Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
79 : PTRI : Karena sentuhan jadi pertemuan


__ADS_3

“Ya, tugasmu cukup sederhana. Aku beri kau waktu satu jam untuk membereskan letak perabotan interior rumah itu, dan aku beri waktu setengah jam untuk datang kesini.” 


-”B-baik Tuan, akan saya lakukan apa yang anda minta.”- Jawab seseorang di ujung telepon, mengiyakan apa yang diminta oleh atasannya itu. 


Setelah bericara dengan pihak arsitek untuk membantu mengelola desain interior rumahnya Orson, Alves memutuskan teleponnya secara sepihak. 


“Nih minum.” Orson datang dengan membawakan air kelapa yang masih cukup segar dan bahkan dingin. 


Alves yang kebetulan sedang berdiri di ruang tamu, terheran dengan Orson. “Katamu kau sama sekali belum ada stok makanan dan minuman, bahkan kulkas, darimana kau mendapatkan air kelapa yang dingin ini?” 


Ketika Alves meminumnya, ia merasaan ada gula merah yang bercampur di air kelapa tersebut.


“Umh…ini enak juga. Jika kau jualan ini di pinggir jalan, pasti laku keras.” Ucap Alves. 


“Apa itu sindiran?” Tanya Orson. 


“Siapa yang menyindirmu? Aku hanya memberitahumu soal peluang bisnis yang mungkin saja kau tertarik.” Jawab Alves. “Jadi, darimana kau mendapatkan air kelapa ini? Padahal minimarket saja cukup jauh jika berjalan kaki.”


Karena minumannya ada dua, Orson pun kebagian untuk mencicipinya. 


“Oh, ini dari pelayanmu, Elly. Dia yang memetik buah kelapa untuk kita.”


“Ha? Memangnya dia bisa manjat?” Tanya Alves, masih tidak percaya. 


“Katanya dia memang bisa. Tapi-” Belum juga berbicara sepenuhnya, ucapan Orson terpotong dengan suara keras yang langsung mengisi keheningan dari rumah miliknya. 


DORR….


DORR…


DORR….


Suara dari beberapa tembakan peluru itu membuat Alves mendongak ke atas. 


“Siapa yang sedang menembak?” Tanya Alves dengan wajah serius. 


Karena rumah Orson punya tiga lantai, Alves berpikir kalau suaranya berasal dari lantai dua atau tiga. 


“Siapa lagi? Aku kan baru memberitahumu kalau pelayanmu yang memetik buah kelapanya untuk kita.” Jawab Orson. 


Sedangkan Elly yang berada di lantai dua, saat ini dia sedang ada di balkon dalam posisi tengkurap. 


Satu senjata laras panjang, dia gunakan untuk membidik sekaligus untuk mengunci targetnya yang kebetulan memang menempel di ujung pohon kelapa, dan itu adalah buah kelapa. 


‘Untung saja aku menemukan senjata ini. Aku jadi tidak usah memanjat dan memetik buah kelapa itu.’ Pikir Elly, dia menutup salah satu matanya, dan membidik kembali targetnya, setelah itu peluru pun kembali keluar dari laras nya, dan menembak ke arah buah kelapa itu. 


DORR….

__ADS_1


____________


Alves keluar dari rumah bersama dengan Orson, membantu Elly yang ada di pinggir pantai sedang memungut buah kelapa hasil jeri payahnya. 


“Siapa yang membutuhkan kelapa sebanyak ini?” Tanya Alves. 


Padahal mereka hanya bertiga, tapi Ellt justru memetik lebih dari sepuluh, makannya tidak hanya dari satu pohon kelapa saja yang menjadi korban Elly yang memetik dengan senjata berbahaya, melainkan ada tiga pohon, dan diantaranya adalah kelapa yang sudah tua. 


“Aku.” Jawab Elly, meletakkan kelapa itu kedalam karung goni.


“Lalu untuk apa buah kelapa yang sudah tua ini?” Ikut membantu Elly mengumpulkan kelapa kedalam karung sisa. 


“Ya, karena kau selalu hidup dalam bergelimangan harta, kau tidak akan pernah tahu kalau santan asalnya dari kepala tua ini.” Jelas Orson. Dia tersenyum simpul melihat Alves terlihat seperti satu orang yang sedang cemburu. 


Ya…


Alves memang cemburu, karena Alves kalah pengetahuan dari Orson mengenai kegunaan dari kelapa tua, karena pada dasarnya Alves hanya suka tinggal makan saja. 


“Elly, aku sudah memasukan semuanya, kau mau membuat apa dengan ini? Biar nanti aku membantumu.” Kata Orson, menawarkan diri. 


Sekarang ada tiga karung kelapa, lantas apa yang akan dilakukan oleh Elly terhadap kelapa itu?


