Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
160 : Malam kekacauan


__ADS_3

DORR....DORR...DORR.....


"Hah, mereka sama sekali tidak sabaran. Padahal aku kan menyuruh mereka untuk membuat orang lain sebagai sandera." Ucap pria ini. Karena sudah terlanjur ada yang meninggal, dia pun membiarkannya saja.


Dia akan beraksi saat satu puntung rokoknya habis.


Itulah waktu yang dia miliki sebelum turun tangan langsung.


"Kyaa! Jangan bunuh kami!"


DORR..!


"T-tolong! Buka! Buka pintunya!"


Selain teriakan yang terus saja terdengar dan mengusik suasana yang sudah kacau itu, suara dari pintu yang terus di coba untuk di dobrak pun membuat pria tersebut langsung membalas.


BRAK...


"Diam kalian! Atau aku tembak satu-satu!" teriaknya.


Tapi karena tidak menghiraukan teriakan nya dan terus saja berteriak sambil mendobrak pintu, pria ini pun langsung menyelipkan rokoknya di antara bibirnya, mengangkat senjata semi otomatis yang dia bawa, setelah itu dia pun segera mengarahkan moncong pistol itu ke arah pintu. Dan suara dari peluru yang keluar dari tempatnya akhirnya langsung memenuhi area tersebut, sampai pintu tersebut benar-benar di buat berlubang gara-gara tembakan peluru tersebut.


Rafael yang tidak tinggal diam, dia segera keluar dari tempat persembunyiannya dan berniat untuk menembak, karena dia memiliki senjatanya sendiri yang dia simpan di balik jas hitam miliknya.


KLEK....


DORR...!


Satu tembakan berhasil Rafael lakukan, tapi karena sasarannya juga menyadari arah dari tembakannya, akhirnya tidak kena, dan hanya menyerempet pipinya saja.


"Kau ternyata bersembunyi seperti tikus. Karena kau berhasil menggores wajahku, maka aku akan mengembalikannya!" Dengan membuang sisa dari puntung rokok yang sudah mulai habis dengan cara meludah, pria ini segera mengarahkan senjatanya itu ke arah Rafael.


'Gawat!' merasa ada bahaya yang cukup mengejutan, Rafael yang hendak berlari untuk bersembunyi sebelum musuhnya itu menarik pemicunya, tiba-tiba ada kejadian tidak terduga terjadi.


Dengan bibirnya yang langsung mengembangkan senyuman lebih lebar dari biasanya, jari telunjuk yang sudah mulai menekan pelatuknya untuk membuat rentetan tembakan yang bisa dia lakukan dalam jumlah banyak dengan waktu singkat, hal itu justru langsung pupus.


"Akan aku buat kau menjadi rempeyek daging toping peluru, boc-"


DHUAK....


Suara tendangan yang cukup keras itu tiba-tiba saja membuahkan hasil dengan pintu yang berhasil di dobrak paksa, langsung lepas dari engselnya dan segera menimpa pria yang mau menembak ke arah Rafael.

__ADS_1


BRAK.....


"Ukhh....!" Seketika pria ini pun langsung terjatuh dan tertindih dengan pintu rusak yang berhasil di dobrak dari dalam itu.


"Cepat keluar!"


"Suara ini?" gumam Rafael, dia tiba-tiba saja mendengar suara Elly yang cukup dekat.


"Tapi satu-satu, dan tunggu aba-abaku." Imbuhnya.


Setelah menuntut para tamu undangan untuk keluar satu per satu dari ruangan yang sudah pengap dan banyak asap, tiba-tiba Elly memberikan tanda berupa tangan yang mengepal, yang artinya tanda untuk diam.


"Kenapa nomor tiga dan lima tidak menjawab ya?"


"Coba kita periksa ke lokasi terakhir mereka pergi."


Tepat di saat mereka berdua keluar dari lorong dan bertemu dengan sosok Elly yang berdiri di atas pintu yang sudah rusak itu, kedua orang tersebut pun langsung menodongkan senjatanya ke arah Elly dan bersiap untuk menembak.


