
"Akhirnya Kakek pulang juga. Elly, bagaimana kau bisa keluar dari kamaku?"
"Apa kau ingin tahu karena butuh prosesnya?" Dengan nada cuek, Elly menyuapi mulutnya dengan sesendok sup yang baru dibuat oleh Orson.
Alves mengernyitkan matanya, bingung harus bagaimana caranya menghadapi wanita yang sedang marah kepadanya.
Meskipun ia bisa menggodanya, tapi tidak dengan sifat yang Elly miliki itu. Godaannya di bawah Elly yang sedang tertekan dengan kemarahannya sendiri membuat usaha Alves ada kemungkinan tidak ampuh.
"Tidak usah. Kau pasti keluar dari jendela itu. Padahal sempit, bagaimana caranya kau bisa melewati jendela sempit itu?" Kata Alves seraya bertanya, meskipun pertanyaannya itu tidak akan ada gunanya juga, sebab Elly tidak akan menjawabnya.
Elly hanya duduk diam sambil menikmati sup dengan daging sapi berlimpah di dalamnya. Seorang pria, bisa memasak, bagi Elly itu adalah sesuatu yang membaut sosok dari laki-laki yang pintar memasak itu jadi terlihat keren.
"Tapi dari pada itu, kemana perginya Orson?" Alves berjalan menuju meja makan, lalu duduk di kursi yang letaknya di ujung meja sendiri.
"Aku minta tolong kepadanya untuk membelikanku obat." Karena ucapannya memiliki banyak makna lain, sebelum Alves bertanya, Elly lebih dulu mendahului Alves dan menjelaskan : "Obat kontrasepsi."
"..........!" Alves tercengang, dengan terang-terangan Elly sudah menyatakan untuk tetap menolak dirinya.
'Dengan begini, dia pasti akan tenang, karena aku tidak akan hamil.' Dengan percaya dirinya yang tinggi, Elly pun berpikir demikian atas sudut pandang dirinya terhadap Alves.
Tapi, tidak sesuai dengan ekspektasinya itu, Alves angkat bicara, "Jangan lakukan itu."
Dan Elly yang sedang minum, langsung tersedak. "Uhukk...uhuk...uhuk..., apa-apaan kau? Kenapa aku tidak boleh makan obatnya?"
Tepat di saat mereka berdua membahas itu, Orson yang baru saja masuk, langsung diberikan perintah oleh Alves.
"Orson."
"Hmm? Apa kau butuh sesuatu?" Tanya Orson, masih belum tahu alasan namanya di panggil.
__ADS_1
"Apa yang ada di tanganmu?"
"Elly ingin dibelikan obat kontrasepsi."
Hanya dengan mendengar Orson mengatakan obat kontrasepsi untuk Elly, di dalam hatinya ia merasa kesal sendiri, karena usahanya akan sia-sia, dan Orson adalah orang yang ingin mencegah semua hasil pekerjaan Alves yang sudah berhasil membuat wanita ini kembali ia tiduri lagi.
"Buang itu." Perintah Alves.
"Tapi-" Orson bingung, dan melirik ke arah Elly yang baru saja mengatasi tenggorokannya yang baru tersedak air.
"Jangan."
"Aku perintahkan untuk membuang itu." Alves sampai melotot kearah Orson yang tidak tahu apa-apa.
"Alves, aku tidak ingin hamil."
Membuat Elly dan Orson membelalakkan matanya.
'Kenapa aku keceplosan seperti ini?' Alves langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Alves, jadi pria jangan egois. Aku tidak suka ini. Jangan berharap kau menggunakan otoritasmu sebagai majikan untuk membuatku hamil anakmu juga." Ucap Elly dengan tegas.
"A-Alves, kau benar-benar ingin membuat Elly yang merupakan pelayanmu sendiri untuk mengandung anakmu?" Orson pun masih tidak percaya kalau ucapan tadi benar-benar keluar dari mulutnya Alves. "Kau harus tahu, kakekmu itu tidak mungkin mengizinkan wanita yang bahkan dari kalangan rendahan berada di sisimu."
Alves jadi terdiam. Sedangkan Elly sama sekali tidak perduli dengan ekspresi wajah Alves yang terlihat ingin menentang aturan itu.
"Tapi- aku menginginkannya."' Gumam Alves.
Mulut Orson dan Elly pun sama-sama melongo melihat ekspresi wajah Alves yang terlihat sedih seperti anak kecil yang tidak di izinkan bermain, padahal sangat ingin sekali bisa bermain bersama teman-temannya.
__ADS_1
"E-Elly, apa yang sudah kau lakukan kepadanya? Aku benar-benar tidak menyangka kalau Alves malah akan bicara seperti anak kecil yang kehilangan permennya." Orson yang masih terkejut dengan respon tidak terduga dari Alves, segera menghampiri laki-laki ini dan mencoba mengecek dahinya, apakah sedang demam atau tidak.
"Aku sendiri juga tidak tahu. Mungkin otaknya sedang bermasalah, atau-" Elly tiba-tiba saja berhenti bicara.
"Tidak demam, tapi kenapa isi kepalanya aneh ya?" Gumam Orson, setelah menyentuh dahi Alves.
"Orson, aku sedang tidak demam. Lalu jangan sentuh wajahku dengan tangan kotormu itu." Jawab Alves seraya menepis tangan Orson yang masih berada di depan dahinya.
"Atau jangan-jangan kepalamu sempat terbentur saat kita tenggelam tadi, ya?"
"Ha? Sekalipun kepalaku terbentur, bukan berarti aku akan kehilangan ingatanku. Otakku ini kuat, dan-"
Tapi respon Elly saat ini adalah tatapan tidak percaya. "Tidak hilang ingatan?" Tanyanya dengan tatapan mata penuh selidik. "Kalau begitu, apa yang terjadi dengan kepalamu bagian sini?" Dengan pertanyaan serius, Elly menunjukkan bagian kepala Alves sebelah kanan.
Walaupun kepalanya di tutupi dengan rambut, tapi Elly yang sudah sering berduaan dengan Alves, maka ia pun tahu kalau di sebelah kanan dari kepala Alves terdapat bekas jahitan.
"Hei, kenapa tiba-tiba topiknya berubah?" Sela Alves tidak puas hati, padahal tadinya sedang membahas anak, tapi tiba-tiba jadi berubah membahas kepala.
"Bukannya kau sendiri yang mengatakan kalau kau tidak akan hilang ingatan jika kepalamu terbentur?" Sela Orson.
Lagi-lagi di tahap ini, dirinya kalah debat dengan kedua orang ini.
"Pokoknya untuk yang satu itu aku sama sekali tidak mau." Pada akhirnya Elly kembali ke topik utamanya. "Orson, berikan itu." Elly pun meminta barang yang ia pesan dari Orson.
"Nih." Orson memberikan obat kontrasepsi itu kepada Elly.
Alves yang merasa kalah dengan perdebatan diantara mereka berdua, hanya bisa melihat Elly benar-benar meminum dua tablet obat itu.
'Kenapa aku jadi merasa kasihan dengan Alves? Di sini, tiba-tiba saja aku seperti berada di posisi yang salah. Aku seperti orang yang tidak merestui agar Alves memiliki anak dengan Elly. Bagaimana bisa aku ada di posisi seperti ini?' Pikir Orson, merasa lelah harus menghadapi dua orang aneh, karena tiba-tiba saja hubungan antara majikan dan pelayan ini justru tidak seperti yang seharusnya.
__ADS_1