Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
58 : PTRI : Rencana


__ADS_3

Di rumah besar kediaman Avaris.


Gerbang besar berwarna putih yang memagari pintu masuk ke kediaman Avaris langsung terbuka secara otomatis, dan memasukkan mobil lamborghini berwarna putih itu ke halaman depan dari mansion dari kediaman Avaris.


"Tuan sudah datang, saya yang akan menyambutnya." Tutur kepala pelayan ini kepada kedua majikan nya itu.


"Cepat bawa anak itu kemari." Tukas laki-laki tua ini kepada satu pelayan nya itu.


"Baik Tuan besar." Pelayan ini bergegas pergi ke pintu depan, untuk menyambut Tuan muda nya itu.


Seperginya pelayan itu, seorang wanita berusia empat puluh tahunan yang kebetulan memang duduk di seberang kakek tuan itu, akhirnya angkat bicara. "Apa alasan Ayah memanggil Alves kemari?"


"Kau tanya kenapa? Kau ini, benar-benar tidak begitu memperhatikan anakmu sendiri ya?" Sindir kakek tua ini kepada anaknya.


"Lagian, apa yang harus di perhatikan? Dia sudah punya segalanya, dan tidak memerlukan kehadiran orang sepertiku." jawab wanita ini seraya menyeruput teh hijau yang masih hangat itu.


Kakek tua ini melirik ke arah anaknya yang memang terlihat tidak begitu peduli dengan urusan anaknya sendiri, seolah menjadi orang yang sama sekali tidak pernah melahirkan anaknya. "Kau ini, sungguh tidak pantas jadi Ibu." Cibir nya.


"Ya~ Kenyataannya aku kan memang tidak bisa jadi ibu yang benar sesuai dengan harapan ayah." Jika bukan karena di suruh untuk duduk bersama, wanita ini pun sebenarnya enggan untuk duduk di sana bersama dengan Ayah nya.


"Tuan muda, selamat datang." Suara dari kepala pelayan yang sedang menyapa Alves pun membuat mereka berdua segera menghentikan pembicaraan mereka.


"Kakek, dan ibu nya." sapa Alves kepada dua orang yang kini tengah duduk di sofa ruang tamu.


"Duduk dulu." Perintah kakek tua ini. Dia adalah kakek nya Alves, yaitu Envar.


'Sebenarnya ada apa ini? Sampai kakek dan Ibu juga duduk di sini juga?' Curiga Alves kepada kakek dan Ibunya.


Envar, kakek dari Alves pun mengamati wajah bingung Alves karena tiba-tiba saja di panggil.


"Apa kau tahu kenapa aku memanggilmu kemari?" Tanya kakek Envar langsung ke Alves.


"Aku mana tahu, tiba-tiba juga di panggil." Jawab Alves dengan malas. Alves sempat melirik ke arah Ibu nya yang bahkan sama sekali tidak melihat ke arahnya. 'Benar-benar deh, padahal wanita itu Ibu ku, tapi aku serasa seperti sudah tidak punya Ibu saja.' Benak hati Alves.

__ADS_1


Sebenarnya Alves masih memiliki kedua orang tua yang masih hidup sehat, serta kakek yang di usianya yang sudah renta sekalipun, meskipun sudah di berada di umur tujuh puluh tahun, tapi kakeknya itu masih bisa berjalan sendiri.


Hanya saja, keluarga Avaris tidaklah seperti yang ada di bayangan kalian. Mereka semua lebih acuh tak acuh pada keluarganya sendiri.


Karena anak tunggal, maka tidak ada kata perebutan kekuasaan. Bahkan jika paman nya sekalipun, diantara mereka semua tidak ada sejenis persaingan perebutan hak waris atau apapun, karena mereka semua lebih suka dengan kehidupan mereka sendiri.


Mungkin karena keturunan, maka dari itu perusahaan milik kakeknya Alves, jadinya langsung di berikan kepada Alves. Baik karena segi faktor usianya yang sudah cukup, dan sekaligus tidak ada orang lain yang cocok selain Alves sendiri.


"Alves,"


Alves terdiam sambil menunggu apa yang akan di katakan oleh sang kakek.


"Kakek ini sudah tua, apa kau sama sekali tidak berencana ingin menikah."


"Ha? Apakah hanya itu saja yang ingin kakek tanyakan kepadaku?" Tanya balik Alves dengan tatapan mata malas.


