
“Aku tanya, kenapa kapal pesiar ini malah berlayar di tempat ini! Kau pikir aku tidak tahu kalau wilayah ini bukanlah wilayah yang cocok untuk dilewati kapal sebesar ini! Tapi bisa-bisanya mau coba-coba melewatinya!” Pekik Alves.
Setelah urusan menyelamatkan Elly selesai, Alves meninggalkannya di dalam kamar dan pergi menemui pihak yang bertanggungjawab atas insiden kali ini.
ia begitu marah karena keberadaan dari kapal setinggi gedung bertingkat dua puluh malah datang berlayar melewati garis pantai yang seharusnya tidak dilewati, karena di tempat tersebut memiliki banyak terumbu karang, selain itu lautannya masih terbilang cukup dangkal.
“M-maafkan kami Tuan, saya tidak bermaksud untuk menabrak kapal Tuan, dan sebenarnya tadi mesin kapal ini sempat mati sehingga sempat terbawa arus. Jadi kam-”
“Itu bukan alasan yang cukup logis kapten, jika memang sempat mati mesin, tidak mungkin semuanya. Lalu, apa kau anak buah kapalmu tidak menurunkan jangkar? Aku tidak terima permintaan maaf yang bahkan hampir membunuh orang. Kau tahu siapa aku, tapi kau minta maaf kepadaku, minta maaf juga kepada Elly!” Sarkas Alves, untuk pertama kalinya ia benar-benar marah meluapkan emosi karena seorang wanita.
Entah kenapa bisa begitu, tapi ia benar-benar sadar dengan apa yang ia pikirkan dan ia rasakan kali ini. Marah, benci, dan sedih, Alves hampir saja kehilangan Elly, dan marah karena ada saja orang yang tidak berguna berani membawa kapal, apalagi dengan alasan yang bahkan tidak masuk akal sama sekali.
BRAKK
Alves tiba-tiba menggebrak meja, saking kalap ingin memukul semua wajah orang yang ada di ruangan tersebut.
Dan semua orang jadi di buat terdiam, tidak ada yang berani berbicara lagi, kecuali sang kapten.
“Kalau begitu saya akan menerima segala hukuman yang akan anda berikan kepada saya. Kalau anda mau saya melepaskan jabatan saya, saya akan menerimanya.” Ucap sang kapten kapal.
“Kapten,-”
“Kapten, anda benar-benar mau melepaskan jabatan anda?”
“Itu bagus, lepas jabatanmu, walaupun sama sekali tidak sepadan dengan kami bertiga yang hampir mati.” Cetus Alves sambil menatap pria paruh baya itu dengan tajam.
‘Jika bukan karena kecerobohan dari orang ini, sudah pasti kami tidak akan terlibat masalah seperti ini, terutama Elly. Dia hampir saja kehilangan nyawanya, lagi.’ Pikir Alves.
‘Alves kalau sudah marah besar pasti tidak ada orang yang mau bicara lagi selain orang yang kuat mental. Tapi-’ Orson menoleh ke samping kanan, dimana tepat ia berdiri di samping jendela, ia melihat jah di samping sana ada awan hitam yang mulia datang. ‘Akan ada badai, ini sudah pasti. Daripada terjebak di kapal pesiar ini, lebih baik langsung pergi menggunakan helikopter.’ Pikir Orson.
Orson berjalan menghampiri Alves yang sedang duduk di kursi kebesaran, entha milik siapa, karena dimanapun berada ia merupakan seorang Bos, ia pun bebas duduk dimana saja tanpa peduli dengan pandangan orang.
Merasakan kehadiran Orson yang datang menghampirinya, Alves melirik kearah Orson, dan mendengarkan apa yang akan di katakan oleh temannya sekaligus asisten pribadinya itu.
“Sebentar lagi akan ada badai, melihat situasi, Elly tidak bisa disini lebih lama lagi mengingat dia benci lautan atau kita akan terjebak disini selama beberapa jam.” Bisik Orson.
