Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
172 : Kedatangan Ibu mertua


__ADS_3

"Maria, kenapa aku benar-benar tidak menyangka kau ternyata memperlakukan anak itu dengan cukup buruk, padahal aku pikir hubungan kalian bertiga itu baik-baik saja." Kata suami Maria.


Setelah adanya berita yang beredar di dunia maya, berita paling menghebohkan itu tertuju pada keluarga mereka, dan yang menjadi sorotan utamanya adalah Maria juga Cecil.


Sudah bertahun-tahun dirinya mengadopsi Raelyn, tapi ia sama sekali tidak pernah tahu kalau di belakangnya, Istrinya juga anak kandungnya itu memperlakukan Raelyn dengan buruk, sampai dua setengah bulan yang lalu ada insiden dimana Raelyn hilang karena kecelakaan yang membuat mobil yang di naiki Raelyn tercebur ke laut.


Itulah, awal dari mereka bertiga hidup bersama tanpa Raelyn.


"Lihat ini, padahal di lingkungan kita sama sekali tidak ada cctv, tapi ternyata berita ini tetap saja tersebar ke segala penjuru, kau tahu saham perushaan jadinya anjlok gara-gara ulahmu!" Bentak pria ini kepada Maria, sang istri yang sekarang di matanya itu sama sekali tidak bisa di andalkan.


"M-ma-"


"Maaf saja tidak cukup Maria! Kau membuat Raelyn menghilang! Dan yang paling aku tidak sangka Cecil juga ikut-ikutan, sebenarnya oak kalian itu ada di mana sih!"


"Sayang, aku minta maaf, itu karena aku sama sekali tidak suka dengan keberadaan dia yang selalu saja merebut perhatianmu dari anak kandungmu sendiri." Ucap Maria, membuat sebuah alasan.


"Kalau kau tidak suka seharusnya dulu kau tidak mengiyakan aku mengadopsinya, begitu saja susah. Sebenarnya otakmu itu ada di mana sih? Dan sekarang Cecil di mana juga?! Dia dari semalam belum pulang! Kau bahkan sebagai Ibu kandungnya saja tidak becus urus anak sendiri, tapi malah mengiyakan saja pendapatku waktu itu!"


'Gara-gara Raelyn, Raelyn lagi, kenapa semua perhatiannya tertuju pada anak itu terus, bahkan suamiku sendiri sampai mengataiku bodoh. Jika saja dulu aku menolaknya, aku mungkin tidak akan memiliki kebencian seperti ini!' Pikir Maria.


"Kau juga seorang pemboros, ketika kau membuat Raelyn hanya mendapatkan pakaian bekas, kau dan Cecil malah bersenang-senang sendiri. Aku jadi heran, kenapa aku bisa menikahi wanita sepertimu." Sarkas pria ini lagi. Dia terus membuat kalimat pukulan yang bertubi-tubi kepada Maria.


Tidak ada satu pun yang menghukumnya, tapi hukuman yang mereka dapat dari berita video yang beredar itu membuat mereka di hukum semua orang dari jagat maya.


_____________


Sedangkan di tempat lain.


"Aha, ketemu." Senyum Alves. Sambil duduk dengan kedua kaki ada di atas meja, Alves mengelus dagunya yang mulus itu sambil tersenyum bangga.


"Apa yang membuatmu senang?" Tanya Elly, sebagai asisten pribadi Alves, dia tetap saja mengikuti kemanapun Alves pergi seperti mereka berdua sudah mendapatkan selembar perekat super.

__ADS_1


Dan dia saat ini baru saja membuatkan secangkir kopi original kepada pria yang sedang tersenyum-senyum sendiri ini.


"Kau jadi terlihat orang gila, senyum-senyum sendiri di depan laptop sendiri." sindir Elly sambil memiringkan tubuhnya ke arah Alves persis, untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada pria ini sampai terlihat seperti orang gila.


"Bagaimana tidak senang, alamat terakhir IP yang aku selidiki dari tadi malam, akhirnya bisa ketemu. Lihat, rumah siapa ini? Ini rumahnya Aiden, dengan kata lain anak itu lah yang semalam menyerangku.


Padahal masih bocil, tapi berani juga pada orang dewasa."


"Kau sendiri kan bukannya masih bocil? Waktu kita berdua mati saja saat umurmu dan umurku muda, tapi kita merasuki tubuh orang yang sudah dewasa, secara harfiah pikiranmu juga masih bocil tuh." tukas Elly.


"Elly, entah berapapun umur di dalam diriku yang sebenarnya, karena aku memasuki tubuh usia 28 tahun, artinya aku termasuk sudah dewasa.


Jangan bahas topik itu lagi, aku ingin memberikan pelajaran kepada anak ini, gara-gara dia waktu jadi terbuang sia-sia karena tidak bisa berdu-mphh...!"


Mulutnya Alves seketika di bungkam oleh telapak tangan Elly.


"Kenapa kau membungkam mulutku?!" Tatap Alves, dan tatapan matanya itu memang mengarahkan kepada Elly seakan bicara demikian.


