
'Kenapa suasananya tiba-tiba jadi canggung seperti ini? Apa yang mau dia katakan?' Elly perlahan jadi gugup sendiri. Antara tubuhnya yang memang sudah kedinginan, juga karena suasana di sekitar mereka berdua yang begitu hening.
Di temani oleh satu pria yang memiliki segala kuasa yang tidak berbicara sepatah kata apapun, Elly jadi tergagap untuk mengatakan sesuatu.
'K-kenapa suaraku tidak keluar? Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi karena tubuhku ini tiba-tiba gemetar juga gugup, aku jadi tidak bisa bicara lagi. Lagian, kenapa dia hanya diam dan menatapku?'
"Apa ka-"
JDERR...
Ucapannya langsung terpotong ketika petir tiba-tiba berdentum dengan keras, dan seketika itu Elly tiba-tiba terbayang dengan sosok yang ada di depannya itu.
"Apa kau kedinginan?" Padahal Alves tidak berniat menanyakan itu kepada Elly, 'Kenapa lidahku jadi kelu saat aku ingin memperingatinya? Tapi wajahnya benar-benar sudah pucat, dia ternyata bisa sangat keras kepala, tidak mau mendengarkan orang lain dan hanya menunggu perintah dariku. Seharusnya aku tidak mengatakan itu kepadanya.'
GLUK....
Ketika di satu sisi dia merasa bersalah dengan apa yang Alves katakan tadi siang, di sisi lain dia di suguhi dengan penampilan Elly yang terlihat menggoda, sebab pakaian yang di gunakan oleh Elly itu sudah sepenuhnya basah, maka apa yang ada di balik pakaiannya pun jadi tercetak dengan jelas.
'A-apa yang mau dia lakukan? Tapi tunggu, kenapa aku merasa sudah pernah mendapatkan momen seperti ini?' Elly sama sekali tidak mendengarkan apa yang di tanyakan oleh Alves, sebab pikirannya justru sedang melayang jauh.
Karena sekarang Elly tiba-tiba jadi terbayang oleh sesuatu, di bawah kegelapan dia di datangi sosok laki-laki kecil yang datang merangkak k arahnya. Dengan wajah cemas, tangannya terulur ke arahnya dan mengatakan :
"Elly, apa kau baik-baik saja?" Satu pertanyaan yang terdengar sama itu langsung menyadarkan Elly.
Wajah kecil mungil yang terlihat imut tapi nampak sedang mencemaskan sesuatu, benar-benar sama persis dengan wajah Alves saat ini.
"Wajahmu sudah cukup pucat, kita ke rumah sakit. Ak-"
Elly menggelengkan kepalanya tidak mau pergi ke rumah sakit karena pucat yang di akibatkan hujan-hujanan seperti ini.
"Hanya kehujanan seperti ini, aku tidak akan sakit." Ungkap Elly, lalu beranjak dari kursinya untuk berdiri di depan Alves. "Maafkan aku, karena aku, kau jadi ikut hujan-hujanan."
Elly membungkukkan tubuhnya ke depan Alves, meraih satu kancing demi satu kancing yang ada pada kemeja yang di pakai oleh Alves, agar pakaiannya itu di lepas sebab basah.
__ADS_1
"Elly!" Alves meraih tangannya Elly untuk menghentikan perbuatannya itu.
"Bukannya ini yang kau inginkan? Aku akan mengeringkan tubuhmu dengan handuk dan memakaikanmu pakaian yang kering juga." Ujar Elly seakan itu bukanlah masalah besar sama sekali.
"Lebih baik keringkan tubuhmu sendiri saja, aku bukan lagi anak kecil sampai meminta untuk di gantikan pakaian olehmu," Balas Alves, menjauhkan tangan Elly dari pakaiannya.
"Tapi, bukannya waktu itu saja kau ingin ak-"
"Aku tidak akan menyuruhmu untuk melakukannya lagi. Yang waktu itu hanyalah percobaan." Ucap Alves mempertegas alasan yang di buat dua hari yang lalu.
"Percobaan apa?"
Alves tentu saja langsung menatap lawan bicaranya itu.
"A-" Tapi lagi-lagi lidahnya kembali kelu. Dia ingin mengatakan kalau itu adalah percobaan apakah Elly mampu melayaninya sebagai wanita atau tidak.
Tapi karena pada dasarnya Elly seperti tidak memperdulikan martabatnya sendiri sampai mau menuruti perintahnya, maka dari itu, Alves tidak akan melakukannya lagi.
