Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
99 : PTRI : Cecil


__ADS_3

“Hmm? Itu helikopter milik Alves. Jadi mereka bertiga sudah pergi ya?” Gumam Doni. Dia saat ini sedang berada dibelakang rumah milik orson, dan saat ia melihat ke langit, sebuah helikopter yang cukup Doni kenali tentu saja membuatnya memiliki pikiran bahwa ada sesuatu yang baru saja terjadi. 


Meskipun ia tidak tahu apa yang sudah terjadi pada mereka bertiga, Doni yang tidak memiliki kesempatan untuk bersenang-senang dengan mereka bertiga, karena kemarin di jalan ia menemukan kendala, membuat Doni saat ini hanya bisa menikmati pemandangan di pinggir pantai itu secara sendirian. 


‘Hahh, kenapa aku selalu saja telat?’ Gerutu Doni, ia telat untuk mengejar mereka bertiga gara-gara Doni kemarin melakukan kesalahan, yaitu tidak sengaja sebuah keadaan membuatnya harus membantu wanita hamil yang hendak melahirkan, ke rumah sakit. 


Makannya, saat ini ia gagal total menyusul kedua temannya juga jadi gagal menemui wanita yang masih membuatnya dalam proses penasaran. 


“Mereka bertiga pasti sudah bersenang-senang. Besok hari terakhir cuti, tapi masa aku sama sekali belum menikmati liburanku sendiri?” Keluh Doni, terpaksa duduk di bawah pohon kelapa sendirian. 


Sampai di saat keheningan itu melanda Doni yang sedang kesepian, sebab ia sama sekali tidak memiliki tujuan baru, sedangkan di satu sisi ia tidak lagi memiliki kekasih ataupun tunangan lagi, sebab ia sudah putus hubungan dengan Diana, tiba-tiba saja ada satu keluarga sedang berlibur dan bermain di pantai. 


“Hahahaha, mama kejar aku!” teriak anak laki-laki ini sambil berlari dengan memakai topi bundar milik Ibu nya sendiri. 


“Oh sayang, jangan lari-lari terus, mama sudah lelah tahu.” rungut wanita ini, merasa lelah megejar anaknya sendiri yang begitu semangat.


‘Liana, janga kejar lagi, nanti kau yang lelah sendiri.” Dan seorang pria berjalan dengan langkah cepat, segera mendatangi wanita yang kemungkinan besar adalah Istrinya. 


“Ih, papa, aku kan ingin bermain dengan mama, kenapa papa mencegah mama mengejarku sih?” Rengek anak laki-laki ini kepada ayahnya sendiri. 


Doni yang merasa iri dengan melihat pemnadangan yang baginya terasa begitu menyakitkan mata, karena ia sudah putus hubungan dengan Diana, padahal tanggal pernikahan saja sudah pernah di bahas, mengajak sepasang kaki Doni untuk pergi meninggalkan area tersebut. 


‘Jika saja Diana masih bertunangan denganku, tidak butuh waktu lama, pasti bisa punya anak.’ Berpikir demikian, Doni jadi tertawa mencibir pada dirinya sendiri, lalu ia pun membawa kembali tas yang ia bawa itu, pergi bersamanya lagi. 


Karena Doni terlanjur sudah berada di rumah Orson, ia pun menelepon Orson untuk meminta izin si pemilik rumah kalau ia akan menginap satu malam di sana. 


____________


"Apa? Sudah tidak ada kamar kosong? Hotel sebesar ini sudah tidak ada yang kosong?" tanya wanita ini, menatap sang resepsionis dengan tatapan tidak percaya, bawa kamar hotel yang ingin ia pesan, sudah tidak ada sama sekali.


"Iya Nona, semua kamar sudah terisi penuh, jadi anda sudah tidak bisa check in." Beritahu resepsionis tersebut kepada seorang wanita yang hendak menginap satu hari penuh di hotel tempat mereka bekerja. "Di sekitar ini juga ada hotel lain, jika anda berminat saya akan menghubungi pihak hotel tersebut untuk check in di sana, bagaimana?"


Dengan raut wajah kesal, serta tidak puas hati, wanita pun hanya berdecih kesal.


"Padahal ini hotel yang terbaik di sini, tapi bisa-bisanya kau melempar tamu kau sendiri ke hotel lain." Hina wanita ini lagi tidak puas dengan kinerja dari resepsionis ini.


