
'Kenapa dia melihatku seperti itu?' Elly terheran dengan wanita asing yang tidak Elly kenal itu, sebab terus memberikannya tatapan yang cukup tajam, seakan ia adalah orang yang merebut kekasihnya.
"Namamu siapa?" Akhirnya Asena bertanya juga. Setelah berjalan ke arah lantai dua, menuju kamar yang Asena gunakan.
"Alves memberiku nama Elly, Ellynda."
"Hm? Alves yang memberimu nama? Lah namamu sendiri, apakah kau tidak tahu sampai menyuruh Alves memberimu nama?" Tanya Asena lagi, agar semua rasa penasarannya menghilang, tentu saja yang bisa Asena lakukan adalah dengan menanyai orangnya secara langsung.
"Aku-" Elly tiba-tiba memegang kepalanya, menyibak poni dari rambut kusutnya itu ke belakang, lalu menjawab : "Kehilangan ingatanku."
'P-pesona dia, apa dia sengaja agar terlihat keren seperti itu?' Kernyit Asena melihat Elly terlihat seperti bukanlah wanita yang biasa saja. 'Lau penampilannya ini, apa yang sebenarnya sudah wanita ini dan Alves lakukan? Ah...! Jangan-jangan alasan mereka hujan-hujanan karena mereka baru menyelesaikan ronde pertama sebelum pelaminan!'
Hanya dengan memikirkan hal itu saja, Asena langsung bersemangat, ada sesuatu yang ada di dalam diri Asena yang berkobar, bahwa dia harus melakukan sesuatu pada wanita ini.
"Rumahmu bagus. Tapi tidak ada lift, apakah tidak ada robot juga? Dan pintu juga tidak terbuka otomatis."
"Aku terima pujianmu soal rumahku yang bagus, tapi jika kau mengharapkan ada lift atau robot, harapanmu sia-sia.
Lagi pula, kenapa aku butuh Lift, lantai juga hanya tiga, dan robot, biayanya juga mahal."
Elly terus memperhatikan bagian dalam rumah yang terlihat mewah. Ya.... Itu memang mewah, namun tidak semewah yang Elly miliki di kehidupan sebelumnya.
Tapi apapun itu, yang penting bagi Elly saat ini adalah bisa hidup. Menjalani hidup yang ia suka adalah sesuatu yang sudah Elly impikan, dan karena kesempatannya ada di sini, maka ia akan mengambilnya dengan sebaik mungkin.
"Ini kamarku. Kau harus mandi dulu agar kau tidak masuk angin." Membuka pintu kamarnya, dan setelah itu membawa Elly masuk kedalam kamarnya.
'Aroma pria dan wanita, mereka berdua sudah menikah ya?' Ketika melirik ke arah jari manis dari salah satu tangan Asena, Elly pun akhirnya mengetahuinya juga, kalau wanita ini dan pria yang ada di bawah sana sudah resmi menjadi pasangan suami Istri.
Bahkan bukti itu di perkuat dengan adanya bingkai besar yang menampilkan foto pernikahan anatar Asena dan Gibran.
"Dimana kamar mandinya?" Elly terus mengedarkan pandangannya ke segala penjuru, hingga ia akhirnya menemukan sebuah pintu dari kamar mandi itu sendiri.
Sedangkan Asena yang sedang membuka lemari dan hendak menjawab pertanyaannya, hanya bisa mengatupkan mulutnya saja, sebab Elly sudah lebih dulu masuk kedalam kamar tujuannya.
__ADS_1
'Apakah perasaanku saja? Aku merasa dia seperti sangat memperhatikan semua yang ada di sekitarnya.' Benak hati Asena, merasakan kejanggalan dengan keberadaan Elly.
_________________
"Tidak mungkin dia pelayanmu kan?" Gibran pula, dia jadi asik mengobrol dengan Alves yang lebih suka melihat ke arah handphone ketimbang lawan bicaranya sendiri.
"Apa kau sama sekali tidak percaya?"
"Ya, lagian pelayanmu cantik seperti itu, aku pikir setelah waktu itu kau menangkap buket bunga pengantin milik Asena, kau benar-benar sudah mau menyusul. Wanitanya sudah ada, kau punya kekayaan, tinggal nikah juga, pakai jadi pelayanmu segala."
"Hei pengantin baru." Alves sedikit menepuk meja marmer itu sambil memandang Gibran dengan tatapan remehnya. "Dari pada membahas pelayanku itu, bukannya lebih baik fokus saja pada pada Istrimu?"
"Berisik. Aku setiap hari sudah fokus, bahkan tadi sudah hampir fokus sekali, sampai kau merusak suasananya." Tegas Gibran. Padahal tadi hampir waktunya mereka berdua masuk ke dunia milik mereka berdua, tapi semua hancur gara-gara Alves yang sembarangan masuk kedalam rumah orang.
