Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
115 : PTRI : Gara-gara memilih


__ADS_3

"Tuan, saya pikir anda akan berlama-lama di sana." Tanya pria berpakaian serba hitam ini kepada sang pria tua yang duduk di kursi penumpang bagian belakang.


"Untuk apa aku melakukan itu? Lagi pula, seperti yang kau tahu, sebaik-baiknya kau menyembunyikan rahasia, pada akhirnya pasti akan terbongkar juga." Ujar kakeknya Alves ini kepada supir pribadinya itu. "Meskipun dia saat ini sedang menyembunyikan rahasia dariku, suatu hari pasti aku akan mengetahuinya juga." Imbuhnya, ia tersenyum puas sebab setidaknya Alves sudah memiliki suatu kemajuan untuk dekat dengan wanita.


____________


Sedangkan di satu sisi lain, tepatnya di kamarnya Aiden.


Setelah dia berhasil melepaskan semua ikatan yang di lakukan oleh Elly terhadapnya, Aiden pun sudah mandi dan sekarang ia tengah duduk beristirahat sambil minum air mineral.


"Hahh~ Gila, dia benar-benar bukan seperti Raelyn yang aku kenal." Desah Aiden seraya bersandar ke sandaran sofa dan kepalanya sedang menengadah ke atas, memandang plafon dari kamar hotel yang ia pesan.


Sampai tidak lama kemudian, Cecil yang ada di kamar sebelah, tiba-tiba saja mengirim pesan kepadanya.


-"Aku sudah menunggumu dari tadi, kau sekarang ada di mana?!"-


Aiden yang hanya menatapnya sekilas, langsung membuang handphone itu ke meja, lalu memperbaiki posisi tubuhnya itu dengan berbaring di sofa panjang itu.


Tapi posisinya yang masih menghadap ke arah atas, membuat Aiden perlahan memejamkan matanya, mengenang kembali ingatan miliknya sebelum dirinya sepenuhnya kehilangan kesadaran akibat di pukul.


'Maaf saja, Raelyn yang kau kenal itu, tidak akan pernah kembali.'


Bisikan kecil itu terus saja terngiang di dalam kepalanya. 'Dari cara bicaranya yang berbeda tidak takut lagi saat berhadapan dengan orang, dan dia ..., yang punya kekuatan untuk melawanku. Hah~' Aiden tiba-tiba saja tersenyum tawar, mencibir dirinya sendiri yang kalah dengan seorang wanita. 'Bisa-bisanya aku kalah dengan seorang wanita. Yang benar saja, wajahku jadi serasa tercoreng saja.' Gerutu Aiden di dalam hatinya.


Tok...Tok...Tok....


"Aiden! Kau ada di dalam kan?" Panggil Cecil, orang yang berhasil menghancurkan kesenangan Aiden yang sedang istirahat santai dengan lamunan pikirannya sendiri. "Aiden! Buka pintunya!"


'Kenapa wanita itu berisik sekali sih? Apa dia tidak mengerti kalau aku sedang tidak ingin di ganggu dulu?' Pikirnya. Aiden sebenarnya sudah mengirimkan pesan untuk jangan mengganggunya lebih dulu, tapi apa yang mau di kata?

__ADS_1


Meskipun AIden sama sekali belum memberitahu soal kedatangannya dan sedang menggunakan kamar di nomor apa, tapi karena Cecil memiliki koneksi dengan manager dari hotel ini, tentu saja Cecil bisa langsung tahu, kalau Aiden baru saja check in hotel.


"Aiden! Buka pintunya dong! Aku ingin masuk." Teriak Cecil, lebih mengganggu Aiden lagi dan lagi.


"Arghh! Menyusahkan sekali sih." Teriak Aiden frustasi. Dia mengacak rambutnya yang masih separuh basah itu, lalu dengan langkah berat pun Aiden akhirnya pergi menuju pintu masuk, dan membukakan pintu tersebut untuk Cecil yang sudah menunggunya dari tadi.


KLEK...


Setelah pintu itu terbuka, Cecil langsung masuk begitu saja, melewati Aiden yang masih berdiri di ambang pintu.


"Apa kau tidak punya sopan santun saat masuk ke tempat seseorang?" Tanya Aiden, kurang suka dengan tingkah Cecil yang sembrono tidak mempunyai hormat apapun.


"Daripada itu, apa yang sudah terjadi dengan kamar ini?" Cecil bertanya sambil berkacak pinggang, melihat betapa berantakannya kamar tersebut.


"Memangnya apa hak mu ingin tahu apa yang sudah terjadi dengan kamarku ini?" Balas Aiden, menutup pintunya kemudian berjalan menghampiri Cecil.


"Hak aku kan ingin tahu apa yang sudah terjadi pada kekasihku sendiri." Jawab Cecil dengan cepat.