Alves melirik ke arah kapten kapal yang baru saja melepas pin tanda pria itu menyandang sebagai kapten dari kapal pesiar ini.
“Aku tidak pernah menyuruhmu dibebastugaskan hari ini, ambil ini, kau bisa melepaskannya besok pagi.” Ucap Alves dengan begitu tegas, sambil melempar balik pin milik katen kapal tersebut. “Orson, ayo pergi.”
Alves beranjak dari kursi dan pergi lalu di ikuti Orson yang berjalan di belakangnya persis.
BRAKK…
Pintu kayu pun jadi pelampiasan amarah milik Alves yang masih belum reda juga.
Setelah kepergian dari Alves juga Orson, mereka semua tadinya duduk di lantai dengan posisi memohon layaknya seorang rajah harus di hormati, langsung berdiri dan berkerumun di sekitar kapten, pemimpin mereka semua.
"Kapten, anda benar-benar akan berhenti jadi kapten kapal ini?" Tanya salah satu diantara mereka semua.
"Hmm..., apa kalian mau merengek nangis karena aku akan berhenti jadi kapten kalian?" Tanyanya.
"Iya lah, kapten kan yang paling senior, anda mana bisa berhenti dengan kurang hormat seperti ini."
"Kapten, kami memohon agar kapten tidak pergi. Kami masih membutuhkan kapten."
"Tapi kalian juga lihat sendiri kan? Karena aku yang ceroboh, banyak orang termasuk Tuan muda yang hampir kenapa-kenapa, apalagi kekasihnya. Aku mana mungkin bisa mempertahankan posisiku sebagai kapten, jika aku terus dibayang-bayangi rasa bersalah.
Lagi pula, aku juga memang sudah memikirkannya jauh-jauh hari kalau aku perlu pensiun. Kalian kan anak muda, apa gunanya masih muda jika tidak berlatih dari sekarang." Jelasnya.
Meskipun ia tidak tahu kalau hari ia akan berhenti jadi kapten besok akan berhenti, ia tidak begitu mempermasalahkannya.
__ADS_1
___________
Tok...Tok...Tok...
Suara pintu yang terketuk itu segera di sahut oleh Elly yang berbaring sembarangan di atas sofa.
"Nona, saya membawakan anda air hangat serta makanan untuk anda." kata seorang pelayan.
"Hmm...masuk." Jawab Elly dengan nada lirih.
Dia berbaring dalam posisi tengkurap, dimana salah satu tangannya menjulur ke lantai.
Dengan wajah yang begitu lemas, Elly berusaha untuk duduk. Tapi rasa pusing itu muncul begitu ia bergerak.
"Nona, apa anda membutuhkan sesuatu yang lain?" Menawarkan diri kepada Elly. "Jika ada, katakan saja kepada saya."
Wajah yang terlihat begitu ramah itu menyambut indera penglihatan Elly. Ramah tamah karena pelayan ini tahu kalau Elly memiliki hubungan dengan Alves, maka dari itu Elly pun di layani dengan begitu ramah.
Jika tidak ada hubungan apapun dengan Alves, mana mungkin ada yang melayaninya, mengingat status sebenarnya yang Elly miliki bukanlah kekasih maupun Istri yang sedang beredar di antara semua orang di kapal pesiar ini, melainkan seorang pelayan.
"Tidak ada, kec- huekk..."
"........!" Pelayan wanita ini seketika terkejut dengan reaksi yang diberikan oleh Elly karena tiba-tiba mual? "Akan saya panggilkan dokter!"
"Tunggu!" Tapi teriakan dari Elly sama sekali tidak di dengar.
BRAK....
Pelayan tersebut sudah lebih dulu kabur dengan pintu berakhir di tutup dengan keras, sedangkan Elly hanya mampu menangkap angin kosong saja.