"Salahmu sendiri, tidak dengar ada tamu mengetuk pintu." Ejek Alves sambil meminum air isotonik dari botolnya langsung.
"Aku juga yang salah, padahal kau yang salah, seenaknya masuk ke dalam rumah orang." Ucap Gibran, membuat Alves semakin tersenyum lebar karena berhasil menghancurkan suasana intim milik Gibran dan Asena.
“Kau mau pergi kemana?”
“Masa iya, aku mau pergi ke pesta dengan pakaian seperti ini? Aku akan ganti baju. Oh ya, siapkan camilan untuk pelayanku ya.” Perintah Alves. Dan pria ini langsung pergi begitu saja untuk mengambi setelan jas yang ia letakkan di suatu tempat, dan ia akan berganti pakaian sebelum Elly selesai.
Walaupun Alves tahu jam wanita untuk sekedar berdandan saja bisa sampai tiga puluh menit atau bahkan satu jam, Alves lebih memilih sudah rapi terlebih dahulu.
Seperginya Alves, Gibran jadi sendirian. Tapi entah karena gerangan apa yang terjadi, Gibran benar-benar menyiapkan camilan untuk pelayannya Alves yang sedang di rias oleh Istrinya.
Dia menyiapkan air susu hangat, beberapa kukis, ada juga jelly, serta ada sandwich yang bisa di makan dengan rapi, karena Gibran membuatnya dalam bentuk potongan kecil-kecil sebelum di tusuk dengan tusuk gigi.
Seelah siap, Gibran pergi naik ke lantai atas. 'Kenapa aku melakukan ini? Ah, mungkin saja Asena juga lapar, jadi aku sekali saja memberikannya makan.'
Gibran menaiki satu persatu anak tangga, setelah sampai di atas, dia pergi ke arah kiri, tidak perlu waktu lama karena memang dekat dengan tangga, Gibran pun sampai.
"Asena, aku membawakan camilan untukmu dan Elly." Kata Gibran dengan nada lembut.
__ADS_1
"Ya, masuk saja, tanganku sedang sibuk." Sahut Asena dari dalam kamar.
"Aku masuk," Dengan sopan, Gibran masuk kedalam kamar yang sebenarnya adalah milik mereka berdua, sampai ternyata Asena sibuk karena sekarang sedang me make over Elly, wanita si pelayan yang di bawa Alves.
"Um...apa kau bisa menyuapiku satu?" Tanya Asena, meminta bantuan Gibran agar mulutnya setidaknya ikut bekerja untuk mengisi perutnya yang kosong itu.
"Ok, baiklah." Dengan begitu patuhnya, Gibran berjalan menghampiri Asena yang ada di depan meja rias.
Ia meletakkan nampan di atas nakas, dan mengambil satu sandwich yang sudah terpotong kecil itu dan memasukkannya kedalam mulutnya Asena.
"Nih." Mengulurkan tangannya ke depan, dan Asena yang tadinya membungkuk, sudah berdiri dan mulutnya yang terbuka itu langsung melahap sepotong sandwich tersebut.
"Hmm..., kau memang terbaik jika membuat ini."
"Jangan bicara jika sedang makan." Beritahu Gibran kepada Asena yang suka sembrono dan tidak memperlihatkan keanggunan, jika sedang ada di rumah.
Elly yang merasa iri, ingin makan juga.
"Eh..kau mau apa?" Tanya Asena.
"Aku ingin mencicipinya." Jawab Elly. Hanya saja, ketika tangan kirinya hendak meraih apa yang di makan oleh Asena itu, gerakan tangannya langsung terhenti saat Gibran mengambilkannya dengan tusuk gigi dan memberikannya kepada Elly.
"Ini, makan dan berikan aku komentar soal rasanya." Kata Gibran.
Elly yang tadinya menunduk itu, langsung sedikit mendongak ke atas dan menatap makanan yang sudah ada di depannya, mengambil sandwich itu dan memakannya.
"Ini, asin~" Tatap Elly kepada Gibran.
Gibran yang baru saja melihat wajah Elly yang menatap kearahnya, tiba-tiba jadi shock sendiri, karena riasan yang di kerjakan oleh Asena membuat Elly nampak semakin cantik.
'A-alves, dia memungut bidadari dari mana?' Terkejut Gibran, sehingga dia langsung berbalik dan pergi keluar.
Asena yang tidak begitu memperdulikan kalau Gibran tercengang dengan hasil karyanya, hanya melanjutkan urusannya untuk menata rambut milik Elly lebih dulu.
__ADS_1