Padahal dulu, jika di saat bersama dengan Raelyn, hanya ada kata-kata lemah lembut yang keluar dari mulutnya.


Tapi hanya karena naf*su sesaat, keinginan untuk mendapatkan hal baru, membuat  Aiden akhirnya saat ini mendapatkan sebuah penyesalan terbesar, sebab Aiden yang akhirnya memilih adiknya Raelyn sebagai pengganti Raelyn yang mau putus dengannya, membuat sebuah penyesalan itu sendiri.


Salah satunya adalah dengan sifat Cecil yang begitu liar.


Tapi karena sudah terlanjur Cecil sudah mulai terpancing apa yang baru saja terjadi, Aiden pun mengarang sebuah cerita sebagai alasan kamar itu menjadi cukup berantakan.


_______________


Pagi itu, setelah banyak libur yang tidak bisa mereka dapatkan setelah sekian lama mereka bekerja di bawah perusahaan yang dipimpin oleh Alves, mereka pun akhirnya bisa mempunyai wajah segar karena bisa menikmati waktunya dengan cukup baik selama kesempatan liburan yang mereka dapatkan itu, hingga tepat di saat Alves sampai di depan kantor, semua orang yang kebetulan ada di Lobby langsung berlari dan membentuk sebuah barisan, menyambut kedatangan Raja mereka. 

__ADS_1


“Selamat datang Tuan muda Alves.” Semua orang menyambutnya dengan serentak disertai dengan tubuh membungkuk sebagai tanda penghormatan mereka kepada Tuan alias Bos mereka semua. 


Alves yang baru saja masuk lewat pintu kaca otomatis itu, hanya terus berjalan sambil bertanya. “Ada angin apa kalian tiba-tiba menyambutku?” 


“Karena kami berterima kasih kepada anda, sebab anda sudah memberikan kami semua cuti sebanyak itu kepada kami.”


Alves menghentikan langkah kakinya dan langsung tertawa garing. “Hah~ Apa kalian hanya akan melakukan ini jika aku memberikan liburan lagi kepada kalian? Kalian ini-!” 


Ucapan yang dipenuhi dengan emosi, karena karyawannya tiba-tiba jadi hormat kepadanya karena sekedar cuti, langsung tertahan, saat Elly yang ada di ambang pintu, terus menatapnya dengan ekspresi datar. 


Baginya, ekspresi wajah Elly saat ini sedang mengisyaratkan kepada Alves untuk tidak marah. 


‘Ini masih pagi, apa kau mau marah-marah pada mereka karena baru bisa menghormatimu karena kau memberikannya cuti tiga hari kepada mereka?’ 


Tangan Alves yang sudah terangkat untuk menunjuk satu persatu wajah dari karyawannya sendiri, langsung Alves turunkan dan segera angkat bicara lagi. “Aku terima ucapan terima kasih kalian, tapi ada baiknya kalian melakukan ini setiap hari kepadaku. Dan aku perkenalkan juga, Ellynda, dia akan menjadi asistenku mulai sekarang, jadi jangan ada satupun dari kalian yang membantah ucapannya ataupun meremehkannya.” 


Alves pun memperkenalkan Elly yang masih berdiri di ambang pintu perusahaan. 


Semua orang yang ada di sana langsung melirik sosok dari Elly untuk yang ketiga kalinya bagi mereka. 


Satu persatu ada perasaan iri, penasaran, serta tentu saja ada juga yang membencinya. Tapi karena Bos mereka sudah memperkenalkan Elly secara langsung kepada mereka, maka tidak ada dari mereka yang meragukan posisi Elly, selain rasa penasaran mereka semua bagaimana Elly bisa mendapatkan posisi tersebut. 


“Baik Tuan,” Jawab semua orang di sana. 


Setelah kejadian beberapa hari yang lalu selepas insiden dimana Elly benar-benar menolak keinginan Alves untuk memiliki anak dengannya, padahal Alves ingin membuat Elly benar-benar menjadi Istrinya setelah ingatan masa lalu Alves sudah pulih, sebab pernah membuat tubuh itu ia nodai, Alves dan Elly pun kembali pada posisi mereka masing-masing, yaitu sebagai majikan dan pelayan. 


"Elly, ayo ikut aku." Perintah Alves dengan wajah datarnya.


"Baik Tuan." Dan Elly pun akhirnya memerankan posisinya kepada Alves dengan penuh hormat.

__ADS_1


Ya, demi meminimalisir kebiasaan Elly yang sudah punya kebiasaan memanggil nama orang secara langsung tanpa memikirkan jabatan apapun, apalagi terhadapnya, saat di luar rumah, Elly akan berbicara formal layaknya bawahan yang hormat kepada atasannya.


Dan di mulailah hari Ellynda menjadi seorang pelayan melayani Alves sebagai majikannya dengan benar.


__ADS_2