"Maaf Nona, saya sama sekali tidak bisa membantu apapun jika anda bersikeras ingin memesan hotel di sini, karena sebenarnya semua kamar sudah di sewa untuk tujuan acara tertentu." jelas wanita ini, memberitahu kepada tamunya di balik alasan kenapa tidak bisa check in hotel.


"Hahh~ Apa kau benar-benar tidak akan membiarkanku menginap di sini?" Tanyanya lagi.


Hanya saja, karena ia mendapatkan tatapan yang begitu intens dari tamunya itu, resepsionis ini pun jadi merasa risih.


"Kau yakin, ingin membuatku mengulangi pertanyaanku tadi? Tidak tahu aku ini siapa?" Perlahan satu persatu pertanyaan yang keluar dari mulutnya jadi membuat kalimat yang kian mengancam. "Baiklah, karena kau sendiri sama sekali tidak menjawabku, aku akan menelepon manajermu yang tidak berguna itu."


"S-saya mohon, jangan lakukan itu Nona. Saya akan cari tahu apakah ada kamar yang bisa anda gunakan atau tidak, jadi saya mohon agar saya tidak di laporkan oleh atasan saya Nona."

__ADS_1


"Tapi kau benar-benar tidak tahu siapa aku?" Kernyit wanita ini lagi, dia adalah Cecil, pelanggan lama dari hotel bintang enam Lotusa.


Karena Ayahnya memiliki hubungan dengan pemilik hotel Lotusa, yaitu Alves, tentu saja Cecil bisa memesan kamar hotel kapanpun ia mau, walaupun mendadak sekalipun, ia tetap bisa mendapatkannya.


"Sepertinya kau anak baru. Ya kan?"


"I-iya, saya baru bekerja dua bulan, jadi dalam posisi magang." Takut dengan tatapan mata Cecil yang begitu menusuk, karena terlihat seperti tatapan sedang merendahkannya, wanita yang bekerja di bagian resepsionis ini pun hanya bisa menunduk dengan kedua tangan sudah berkeringat dingin.


Dia terus berusaha untuk mencari kiranya ada kamar hotel yang kosong, tetapi Cecil yang tidak tahan lagi, langsung menelepon memberikan pesan singkat kepada manajer dari hotel Lotusa untuk turun.


Tiga menit kemudian.


"N-nona Cecil, apa yang membawa anda kemari?" Seorang pria usia empat puluh tahunan, langsung berlari kecil menghampiri Cecil yang sudah berdiri di depan meja resepsionis dengan posisi menyangga kepalanya sendiri.


"Aku hanya ingin menginap semalam, tapi kata anak ini, kamarnya sudah penuh. Bagaimana bisa aku yang sudah jadi member VIP di sini, malah di telantarkan di sini? Seharusnya kan ada kamar yang kosong." Protes Cecil kepada manager hotel tersebut.


Mendengar keluhan langsung dari Cecil, lantas pria ini langsung menjawab : "M-maafkan anak baru ini Nona. Seperti biasa, kamar anda masih kosong, tidak di sentuh oleh siapapun, jadi anda boleh tinggal di sana. Dan ini kartu milik anda." Pria ini memberikan kartu sebagai kunci kamar milik Cecil.


Dengan wajah tidak senang, Cecil langsung merebutnya begitu saja sambil berkata : "Sebaiknya kau urus anak itu. Jika saja aku pemilik hotel ini, aku sih sudah memastikan kalau anak itu akan di pecat tanpa pesangon apapun, tapi karena aku bukan pemilik hotel ini, jadi aku serahkan kepadamu. Dan jangan sampai ada yang namanya kedua kalinya. Paham?!" Pesan Cecil sebelum akhirnya Cecil pergi dan masuk kedalam Lift.


Setelah Cecil masuk, barulah pria ini langsung menegur salah satu karyawannya yang tidak becus bekerja itu.


"Kau ini bagaimana sih?! Dia itu pelanggan khusus di hotel ini, kau malah membuat kesalahan seperti itu!" Bentak manager ini kepada karyawannya sendiri.


Bahkan dirinya sudah berpikir kalau hari ini adalah hari terakhirnya bekerja.


"Alasan! Kau kan bisa pakai komputer, kau seharusnya mempelajarinya satu persatu file yang tersimpan di dalam komputer itu.


Jika ada otak seharusnya kau gunakan otak itu untuk berpikir, bukan untuk pajangan." Sarkas pria ini lagi.


Bahkan dirinya saja sudah begitu ingin sekali memecat anak magang ini, karena tidak bisa bekerja dengan becus, dan hasilnya sesaat tadi Ceci jadi memandang buruk hasil layanan dari hotel Lotusa.