"Kau itu sudah membatalkan pertunanganmu dengan Asena, jadi jawab saja, apa kau sama sekali tidak memiliki pengganti untuk menggantikan tempat yang tiba-tiba kosong gara-gara Asena yang tiba-tiba menikah dengan orang lain itu?" Tanya kakek Envar.


"Kenapa kakek sangat memaksa sekali, padahal Ibu saja tidak menanyaiku." Kata Alves, makannya dia sama sekali belum menjawab pertanyaan dari kakeknya itu.


"Jika Ayah hanya ingin agar aku mendengar sindiran dari Ayah, lebih baik aku pergi." sahut wanita ini, tidak menerima perlakukan dari Ayah nya itu.


"Tunggu, siapa yang mengizinkanmu pergi." Ucapnya, mempertegas agar anak perempuan nya itu tidak pergi.


" .... " Wanita ini terdiam. Dia benar-benar ngin pergi dari sana, karena suasananya saja kurang nyaman. "Jadi apa alasanku tidak boleh pergi?"'


"Alves dengar kakek, aku ingin kau secepatnya bisa menikah, dan tugasmu-" menunjuk ke arah anaknya sendiri yang masih berdiri. "Aku ingin kau buat rencana untuk kencan buta anak ini."


"Apa?!" Alves dan Ibu nya sama-sama terkejut.


"Dia itu sudah besar, dan bisa memilih pasangannya sendiri, kenapa kakek pakai mendesakku segala?" Protes Ibu nya Alves, karena dia tidak mau kesehariannya terganggu dengan mencari banyak wanita, dan mencari latar belakangnya, itu aalah hal yang sangat melelahkan.


Belum lagi, dia sudah tahu kalau Alves akan menolak segala pilihannya. Maka dari itu, ia benar-benar tidak mau ikut dalam rencana yang di atur oleh Ayah nya.

__ADS_1


"Setidaknya ada hal yang bisa kau lakukan sebagai seorang Ibu kan?" tanyanya, sambil mendelik tajam anaknya itu.


Melihat suasananya tambah runyam hanya karena masalah Alves yang harus menikah secepatnya? Membuat Alves menghela nafas kasar.


"Benar, kali ini aku mendukung apa yang Ibu katakan. Aku bisa mencari pasanganku sendiri, jadi jangan mendesak Ibu ku untuk melakukan sesuatu yang tidak di inginkan nya." Jelas Alves. 'Lagi pula, aku sudah punya bakal calon nya, kenapa harus membuang waktu dengan kencan buta segala?' Pikirnya.


"Aku pikir satu bulan cukup. Jika kau dalam sebulan itu tidak membawa bakal calon pengantin, aku akan turun tangan."


Berkerut-kerut dahi Alves dengan tenggat waktu yang mendesak itu!


"Sebenarnya ada apa? Kenapa kakek terlihat mendesak aku untuk menikah?" Tanya Alves penasaran.


Dan yang ditanyai seketika terdiam sejenak untuk mengurus hati nya untuk menjawab rasa penasaran dari Alves, bahkan termasuk anak perempuan nya yang sekarang akhirnya terlihat penasaran juga.


"Itu kar-"


"Permisi."


Sontak suara milik Elly yang tiba-tiba saja terdengar itu langsung menarik perhatian mereka bertiga.


Alves yang sadar kalau ia memang sengaja membiarkan Elly tinggal di mobil, juga sama terkejutnya. 'Kenapa dia malah keluar dari mobil? Padahal sebentar lagi aku akan pergi.'


'Siapa wanita yang Alves bawa itu? Tapi tunggu! Dia menyembunyikan wanita di mobilnya tanpa menyuruhnya masuk?' pikir kakek Alves.


"Apa kau butuh sesuatu Ell?" Alves yang sedikit risau dengan Elly yang tiba-tiba saja muncul, langsung beranjak dari tempat duduknya untuk menghampiri Elly.


"K-kamar kecil." Jawab Elly dengan gugup, karena dia terpaksa mengganggu orang lain yang sedang berbicara itu.


"Aku antarkan."


"Tuan, biar sa-" Kepala pelayan yang baru saja datang dengan membawa nampan berisi air teh untuk Alves itu, langsung terdiam setelah di sela.


"Biar aku saja.'' Tekan Alves, tidak ingin membiarkan Elly di antarkan oleh orang lain.

__ADS_1


"B-baik Tuan," Pasrah untuk menuruti keinginan dari Tuan muda Alves.


"Ikut aku." Kata Alves. Dan Elly menurutinya untuk pergi mengikuti Alves dari belakang.


__ADS_2