"Kalian menunduk!" Perintah Elly, dan setelahnya dengan sorotan mata elangnya, Elly langsung mengeluarkan senjata yang tersimpan di dalam gaun yang sudah di robek itu, dan dengan cepat menodongkan senjatanya juga ke arah sana.


DORR...DORR...DORR...


CTAK...CTAK....CTAK....


Dan seperti yang terjadi dengan sesi pertama, sesi kedua ini Elly pun mampu untuk menangkis serangan peluru lawan dengan peluru miliknya.


Apalagi karena diam-diam sudah di bantu oleh Rafael, akhirnya dua orang itu langsung tumbang ketika salah satu dari kaki mereka berdua di tembak oleh Rafael.


DORR....DORR...


"AKhh..!"


"Kau-" Elly langsung menoleh ke arah Rafael yang keluar dari persembunyian nya.


"Kita bertemu lagi." Jawab Rafael.


"Iya, tapi ini bukan waktu yang tepat untuk saling menyapa." Jawab Elly dengan ekspresi wajahnya yang dingin itu.


"Anda benar." Jawabnya, dan dia pun pergi membantu Elly untuk mengeluarkan para korban.


"Itu mereka! Serang!"

__ADS_1


"Mereka, tidak ada kapoknya? Mereka dengan rela ingin memberikan nyawa mereka padaku? Baiklah, akan aku terima dengan baik, manusia." Senyum Elly, lalu dia pun membuka matanya dengan lebar, dan setelah itu, dia berlari menuju ke arah dua orang yang mau menyerang ke arahnya itu.


"D-dia- apa-apaan dia? Kenapa malah berlari ke arah sana?"


"Dia cari mati?"


Rafael, mendengar kalau Elly sedang mencari mati, Rafael sekilas langsung memberikan tatapan yang cukup tajam ke arah mereka semua. "Jika kalian mengatakan itu sekali lagi, akan aku tinggal di sini."


Sebuah kilatan dari tatapan matanya yang cukup dingin itu, sontak berhasil membuat orang yang baru saja bicara sembarangan, gemetar ketakutan, karena tatapan dan ekspresi wajah dari Rafael memang tidak main-main.


"T-tidak, kami salah." ucap salah satu dari mereka.


"Bagus, kalian semua keluar satu per satu, tunggu aba-aba, jika aku menyuruh berhenti, maka berhentilah. Itu jika kalian tidka ingin mati." Ucap Rafael.


DORR.....DORR....


"Akhh!"


CRATT....


'Dia yang seperti itu, apa dia benar-benar adikku? Dia seperti pembunuh berantai.' Pikir Rafael melihat ekspresi wajah Elly yang begitu dingin.


DORR...!


"Akhh...!" karena menembak dengan sembarangan, beberapa kali darah itu muncrat, dan Elly berhasil menghindari darah yang bisa saja menodai pakaiannya itu.


"Tapi kalau di pikir-pikir dia jadi terlihat cukup mengerikan."


"Sebenarnya siapa gadis itu? Aku pikir hanya model biasa, tapi siapa yang akan menyangka kalau dia bisa jadi seganas itu jika sudah memegang senjata?" Gumamnya.


Dan semua gumaman itu pun terus mengisi pikiran Rafael.


'Karena aku hanya menembak bagian kaki dan tangannya, mereka tidak akan mati jika mereka kuat dengan darah yang tidak bisa berhenti mengalir.


Aku hanya bisa menembaknya sampai sebatas ini saja, sisanya aku harus menyita senjata mereka.' Pikir Elly. Begitu sudut matanya melihat pria yang ada di bawah pintu itu mau menembak ke arahnya, Elly dengan sengaja justru menodong ke arah sana, tempat dimana para tamu undangan sedang di arahkan untuk keluar.


Sehingga Elly pun melihat wajah terkejut mereka semua yang mengira Elly akan menembak ke arah mereka. Padahal yang di tembak adalah-


DOORR..!


DHUAR...!

__ADS_1


Tepat ujung peluru itu masuk kedalam selongsong pistol itu, ledakan pun terjadi dan segera membuat kepanikan dari para tamu undangan tersebut.


__ADS_2