
BRRMM...BRRMM.....
"Apa kau suka?" Tanya Alves melihat Elly terus mengelus-elus pistolnya sendiri.
Tentu saja, sebagai hadiah karena Elly memang adalah perempuan yang suka dengan senjata seperti itu, Elly pun terus senyum-senyum sendiri.
"Ya, tentu saja aku senang. Model pistol zaman sekarang itu, aku tidak begitu menyukainya, berbanding terbalik dengan semua desain semua senjata yang pernah kau buat, aku menyukai semuanya bahkan dari A sampai Z aku punya semua." Jawab Elly.
"Tunggu-tunggu, A sampai Z, jangan bilang kau bahkan punya senjata pertama yang aku luncurkan?" Toleh Alves, ia sedang berkendara untuk pulang, selepas mereka berdua mencoba semua senjata yang ada di gudang untuk mengetahui keakuratannya, dan sedangkan orang yang berhasil di tangkap karena ikut andil dalam kasus pencurian yang terjadi satu minggu lalu, sudah Alves interogasi sendiri.
"Iya, waktu itu aku memang mengoleksi semua senjata yang kau luncurkan. Dan setiap tipe, aku punya dua, yang satu untuk di pajang dan yang satunya lagi aku gunakan di lapangan. Memangnya kenapa?" Lirik Elly melihat raut wajah Alves yang sedang tersenyum tawar itu.
"Tidak apa-apa, padahal aku memproduksinya secara terbatas, tapi kau bahkan sampai punya dua untuk masing-masing senjata dari tipe yang berbeda." Jawab Alves. "Oh, dua hari lagi, soal Yuli yang waktu itu aku putuskan kontrak kerja samanya untuk menjadi ambassador perhiasan terbaru dari perusahanku, kau gantikan dia, bisa kan?"
"Kau masih saja memikirkan itu?"
"Apa kau tidak mau?" Lirik Alves.
__ADS_1
"Tidak, aku mau. Hanya berjalan di atas catwalk saja, apa susahnya?" Jawab Elly. Tidak sekeras pekerjaan miliknya yang sebelumnya, hanya menjadi pelayan, model, baginya itu bukanlah apa-apa dan termasuk pekerjaan ringan yang bisa ia kerjakan dengan cukup mudah. "Tapi kau memutuskan kontrak dengan model besar seperti dia, memangnya dia tidak akan balas dendam padamu?" tanya Elly detik itu juga.
Alves tersenyum tipis, lalu menjawabnya : "Dia tidak mungkin tidak balas dendam. Tapi dari pada dendam kepadaku karena dia sudah jelas merasa bersalah padaku gara-gara kopi itu, dia justru akan dendam kepadamu. Jadi sebaiknya kau hati-hati kepadanya."
Elly lantas menyimpan senjata yang sudah menjadi miliknya itu ke dalam rok yang ia kenakan itu. Lalu ia pun bertanya lagi : "Memangnya dia tipe wanita seperti apa?"
"Seorang model lebih dominan tampil di depan kamera, 75% sudah pasti, apalagi seperti Yuli itu.
Jadi dia pasti akan memanfaatkan media sosial untuk menekan orang yang merasa mengancamnya, tentu saja dengan mengendalikan persepsi banyak orang di luar sana, tergetnya yang tidak memiliki mental kuat, akan jadi bulan-bulanan dan menjadi tekanan psikologis. Bahkan bisa membuat orang tersebut menghadapi kematian dengan bunuh diri.
Maka dari itu, aku hanya ingin kau bisa bersiap dengan apapun yang terjadi." Jelas Alves.
"Alves, jika kau mengkhawatirkanku, kenapa malah aku yang jadi model utama perusahaanmu?"
"Ya tentu saja, anggap saja memancing orang-orang yang dulu pernah meremehkanmu. Tepatnya Raelyn, dia di kampus terus saja di bully, bahkan ke empat laki-laki yang kau kenal di Villa beberapa hari lalu, salah satu diantaranya itu selalu mengganggumu, menganggap Raelyn budaknya, tapi kau dengan entengnya membiarkan mereka. Kau yakin tidak mau membalas pada ke empat orang itu juga?"
"Apa kau mau aku membalas dendam pada anak-anak itu? Aku sudah membereskan satu orang, tapi tidak dengan ketiga orang lainnya.
__ADS_1
Ah, itu tidak ada gunanya, aku tidak mau membuang waktu dengan masa lalu tubuh ini. Tapi jika memang ada yang tiba-tiba saja membuat perkara denganku saat ini, aku pasti akan memberinya pelajaran.
Jadi aku tetap fokus pada peranku menjadi pelayanmu saja, itu sudah lebih dari cukup agar aku bisa hidup dengan nyaman."Jawab Elly dengan panjang lebar.
Sampai tiba-tiba saja, Alves mengungkit soal kontrak. "Elly, aku ingin merobek kertas kontrak yang pernah kita buat itu."
"Apa? Tapi, ka-kau dan aku bahkan sudah tanda tangan di atas materai." Terkejut Elly dengan pernyataan dari Alevs yang ingin merobek kertas kontrak diantara mereka berdua.
"Kan hanya kita berdua yang tahu, jadi tidak masalah bahkan jika aku membakarnya. Tapi walaupun aku menginginkan itu, aku tetap bertanya soal pendapatmu saja." Jawab Alves.
"Lebih baik jangan deh, anggap saja kenang-kenangan. Kan lucu, aku dan kau itu majikan dan pelayan, tapi ujung-ujungnya apa?" Elly sengaja bicara dengan akhir sebuah tanda tanya, sebab Alves sendiri sudah tahu maksudnya, kalau pelayan tetaplah pelayan, dan majika juga tetaplah majikan.
Elly hanya ingin ada di posisinya untuk menjadi pelayan saja, itulah yang ia harapkan kepada Alves.
Masa belum satu bulan di buat, tapi kontrak sudah mau di musnahkan? Elly merasa itu kurang etis saja, hanya karena majikannya rupanya jatuh cinta kepadanya?
'Haduh, ternyata ada juga yang seperti ini?' Benak hati Elly dengan nasibnya itu, sebab pria yang ia layani justru jatuh cinta lebih dulu kepadanya, sampai Elly bahkan pernah berkata jika Alves menginginkan memang jatuh cinta kepadanya, maka rintangannya dia pula yang harus membuat Elly jatuh cinta balik, agar setidaknya seimbang.
__ADS_1