Meskipun Alves ingin sekali bisa merasakannya lagi. Setidaknya tidur bersama saja, tapi Alves tidak akan melakukannya, selagi Elly belum merubah statusnya itu dari pelayan menjadi Istri.
Bagi Alves, Elly sudah berhasil menarik perhatiannya, hatinya sudah di rebut oleh wanita ini, makannya dia tidak akan pernah menodai, lagi?
Entah, Alves hanya masih menerima ingatan samar-samar soal dirinya waktu muda sudah menodai Elly lebih dulu.
"Apakah kau akan menuruti semua perintahku sampai ke tahap itu atau tidak." Alves kembali menunduk, membuka stau persatu kancing yang mengaitkan dua sisi bajunya.
"Aku akan menuruti semua perintahmu, apapun itu." Sahut Elly dengan cepat.
Alves hanya mendengarkan saja seraya membuka jas dan kemeja miliknya. Setelah di buka dan mengambil handuk yang tersimpan di bagian belakang kursi, Alves menjawab, "Kau seperti robot saja. Lakukan saja yang sewajarnya, tapi perintahku lebih mutlak untuk kau turuti ketimbang dari orang lain, mengerti."
"A-aku mengerti." Elly pun menarik tangannya dengan tangan mengepal, karena niatnya untuk membantu Alves mengeringkan tubuhnya, tidak jadi.
Alves sungguh menyeka tubuh atletisnya dengan sembarangan, sampai masih ada sisa air yang masih menempel paa tubuhnya, dan dengan cepat ia memakai pakaian yang ternyata memang sudah selalu sudah siap tersedia di belakang sana.
__ADS_1
"Ini, keringkan tubuhmu, jagan sampai sakit gara-gara aku lagi." Perintah Alves memberikan handuk bersih yang lain.
"Terima kasih." Elly menerima handuk pemberian Alves.
Setelah Alves selesai berganti pakaian, dan termasuk juga dengan celananya, Alves melangkah maju untuk duduk di depan.
"Apa kau masih mau pergi denganku?"
"Pergi kemana?"
"Ke pesta. Aku mendapatkan undangan untuk pergi ke pesta pernikahan yang kau tonton itu."
'Pesta? Jadi itu tujuan dia tadi siang mengajakku? Tapi pesta, aku sama sekali belum pernah pergi tempat yang banyak orangnya seperti itu.' Baik di kehidupan lalunya, maupun di kehidupannya yang sekarang, ia sama sekali belum pernah pergi ke sebuah acara.
Makannya, saat ada yang mengajaknya seperti ini, di dalam hatinya jadi merasa senang.
"Kebetulan syarat untuk datang ke sana, aku harus membawa wanita pendamping, sedangkan di sisiku kan hanya ada kau saja." Beritahu Alves, dia kemudian menyalakan mesin helikopter.
"Aku akan ikut denganmu." Jawaban yang memang sudah Alves harapkan sejak lama.
Sebenarnya undangan yang Alves terima itu dia terima setengah bulan yang lalu, dan awalnya Alves tidak akan hadir karena dia tidak memiliki wanita pendamping.
Sekaligus ia sejujurnya merasa malas, karena di pesta itu bukanlah sekedar acara untuk memperlihatkan muka saja, tetapi di balik pertemuan pasti ada hal lain yang terjadi, dan Alves sungguh malas untuk memikirkan segala konsekuensi jika datang ke sana, apalagi dia akan di hadapi dengan aroma yang bercampur aduk dan cukup menyengat.
"Kalau begitu, kita pergi rumah temanku dulu. Jadi aku harap ka-" Tanpa di sengaja ucapannya jadi kembali terpotong saat Alves menoleh ke belakang, dia melihat Elly sedang memakai kemeja miliknya yang kebesaran itu.
"Aku harus apa lagi?" Sambung Elly masih fokus untuk mengancing satu persatu kancing baju itu agar tubuhnya tertutup dengan sempurna?
Ya, tapi karena itu belum cukup sempurna untuk menutupi tubuhnya yang terlihat seksi di mata Alves, Alves jadinya melihat hal yang memang seharusnya tidak di lihat.
Tapi karena sudah terlanjur di suguhi pemandangan itu, Alves hanya tersenyum tipis, karena Elly memang terlihat tidak memperdulikan kalau Alves akan melihat bagian tubuhnya yang memang cukup menawan itu.
"Pakai bajumu dengan benar." Akhirnya Alves menjawab kekurangan kata miliknya tadi, dan Alves pun menerbangkan helikopternya ke atas langit.
__ADS_1