‘Orson, cepat sekali dia mengumpulkan kelapanya.’ Merasa di kalahkan, Alves buru-buru memungutnya dan meletakkannya ke dalam karung goni. 


Sehingga saat Alves berjalan kian menjauh, karena ada beberapa kelapa yang sempat jatuh dan menggelinding sedikit jauh dari pohonnya, Elly baru menjawab.


“Ini tugasku, kalian berdua bermain saja dulu, nanti aku akan menyajikannya kepada kalian jika aku sudah selesai.” ucapnya. 


Elly sesaat melihat ke arah Alves yang sedang berdiri memunggunginya dari kejauhan. 


“Tapi Orson, karena kau adalah temannya Alves sekaligus tangan kanannya juga, bukannya aku juga harus melayanimu juga?”


Orson seketika terdiam, ia sama sekali tidak pernah berpikir kalau Elly yang bahkan memanggil nama majikannya sendiri dengan namanya langsung seperti orang yang sudah kenal lama, bahkan bisa dibilang Orson melihat kalau Elly bukan seperti pelayannya Alves, semua itu ternyata Orson salah paham, sebab Elly rupanya masih mengingat posisinya. 


“Kenapa kau berpikir kalau aku temannya aku harus dilayani seperti majikanmu?” Tanya Orson, mencoba membuka persepsi yang dimiliki oleh Elly. “Aku ingin membantumu bukan karena aku menganggap kau adalah pelayan yang sedang membutuhkan bantuan, melainkan teman baru yang ingin aku bantu.”


“.......!” Elly membelalakkan matanya, selama ini ia tidak pernah sekalipun mendapatkan bantuan berdasarkan hubungan yang di dasari teman. 


Ya, jika menyangkut pekerjaan, pastinya akan ada yang membantunya, tapi diluar itu tidak satu kalipun yang menganggap bantuan adalah karena hubungan sebagai teman. 


“Teman, kau yang pertama.” Lirih Elly dengan senyuman lemah terukir di bibirnya. 


“Hm? Apa?” Orson jadi penasaran apa yang barusan dikatakan oleh Elly. 


Tapi Elly hanya menutup mulutnya dengan respon senyuman pernuh arti, yang mana hal itu membuat Orson jadi semakin penasaran. “Elly, apa yang barusan kau katakan? Pertama apa?”


“Pertama?” Alves yang sempat mendengar Orson bicara kata pertama sambil mengejar Elly yang sudah berjalan pergi, sontak langsung memanggul karung goni berisi kelapa itu dan berlari untuk menyusul Elly. ‘Kenapa Orson berekspresi seperti itu? Barusan apa yang sudah aku lewatkan?’ Batin Alves. ‘Padahal baru juga sebentar aku berpaling, tapi mereka berdua langsung sedekat itu.’ 

__ADS_1


“Entahlah, pikir saja sendiri.” Tantang Elly, sambil menyeret karung tersebut untuk ia bawa pulang ke rumahnya Orson. 


____________


“Felix, apa yang mau kau beli?” Tanya pria ini kepada sahabatnya itu, terlihat sedang memilih minuman yang dijejer di dalam kulkas. 


“Aku bingung, biasanya ada bir kaleng, tapi disini sama sekali tidak ada.” Felix berulang kali mencoba mencari minum kesukaannya, tapi sayangnya apa yang ia harapkan tidak ada.


“Daripada bir yang tidak menyehatkan, mending jus.” Kata Arshen mengajak Felix agar sesekali bisa minum minuman yang menyehatkan. “Sesekali libur kau tidak rugi juga kan? Atau kau sudah jadi maniak?”


Felix langsung menatap Arshen dengan tatapan yang cukup dingin. 


“Kau piki aku penggila bir? Daripada bir yang murahan, mending wine atau vodka.”


“Karena sama-sama mengandung alkohol, jadi apa bedanya jika kau itu penggila alkohol?” 


“Hahaha, itulah. Kau sama sekali tidak mengerti kepuasan jika tidak meminum alkohol, pasti ada yang kurang.” Sindir  Felix. “Tapi karena aku memang lagi coba mengurangi kebiasaan itu, jadi aku akan beli ini.” Imbuh Felix lagi.


Karena Felix sudah menemukan minuman tepat untuk ia ambil, Felix pun membuka kulkas tersebut dan mengambil minuman berwarna putih. 


“Hmm?” Akan tetapi, tiba-tiba saja ujung tangan Felix bersentuhan dengan ujung tangan seseorang yang akan mengambil botol yang sama dengan apa yang akan Fellix ambil.


Dan ketika Felix menoleh ke samping kirinya, ia langsung dihadapkan dengan seseorang yang belum lama ini ia temui.