'Dia pasti berpikiran hal yang bukan-bukan.' padahal Elly sama sekali tidak dalam keadaan yang akan membuat banyak orang salah paham. 'Padahal aku hanya pusing dan mual karena tubuh ini ternyata mabuk laut. Aku jadi tidak suka laut.'
Dari sekian banyak hal yang sudah Elly pelajari di kehidupan sebelumnya, namun tiba-tiba hal yang paling ia tidak sukai adalah laut, karena ia akhirnya mengetahui kematiannya itu seperti apa.
Elly yang masih merasa lemas, memposisikan tubuhnya menghadap ke atas dan melihat tepat ke arah plafon kamarnya yang cukup mewah.
Tangan kanannya ia angkat ke atas dan melihat cahaya dari lampu kristal yang menyala itu.
Cahaya remang, yang nampak sama persis saat ia melihat wajah Azriel yang samar-samar ia lihat, karena waktu sebelum kematiannya, mereka berdua berada di tempat yang minim cahaya.
'Dia terus mengatakan agar aku percaya kepadanya, menunggu dan menemuinya. Hidup untuk memberikanku merasakan cinta. Tapi jelas Azriel membunuhku, jadi apa yang aku tunggu dan merasakan cinta darinya?' Bingung dalam semua pikiran yang ia miliki, tiba-tiba saja mual nya kembali datang. "Hueek."
KLEK...
"Kau kenapa?" Satu orang yang muncul dan langsung menanyakan pertanyaan, Alves sudah berdiri dengan wajah seriusnya.
"Aku, mu-huekk." Elly lagi-lagi merasa mual.
"Bos, dia pasti-" Orson yang hendak berbisik kepada Alves, tiba-tiba langsung di halangi oleh seorang pelayan yang sudah membawa seorang dokter di belakangnya.
"Permisi Tuan, saya sudah membawa dokter untuk Nona." Kata pelayan tersebut.
"Dimana pasiennya?" seorang pria ber jas putih yang tidak lain adalah dokter, hendak berjalan masuk, tapi di saat itu pula Alves tiba-tiba saja langsung mencengkram tangan dokter tersebut.
"Siapa yang menyuruhmu datang kesini?" Seperti orang yang sedang menginterogasi tersangka kejahatan, aura gelap milik Alves jadi muncul.
"Kata pelayan ini, Kekasih anda sedang mual, jadi saya bermaksud untuk memeriksanya." Jawabnya. Merasakan cengkraman tangannya Alves begitu kuat, tubuhnya otomatis merasakan aura yang cukup mengintimidasinya.
"Aku memang mual, tapi aku tidak kenapa-kenapa kok." sela Elly. Padahal saat mengatakan hal itu, wajah Elly sudah pucat.
"Lagi pula kami akan pergi, jadi kembali saja ke tempat asalmu." Menarik tangan dokter tersebut dengan sedikit kasar, Alves dan Orson pun segera masuk kedalam kamar.
__ADS_1
BRUK...
Perbedaan tubuh itu sontak membuat dokter tersebut kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh ke belakang.
"Kasar sekali sih." gumam dokter ini atas perilaku Alves yang tidak memandang hormat profesinya.
Gumaman yang bahkan masih bisa Alves dengar, membuat ia memberhentikan langkah kakinya, menoleh ke samping kiri sedikit ke belakang, sudut matanya pun menjeling tajam ke arah dokter tersebut seraya berkata : "Mau kasar atau tidak, terserahku. Jadi apa kau punya masalah tentang aku memperlakukan orang lain dengan kasar sepertimu tadi?"
DEG...
Seketika tubuhnya jadi meremang dengan kesan yang Alves perlihatkan kepadanya, membuat mulutnya bahkan hanya bisa mengatup, sebab kata-kata yang hendak ia ucapkan justru tertelan kembali.
"Orson, apa kau sudah mempersiapkan helikopternya?" Tanya Alves, lalu mengalihkan perhatiannya dari dokter tersebut untuk kembali menatap Elly yang sudah berdiri.