"M-maafkan saya Tuan, saya benar-benar sudah mencoba mencari file yang anda sebutkan tadi, tapi di dalam komputer sama sekali tidak ada." Wanita ini terus mencoba membela diri.


"Kau terus saja mengelak dari kesalahanmu sendiri ya?" Tuding manager ini kepada karyawannya sendiri.


"Tidak Tuan, apa yang saya katakan benar, saya sudah mencari file untuk daftar tersebut, tapi di dalam komputer, saya sama sekali tidak bisa menemukannya." Jelasnya lagi, bahkan matanya pun sudah mulai berkaca-kaca ingin sekali menangis.


Tapi jika ia menangis di sini, itu sama saja dengan merusak citra dari hotel Lootusa.


"Jika tidak ada, palingan kau sendiri yang antara sengaja menghapusnya atau tidak sengaja terhapus." Tuduhnya lagi. "Jika kau sep"


Belum selesai berbicara, tiba-tiba saja dari belakang sudah ada satu orang sudah menyimak pembicaraan mereka berdua dengan jarak yang begitu dekat.


"Apa aku menggaji kalian untuk memberi pertunjukan keributan di hotelku ini?!" Tegur Alves.

__ADS_1


Mendengar suara yang begitu familiar untuk mereka berdua, dengan buru-buru mereka berdua langsung menoleh ke belakang.


"T-Tuan!" All.


"Apa yang membuat kalian bertengkar disini? Apa kalian berdua tidak punya otak sampai bertengkar disini dan dilihat oleh banyak pengunjung? Apa kalian ingin membuat reputasi hotel Lotusa buruk? Jika memang seperti itu, berarti kalian berdua itu ancaman juga ya, jika terus membiarkan kalian berdua di sini." Beber Alves, tidak memberikan kelonggaran atas dasar memberikan peringatan sekaligus cibiran.


DEG....


Hanya karena kesalahan dari satu orang, orang lain pun jadi kena imbasnya.


Itulah yang di rasakan oleh manager hotel Lotusa ini terhadap karyawan magang tersebut.


'Sialan, jika ini terjadi lagi, aku pasti akan di depak keluar dari pekerjaanku. Itu tidak boleh terjadi.' Pikirnya.


____________


Sedangkan di tempat lain, yaitu di sebuah koridor.


"Jadi aku hanya perlu mengambil sayurannya di lantai lima belas ini?" Elly sedang bertanya kepada Orson, yang kini sedang membantu untuk membawakan sayuran serta daging untuk di bawa ke ruftoop.


"Iya. Karena rumahnya jarang di gunakan, jadi di dalam kulkas sama sekali tidak ada persediaan makanan kecuali makanan ringan serta minuman.


Tapi karena kita membawa banyak dalam sekaligus ambil, jadi kau tidak perlu bolak balik lagi, ya kan?"


"Iya, makasih sudah mau membawakannya juga." Cakap Elly, seraya membawa satu keranjang penuh dengan sayuran, sedangkan Orson, dia membantu membawakan daging.


Jadi selama Alves pergi, maka mereka berdua pun akan memasak untuk pria yang menjadi majikan mereka berdua.


"Oh ya, aku penasaran, tapi apakah kau punya pacar?" Lirik Elly, sesaat melihat wajah terkejut milik Orson yang begitu manis.


Cukup manis, karena wajah tampan, mau membuat ekspresi apapun, sudah pasti akan cocok.


"Kenapa kau malah tiba-tiba jadi bertanya seperti itu? Padahal aku pikir kau sudah tahu." Sahutnya.


Elly memang tahu itu, tapi untuk sekedar basa-basi memangnya harus ada aturannya?


"Aku me-"


BRUK..


Belum sempat mengatakan apapun, Elly tiba-tiba saja menyenggol seseorang, sehingga keranjang yang ia bawa, ada beberapa sayuran yang jatuh.


"Apa kau jalan tidak pakai mata? Sebenarnya ada apa sih hari ini, bisa-bisanya aku bertemu dengan banyak orang yang bermasalah seperti kalian juga. Kalau mau pacaran, ngerumpi itu jangan di sini, tapi-" Cecil sontak tiba-tiba saja menghentikan ucapannya, saat dirinya justru melihat wajah yang tidak asing lagi.


Wajah yang seharusnya sudah tidak ada di dunia ini lagi, karena tubuh yang seharusnya sudah antara lebur dengan air laut, atau di makan oleh hewan laut, malah justru sedang berdiri di hadapannya persis.

__ADS_1


__ADS_2