Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
165 : Tunjuk


__ADS_3

"Ukh..!" Begitu Alves ingin mencium Elly, tiba-tiba saja rasa sakit itu mendera di dadanya.


Elly buru-buru langsung membuat jarak dari Alves, dia tahu kalau tubuh Alves ini masih belum sembuh dari luka bakar itu, jadi dia sebaiknya tidak begitu membuat tubuh Alves bergerak keras.


"Bagaimana dengan dadamu?"


Alves melirik ke bawah, dan melihat kulit tubuhnya yang sudah mulai mengempis tidak seperti sebelumnya yang sempat memerah. "Masih sedikit sakit."


"Jangan terlalu banyak bergerak keras dulu. Aku yakin aku terus bicara seperti itu pada diriku sendiri, tapi rasanya aku melanggar ucapanku sendiri." Gerutu Elly sambil melihat dada Alves yang mempunyai bekas luka bakar.


"Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan, yang penting kau bisa merawatku dengan baik itu sudah bagus." jawab Alves.


"Iya, aku akan merawatmu sampai sembuh dan sampai tidak membekas lagi. Lagi pula akulah yang menyebakan kau tersiram kopi, maaf." ucap Elly dengan lirih.


"Terserahmu, yang penting tugasmu bisa kau kerjakan dengan baik." tidak ingin melihat Elly beraut wajah sedih, Alves pun mengusap ujung kepala Elly.


"Uhmm..." dehem Elly dengan wajah polosnya.


'Dia benar-benar bisa berakting. Padahal beberapa waktu lalu dia terlihat menikmati permainan nya untuk mengerjai Arlo itu, tapi sekarang- sekarang...., kenapa dia seimut ini?!' Pekik Alves dari dalam hatinya, demi menahan obsesi nya itu, Alves terpaksa menyudahi tindakannya itu dan memilih untuk segera memakai pakaiannya. "Aku ubah pikiranku. Pinjam handphonemu, tiba-tiba punyaku mati." Kata Alves.


Elly mencoba mencari handphone nya, yang dia letakkan di-


"Elly apa kau mencoba menggodaku? Kenapa kau malah meletakkan handphonemu itu di dalam bra mu?" tanya Alves, terus mencoba untuk menahan sipu malunya.


"Bukannya itu gunanya handphone lipat ini? Karena ini kecil, aku jadinya bisa meletakkannya di sini."


Alves sesaat mengalihkan pandangannya ke arah lain dan membatin, 'Benar sih, itu gunanya handphone lipat itu. Tapi apa harus di letakkan di sana?'


Lalu setelah itu, Elly pun memberikan handphone nya dan meletakkannya di atas telapak tangannya Alves.


''Ini."


Alves langsung membuka handphone itu dengan meletakkan sidik jarinya di atas permukaan layar handphone tersebut, kemudian dia langsung langsung menekan nomor handphone milik seseorang.


"Alves, kenapa kau bisa bukan handphone ku dengan sidik jarimu?" Kernyit Elly.


'Mampuslah, aku belum mereset kunci sidik jariku.' lalu dengan berbagai alasan, Alves berkata : "Milikmu jadi milikku, dan milikku jadi milikmu, kiasan itu selalu ada untuk kau dan aku. Jadi jangan heran, kenapa aku bisa membukanya, karena aku juga sudah mensetting handphoneku agar kau bisa membukanya juga. Jadi seharusnya ini adil, ya kan?"


'Licik. Berarti aku juga tidak punya privasi juga, jika ternyata dia bisa membuka layar handphoneku.'


_______________


"Arlan, apa kau sudah bangun?" Tanya seseorang di balik pintu besar berwarna putih itu.


"Hmm, masuk." Jawab pria ini. Meskipun rambutnya memang berwarna putih perak, maka tidak dengan iris matanya yang berwarna biru muda.


"Apa kau sudah baikkan?" Tanya Arlo. Sama seperti Arlan, pria ini pun memiliki warna rambut yang sama, namun berbeda dari saudaranya itu, Arlo memiliki warna mata violet.


"Apa mereka baik-baik saja?"


"Apa kau akhirnya menyesali perbuatanmu itu? Gara-gara kepribadianmu yang satunya lagi tidak bisa kau ******, kau sudah membuat nama keluarga ini terseret habis. Untungnya keluarga Avaris mau mentolerir kekacauan yang kau buat itu." Jelas Arlo, dengan aura nya yang mengintimidasi itu, Arlan pun hanya diam sambil mengarahkan pandangannya ke arah lain. "Apa yang sebenarnya dia cari, sampai kau berbuat seperti ini?"


