Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
122 : PTRI : Pencarian


__ADS_3

TAK...


Satu pukulan yang begitu jauh, di dapatkan oleh Aiden, menantang posisi Alves.


"Kerennya, anak itu ternyata pintar juga main Golf, hanya dalam sekali pukulan, bolanya tidak jauh dari lubang."


"Kau pilih siapa?"


"Aku tentu saja pilih Tuan Alves, lah. Mau seberapa dia punya pasangan, nyatanya aku tidak bisa mengalihkan hatiku dari pria itu." Jawabnya dengan jujur.


Banyak orang yang sedang menonton lewat acara live, karena untuk memeriahkan acaranya, ada kameramen yang siap sedia merekam dan mengirimkan hasil rekaman eksklusif itu ke arena bagian penonton.


Sedangkan di samping mereka semua sedang sibuk menonton, lalu Alves dan Aiden tengah bertanding di luar ruangan, Elly yang merupakan jadi bahan taruhan untuk mereka berdua, sedang duduk sendirian di lantai dua, dan tengah mengawasi pertandingan itu sendiri dari tempatnya.


"Apa Alves mencoba berpura-pura untuk mengalah lebih dulu?" Gumam Elly. Elly berdiri di balkon, dan menonton dari jarak jauh. 'Padahal menurut ingatan dari tubuh ini, pemilik tubuh ini sudah menyatakan kesepakatan untuk putus dengannya. Dia sendiri juga sudah menerima permintaan putus, tapi kenapa- dia kembali mengejar-ngejarnya? Apakah karena aku?'


Tidak mau tahu, dan hanya berharap kalau keputusannya menerima tantangan itu sendiri adalah keputusan yang benar, dengan berharap Alves bisa menang, Elly pun pergi masuk kedalam ruang istirahat.


Awalnya memang seperti itu, tapi Elly tiba-tiba saja melihat ada sesuatu yang janggal di luar ruangan.


"Hei, ayo pergi-pergi, cari sampai ketemu."


"Tapi mencarinya dengan waktu semepet ini? Lebih baik kita kabur saja dari sini, ketimbang mengambil resiko."


"Apa jika kau kabur dari sini, apa kau bisa tenang, jika terjadi apa-apa dengan orang-orang di sini?"


"Terserah katamu, lebih baik tidak ambil resiko. Kita itu belum tahu lokasi persisnya ada di mana saja, waktunya mepet, dan kau menyuruhku untuk mencarinya? Itu sama saja dengan cari mati. Gedung ini juga terlalu luas untuk di cari secara manual. Sana, kalau kau mau mencarinya, aku tidak ingin ikut."


"Kau ternyata teman yang egois ya? Bisa-bisanya meninggalkan tugasmu, padahal kau kerja di sini untuk menjaga tempat ini agar aman."


Dan setelah berdebat sesaat dengan rekan kerjanya, pra berseragam hitam ini pun menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


"Bagaimana ini? Aku juga takut sih, tapi aku bukan orang yang bisa meninggalkan tanggung jawabku sebagai seorang scurity disini." Gumam pria ini, melihat kepergian dari rekan kerjanya yang sudah lebih dulu kabur, sebelum menjalankan tugasnya.


"Kau punya sifat yang bagus, aku suka itu." Bisik Elly, tepat di telinga scurity muda itu.


"Kwaahh...!" Pria ini pun terkejut setengah mati dengan bisikan yang terdengar sedang menghasutnya dengan nada yang begitu lirih dan menggoda.


"Kenapa kau terkejut seperti itu? Apa aku semenyeramkan itu?"


"B-bagiamana tidak terkejut, kenapa anda berbisik di telinga seorang pria tulen sepertiku?!" Protes pria ini sambil menutup telinga kanan yang sempat menjadi korban bisikan sesat dari Elly.


"Pfft, ternyata kau orang yang lucu, menyebut dirimu pria tulen di depan wanita secara langsung begitu." Elly terkekeh setelah mendengar jawaban tidak terduga itu, karena di balik tampangnya yang sepuluh sebelas dengan Alves, pegawai scurity ini malah bertingkah seperti anak kecil. "Aku tahu kok, kau pria, lumayan, tapi apa kau punya pacar?"


Karena Elly tidak tahan melihat tingkah lucunya, Elly jadi spontan menggodanya.


Tentu saja, seketika wajah pria ini langsung bersemu merah, karena kehadiran Elly sendiri memang sudah langsung menarik perhatiannya.


"B-belum lah, sudah, sebaiknya anda jangan mengganggu saya, saya ada banyak pekerjaan." Berpura-pura tidak bisa bicara lebih lama lagi, padahal ingin bicara lebih banyak lagi dengan Elly, tapi karena pekerjaannya saat ini juga terlalu serius juga, maka ia pun harus meninggalkan Elly.

__ADS_1


"Pekerjaan seperti apa?" Elly dengan sengaja memasang wajah penasaran dengan senyuman cerah menghiasi bibirnya, sedangkan langkah kakinya terus membawanya pergi mengikuti scurity ini.