"Sudah, tiga menit lagi datang."
"Elly, ayo pergi dari sini. Aku tahu kau mulai bukannya hamil, jadi kita pulang." Dan Alves pun menarik tangan Elly untuk ikut pergi bersamanya.
'Padahal aku hanya berperan sebagai pelayannya, tapi kenapa sikapnya baik seperti itu kepadaku? Dia sudah banyak menolongku, bahkan memperhatikanku. Alves,'
"Liyn?"
"Elly."
"Apa?!" Sentak Elly, tiba-tiba saja mendengar namanya di panggil. Baik itu nama panggilan di masa lalunya, maupun nama miliknya yang sekarang.
"Kenapa tiba-tiba melamun? Kau kan tadi baru tenggelam, apa kau sudah demam hmm?" Alves meraih kening Elly dan memeriksa suhunya dengan punggung tangannya. "Tidak,"
'Suara tadi, kenapa rasanya dia seperti sama dengan seseorang yang aku kenal di kehidupanku sebelumnya?' Pikir Elly saat ia memperhatikan Alves yang begitu memperhatikannya.
'Kan, dia melamun lagi. Aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan, tapi melihatnya berdiri dengan wajah pucat seperti itu, membuatku-' Karena tangannya sudah begitu gatal untuk membawa Elly, bahkan tanpa aba-aba atau sekedar minta Izin, Alves segera menggendong Elly.
"Ehh?! Aku bisa jalan kaki sendiri! Turunkan aku."
"Sekalipun kau aku turunkan, memangnya kakimu bisa kau gunakan untuk berjalan?" Sela Alves di detik itu juga.
"Kaki ku kan tid-"
"Langkah kakimu kan seperti siput, sebentar lagi helikopter akan datang, jadi diam dan sembunyikan saja wajahmu." Alves benar-benar tidak membiarkan Elly berbicara sedikitpun.
"Tapi ak-"
Masih menggendongnya ala bridal, Alves sedikit menundukkan kepalanya ke bawah dan berbisik : "Mengingatmu kau sedang mual, berarti kepalamu pasti sedang pusing. Masalahmu itu ikut jadi masalahku juga, itu kan yang tertera di kontrak nomor 9?"
"Iya, iya. Tapi kenapa aku harus menyembunyikan wajahku?"
"Aku ingin membuat mereka yang melihatku menggendong wanita, jadi semakin penasaran. Kau tidak tahu betapa menyenangkannya melihat wajah orang berekspresi penasaran?" Ucap Alves, sampai bahkan Elly sendiri yang mendengar hal itu tidak bisa berkata apapun dengan hal yang pasti.
"Atau ini hanya dalih agar aku mencium aroma ketiakmu?"
"Pfftt..., anggap saja begitu. Lagi pula aroma ketiakku wangi, jadi kau pasti akan terus menempel padaku."
"Yakin nih?" Elly pun mencoba menyembunyikan wajahnya seperti yang di instruksikan oleh Alves. Dan hasilnya, "Huekk.., aku tidak kuat. Aku benci aroma deodorant."
Alves langsung terbengong dengan reaksi Elly yang terlihat begitu tidak menyukainya.
"Pfftt....Bos, anda tahukan kalau orang yang sedang pusing, pasti enggan merasakan aroma wewangian, apalagi yang berhubungan dengan ketiak anda. Jadi pantaslah, jika Nona Elly mual." Bisik Orson.
Bahkan Elly pun mengangguk anggukkan kepalanya setuju dengan pendapat dari Orson. "Benar, aku mual karena itu, tapi juga memang tidak menyukainya. Jadi turunkan aku, aku lebih leluasa untuk berjalan sendiri."
"Kalau begitu kau aku gendong di belakang."
__ADS_1
"..........!" Elly dan Orson jadi sama-sama terkejut dengan tingkah Alves yang begitu berlebihan kepadanya.