"Raelyn, dia ingin Raelyn." Jawab Arlan dengan malas.


Tidak seperti malam tadi yang terlihat seperti orang gila, sekarang Arlan bersikap lebih waras dan bicara normal seperti biasa.

__ADS_1


Tapi karena perbedaan sifat diantara mereka berdua, keberadaan dari Arlo pun cukup sangat mendominasi sampai auranya yang cukup dingin itu menusuk sampai ke tulang Arlan.


"Tidak ada gunanya kau menatapku seperti itu." ucapnya. "Pergilah jika hanya itu saja yang kau katakan padaku." imbuhnya.


"Jangan lakukan hal memalukan lagi. Karenamu, aku harus membereskan masalahmu." Kata Arlo, lalu dia pun berbalik dan pergi dari sana.


KLEK....


Arlan, dia hanya diam sambil menatap kepergian dari adiknya, dan begitu sudah keluar, Arlan kembali berbaring sambil merenung dengan apa yang terjadi malam tadi.


_____________________


Setelah kejadian tempo hari, berita mengenai penyerangan yang terjadi di malam itu, yang seharusnya menyebar, sama sekali tidak ada.


Hal itu terjadi karena ada banyak orang yang mulutnya sudah di tutup.


Bahkan, sekalipun sudah tersebar, beberapa pihak yang sudah bekerjasama dengan keluarga Avaris untuk menekan berita itu, maka berita itu pun langsung terhapus secara otomatis, sehingga sama sekali tidak ada berita apapun yang menceritakan kejadian tempo hari.


"Untung saja tidak menjadi bahan berita utama. Berapa banyak duit yang kau keluarkan untuk menekan berita ini?"


"Bukan aku, tapi merekalah yang menekan berita itu." jawab Alves seraya menikmati pijatan yang di lakukan oleh Elly.


"Bertanggung jawab sekali mereka. Akusuka dengan keluarga seperti itu."


"Jadi apakah kau juga suka dengan pria itu juga?"


"Pria tampan kan terbaik."


"Apakah aku kalah tampan dengan dia?" tanya Alves dengan selamba, sebab dia tidak terlalu suka dengan ucapan yang keluar dari mulutnya Elly ini.


"Tidak, kenapa kau terus mencoba membanding-bandingkan dirimu dengan orang lain? Walaupun dia tampan, tetap saja kau yang terbaik." Puji Elly dengan terus terang. Walaupun kenyataannya hatinya mengatakan kalau mereka berdua sama-sama memiliki standar wajah tampan yang sama. Tapi dia tetap sadar kalau dia harus memuji pria ini agar suasana hatinya tetap baik.


Dan Elly pun menekan bagian pinggangnya Alves untuk di pijat.


"Apa kau mau sarapan?"


"Tidak usah. Pijat saja sampai aku puas." kata Alves sekali lagi menikmati punggungnya bisa di pijat oleh tangannya Elly.


KRUYUUKK....


Pada akhirnya suara perut yang mengaum itu membuat Alves dan Elly langsung berekspresi wajah datar.


"Mulutmu memang mengatakan tidak, tapi tidak dengan perutmu, tuh."


"Apa kau tidak bisa menganggapnya tidak mendengar suara perutku?"


"Bagaimana aku bisa melakukan itu padahal aku benar-benar mendengarnya dengan sejelas itu? Sudah dulu, ku akan buat sarapan, kau duduk diam saja di sini, mau kau goyang kaki atau goyang pan*at, silahkan saja." cuek Elly, lalu dia pun pergi dari sana meninggalkan Alves sendirian di kamar.


"Elly, jangan lama-lama!"


"Aku tidak bisa tidak lama! Nasi kan belum aku masak juga!" Teriak Elly yang sudah ada di lantai bawah.


"Gara-gara perut! Kau mengganggu kencanku ya." Alves yang kurang puas hati dengan nasibnya itu, beberapa kali memukul perutnya sendiri, sampai dia akhirnya menyerah. 'Kira-kira bagaimana dengan mereka bertiga ya? Hmph, aku jadi penasaran dengan tiga orang yang sudah di tangkap Orson itu.'


_______

__ADS_1


Di tempat lain, salah satu ruangan yang begitu remang dan sedikit gelap, di sana ada tiga orang yang di sandera oleh Orson.