"Ada orang di luar, berhenti bicara yang tidak jelas." Bisik Elly. Buru-buru sebelum mereka berdua ketahuan duduk berdua di sofa, Elly segera pergi dan duduk di tempatnya.


"Masuk." Jawab Alves, dia merapikan dasinya yang sempat longgar, dan menurunkan kedua kakinya dari atas meja. Menutup laptopnya, dia pun mengangkat segelas kopi, seakan apa yang barusan terjadi tidak pernah terjadi.


"Alves, aku dengar dari kakek, kalau kau sud-" Seorang wanita awal empat puluh tahunan itu seketika menemukan Elly yang sudah berdiri di belakang meja kerja sambil membungkuk hormat kepadanya. "Apakah dia?" Tanyanya, membuat Alves menoleh ke belakang dan menatap Elly.


"Iya. Aku sudah memilihnya, jadi hanya tinggal melangsungkan acaranya."


"Bagaimana bisa kau kenal dengan wanita seperti dia? Dia bahkan tidak menarik." matanya terus memperhatikan Elly dari atas sampai bawah.


'Dia seperti tipe tante-tante yang galak. Tidak suka, langsung di lempari uang agar aku menjauh dari anaknya.' pikir Elly.


"Itu kan di mata Ibu, setiap kesan dari sudut pandang setiap orang saja berbeda, apalagi aku dan Ibu. Seorang Ibu yang bahkan selama ini tidak peduli dengan anaknya, apakah Ibu berhak mengatakan itu kepadanya?" Kata Alves, auranya yang begitu dingin itu langsung membuat mulut Ibu nya memilih untuk bungkam untuk sementara waktu.

__ADS_1


"Ok, kau benar. Tapi apa kau yakin dengan keputusanmu? Kau itu sudah pernah punya kekasih beberapa kali untuk menolak ajakan kencan buta dengan membuat alasan itu, lalu yang terakhir kali, kau bertunangan tapi ujung-ujungnya tunanganmu menikah dengan pria lain.


Dan sekarang-" Kalimatnya berhenti di tengah setiap kali dia memandang Elly yang sudah kembali bekerja dengan mengetik proposal yang di suruh untuk di salin, itung-itung agar dia bisa bisa berpikir banyak dan menghilangkan sisa dari gumpalan darah yang ada di otak.


Katanya sih, tapi karena Elly sendiri juga senang melakukannya, maka dari itu dia pun tidak akan mempermasalahkan pekerjaannya itu.


"Apa Ibu masih ingat soal kejadian hotel delapan tahun yang lalu?"


"Iya, kenapa apa kau ak-"


"Dialah perempuan yang aku tiduri, Jadi sekalian saja aku buat jadi Istriku, bukannya keluarga kita memegang prinsip untuk bertanggung jawab penuh sampai akhir?" Sela Alves.


Sontak Ibu nya Alves kembali menoleh ke arah Elly yang sedang memejamkan matanya dan terlihat sedang berlomba untuk mengetik kalimat sebanyak mungkin.


"Kau yakin?"


"Ibu, dengar." Begitu Alves bicara seperti ini, ibunya akhirnya mau menatap ke arahnya lagi. "Akulah yang akan menjalani kehidupanku, jika ibu datang kesini untuk sekedar bertanya, lebih baik Ibu pulang saja atau pergi kemana, karena tugasku juga menumpuk." Jelas Alves.


'Tapi aku dengar, dia adalah seorang pelayan. Masa dia menikahi pelayannya sendiri. Hanya saja- kata kakek, dia perempuan yang serba bisa, kalau dia adalah orang yang asik, aku tidak mempermasalahkannya juga sih.' Pikirnya. "Aku tidak akan pergi dari sini sebelum membawa dia untuk melakukan tes."


TAK...


Satu ketikan terakhir itu berhenti di huruf H, dan Elly seketika menatap ke arah ibu nya Alves.


"Uhukkk, tes apa?!" Alves juga sama-sama terkejut dengan ucapan yang baru saja dia dengar dari mulut ibunya itu.


"Sebagai seorang wanita, tidak boleh terlalu bergantung pada pria. Seperti yang kau Alves, kau mengatakan kau sedang sibuk dengan pekerjaanmu, bukankah berarti ada kemungkinan besar untuk membuatnya sendirian?


Dengan wajah dan penampilan seperti itu, jika dia jalan sendirian, pasti ada banyak pasang mata yang menatapnya penuh dengan sesuatu yang kalian berdua pasti sudah tahu apa.


Jadi setidaknya aku ingin tahu dia punya kemampuan apa saja selain berhasil merayumu dengan tubuhnya itu." Jawabnya dengan panjang lebar.

__ADS_1


Alves dan Elly sempat bertukar pandang.


Alves menggelengkan kepalanya karena ia memang tidak tahu dengan kedatangan Ibu nya dan akan membuat semacam tes seperti itu kepada Elly.


__ADS_2