Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
138 : PTRI : Hadiah tersembunyi


__ADS_3

Hari-hari kembali di jalani oleh mereka semua seperti biasanya.


Bekerja dan bekerja, itulah kondisi dari mereka yang menginginkan kebutuhan finansial untuk menunjang kehidupan mereka semua dalam menjalani hidup mereka yang keras.


Ketika banyak orang sedang sibuk untuk bekerja, maka tidak dengan mereka berdua yang akhirnya berkunjung ke suatu tempat.


"Kita akan pergi kemana?"


"Suatu tempat yang pastinya kau sukai dari pada shoping ke mall beli barang branded untukmu." Jawab Alves, dia saat ini sedang menyetir mobil, dan membawa mereka ke suatu tempat yang letaknya sedikit jauh dari kota.


Tepatnya, mereka pergi ke tempat persinggahan kapal kargo, yang kebetulan sudah tidak di gunakan lagi.


"Pelabuhan?" Gumam Elly, dia menatap pemandangan luar jendela mobil dari tempatnya.


Sebuah pelabuhan yang sudah terbengkalai menjadi destinasi mereka berdua, membuat Elly mengingat ingatan masa lalunya kalau pelabuhan alias dermaga, adalah tempat dari akhir hidupnya.


Malam yang dingin, hujan deras yang menyelimuti suasana sakit hatinya di khianati calon suaminya, dan berakhir dengan menemui mantan tunangannya, Azriel.


'Dari pada aku mengingat pengkhianat orang itu, ingatanku yang paling jelas justru saat aku berdua dengan Azriel. Dan-' ketika pikirannya terhenti untuk berargumen sendiri, Elly melirik ke arah samping kirinya.


Alves, terlihat kalau pria di sampingnya punya perangai yang bercampur aduk. Percampuran antara sifat Alves yang asli dengan sifatnya Azriel. Elly hanya menebaknya saja, kalau Alves tiba-tiba menjadi Azriel, tapi karena tubuhnya tetap milik Alves, tentu saja pria ini tetaplah orang yang sama.


Itu yang ia yakini tentang majikannya yang terus menerus membawanya dalam nostalgia dari masa lalu mereka berdua dari kehidupan sebelumnya.


"Kita mau apa?"


"Bukannya kau waktu itu pernah ingin ikut denganku?" sahut Alves.


'Waktu itu?' Elly bingung, waktu itu yang di maksud oleh pria ini itu tepatnya kapan?


Itulah yang terus menerus di cari di dalam otak kecilnya Elly.


'Ingin ikut, berarti apakah aku pernah mengalami penolakan agar aku tidak ikut?' Begitu Elly terus memikirkannya, Elly menemukan kilatan dari sebuah tempat yang letaknya ada di atas gedung kantor milik Alves ini.


Sebuah helikopter dan dua orang yang terlihat bergegas untuk pergi ke suatu tempat.


Waktu yang di maksud oleh Alves rupanya ketika hari dimana ada kasus pencurian.

__ADS_1


'Jadi tempatnya ini?' Elly akhirnya tahu, tempatnya adalah pelabuhan ini, tempat yang di tuju oleh Alves sekitar satu minggu yang lalu.


Begitu mobil yang mereka berdua naiki sudah sampai di samping gudang terbengkalai, mereka berdua turun dan langsung di sambut oleh satu orang berpakaian lusuh.


"Selamat datang Tuan." Menyambut Elly dan Alves. Karena Bos nya datang dengan membawa seseorang yaitu Elly, pria ini pun menyapa Elly dengan sekedar membungkuk saja.


"Bagaimana kondisinya terkini?" Tanya Alves, karena merasa gerah, dia melepaskan jas yang membalut tubuhnya dan memberikannya kepada Elly.


"..." Elly dengan patuh, menerima jas milik majikannya itu.


Dan, aromanya yang sama persis dengan mantan tunangannya dulu, membuat Elly malah memeluk jas itu sambil menikmati nuansa nostalgia yang ingin ia rasakan sendiri.


"Semua senjata yang pernah di curi, sudah kami lacak dan akhirnya kami sudah mendapatkan dua pelaku yang merupakan anak buah dari, mungkin Bos mengenalnya." Akhir kalimat yang ia ucapkan sedikit ragu. Tapi sebagai tambahan apa yang ia katakan benar, maka pria ini memberikan tab kepada Alves.


Deretan dokumen yang berisi file pribadi milik seseorang yang di jelaskan secara ringkas namun juga padat, membuat Alves tiba-tiba tersenyum.


Sebuah senyuman simpul yang mengartikan banyak makna kepadanya.


Sampai dua orang yang ada di samping kanan dan kirinya, hanya memilih diam sambil memperhatikan raut wajah pria tampan itu.


'Jadi di sini ada pencurian juga? Lagian, bukannya dia orang yang cukup kaya sampai bisa membuat banyak villa di seluruh negara? Kenapa pakai menggunakan pelabuhan sebagai tempat penyimpanan senjatanya?


