Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
157 : Malam acara mereka


__ADS_3

"Kau lama sekali."


"Aku sekalian melihat-lihat, nih." Dengan membawakan empat botol air isotonik kesukaan mereka berempat, mereka pun mendapatkan satu per satu air minum tersebut.


"Kau mendahului kami. Tapi cantik-cantik kan?" Tanya Darren.


"Ada banyak dari mereka mereka yang lebih tampan dari kalian. Jadi jangan berisik, sebentar lagi acaranya mau di mulai." Jawab Felix.


"Kalau saja Elly ada di sini, pasti lebih seru."


"Apa kalian mau membahas wanita itu di depanku?" Sela Arshen yang masih trauma dengan apa yang dilakukan oleh Elly terhadapnya beberapa hari yang lalu.


Melihat Arshen begitu melototi mereka berdua dengan tatapan yang begitu tajam, Warren dan Darren pun langsung bungkam, diam dan tidak berkata apapun lagi.


Satu per satu bangku yang sudah di sediakan sudah mulai di isi oleh tamu undangan yang hadir dan duduk sesuai dengan nama yang tertera di kursi tersebut.


Tidak hanya para tamu undangan, tapi beberapa orang fotografer pun turut hadir untuk memotret para model yang akan datang satu per satu, menampilkan penampilan mereka yang pastinya indah.


Dan tidak berapa lama kemudian, lampu di sana tiba-tiba saja padam, sehingga ruangan tersebut pun menjadi gelap


Tapi tidak lama kemudian, tiga lampu sort yang ada di tas tiba-tiba menyala dan menyoroti satu orang wanita yang berdiri di sana sambil memegang mic serta tab yang dia pegang juga itu.


Menandakan kalau acara akan segera di mulai.


"Untuk para tamu undangan yang sudah hadir di malam hari ini, saya Fara mengucapkan terima kasih kepada anda sekalian." ucap Fara. Dia pun berbicara sedemikian panjang lebar untuk memberitahu rincian acara kepada para tamu undangan.


___________


"Kau cantik."


"Aku bosan mendengar pujian itu." Ketus Elly, dengan santainya dia duduk di sofa sambil selonjor, dimana salah satu kakinya sedikit di tekuk lalu tangannya pun di letakkan di atas lututnya, membuat kesan anggun yang seharusnya melekat pada diri Elly ini, segera menghilang setelah melihat cara Elly duduk itu.


"Tapi sayangnya aku justru sedang suka memujimu. Bagaimana dong?" Kata Alves, dia duduk bersandar ke sandaran sofa sambil menyangga kepalanya dan menatap ke arah Elly.

__ADS_1


"Berhentilah bercanda, kau sama sekali tidak cocok dengan kesan dari tubuhmu yang terlihat cool itu." sahut Elly saat itu juga.


"Hahaha, kau sedang bicara apa? Pada akhirnya kau sendiri juga baru saja memujiku, aku bisa jadi orang yang kau sukai jika kita berdua ada di luar. Tapi jika kita berdua saja seperti sekarang, jangan berkhayal, karena aku sendiri tidka tahan ingin memakanmu."


"Kalau kau makan aku, aku mati dong." jawab Elly, dia menyeruput air mineral dengan sedotan.


"Jangan sok tidak tahu, aku memakanmu dengan arti lain. Kau akan suka jika kita berdua benar-benar melakukannya. Tapi tunggu saja, jika kita berdua menikah, aku akan memakanmu sampai habis."


Dengan tatapan malasnya, Elly berkata : "Berisik, mulutmu itu beracun, jangan mengatakan hal seperti itu di sini, karena bisa saja di sini ada kamera tersembunyi." Kata Elly memperingatkan.


Seketika, Alves pun langsung menutup mulutnya sendiri, dan segera berdiri dari tempat duduknya sebelum dia tiba-tiba saja mengeluarkan handphone nya, dan memberikan pesan teks pada seseorang.


______________


Di lobi.


"Rafael, kau bukan pekerja di sini kan?" Tanya seorang paman, kepada Rafael yang sedang duduk sambil meminum air dari botol yang baru saja ia berikan.


"Ah.., iya. Sa-'


Rafael mengangguk iya. "Aku memang bukan dari sini. Pekerjaanku yang sebenarnya ada di resort tempat golf, tapi karena waktuku sedang senggang, aku mengajukan diri untuk kerja di sini."


"Hmm, kelihatannya kau pasti punya alasan paling bagus, kenapa kau bisa ada di sini. Coba beritahu, aku ingin dengar." Pinta pria paruh baya ini kepada Rafael.


Rafael yang awalnya menimbang-nimbang apakah akan memberitahukannya atau tidak, akhirnya memutuskan untuk bicara : "Ada seseorang yang ingin aku lihat. Jadi aku tidak perlu repot untuk menemuinya secara mendadak, karena baik dia maupun aku masih orang asing."