"Sebaiknya anda jangan bertanya seolah anda tidak tahu. Saya lihat tadi anda sempat mengintip, tapi saya hanya tidak tahu kenapa anda bisa-bisanya tiba-tiba ada di belakang saya." Ungkap scurity ini, bahwa dia memang tahu kalau sesaat tadi ada yang sedang menguping pembicaraan mereka berdua, tapi hanya tidak tahu, bagaimana bisa Elly tiba-tiba sudah ada di belakangnya persis.


"Pfftt, ternyata kau separuh peka ya? Mungkin karena kau tadi terlihat sangat frustasi dengan masalah pekerjaanmu, kau tanpa sadar tidak tahu kalau aku diam-diam sudah berdiri di belakangmu." Balas Elly.


'Dia wanita aneh, kenapa juga bicara dengan seorang scurity sepertiku?' Pikir pria ini, tidak begitu percaya bahwa akan ada saatnya bisa bicara banyak dengan seorang wanita, dan kali ini adalah Elly, yang dengan secara gamblang begitu menodai matanya, karena berpenampilan cukup seksi.


"Kau tadi, tidak akur dengan teman kerjamu ya?"


"Dia bukan teman, hanya junior yang baru saja tiga bulan bekerja di sini." Balasnya, dengan nada malas.


"Begitu ya? Pantas saja, dia kabur, karena pasti tiba-tiba dia harus bekerja di tempat yang berbahaya, ya kan? Aku sebenarnya belum tahu apa yang kalian bahas, tapi jika melihat reaksinya yang ketakutan, apakah berhubungan dengan kematian?" Tebak Elly dengan mudahnya, sampai scurity muda ini akhirnya menghentikan langkahnya.


"Benar, jadi kalau anda tahu, kenapa anda tidak pergi saja dari sini? Lagi pula kemungkinannya juga cukup kecil untuk menemukannya, tapi karena ini pekerjaanku, secara kewajiban, aku ingin bekerja dengan benar." Jawabnya.


"Walaupun nyawamu jadi taruhannya?" Tanya Elly.


Keterdiaman dengan ekspresi wajah datar yang tidak di paksakan itu, akhirnya menjadi sebuah jawaban untuk Elly sendiri bahwa laki-laki bertanggungjawab ini, benar-benar mendedikasikan dirinya dalam pekerjaannya.


"Aku suka."


Suara milik Elly itu, sontak membuatnya terkejut, dan langsung menarik segala pikiran dari pria ini, "Apa? Suka apa?"


"Heheh, suka padamu." Ledek Elly, senyuman cerah dan nampak begitu bodoh itu , spontan jadi begitu memikat scurity itu untuk tersipu malu.


"J-jangan bercanda, jangan membuat saya merasa harapan aneh seperti itu." Balas pria ini, sangat tidak ingin di goda oleh Elly.


JLEB....


Rasa sakit tak berdarah di hati yang tertusuk itu, tentu saja langsung menyingkirkan segala pemikiran kalau Elly menyukai dirinya, bukan karena soal pekerjaan.


'Jadi aku salah tangkap sendiri? Kenapa aku langsung berharap kalau yang diucapkannya itu adalah menyukaiku?' Ada rasa sedikit kekecewaan, tapi apa daya, dirinya pun sadar kalau ia tidak sebanding dengan posisi dari wanita di sebelahnya itu. "Terima kasih." Ketusnya.


Elly jadi merasa kasihan, melihat ekspresi wajah dari scurity ini seperti orang yang sedang gagal cinta.


"Mau aku bantu?"


"Memangnya apa yang bisa anda lakukan? Sebaiknya anda dan kekasih anda pergi saja dari sini, seelum terlambat."


"Apa kau baru saja menyuruh Bos mu sendiri meninggalkan tanggung jawabnya untuk membereskan masalah ini?" Tanya Elly.


"Ya?" Bingung dengan ucapannya Elly. "Bos?"


"Orang yang aku layani itu adalah Bos mu itu, jadi secara tidak langsung, aku juga bertanggung jawab dengan apa yang di kelolanya. Jika tempat ini memang sedang berada di situasi masalah, aku bisa membantumu." Jelas Elly. Karena Elly memang punya percaya diri untuk membantu, makannya ia pun menawarkan dirinya untuk membantu masalah yang sedang di emban oleh laki-laki ini.


"Memangnya anda bisa apa?" Tanya scurity bernama Rafa ini.


Dan balasannya, Elly memberikannya sebuah senyuman tipis yang cukup memikat hati dari Rafa ini. Senyuman tulus, tapi juga punya sisi misterius yang cukup dalam.

__ADS_1


__________


"Kita harus pergi mencari kemana lagi?"


"Aku sudah mencarinya sampai ke kolong lemari atau apapun, tetap saja sama, aku masih belum menemukannya."


Banyak orang sedang berkumpul di satu tempat, semuanya tentu saja terdiri dari semua pegawai dari golf resort, dan situasinya adalah untuk mencari keberadaan dari bom.


"Dari pada kalian bicara tidak berguna seperti itu, cepat agar semua orang di evakuasi dari sini." Perintah seorang wanita berambut pirang, dia adalah manager yang bertugas mengelola golf resort itu, dan wewenang untuk memberikan keputusan pun ada di tangannya.