Apa aku salah?' Sampai pikiran Elly langsung terhenti saat manik mata dari pria di sampingnya ini, menangkap ekspresi wajah berpikir milik Elly, sehingga Elly pun bertanya, "Apa?"


Alves yang saat ini kembali seperti sikapnya yang dingin, langsung menyahutnya : "Tidak apa, tapi apa aromaku sangat membuatmu terpikat?"


"...!" Elly seketika menurunkan pakaiannya Alves yang sesaat tadi sempat Elly peluk-peluk hingga mengendus-endus aroma yang tertinggal di pakaian tersebut, dengan melipatnya dan menentengnya. 'Aku tarik kembali, dia terus seperti orang gila yang terus saja menggombal.'


'Dia siapanya Bos? Cantik, tapi bukannya Bos tipe orang yang tidak akan membawa wanita manapun di sisinya, selain pergi ke pesta saja untuk formalitas belaka? Tapi yang aku lihat ini, Bos malah membawanya ke tempat seperti ini, sampai- sejak kapan Bos bisa menggombal seperti itu?' Seperti yang di pikirkan nya karena merasa ada keanehan pada majikannya itu, orang-orang yang bertugas untuk berjaga, juga punya pikiran yang sama dengannya.


"Kau bisa peluk jas ku sesuka hati, jadi jangan ragu melakukannya." Imbuh Alves dengan raut wajahnya yang datar.


Ya, walaupun wajahnya mengatakan untuk bersikap seperti orang yang dingin, tapi tidak dengan hatinya yang sudah tertawa geli melihat tingkah dari wanita di sampingnya itu.


"Tidak." Jawab Elly singkat.


Sesaat berada di depan pintu, Alves tiba-tiba berhenti dan memutar tubuhnya ke arah Elly. Sambil merogoh saku yang ada di celananya, tiba-tiba saja Alves memberikan sesuatu kepada Elly.

__ADS_1


"Untukmu." Alves menyodorkan sebuah handphone berukuran mini ke arahnya.


Warnanya ungu, dan ada nama inisial yang tergores di permukaan handphone tersebut, membuat kesan mewah dan cantik tertanam pada barang yang sedang di berikan kepadanya.


"Handphone?"


"Hm, alasan aku lama memberikannya kepadamu, karena ini harus di pesan dulu sesuai dengan desain yang aku buat." Jelas Alves.


Elly menatap wajah Alves dan handphone yang ada di atas tangannya itu secara bergantian.


Elly awalnya ragu, dan apalagi kenapa pria ini sampai repot-repot mendesain dan membuatnya secara khusus?


"Wah, terima saja Nona." Ucap salah satu anak bua nya Alves, memberikan kepercayaan kepada Elly untuk menerima barang yang di berikan oleh Alves.


Sebuah handphone lipat di berikan kepada Elly, dan saat itulah Elly tiba-tiba saja jadi bingung, apakah ia harus menerimanya?


Tapi, bahkan semua barang yang di berikan dari pria ini kepada Elly, Elly anggap cukup berlebihan.


Banyak pikiran yang terlintas di benaknya. 'Padahal kalau memang iya aku dibelikan handphone, aku ingin handphone seperti miliknya itu. Layarnya bisa jadi lebih lebar, dan ini? Kecil.'


"Tanganku bisa patah, cepat ambil." tutur Alves.


"Nona, tangannya Bos sudah kelelahan, ambil saja itu." Ikutan geram melihat Elly terus berpikir keras untuk menerimanya atau tidak.


"Ta-"


Begitu ingin bicara lagi, ucapannya Elly langsung terpotong saat melihat tangan Alves yang mau jatuh dan melepaskan handphone yang ada di tangannya.


Melihat hal tersebut, karena terlihat sayang jika handphone nya jatuh, sebelum barang itu benar-benar jatuh, Elly dengan tangkas langsung menangkapnya.


GREP...


'I-itu hampir saja. Kelihatannya kan sayang jika wanita ini tidak menerimanya. Dan Bos ini, beliau memang sengaja ya menjatuhkan barang mahal itu, karena percaya kalau wanita itu bisa menangkapnya?' Lirik anak buah Alves ini kepada Bos nya itu yang terlihat sedikit tersenyum tipis, sebelum akhirnya pudar ketika mereka berdua sempat bertatap mata.


"Karena itu sudah ada di tanganmu, berarti itu sudah jadi milikmu." Tutur Alves dengan bangga.


Benar, wajah bangga nya itu cukup terlihat dengan jelas di matanya Elly, sehingga Elly pun merasa aneh dengan sikap dari pria ini.

__ADS_1


'Ada yang aneh, tapi apa?' pikir Elly, masih tidak bisa mengalihkan pandangannya dari majikannya yang terus bersikap aneh dan campur aduk dengan kepribadiannya yang lain.


__ADS_2