"Ada bau-bau cinta nih, anak muda memang seperti itu. Tidak masalah, walaupun pekerjaanmu hanya sebatas ini, tapi jika keinginanmu itu berupa rasa yang tulus, pasti akan di pertemukan. Tapi apakah dia seorang wanita?"


Rafael mengangguk.


"Apa dia cantik? Bekerja di sini juga?"


"Ya, dia bekerja langsung dengan Tuan muda Alves."

__ADS_1


"Uhuk...uhuk....uhuk..." seketika pria ini langsung terbatuk karena tersedak air yang ia minum itu. "A-apa maksudmu itu Nona Elly si asisten pribadi baru milik Tuan Alves?" tanyanya dengan wajah terkejutnya.


Dengan wajah separuh malu, Rafael pun mengangguk iya.


Karena masih tidak sadar dengan kesamaan dari wajah Rafael dengan Elly, pria ini pun berkata dengan nada sedikit tegas. "Rafael, aku beritahu ya, mereka berdua itu sudah jelas punya hubungan lebih dari sekedar atasan dan bawahan saja, jadi sebaiknya kau menyerah saja. Tuan muda Alves itu bukanlah orang yang tepat untuk kau jadikan sainganmu, karena beliau posisinya lebih tinggi." Beber orang ini.


Dia menasehati Rafael untuk tidak bertindak lebih jauh lagi, jika itu menyangkut perasaan, sebab Alves dan Elly memang adalah dua orang yang sudah jadi sejolin yang terus menempel seperti amplop dan perangko, sudah jadi satu set, apalagi di tambah dengan keberadaan Orson, maka sudah jelas tidak akan ada yang bisa mengganggu gugat hubungan dari dua orang tersebut.


Tapi apa respon yang Rafael berikan, dia justru tertawa. "Pfftt..."


"Apa yang kau tertawakan? Ingat loh, jangan ganggu mereka berdua. Karena semenjak Nona Elly ada di sisinya, kemakmuran di kantor ini jadi lebih jelas. Karena sebelum ini, banyak dari kami yang diharuskan lembur, tapi berkat beliau, kata lembur sudah jarang di gunakan, bahkan emosi dari Tuan muda yang sering meledak jika ada yang tidak sesuai dengan hati, sudah berkurang juga."


'Apa sebegitu bagusnya efek dari adikku itu sampai membuat beruang itu tunduk?' pikir Rafael. "Tenang saja, aku tidak mungkin menaruh rasa pada wanita yang sudah mempunyai seseorang. Aku hanya rindu saja, karena setelah sekian lama berpisah, aku akhirnya bisa menemukannya lagi." jawab Rafael.


TAP...TAP...TAP.....


Hingga di tengah-tengah mereka berdua sedang berbincang-bincang, tiba-tiba alat komunikasi yang Rafael gunakan itu, menyerukan untuk segera berhati-hati.


Dan orang yang sedang bicara di ujung radio itu, adalah pelayan pribadinya yang kebetulan memang sedang di tempatkan di satu lokasi untuk memantau keadaan, sebab Rafael tahu kalau akhir-akhir ini ada beberapa kali penyerangan yang di lakukan oleh pihak musuh kepada dua orang itu, Alves dan Elly. Maka dari itu, untuk mencegah adanya sesuatu yang tidak terduga, Rafael memilih untuk turun tangan langsung dengan menyamar menjadi seorang petugas keamanan.


Dan sekarang-


-"Tuan, ada yang datang ke arah anda."-


Rafael yang mendengar peringatan dari pelayan pribadinya itu, segera berdiri dan menatap keluar pintu. Dan dia akhirnya tiba-tiba saja menemukan seorang laki-laki sedang memikul senjata besar di pundak sebelah kanannya.


"Turunkan senjatamu!" Beberapa orang yang menyadari dengan keberadaan dari pria itu, langsung mendongkan senjatanya ke arah orang asing tersebut.


"Seharusnya itulah yang aku katakan kepada kalian." Dengan badannya yang cukup besar, pria berotot dengan kepala plontos ini langsung menyeringai. "Turunkan senjata kalian atau melayanglah nyawa kalian. Ucapanku tepat tidak?"


'Dia- orang yang kemarin menyerang Elly dan Alves juga. Apa dia mau menghancurkan gedung ini? Tunggu, itu hanyalah pengalihan!' Begitu Rafael mendapatkan pikiran itu, Rafael seketika langsung berlari dari sana untuk pergi menuju tempat fashion show di laksanakan. "Kita pergi dari sini!"


"Rafael! Kita mau kemana musuhnya ada di depan, tapi kenapa kit-"

__ADS_1


"Itu hanya pengalihan saja." Jawab Rafael, melepaskan cengkraman tangannya dari tangan sang paman, lalu berlari lebih cepat.


__ADS_2