‘Kenapa aku jadi bertemu dengan orang ini lagi?’ Pikir Elly. 


Sampai ketika Elly melihat tangan Felix akhirnya sedikit menjauh dari botol minuman yang hendak Elly ambil juga, saat itu Elly menggunakan kesempatan itu untuk langsung menyerbu dengan mengambil semua botol minuman berupa air susu fermentasi rasa buah stroberi dalam jumlah banyak ke dalam troli belanjaannya. 


Dan ketika melihat itu, Arshen yang tadinya sedikit terkejut dengan kemunculan dari Elly yang diberitakan menghilang lebih dari dua bulan itu, langsung berjalan menghampiri Elly dan merangkul pundak Elly, sok akrab. 


“Hei, aku pikir kau menghilang, ternyata kau bersembunyi dari kami semua ya? Sampai menyebarkan berita kebohonganmu yang sedang menghilang? Ternyata kau diam-diam licik juga.” Tanya Arshen kepada Elly yang sedang menoleh ke arah kirinya, dimana bahunya Elly saat ini sedang di jadikan tempat rangkulan dari tangan pria yang sebenarnya Elly saja tidak tahu siapa pria di sampingnya itu. “Tapi, apa ini? Aku tidak pernah tahu ternyata kau bisa secantik ini.” 


Arshen mencolek dagu Elly dan lebih mendekatkan lagi wajah mereka berdua agar Arshen sendiri bisa melihat wajah Elly yang putih mulus, serta Arshen juga mencium aroma harum dari tubuh Elly. 


Tapi respon yang diambil Elly saat itu adalah dia tetap terdiam membisu sambil mencoba melepaskan diri dari rangkulan Arshen. 


‘Kenapa dia tiba-tiba saja merangkul bahuku? Tapi mengingat apa yang ia ucapkan barusan, sudah pasti kalau laki-laki ini punya hubungan dengan tubuhku ini. Walaupun aku tidak tahu pasti seperti apa persisnya hubungan yang dimiliki oleh tubuh ini dengan kedua pria ini, instingku mengatakan kalau mereka bukan orang yang baik.’ Dan bukti dari pernyataan yang dipikirkan oleh Elly adalah Arshen yang tiba-tiba merangkulnya dan mencolek-colek wajah Elly.


“Kenapa tidak menjawabku sayangku, oh! Daging sapi ini lumayan mahal loh, apa kau mau pesta barbeque?” Arshen mengambil salah satu daging sapi yang masih terbungkus rapi di piring plastik, lalu setelah itu dia pun menyodorkan daging mahal seharga lebih dari dua ratus ribu itu ke depan wajah Felix. “Felix lihat ini, diam-diam dia ingin pesta, bukannya kebetulan kita juga akan mengadakan pesta di villa rumahmu? Dia beruntung dapat daging mahal yang banyak, bukannya ini sangat kebetulan? Kita ajak dia ke pesta kita ya?”


“Ya~ Ini sangat kebetulan.” Felix pun merespon dengan baik. “Dari barang belanjaannya sampai orangnya, bawa saja, tempatku selalu terbuka untuk pelayan kita yang sudah jadi cantik ini.” Imbuhnya sambil menatap Elly dari atas sampai bawah, saat itu juga Felix pun sudah tahu kalau semua pakaian yang dikenakan oleh Elly bukanlah pakaian murahan. 


Dan hal itu menambah rasa penasaran Felix sendiri kenapa wanita yang biasanya hanya memakai pakaian bekas atau pakaian murahan, baik kemarin maupun sekarang, penampilannya jelas berubah drastis, membuat Felix jadi ingin membawa bersamanya. 


“Nah, karena anak ini sudah membiarkanmu ikut dengan kami, sekarang kau harus menuruti perintah kami, jadi kita pergi ke kasir.” Arshen meletakkan kembali daging sapinya kedalam troli dan mendorong Elly untuk pergi ke kasir, sebab ia melihat semua kebutuhan belanja untuk acara pesta barbeque sudah lebih dari cukup. 


“Lepaskan!” Elly terus mencoba melepaskan rangkulannya Arshen dengan baik-baik, tapi apa yang ia dapat, Arshen justru tertawa. 

__ADS_1


“Lepaskan? Hahaha, kau pikir kita akan membiarkan pelayan kita pergi lagi dari kita? Kau jangan pernah berpikir seperti itu, karena kau harus ikut dengan kami.” Jawab Arshen, ia semakin mengeratkan rangkulan tangannya di bahu Elly agar wanita ini tidak bisa kabur dari sisinya. 


Ketika Arshen membawa Elly pergi, Arshen pun membawa troli itu untuk di bayar. 


__ADS_2