"Tunggu," Suara milik Elly berhasil menyela keputusan dari wanita itu.


"Siapa kau? Kau pikir kami ada waktu untuk meladenimu?" Celetuk wanita ini, tidak suka jika pekerjaannya di ganggu oleh orang luar. "Cepat, kalian pergi berpencar dan evakuasi semua orang." Perintahnya lagi, memberikan titah kepada semua anak buahnya untuk menjalankan misi darurat.


Elly yang merasa terabaikan oleh wanita itu, kembali bicara. "Jika kau melakukan itu, akan ada kemungkinan orang yang ada di balik dalang percobaan pembunuhan masal ini akan mempercepat waktu untuk mengaktifkan bom nya, apa kau ingin mengambil keputusan itu?"


'Sebenarnya siapa perempuan ini? Pakai ikut campur segala.' Tapi karena apa yang di katakan oleh Elly adalah benar, maka dirinya pun tidak bisa untuk tidak mendengarkan ucapan selanjutnya. 'Tapi apa yang di katakan nya itu memang benar sih. Hanya saja-'


"Tapi jika tidak segera di evakuasi, hasilnya juga sama saja. Kami semua juga belum menemukan Bom nya." Salah satu dari mereka pun berani untuk angkat bicara.


"Tapi setidaknya dengarkan apa yang ingin di katakan oleh Nona ini dulu." Akhirnya Rafa pun menyusul juga, dan langsung menyela pembicaraan mereka.


"Rafa, apa kau kenal dengan perempuan ini? Atau jangan-jangan kau akhirnya punya pacar?"


"Lumayan juga, dari mana kau mendapatkanya?" Satu mata demi satu mata yang berasal dari sekumpulan orang, akhirnya melirik dan memberikan satu perhatian kepada Elly yang masih diam tanpa bicara, karena dirinya ingin sampai kapan merek akan bicara terus.


Sedangkan wanita bernama Luciana, si wanita berambut pirang yang memiliki kekuasaan dalam tempat resort ini, tahu kenapa Elly tidak bicara sedikit pun karena banyak anak buahnya yang penasaran siapa Elly ini, Luciana pun angkat suara : "Kalian diamlah. Selama kalian bicara, orang ini tidak akan bicara, apa kalian mau bertanggung jawab karena sudah mengulur waktu lebih banyak dari yang seharusnya?" Tanya Luciana dengan tegas.


'Kalau saja yang kalian katakan itu benar, tapi sudahlah, lagi pula dia kan ada hubungannya dengan pemilik dari tempat ini, jadi ada baiknya untuk tidak terlibat terlalu dala.' Pikirnya.


"Ternyata ada wanita sok cantik di sini, tapi mau apa dia datang ke tempat ini?"


"Kau benar, dia pasti datang kesini untuk sek-"


"Aku bisa mendengar suara kalian." Sela Elly, lirikannya yang begitu tajam langsung menyeret dua orang wanita berpakaian sama seperti mereka berdua.


"Kalian berdua diamlah, dan kau-" Luciana pun menuntut penjelasan yang singkat namun padat. "Katakan, apa yang kau rencanakan, apakah rencanamu itu bagus?"


"Bagus atau tidak, itu terserah dari pandangan kalian. Tentu saja terutama adalah kau," Elly mengangkat sedikit dagunya, menunjuk pada Luciana itu sendiri agar tidak berpikiran kemana-mana lebih dulu. "Aku bisa mengurus soal Bom nya, tapi untuk pelakunya, kau yang urus itu. Jika kau mau bekerja sama denganku, aku akan membantumu, tapi jika tidak, ya tidak masalah, tapi aku akan langsung laporkan masalah ini kepada majikanku. Bagaimana?"


Luciana yang tidak tahu majikannya Elly itu siapa, sudut matanya langsung melirik ke arah Rafa, karena Rafa lah yang kelihatannya sudah lebih kenal lebih dulu dengan Elly.


"....!" Rafa yang sadar dengan tatapan tajam dari Bos nomor dua mereka setelah Alves, buru-buru menunjuk ke arah sebuah monitor yang ada di depan mereka semua.


"Wahh! Tuan Alves, pukulan anda sangat bagus! Dalam satu kali pukulan, bola golf anda sedikit lagi masuk." Seorang pembawa acara, terus mengoceh untuk meningkatkan suasana dari permainan yang di adakan oleh Alves juga Aiden.


'Apa? Jangan-jangan, dia adalah pelayan pribadi milik Tuan.' Mengetahui informasi itu dalam sekali lihat, Luciana pun sudah tidak bisa meragukan lagi akan kedatangan dari Elly ini.


'Sekalinya menggunakan wajah Alves, semua masalah langsung selesai dengan mudah. Dia memang orang yang punya banyak manfaat.' Umpat Elly.

__ADS_1


Tapi meskipun begitu, dirinya pun merasakan senang, karena dia bisa sedikit membereskan masalah soal wanita bernama Luciana yang tadinya sempat begitu memusuhinya.


__ADS_2