Dia adalah Arya, Liam, dan satu lagi-


Orson melirik ke arah satu orang lagi yang masih belum menyebutkan namanya sendiri, walaupun Orson sudah tahu nama dari seorang pria yang waktu itu menyamar jadi seorang wanita dengan sempurna.


"Apa kau bisa melepaskanku? Aku sudah kebelet." Ucap Liam, dia adalah orang yang beberapa malam lalu berhasil menyelinap masuk kedalam rumahnya Alves.


Mendengar Liam ingin kencing, Orson pun memerintahkan salah satu orang untuk mengambilkannya sebuhh botol.


"Buka kaki anda." Dan tanpa di duga, seorang wanita tiba-tiba saja masuk dengan membawa sebuah botol serta alat khusus agar Liam bisa buang air kecil tanpa perlu ke toilet.


"Apa? Kau mau apa?"


"Anda kan tadi bilang sudah kebelet, bukannya anda sudah ingin buang air kecil? Sini, biar buang di sini." ucap wanita ini kepada Liam.


"Orson, aku ingin ke kamar mandi, bukan buang air kecil disini!" Protes Liam.


"Tujuannya kan sama, baung air di situ saja, lagi pula ada yang membantumu juga, kau seharusnya senang, ya kan? Biasanya pria juga seperti itu, di sentuh wanita pasti langsung senang." ledek Orson sambil tersenyum simpul.


"Orson, kalau kau menganggapnya seperti itu, kau salah besar. Lepaskan aku dulu, aku ingin pergi ke toilet."


"Tidak sini, toiletnya sudah saya bawa, tinggal buka kaki anda saja."


"Pfftt...." Arya yang sama-sama masih terikat di kursinya itu, langsung tertawa.


Karena mereka bertiga sama-sama matanya di tutup dengan kain hitam, maka mereka pun sama sekali tidak bisa melihat wajah lawan bicaranya masing-masing.


"Apa yang kau tertawakan?!" Marah Liam, tapi belum sempat untuk bicara lagi, Liam langsung tersentak saat kedua kakinya tiba-tiba saja di buka dengan paksa oleh seorang maid. "K-kau! Kau jangan sentuh itu!" Pekik Liam, dia jadi kelabakan saat dia merasakan kalau resletingnya di buka.


"Bereskan sekarang juga." Perintah Orson,


"Baik Tuan." Dengan wajah tanpa ekspresi, wanita ini pun benar-benar membuka harta benda yang ada dalam pembungkus itu dan akhirnya sebuah sentuhan pun terjadi.


'Ikhh...!" Teriak Liam di dalam hatinya begitu dia merasakan sensasi aneh yang langsung masuk kedalam sebuah lubang.


"Hahahaha, hahahaha, aku jadi tidak tahan ingin melihatnya. Tapi sayang sekali, mataku harus tertutup seperti ini." Tawa Arya pun terus menggema di dalam ruangan tersebut.


"Arya, diamlah, jangan ganggu konsentrasiku!" Pekik Liam, karena dia memang sudah tidak bisa menahan untuk tidak buang air kecil, sehingga tanpa buang waktu lama, setelah keheningan yang terjadi itu, Liam akhirnya bisa kencing tanpa di sentuh secara langsung oleh tangan sang pelayan tersebut.


"Baiklah, kare-"


"Tuan Oson, bolehkan saya bawa ini untuk saya minum?"


Mendengar pelayan itu meminta izin dari Liam untuk membawa air kencing milik Lian untuk di minum, sontak semua orang yang ada di sana langsung berekspresi wajah horor.


"Tidak, jika kau ingin minum, standarnya hanya punyamu saja, jangan milik orang lain."


"K-kau, kau apa yang mau kau lakukan dengan air kencingku?"


"Tidak ada Tuan, saya akan membuangnya."


"Nah la-"


"Shhttt...diam, kau buang itu dan pergi dari sini, dan Liam, Arya, Dodo, kalian bertiga juga, sekarang beritahu aku apa alasan kalian bertiga membuat onar dengan Bosku?

__ADS_1


Kau Arya, mau mencuri flashdisk, kau Liam, mau mencuri perhiasan di rumah Bosku, dan kau Dodo, kau benar-benar membuat perkara tidak jauh berbeda dengan mereka berdua, tapi apa yang sebenarnya kau harapkan sampai memasang bom di seluruh tempat?


Pasti ada alasan lain kan selain membuat tempat itu jadi kuburan masal?" tunjuk Orson kepada mereka bertiga secara bergantian.


__ADS_2