi ini bisa menjadi kesempatan untuk kita untuk membunuhnya. Kita juga sudah menantikan ini sekian lama, jadi kita harus melakukannya sekarang.” 


Mereka bertiga saling menatap dan mengangguk secara bersamaan. 


Dengan beberapa kode yang di buat mereka bertiga, mereka bergerak serentak untuk melakukan aksi membunuh Alves. Entah itu dengan cara membunuhnya secara langsung, atau dengan cara tidak langsung, mereka sudah membuat rencana yang lebih condong ke strategi secara tidak langsung. 


Mereka semua berpencar, lalu meletakkan beberapa bom di satu tempat yang cukup tersembunyi.  


Di bawa kegelapan itu, mereka melakukan tugasnya masing-masing. 


Ya, niatnya memang seperti itu, hingga saja satu suara yang tiba-tiba datang, sukses menarik perhatian mereka. 


“Kalian, lihat kesini.” 


Sontak mereka bertiga yang kebetulan ada di depan tangga persir, secara bersamaan mendonga ke atas. 


CKREK.


Kilatan dari lampu flash, menjadi penanda kalau foto mereka semua baru saja di ambil.


‘Apa? Belum melakukan apapun sudah ketahuan.’ Tersentak pria ini, karena belum memulai rencananya, mereka bertiga sudah ketahuan oleh satu orang perempuan yang berdiri tepat di atas tangga persis. 


“Yah~ Ternyata wajah kalian sama sekali tidak menarik. Aku pikir, jika wajah kalian tampan, kita mungkin bisa berteman.” Ejek Elly sambil melihat hasil jepretannya. Di dalam gambar yang berhasil Elly ambil, ada terdapat tiga orang laki-laki dengan wajah pas-pasan, dan bahkan jika mau di bandingkan dengan penjahat sebelumnya, yang bernama Arya, maka Elly jelas akan memilih Arya. 


“Ha~ Jadi apakah maksudmu kau tidak akan berteman dengan kami, karena wajah kami yang jelek?” 


‘Kenapa dia malah meladeni ucapan perempuan itu?!’ Pikir orang ini, terhadap temannya yang baru saja membalas ucapannya Elly. 

__ADS_1


“Hmm, keindahan adalah sesuatu yang pantas di nikmati.” Jawab Elly dengan anggukan kecil atas pertanyaan dari salah satu diantara mereka bertiga. 


“Wanita itu, benar-benar menghina kita.”


“Apa kau punya ide untuk membalas hinaannya itu?” di saat yang sama, dua orang lainnya sedang berdiskusi untuk membalas ucapan Elly yang cukup menghina, sekaligus menjadi penghalang atas rencana mereka bertiga. 


“Daripada repot, mending lempari dia bom asap. Bukannya itu lebih baik ketimbang menggunakan bom yang menghancurkan rumah ini? Lalu rebut handphone nya.” 


“Aku setuju.” Jawabnya, dengan ekspresi wajah yang cukup serius. 


‘Apa yang sebenarnya mereka lakukan disini? Apakah mereka mau mencuri? Kenapa entah dimanapun itu, tempatnya selalu dipenuhi dengan pencuri?’ Pikirnya. 


Seketika setelah Elly berpikir demikian, tiba-tiba saja ada benda asing sedang terbang ke arahnya. 


“Karena kalian termasuk tamu walaupun tidak di undang, aku pikir aku akan memberikan kalian kue ulang tahun juga,” Setelah mengatakan itu, Elly langsung mengangkat salah satu kakinya ke atas dan tepat ketika bom asap itu terbang ke arahnya, Elly langsung menendangnya. 


BHUAK…


“Tapi sepertinya kalian menginginkan hadiah lain, selain kue yang sudah aku buat ya?” 


Bom asam itu pun langsung terlempar ke bawah lagi dan mengenai salah satu Vas bunga, yang memicu kebisingan, dan membuat mereka bertiga langsung semakin menunjukkan sikap waspada.


Setelah itu, asap langsung memenuhi ruangan. 


Mereka bertiga segera memakai masker dan juga kacamata khusus. “Tangkap dia.”


Selepas mendengar itu, kedua temannya segera naik ke atas dan mengejar untuk menangkap Elly yang berhasil memicu keributan lebih dulu, karena sukses membuat mereka ketahuan sebelum mereka bertiga beraksi memulai rencana mereka. 


Melihat hal itu, Elly benar-benar senang, sambil berkata : "Kalian benar-benar tega, mau menangkapku hanya karena aku memergoki kalian yang ingin melakukan kejahatan di rumah ini."


"Siapa yang akan peduli dengan pelayan sepertimu?"


"Hohoho, kalian cukup bersemangat ya, aku akui semangat kalian dalam mendapatkanku, sebagai hadiah aku akan memberikan kalian ini."


JDERR.....


Rumah yang begitu remang, dan di sertai beberapa kilatan petir, membuat sosok Elly yang masih berdiri di atas tangga, langsung menyunggingkan senyuman manis, semanis gula sampai hal itu berhasil mengalihkan perhatian kedua penjahat yang sedang berlari naik ke arahnya.


Dengan tendangan yang cukup ringan, salah satu kakinya berhasil menendang dua bungkusan yang sudah di siapkan di depan kakinya persis.


Dan dua bungkus minyak itu berhasil tumpah, melumuri seluruh area anak tangga, dan membuat mereka berdua yang langsung jatuh terpeleset.


BRUKK....


"Akhh..."


"Ahw...aduduh...sakit sekali."


'Masa hanya karena satu wanita, belum apa-apa sudah kalah dulu.' Benak hati satu orang ini, melihat kedua temannya sudah terjatuh tersungkur dengan pakaian sudah terkena noda minyak.


Orang ini pun menggeleng-gelengkan kepalanya atas kekalahan yang di lakukan oleh kedua temannya itu.


"Sudah ada daging, minyak juga sudah di lumuri dengan baik, kira-kira selanjutnya apa ya?" Dengan senyuman Iblis, Elly memperlihatkan alat pemantik yang sudah dia nyalakan. "Kebetulan aku sudah mencampurkan bensin di dalam minyak itu, jadi aku hanya tinggal menyulut api ke arah kalian."


"T-tunggu! Jangan lakukan itu."


"Sebentar, berhenti! Jangan menyulut minyak itu!"


"Jangan? Berhenti? Kalian sudah seenaknya masuk ke wilayah milik majikanku, jadi aku harus melakukan sesuatu kepada kalian yang berani masuk kesini kan?" Ancam Elly, dia kemudian berjongkok, lalu semakin mendekatkan api dari korek api yang sudah ia pegang.


"Jika begitu, mau tidak mau kau harus mati juga bersama kami. Karena di tasku, aku membawa bom." Ancaman untuk Elly pun datang juga, dan itu berasal dari satu orang yang masih setia berdiri tanpa memperdulikan kedua temannya yang ketakutan karena tidak mau mati terbakar.


Elly sedikit memiringkan kepalanya ke samping kanan. Dengan ekspresi wajah datar, Elly menjawab, "Silahkan,"

__ADS_1


'Apa? Dia benar-benar tidak takut dengan ancamanku?' Detik hatinya.


__ADS_2